Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 77


Hatiku berbunga bunga mendengar Mas Rohman mau mengajak aku maka malam. Karena memang sudah lama sekali aku tidak makan malam di luar sama Mas Rohman. Dia juga akan mengajak aku jalan jalan.


Namun lagi lagi rasa bersalah kembali muncul dalam hatiku. Fikiranku jadi tidak karuan karena siang tadi aku sempat bertemu dengan Mas Rendy. Aku benar benar bingung dengan perasaanku saat ini.


Ya, aku akui memeng aku bersalah dalam hal ini. Aku mencintai Mas Rohman yang sekarang menjadi suami aku. Dia sangat baik dan perhatian padaku. Namun disatu sisi aku kembali teringat akan kata kata Mas Rendy mengenai suami aku.


Di sisi lain, saat ini aku juga sangat mencintai Mas Rendy. Entah mengapa perasaan ini kembali muncul disaat aku sudah bahagia bersama suamiku. Mungkin pertemuan lah yang membuat aku kembali terjebak pada cinta masa laluku. Aku bingung harus bagaimana.


**********


Setelah melaksanakan sholat magrib berjamaah bersama Mas Rohman, aku bersiap siap. Karena akan jalan jalan dengan suamiku. Dan kebetulan besok adalah hari Minggu. Jadi kami berdua leluasa ingin pupang jam berapa saja tidak jadi masalah. Karena Mas Rohman juga libur kerja.


"Mas, nanti kita mau ke mana?"


"Besok kan libur, bagaimana kalau kita jalan jalan ke luar kota saja sayang. Nggak perlu jauh jauh sekali. Mungkin kita ke Jogja atau ke Magelang biar perjalanan tidak terlalu jauh."


"Nanti kan kita bisa menginap satu malam, sayang."


"Kok kamu nggak bilang kalau mau ke luar kota, mas. Kan kita bisa berangkat agak awal."


"Nggak apa apa, sayang. Nanti kita pakai mobil saja, kita ke rumah ibu dulu."


"Kebetulan motornya besok mau dipinjam sama adik aku."


"Oh gitu, apa nggak sekalian kamu ajak bapak sama ibu, Mas?"


"Kemarin sudah aku tawarin, tapi katanya besok ada pengajian. Jadi nggak bisa ikut."


"Oh, gitu. Ya sudah, Mas."


"Kamu sudah siap kah, sayang."


"Sebentar mas, ini hampir selesai. Kan kita nginep, jadi harus bawa baju buat ganti."


"Kenapa nggak beli saja, sayang?"


"Ribet nanti Mas, mending bawa saja."


"Ya sudah terserah kamu saja, sayang."


Akhirnya selesai juga aku beberes. Aku membawa dua stel baju ganti. Begitu juga dengan Mas Rohman, aku membawakan jyga dua stel baju ganti.


"Aku sudah selesai, Mas. Sudah siap semuanya. Mau berangkat sekarang, Mas?"

__ADS_1


"Boleh, sayang. Ayo, kita ke rumah ibu dulu."


Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang. Kami menuju ke rumah orang tua Mas Rohman untuk meminjam mobil. Perjalanan tak butuh waktu lama. Karena jaraknya juga tidak terlalu jauh.


Alhamdulillah kami sudah sampai. Aku masuk ke rumah dengan mengucap salam. Kebetulan bapak dan ibu mertua aku sedang makan malam. Jadi aku dan Mas Rohman disuruh makan sekalian.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, masuk nak."


Ku cium telapak tangan bapak dan ibu mertuaku sebagai baktiku pada orang tua. Aku sedah menganggap mereka seperti orang tua kandung ku. Karena mereka memperlakukan aku sangat baik. Dan juga menganggap aku seperti anaknya sendiri.


Mereka juga bisa menerima aku apa adanya. Dengan keadaanku yang seperti ini. Mengandung anak yang bukan dari Mas Rohman. Tapi keluarga Mas Rohman tidak mempermasalahkan itu. Karena mereka juga menyadari bahwa Mas Rohman juga mandul.


"Ayo masuk, nak. Kita makan sama sama, kebetulan bapak sama ibu lagi masak."


"Iya bu, terimakasih."


Aku dan Mas Rohman duduk di meja makan. Ibu mengambilkan aku nasi ke dalam piring. Aku mapah jadi tidak enak hati, karena dilayani seperti ini.


