Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Bagian 15


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 10.00 saat aku menapaki halaman butik Mbak Astri. Aku ingin menuntaskan rasa penasaranku tentang Salma. Wanita yang disebut-sebut Mbak Astri dan Mas Kamal saat aku mencoba gaun pengantin semalam.


Tulisan BUKA tergantung di pintu masuk.


Perlahan kubuka pintu yang terbuat dari kaca itu.


"Selamat datang di The Gown, silahkan ada yang bisa kami bantu,"


Ucapan ramah dari seorang resepsionis menyapaku.


"Maaf Mbak, bisa ketemu Mbak Astri?"


Tanyaku.


"Sudah janji sebelumnya?"


"Belum Mbak."


"Baik, silahkan tunggu sebentar saya akan panggil. Maaf dengan Ibu siapa?"


Tanyanya.


"Kalila."


"Baik."


Resepsionis cantik itu mengangguk kemudian melangkah ke bagian dalam butik. Aku menuju ke sofa yang ada di lobi butik dan duduk di sofa hitam itu.


Sejurus kemudian Mbak Astri sudah berada di Lobi.


"Lho Kalila, sendirian?"


Tanyanya sedikit kaget.


"Iya Mbak."


Aku mengangguk mengiyakan kalimatnya.


"Ada yang bisa Mbak bantu?"


"Iya Mbak, ada yang mau saya tanyakan ke Mbak Astri, tentang--Salma."


Jawabku berhati-hati.


"Sal--ma?"


Ucap wanita itu terbata, seolah tak percaya dengan yang baru kukatakan.


Aku mengangguk pelan.


"Ayo ke ruangan Mbak aja ya."


Wanita pemilik salon itu menggandeng tanganku menuju ruang kerjanya.


"Duduk dulu."


Ujarnya mempersilahkan aku duduk di sofa kecil yang ada di ruangannya.


Mbak Astri mengambil segelas air mineral kemudian menyodorkan ke arahku.


"Makasih Mbak."


Anggukku.


Kuteguk air mineral itu, kemudian meletakkan di atas meja yang ada di hadapanku.

__ADS_1


"Saat mencoba gaun pengantin kemarin, saya gak sengaja mendengar Mbak Astri ngobrol dengan Mas Kamal. Dan menyebut nama Salma. Kalo saya tidak salah tebak, sepertinya perempuan bernama Salma itu orang yang sangat berarti di kehidupan Mas Kamal."


Mbak Astri menghela nafas panjang.


"Siapa Salma Mbak?"


Kataku dengan nada sedikit menekan.


"Dia--cinta pertama Kamal. Tapi itu sudah masa lalu Kalila. Nggak perlu dibahas lagi."


Deg!


Seketika ada rasa nyeri menyusup ke hati.


Berat aku menelan saliva.


"Udah nggak usah dibahas lagi ya."


Mbak Astri mengenggam kedua tanganku saat menyadari ada yang menetes dari mataku.


"Nggak apa Mbak, saya hanya ingin meyakinkan diri saya, bahwa pernikahan dengan Mas Kamal tidak lagi dibayangi oleh seseorang di masa lalu."


Ujarku seraya menyeka air mata.


"Tolong ceritakan lagi tentang mereka. Plis--"


Aku mengeratkan genggaman tangan diantara kami.


Mbak Astri menghela nafas panjang.


"Semasa kuliah dulu, kisah cinta Kamal dan Salma adalah kisah paling romantis di kampus kami. Kamal adalah mahasiswa miskin yang nyambi sebagai marbot masji d. Sedang Salma adalah gadis kaya, dan begitu cerdas. Mereka saling jatuh cinta. Kamal berjanji kepada Salma, akan menikahinya selesai wisuda. Namun takdir berkata lain, mereka terpaksa berpisah, karena Kamal terikat beasiswa S2 dan S3 di Jepang. Saat itu sebenarnya Kamal ingin membawa Salma ke Jepang, namun Salma menolak. Dia tidak ingin meninggalkan ayahnya sendiri di Surabaya. Sejak itu hubungan mereka berakhir."


Mbak Astri berhenti sejenak. Meneguk air minum dari dalam gelas yang sedari tadi dipegangnya.


"Saat di Jepang, Kamal sempat menikah dengan seorang wanita. Namun pernikahannya tak bertahan lama, hanya sekitar setahunan. Karena rumah tangga mereka masih dibayangi oleh Salma. Kamal belum bisa sepenuhnya melupakan Salma. Sementara Salma, sudah menikah juga dengan Rizal dan dikaruniai seorang putra. Saat reuni, Kamal pulang ke Indonesia. Dia mengatakan kepada Salma bahwa Kamal masih memiliki perasaan yang sama pada dirinya. Namun Salma menolak, karena dia sudah menjadi istri orang. Sejak saat itu Kamal dan Salma tak pernah bertemu. Tapi kemarin Kamal bilang, dia tak sengaja bertemu Salma di masjid."


