Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Bagian 10


__ADS_3

Beberapa menit kemudian aku telah memasuki badan pesawat. Barang bawaan sudah disimpan oleh pramugari di kabin atas pesawat ini. Terlihat semua penumpang sudah duduk manis di kursi masing-masing. Beberapa melihat aku dan lelaki itu yang tengah berjalan menyusuri lorong diantara kursi-kursi yang berderet untuk mencari tempat duduk kami. Aku segera menempati tempat duduk yang sesuai dengan boarding passku. 12 C kursi paling pinggir. Kulihat pria itu duduk di kursi depanku, tepatnya di 10 F.


Sejurus lelaki itu menoleh ke belakang. Tersenyum ke arahku seraya mengacungkan jempolnya. Seolah dia ingin memastikan bahwa aku sudah aman di pesawat ini.


"Terimakasih."


Aku mengangguk kepadanya.


Pria itu membalas anggukanku dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.


Aih, sungguh lelaki yang sopan.


Sesaat aku lupa dengan segala luka yang telah singgah di hati ini.


Dua jam lamanya burung besi itu mengudara. Pengumuman disampaikan oleh awak pesawat, bahwa sebentar lagi kami akan mendarat di Surabaya. Aku beringsut membenarkan posisi meja yang masih terbuka di hapadan. Memasang kembali seat belt di badan.


Pukul 10. 45 pesawat mendarat sempurna di Juanda. Para penumpang sibuk menurunkan barang bawaan dari atas kabin. Sebagian memilih tetap duduk sembari menyalakan ponselnya. Satu persatu menuruni pesawat . Berjalan beriringan menuju ruang pengambilan bagasi. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari keberadaan lelaki itu. Namun nihil. Aku tak melihatnya lagi. Mungkin dia sudah berada di ruang kedatangan.


Tapi biarlah. Toh kami hanya kebetulan bertemu di sini.


Conveyor bagasi berputar. Di atasnya ada koper-koper dan beberapa kardus milik penumpang. Bermacam-macam warna dan bentuknya. Satu persatu koper sudah berpindah ke pemiliknya.


Sesaat setelah koperku muncul dari conveyor, aku segera mengambil troli dan menempatkan benda hitam itu diatasnya.


Kemudian melangkah keluar mencari taksi untuk meninggalkan bandara ini.


****


Sudah 4 pekan aku berada di rumah. Mengisi waktu luangku untuk membantu Bapak mengurusi usaha toko kelontongnya. Sembari menyebar aplikasi lamaran pekerjaan lewat email. Sesekali aku berkirim pesan ke Nisa. Menanyakan kabar teman-teman di Batam dan isu-isu menarik di perusahaan. Tak lupa berbasa basi menanyakan kabar Azzam, suaminya.


Dia bilang Azzam kini sudah mendapat promosi jabatan di perusahaan tempatnya bekerja. Tak heran, lelaki mantan tukang foto copy itu memang cerdas dan selalu berdedikasi di setiap pekerjaan yang ditekuninya.


Aku juga mendengar darinya, jika bulan depan Nisa memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan rahim sebagian.


Hanya berdiam diri di rumah membuatku dibanjiri pertanyaan dari para tetangga.


Kapan menikah?


Kapan kerja lagi?


Pertanyaan yang sangat wajar mengingat usiaku kini sudah menginjak kepala tiga.


'Tolong doain aja ya Bu'


Itu kalimat andalan yang selalu kuucapkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.


Beruntung aku mempunyai orang tua yang mengerti kondisi anaknya. Mengerti bahwa jodoh sudah diatur oleh Allah. Jadi mereka juga tak ambil pusing omongan tetangga.


Namun aku tahu, dibalik ketidakperduliannya atas omongan tetangga, diam-diam ibu dan bapak selalu menangis di malam-malam mereka. Bermunajat meminta jodoh untuk anaknya kepada Sang Maha Kuasa.


Maafkan anakmu Pak, Bu.


Maafkan Kalila yang belum bisa memberi seorang menantu untukmu.