Justru Mas Rohman malah mengambil nasi sendiri. Harusnya aku yang mengambilkan nasi untuknya. Tapi aku malah dilayani seperti ratu fi rumah ini.


"Bu, aku bisa ambil sendiri."


"Sudah, kamu duduk saja."


"Sudah, sayang. Kamu duduk saja, aku bisa kok ambil sendiri. Lagian ini kan di rumah ibu." Aku hanya diam dan menurut saja apa yang dikatakan ibu dan Mas Rohman.


"Kamu sehat kan, nak?"


"Alhamdulilah aku sehat, bu."


"Sukurlah kalau begitu. Gimana tinggal di sana, betah tidak?"


"Ya betah nggak betah, bu."


"Kalau kamu nggak ada temen, kamu bisa ke sini dulu. Nanti kalau Rohman pulang biar dijemput."


"Iya, bu terimakasih tawarannya." Bapak pun ikut nimbrung obrolan kami.


"Kalian mau ke mana malam malam begini?"


"Mau jalan jalan, pak. Sekali sekali boleh lah, biar nggak suntuk."


"Rencana mau ke mana?"

__ADS_1


"Mungkin nanti ke Jogja, pak. Bapak sama ibu yakin nggak mau ikut?"


"Kalian saja yang pergi, ibu nitip belikan oleh oleh saja. Besok ada pengajian."


"Kalian hati hati di jalan, tidak usah ngebut."


"Iya, bu."


Usai makan aku bergegas berpamitan pada ibu dan bapak. Kebetulan adiknya Mas Rohman sedang keluar dengan temannya. Ku cium punggung tangan ke dua mertua ku. Dan ku lambaikan tangan saat mobil mulai meninggalkan halaman rumah.


Perjalan dari kota Semarang menuju Jogja memakan waktu cukup lama. Mungkin bisa sampai tiga hingga empat jam jika tidak macet.


Tepat pukul tujuh kami berdua berangkat dari rumah orang tua Mas Rohman. Kemungkinan kami akan tiba sekitar pukul sepuluh malam. Mudah mudahan saja lebih cepat dari perkiraan.


Sepanjang perjalanan aku ingin sekali bertanya tentang masa lalu Mas Rohman. Tapi aku sedikit takut jika dia akan marah padaku. Tapi jika aku tidak bertanya, bagaimana aku bisa tau tentang Mas Rohman.


Selama ini memang Mas Rohman selalu memperlakukan aku dengan baik. Tidak pernah berbuat kasar padaku. Namun entah kenapa rasanya aku ingin sekali tahu tentang siapa Mas Rohman sebenarnya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Supaya aku tidak dihantui rasa penasaran terus menerus.


"Mas.."


"Iya, sayang."


"Ehm, aku mau tanya sesuatu sama kamu."


"Tanya apa? Kok sepertinya kamu serius sekali, sayang."


"Iya, Mas. Ini memang agak serius."


"Kamu mau tanya apa, sayang?"


"Tapi janji, kamu harus jawab jujur."


"Kau cuma nggak mau ada yang ditutup tutupi saja."


"Ditutupi? Selama ini aku merasa nggak ada yang ditutupi, sayang."


"Kamu sudah tau gimana masa lalu aku, gimana aku."


"Lalu kamu mau tanya soal aku yang gimana lagi, sayang?" Ku perhatikan wajah Mas Rohman tampak biasa saja. Dia berbicara juga dengan nada halus. Mungkinkah ini hanya akal akalan Mas Rendy saja untuk memisahkan aku dan Mas Rohman. Tapi tidak ada salahnya jika aku bertanya langsung.


"Mas, aku harap kamu tidaka akan marah dan akan jujur tentang semuanya."


"Aku tidak ada niat apapun, dan hanya ingin tahu saja."


"Kamu kenpa, sayang. Kok tiba tiba jadi seperti ini."

__ADS_1


"Mas kan aku cuma mau tanya sesuatu saja. Kalaupun kamu berkata jujur dan bagaimanapun itu aku nggak akan marah kok."


"Ya sudah terserah kamu saja, sayang. Apapun pertanyaan kamu pasti akan aku jawab dengan sejujur jujurnya." Mas Rohman membelai rambutku dan tersenyum padaku.


__ADS_2