Kuraih gelas air mineral di atas meja, kemudian meneguknya.


"Saya dengar suami Salma sudah meninggal Mbak?"


Tanyaku.


Mbak Astri mengangguk.


"Dua minggu lalu, Rizal suami Salma meninggal saat menjalankan umroh."


Berat aku menelan saliva. Membayangkan rasa kehilangan yang dirasakan seorang Salma.


"Kamu nggak usah berpikiran yang aneh-aneh, orang mau nikah itu godaannya banyak banget."


Mbak Astri menggenggam erat kedua tanganku kembali. Menenangkan hati yang sedikit terusik oleh cerita masa lalu Mas Kamal.


Bagaimana kalau sampai saat ini Mas Kamal tidak bisa melepas bayang-bayang masa lalunya tentang Salma, sama seperti pernikahan sebelumnya. Apa mungkin Mas Kamal bisa mencintaiku seutuhnya jika hatinya masih belum bisa terbebas dari Salma.


"Aku pamit dulu ya Mbak. Makasih atas ceritanya."


Ujarku berpamitan.


"Tolong jangan bilang Kamal kalo aku cerita semua ini ya, aku takut dia marah."


Pinta wanita berambut pendek itu.


"Iya Mbak."


Setelah berpamitan aku bergegas meninggalkan butik itu. Langkahku gontai tak bersemangat. Menyusuri jalanan di depan butik. Pikiranku dijejali ketakutan akan bayang-bayang wanita itu. Perasaan ragu berkelebat di pikiran. Apakah mau meneruskan pernikahan ini atau harus menyerah saja. Mengikhlaskan Mas Kamal kembali kepada cinta pertamanya.

__ADS_1


Sempat berandai-andai, jika saja kabar kematian suami Salma lebih dulu datang daripada pertemuanku dengan lelaki itu, pastinya kini Mas kamal sudah berbahagia dengan Salma. Apakah Salma memang jodoh Mas Kamal. Setelah bertahun-tahun mereka tidak pernah berjumpa, Allah mempertemukan mereka kembali saat suaminya telah tiada.


Ah, Astaghfirullah!


Maafkan aku Ya Allah, yang telah terbawa setan, berandai-andai seolah aku tahu akan takdir yang berlaku.


Terik matahari tak kurasa. Aku masih berjalan menyusuri trotoar yang terhampar sepanjang jalanan di lokasi butik Mbak Astri berada. Hatiku gundah memikirkan nasib pernikahanku yang akan berlangsung dua bulan lagi.


Tiba-tiba ponselku berbunyi. Kurogoh tasku dan mengeluarkan benda hitam itu dari tas.


Nama Nisa QA terpampang di layar.


Nisa?


Ada apa dia menelponku?


Ya Allah, apa lagi ini?


[Assalamualaikum Nis..]


Ujarku mengawali percakapan jarak jauh itu.


[Waalaikumsalam, Kalila elu apa kabar?]


Tanya Nisa di ujung telepon genggamku.


[Alhamdulillah baik Nis, kamu gimana?]


[Aku baik Lila, gimana dengan pertanyaanku kemarin]


[Pertanyaan yang mana?]


Ujarku pura-pura tak tahu. Padahal aku tahu betul dia akan menanyakan proposal taaruf Azzam.


[Proposal taaruf Mas Azzam Lil, plis gue mohon Lil..tolong pertimbangkan. Gue tahu elu pasti ngerti kondisiku. Kasihan Mas Azzam, gue yakin elu masih punya perasaan dengan dia Lil.]


[Maaf Nis aku nggak bisa. 2 bulan lagi aku akan menikah]


Ujarku. Entah kenapa suara itu terdengar sedikit gamang, bahkan oleh diriku sendiri.


[Nikah? Ish jahat banget gak ngasih tahu gue, sama orang mana?siapa?]


Cecar Nisa.


[Nanti kalo udah deket hari H pasti dikasih tahu, sama orang sini aja namanya Kamal]


Jawabku tak bersemangat.


[Kamu sakit Lil?kok kayak gak semangat gitu?]


Ah, Nisa memang selalu tahu saat-saat aku lelah memikirkan sesuatu.


[Nggak, gak apa kok. Ehm..aku lagi di jalan ini, nanti kita sambung lagi ya]


[Ya udah, Assalamualaikum. Salam buat Bapak Ibu ya Lil]


[Waalaikumsalam, siap]


Tuut...


Kumasukkan kembali ponsel pipihku ke dalam tas.


Kemudian berjalan lagi menyusuri trotoar menuju halte bis.


Langkahku terhenti saat melihat sesosok laki-laki keluar dari toko mainan yang terletak di seberang jalan. Pria itu membawa sebuah mobil-mobilan yang berukuran lumayan besar.

__ADS_1


Mas Kamal?


Apa yang dia lakukan disitu?


__ADS_2