Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 66


Dengan berat hati dan rasa takut aku menjawab pertanyaan mas Rohman. Aku heran kenapa mas Rohman tiba tiba bertanya hal ini kepadaku. Padahal dia tahu aku sudah hamil duluan sebelum menikah dengannya.


"Iya, mas. Aku sering ditiduri sama Rendy."


"Tapi itu bukan kemauan aku, mas. Awalnya aku dipaksa pas aku menginap di rumahnya. Aku nginap juga terpaksa kok karena waktu itu hujan lebat. Dan ibunya tidak mengijinkan aku pulang."


"Apa kamu pernah tidur dengan laki laki lain selain Rendy?"


"Mas, kamu nggak lagi nuduh aku yang macem macem kan?"


"Nggak, sayang. Aku hanya mau tahu saja."


"Aku, pernah tidur juga sama Jimmy. Tapi itu hanya satu kali, mas."


"Waktu itu fikiranku lagi kacau setelah tahu Rendy lupa ingatan dan sama sekali nggak kenal aku."


"Aku khilaf, mas. Fikiranku benar benar nggak karuan."


"Ya sudah, sayang. Itu hanya masa lalu kamu saja. Lupakan saja, maaf jika aku menyinggung kamu. Aku nggak ada maksud apa apa, hanya ingin tahu saja."


"Iya, mas."


"Kamu sendiri apa pernah tidur dengan perempuan sebelum menikah, mas?"


"Kamu bertanya pasti akan aku jawab, sayang. Biar kita sama sama tahu."


"Iya, dulu aku memang pernah tidur dengan perempuan."


"Kalau boleh tahu, sama siapa saja?"


"Sama mantanku yang dulu sekali, dan yang terakhir sama Chika."


"Jujur kalau sama Chika aku sering ngelakuin. Itu karena dia yang minta, sayang. Bukan aku yang mulai duluan."


"Mereka yang udah pernah tidur sama aku, memang sudah nggak perawan. Mungkin ada main di belakang selain sama aku. Mana udah longgar lagi."


"Ih, mas kamu kok ngomongnya gitu sih. Walaupun udah longgar juga kamu menikmati, kan."


"Ya, mau gimana lagi. Sama sama menikmati, sayang."

__ADS_1


"Tapi walaupun mereka lebih lincah, aku lebih suka sama kamu sayang."


"Nggak suka ya nggak mungkin kamu nikahin aku, lah mas. Kamu ini ada ada saja."


"Bukan soal itu, sayang."


"Trus apa, mas?"


"Sempit."


"Mas Rohman." Reflek aku menjambak rambutnya. Di saat seperti ini dia masih bisa menggoda aku. Dia sama sekali tidak marah setelah apa yang aku ceritakan.


Sebuah kecupan mesra mendarat di bibirku. Akupun membalasnya dengan sangat manja. Semakin hari aku semakin mencintai mas Rohman. Rasanya tidak ingin jauh darinya.


Usai makan mas Rohman berpamitan padaku untuk berangkat kerja. Karena waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Ku antar mas Rohman sampai ke depan. Lalu ku cium punggung tangan suamiku.


Aku melambaikan tangan saat kendaraan yang dikendarai mas Rohman mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Hingga akhirnya aku masuk ke rumah saat mas Rohman benar benar sudah tidak nampak lagi. Aku mengunci pintu, lalu sibuk dengan kegiatanku di pagi hari.


Beberes rumah, mencuci pakaian, dan lanjut setrika. Untung sudah ada mesin cuci, jadi tidak perlu repot repot cuci pakaiannya.


Tak terasa hari sudah siang. Semua pekerjaan sudah selesai. Aku merebahkan diri di depan tv sambil melihat berita. Sungguh melelahkan sekali hari ini.


Tidak mungkin jika itu kurir paket. Kan aku sama sekali tidak memesan paket. Aku bergegas melihat siapa yang datang. Aku membuka sedikit gorden untuk melihat orang yang mengetuk pintu.


Tidak terlihat jelas, karena dia menghadap ke depan. Jadi posisi badannya membelakangi pintu. Jadi tidak tahu siapa yang jelas.


