
"Salma!"
Mas Kamal sontak mengalihkan pandangan dari buku menu yang dipegangnya. Mendongak melihat asal suara. Sesaat mereka saling berpandangan. Sorot mata mereka seperti masih menyimpan rasa satu sama lain. Seperti tatapan mata Azzam saat menatapku. Apakah ini artinya mereka masih saling cinta?
Tiba-tiba saja hatiku ngilu melihat pemandangan itu. Namun aku harus bisa bersikap sewajarnya. Berpura-pura tidak tahu tentang masa lalu mereka.
Wanita itu berjalan menghampiri kami. Benar apa kata Mbak Astri. Salma sangat cantik.
"Jadi kamu yang mau pesan catering?"
Tanyanya. Aku menangkap nada canggung yang sedikit bergetar darinya.
Mas Kamal menatap Salma lamat-lamat.
"I..iya Salma."
Aku menelan ludah. Hatiku sesak mendengar jawaban Mas Kamal yang seolah tidak tegas.
"Ini catering kamu?"
Tanya Mas Kamal.
Wanita itu mengangguk.
"Iya, ini usahaku dengan almarhum sebelum meninggal."
Kulihat netra wanita itu berkaca-kaca.
Selintas kulihat Mas Kamal menatapnya teduh. Membuatku cemburu.
"Oh ya.. kenalin calon istriku, Kalila."
Wanita itu menjulurkan tangan ke arahku.
"Salma,"
"Kalila,"
Kami saling berjabat. Tanganku gemetar. Dadaku sesak.
Sesaat suasana menjadi hening.
Kami larut dalam pikiran masing-masing.
Namun aku bisa melihat kedua orang itu seperti salah tingkah.
"Jadi gimana dengan harga cateringnya Mbak?"
Tanyaku untuk memecah kesunyian yang tercipta.
"Emm..un..tuk kapan ya Mbak?"
Tanyanya tergagap.
"Dua bulan lagi."
Ujarku seraya meletakkan buku menu ke atas meja.
"Apa aja Mas tadi?"
Ujarku sedikit menyentak.
"Eh ..itu yang paket A."
Sama seperti Salma. Mas Kamal juga gelagapan.
Keduanya menunduk. Tak berani melihat satu sama lain.
"Ya Mbak, kami mau ambil paket A. Untuk 100 orang."
Ucapku.
__ADS_1
"Baik Mbak, jadi totalnya lima juta limaratus. DP 20 persen."
Jelas Salma.
Mas Kamal mengeluarkan dompet kemudian memberikan sejumlah uang yang diminta Salma.
Tangan mereka saling terjulur. Ada getaran yang bisa dengan jelas kulihat.
Salma menggigit bibir.
"Terima kasih Kamal."
Ujarnya bergetar.
Sesaat kemudian kami sudah meninggalkan rumah Salma.
"Salma itu siapa Mas?"
Tanyaku di dalam mobil.
"Temen lama."
Jawabnya seraya menelan saliva.
"Sepertinya teman dekat."
Ujarku memancing.
Sontak lelaki itu menatapku sesaat. Kemudian mengarahkan pandangan ke arah depan.
Aku diam. Tak bertanya lagi.
Aku tahu, pikiran lelaki itu pasti sangat kalut.
Setelah sekian lama tidak berjumpa dengan Salma, kini dia harus berurusan kembali dengan cinta pertama yang sudah menjadi janda.
"Ngomong-ngomong, Mas Kamal udah nyoba jas pengantin?"
Pria itu menggeleng.
Aku mendesah pelan.
Ya Allah, apakah kehadiran Salma adalah petunjuk yang engkau berikan kepadaku.
Bahwa Mas Kamal adalah bukan jodoh terbaik untukku.
***
"Bu, kalo Salma batal menikah dengan Mas Kamal gimana?"
Ibu yang sedang merajang sayuran di dapur menghentikan aktivitasnya.
Beliau menatapku.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Nduk?"
"Kalila ragu Bu."
Aku menghela nafas dalam.
"Lha kenapa? Itu namanya godaan sebelum menikah, memang biasanya begitu. Selalu ada aja keraguan, gangguan. Kita kembalikan niat menikah untuk ibadah. InsyaAllah keraguan hilang Nduk?"
"Mas Kamal ketemu mantan pacar yang sangat dicintainya Bu"
"Terus kenapa kalo ketemu. Kamal khan nggak selingkuh tho?"
Aku menggeleng.
"Ya sudah, minta sama Allah diberi petunjuk dan keteguhan hati."
Ujarnya seraya menggenggam tanganku erat.