**


Hari ini aku berencana untuk pergi ke kampus tempatku menempuh pendidikan saat kuliah. Aku bermaksud melegalisir ijazah dan transkrip nilai untuk keperluan pendaftaran CPNS. Dengan mengendarai sepeda motor aku menuju kampus yang berada di ujung kota Surabaya.


Empat tahun sudah aku tak berkeliling di jalanan kota pahlawan. Kota ini sudah banyak berbenah. Banyak pusat perbelanjaan baru yang tak pernah kulihat sebelumnya.


Tiga puluh menit kemudian aku sudah memasuki halaman kampus. Kuparkir kendaraanku di parkiran khusus tamu. Kemudian melangkah ke ruangan tata usaha tempat legalisir ijazah.


"Maaf Bu, saya mau legalisir ijazah."


Kataku pada seorang wanita berhijab biru.


"Oh ya silahkan. Tapi paling 2 hari lagi jadinya ya."


Ucapnya ramah.


Aku mengangguk seraya menyerahkan amplop coklat kepadanya.m


"Terimakasih Bu,"


Ujarku.


Setelah menerima tanda bukti legalisir aku melangkahkan kaki menuju kantin. Untuk mengisi perut dan sekedar bernostalgia di kampus ini.


Aku memesan sepiring lontong cap go meh dan segelas es teh. Makanan favorit saat aku kuliah di sini. Kantin terlihat lumayan sepi. Hanya beberapa orang terlihat lalu lalang. Mungkin masih jam perkuliahan. Aku mengambil duduk di meja paling luar. Tempat ini mempunyai banyak kenangan dalam hidupku, termasuk kenangan bersama Azzam.


Tak ayal, bayangan Azzam berkelebat di pikiran. Membuatku melamun beberapa saat.

__ADS_1


"Lho ini bukannya mbak yang dulu ketemu di bandara."


Suara laki-laki menyadarkanku dari lamunan. Aku mendongak.


Rupanya dia pria yang menolongku saat itu. Lelaki itu kini sudah berdiri di hadapan.


"Eh iya Mas."


Ucapku sedikit gugup.


"Boleh duduk di sini?"


Lelaki itu menunjuk kursi di seberang mejaku.


Aku menganguk tak ada pilihan lain.


Pria itu kemudian duduk di kursi.


"Maaf saat itu nggak sempat ngucapin terima kasih Mas."


Lelaki itu tersenyum.


"Nggak apa,"


Ujarnya.


"Oh ya ngapain di sini?"


Tanya lelaki itu.


"Legalisir ijazah Mas,"


"Mau lamar PNS?"


Aku mengangguk.


Sesaat kemudian kami terlibat dalam obrolan yang cukup santai. Pembawaanya yang supel membuatku tidak canggung untuk berbincang dengannya.


Benar dugaanku. Laki-laki itu bernama Kamal Ibrahim. Pemilik nama yang disebut oleh kru pesawat saat itu. Kamal ibrahim adakah dosen muda di kampus ini. Saat itu dia ke Batam untuk menjadi dosen tamu. Lelaki itu berpamitan setelah meminta nomer ponselku. Pria itu bilang akan mengabari jika legalisir ijazahku sudah jadi. Jadi aku tak perlu repot-repot menghubungi pihak kampus.


***


Ting..


[Assalamualaikum Kalila. Ini Kamal. Legalisir ijazah sudah jadi ya]


Aku tersenyum. Rupanya pria itu menepati janjinya.


[Waalaikumsalam. Makasih infonya Mas. Besok aku ambil]


[Ok]


Balasnya singkat.


Keesokan harinya aku kembali lagi pergi ke kampus. Dengan memakai stelan rok jins, kemeja berwarna peach dengan hijab senada. Mengoleskan sedikit lipstik di bibir. Entah kenapa aku ingin terlihat cantik di depan lelaki itu.


"Kalila ..!"


Teriak lelaki itu saat melihatku memasuki gerbang kampus. Tangannya menggenggam sebuah amplop coklat. Amplop berisi legalisir ijazah.


Aku bergegas memarkir motor kemudian berjalan ke arahnya yang tengah berdiri di depan lobi kampus.


Senyum pria itu mengembang. Kubalas dengan senyuman yang tak kalah manis.


"Ini."