Saat aku mengintip dari jendela, dilihat dari postur tubuh. Sepertinya aku mengelnya. Dilihat dari lerawakan tubuhny yang tingi kurus. Jika aku perhatikan terus kok jadi mirip mas Rendy.


Tapi tidak mungkin juga itu dia. Tau dari mana juga kalau aku tinggal di sini. Apakah dia meminta alamatnya pada mertua aku. Aku semakin bingung dibuatnya.


Aku segera membuka pintu. Dan benar saja, orang yang datang adalah Rendy. Aku sangat tarkejut sekali. Aku berharap ini adalah mimpi di siang hari.


Namun semua itu nyata adanya setelah aku merasakan sakit saat kucubit tanganku. Aku sangat takut dan juga panik berhadapan dengannya. Mana aku di rumah sendirian pula.


"Ka..kamu. Kok kamu bisa tahu rumahku. Siapa yang kasih tahu kamu, mas?"


"Tidak perlu tau aku bisa tahu alamat kamu dari mana. Yang jelas aku akan tetap mengejar kamu, Liss."


"Ma.. maksud kamu apa mas?"


"Tidak ada apa apa.?"

__ADS_1


"Ya sudah silahkan masuk, mas.?"


"Silahkan duduk, biar aku ambilkan minum dulu." Aku segera ke dapur untuk mengambil air minum.


Ya Tuhan, apakah aku berdosa jika menerima tamu laki laki saat suamiku tidak ada. Bahkan aku juga mempersilahkan dia untuk masuk.


Aku kembali sambil membawa minuman dingin dan ku suguhkan pada Rendy. Lalu aku duduk di sebelahnya. Aku merasa canggung dan bingung harus mulai percakapan dari mana.


"Kamu ada perlu apa ke sini, mas? Dan kamu juga tahu rumahku dari mana?"


"Padahal aku baru saja pindah loh. Yang tahu alamat ini hanya keluarga suamiku dan juga ipar iparnya


"Sudah aku bilang, aku akan mengejar kamu."


"Jangan bicara sembarangan, mas.? Aku ini sekarang juga sudah jadi istri orang"


"Iya aku tahu status kamu itu istri orang. Tapi aku tetap tidak perduli. Tunggu aku akan merebut kamu darinya."


"Kamu jangan bercanda, mas."


"Aku sedang tidak bercanda."


"Aku tahu anak yang di dalam perut itu bukan anak Rohman."


"Mau kamu tutupin aku tetap tahu. Aku yakin kalau itu adalah anak aku." Aku semakin takut karena Rendy menatapku dengan tatapan yang sangat serius.


"Kamu ingat berapa kali aku meniduri kamu?" Kamu jangan mengelak lagi, itu pasti anak aku kan?"


"Kalau ini benar anakmu, kamu mau apa?"


Rendy menjambak rambutku dengan kuat. Aku meringis kesakitan. Baru kali ini aku melihat dia sangat garang dan sepertinya sedang marah.


"Ka..kamu kenapa menjambak aku? Ini sakit mas, lepasin!"


Sebuah kecupan mendarat di bibir. Dengan ganasnya dia menikmati bibirku tiada ampun hingga aku kesulitan untuk bernafas. Aku sudah mencoba menghentikannya. Namun usahaku sia sia.


Tangan Rendy berhasil membuka daster yang aku kenakan. Aku ingin berteriak, namun bibir ini terkunci. Aku sangat tidak menyangka jika Rendy berani melakukan hal seperti ini. Aku mencoba terus berontak, namun tetap sia sia.


Hingga akhirnya aku tak berdaya dibuatnya. Rendy berhasil meniduri aku lagi. Kali ini dia nekat melakukannya di rumah mas Rohman. Dan dia melakukannya di ruang tamu. Dia benar benar nekat.


Aku menangis tersedu setelah Rendy melakukan itu kepadaku. Aku merasa diriku sangat berdosa sekali pada mas Rohman. Aku tega melakukan zina saat mas Rohman bekerja. Rasanya aku ingin mati saja. Aku tidak kuat jika harus menanggung dosa ini. Diriku sudah terlalu hina. Maafkan aku mas Rohman.

__ADS_1


__ADS_2