__ADS_1
***
Semenjak pertemuan dengan Salma. Aku melihat ada sedikit perubahan pada sikap Mas Kamal. Lelaki itu menjadi lebih pendiam, semangatnya membahas pernikahan tak lagi sama seperti sebelumnya. Hal itulah yang membuatku gamang akan rencana pernikahan ini.
Aku sejujurnya pernah merasakan , berbunganya hati saat bertemu kembali dengan cinta pertama yang namanya selalu dirapalkan dalam doa. Aku bahkan pernah secara diam- diam mengaminkan doa seorang Bapak tua di pesawat ketika beliau mendoakan aku berjodoh kembali dengan Azzam. Meskipun saat itu aku tahu, lelaki itu sudha beristri.
Dan saat melihat Azzam pun, sejujurnya hati ini masih dihiasi warna merah muda.
Benar kata pepatah, cinta pertama tak pernah mati. Selalu ada ruang untuk cinta pertama dalam sudut hati. Tinggal pemilik hati, mau mengunci rasa itu atau membiarkannya tetap bersemi.
Cinta pertama yang kurasakan kepada Azzam, mungkin seperti itulah cinta Mas Kamal kepada Kalila. Bisa jadi lebih dalam dari hubunganku dengan Azzam.
Aku pernah hampir menikah dengan Azzam. Begitu juga dengan Mas Kamal. Pria itu hanya selangkah lagi menikahi cinta pertamanya. Namun takdir tak berpihak pada cinta mereka. Cerita yang sama persi dengan diriku dan Azzam.
Aku sangat tahu bagaimana rasanya menunggu seseorang, bagaimana melangitkan doa agar Allah bisa mempersatukan diriku dengan Azzam cinta pertamaku. Bagaimana sesaknya dada ini saat bermunajat, agar Allah mengirimkan kembali dirinya untuk diri ini.
Aku sepenuhnya paham, mungkin seperti itu juga yang dirasakan Mas Kamal. Dan saat ini, kesempatan memiliki Salma terbuka lebar. Namun lagi-lagi ada aral yang menghalangi. Pria itu kini dihadapkan kenyataan, bahwa sebentar lagi dia akan menikah dengan wanita lain yaitu diriku.
Aku memang mencintai Mas Kamal. Itu sebabnya aku menerima lamarannya. Namun, aku yakin bahwa cinta Salma kepadanya lebih besar daripada cintaku.
Haruskah aku mundur dan merelakan cinta mereka bersatu?
Namun, Jika aku membatalkan pernikahan ini, bagaimana dengan perasaan orangtuaku. Bagaimana membilas air mata haru yang terlanjur tumpah saat tahu anaknya dilamar seorang pemuda. Ribuan hari merela lalui dengan bermunajat kepada Allah, meminta sang Khalik untuk menyegerakan jodoh anaknya. Dan kini jodoh itu datang. Haruskan aku menukar kebahagiaan yang mereka rasakan dengan egoku sebagai seorang wanita. Ego untuk dicintai setulus hati, tanpa bayang-bayang wanita lain.
***
Waktu menunjukkan pukul 13.00 saat aku menapaki halaman rumah Salma. Hari ini aku bermaksud menemuinya. Menyelesaikan semua persoalan hati yang menggangguku. Mencari kepastian bahwa memang Salma sudah melupakan Mas Kamal, untuk meyakinkan hatiku.
Kuketuk pintu rumah itu tiga kali.
"Assalamualaikum."
Ujarku mengucap salam.
"Waalaikumsalam."
Suara teriakan perempuan terdengar menjawab salamku.
Suara Salma.
"Mbak Kalila ya, calon istri Kamal."
Aku mengangguk.
"Ayo silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu lagi? Atau ada perubahan menu?"
Ucap Salma ramah.
"Monggo duduk dulu."
Aku segera melangkah menuju sofa berwarna abu di ruang tamu.
"Jadi gimana Mbak?"
Tanyanya lagi.
Aku menghela nafas perlahan. Mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan wanita ini.
"Maaf sebelumnya kalau saya lancang."
Ujarku tertahan.
Sepintas kulihat raut bingung pada wanita cantik itu.
"Iya ada apa Mbak?"
"Apa-- Mbak Salma masih mencintai Mas Kamal?"
Tanyaku seraya menatap wajahnya lamat-lamat.
Sontak raut muka Salma berubah mendengar pertanyaanku. Wanita itu menelan saliva. Memalingkan wajahnya dari tatapanku. Dia tak menyangka aku menanyakan hal ini kepadanya.
__ADS_1