Ujarnya menyerahkan amplop itu.


"Terimakasih ya Mas,"


Jawabku.


Lelaki itu mengangguk. Hari ini dia terlihat begitu mempesona di mataku.


"Ke kantin kita?"


Ajaknya sedikit canggung.


Aku mengangguk malu-malu. Ada getaran aneh yang menghampiri hati.


Selintas kulihat lelaki itu tersenyum. Manis sekali.

__ADS_1


Tak berapa lama kami sudah duduk di meja kantin. Hari ini kantin lumayan ramai. Beberapa mahasiswa berbisik-bisik melihat kami. Ada juga yang bersiul menggoda dosen mudanya yang masih single itu. Menyuruh lelaki iru segera menghalalakanku. Membuat mukaku memerah dan salah tingkah di hadapan anak-anak remaja ini. Sementara si dosen muda itu hanya tersenyum menanggapi mereka. Sesekali melontarkan candaan balik untuk mahasiswa yang menggodanya.


Sejurus kemudian kami larut dalam perbincangan yang hangat. Saling bercerita tentang masa-masa menjadi mahasiswa. Berbagi kisah tentang perjalanan karir dan juga keluarga masing-masing. Obrolan yang sangat mengasyikkan dengan bumbu candaan yang membuat kami tertawa bersama.


***


3 bulan sudah semenjak pertemuan keduaku dengan Mas Kamal di kantin kampus. Kami intens berkomunikasi melalui pesan di ponsel. Sekedar menanyakan kabar atau berbagi cerita di hari itu. Aku kini sudah bekerja di sebuah perusahaan makanan di Rungkut, Surabaya. Belum rezekiku untuk menjadi seorang PNS.


[Assalamualaikum Kalila. Bisa kasih alamat?]


Pagi ini aku membaca sebuah pesan dari Mas Kamal.


[Mau ngapain Mas?]


[Mau ketemu orangtuamu]


Deg!


Aku begitu terkejut membaca pesan itu.


Mau apa dia menemui orangtuaku.


[Mau ngapain ketemu Bapak?]


[Melamarmu]


Ya Allah.


Sungguh pesan singkat itu membuatku gemetar. Hari ini seorang laki-laki berniat menjadikanku istrinya. Tak terasa bulir bening menetes dari kelopak mata.


Ya..Aku bahagia.


Sangat bahagia.


Apakah lelaki ini adalah jawaban dari doa-doaku di sepertiga malam. Saat aku menangis pasrah di hadapan Allah. Untuk mempertemukanku dengan seorang calon imam yang terbaik menurut DIA.


[Kalila. Mana alamatnya]


Mas Kamal mengirim pesan kembali.


Cepat-cepat kubalas pesan itu. Menuliskan alamat dan mengirim ke lelaki itu.


****


"Assalamualaikum."


Ucap Mas Kamal di depan pintu.


"Waalaikumsalam."


Jawabku.


Terlihat Mas Kamal sudah berada di pintu rumahku yang memang sudah terbuka sejak beberapa jam lalu. Aku sengaja menunggu lelaki itu.


Sejenak pria itu menatapku. Mas Kamal terlihat begitu tampan hari ini.


Senyumnya merekah, sangat mempesona. Buru-buru aku menunduk. Entah kenapa tiba-tiba saja aku begitu malu menatapnya. Padahal dulu saat bertemu aku biasa saja menatap wajahnya. Sekarang, bahkan melihat bajunya saja rasanya sangat deg-degan.


"Kok kayak malu-malu gitu."


Lelaki berkemeja maroon itu terkekeh.


Aku tersenyum.


"Oh ya Bapak mana?"


Tanyanya.


"Oh ya tunggu ya Mas. Aku panggil dulu."


Ucapku.


Mas Kamal melangkahkan kaki menuju sofa berwarna hitam di ruang tamu.


Baru saja aku akan melangkah ke ruang tengah. Sebuah suara mengucap salam dari pintu.


"Assalamualaikum."


Suara itu sangat kukenal.


Spontan aku berbalik ke ruang tamu. Seorang lelaki sudah berdiri di pintu.

__ADS_1


"Azz..zam!"


Bersambung.


__ADS_2