
Eps. 60
Samar samar aku mendengar suara azan subuh. Aku mulai membuka mata dan terbangun. Ku ambil ponsel di meja, ku perhatikan layar ponsel ternyata sudah pukul setengah lima pagi.
Aku bergegas membangunkan mas Rohman untuk melaksanakan sholat subuh. Sebagaimana dia adalah imamku saat ini. Dan aku harap akan seterusnya menjadi imamku. Sampai maut memisahkan kami berdua.
"Mas, bangun. Sudah subuh, ayo kita sholat berjamaah bareng." Belum ada tanda tanda mas Rohman bangun. Dia nampak menggeliat sebentar namun tak kunjung membuka mata.
Aku berusaha membangunkannya lagi. Ku goncangkan tubuhnya dengab sedikit kencang dan berbisik di telinganya agar dia segera bangun.
"Mas, ayo bangun. Kita sholat bareng ini sudah subuh." Akhirnya mas Rohman mulai membuka matanya. Dia belum sepenuhnya sadar. Ya, aku tahu mungkin masih merasa capek karena acara resepsi kemarin. Begitupun dengan aku, juga merasakan lelah yang begitu mendalam.
"Ayo mas, jangan malas malasan."
"Hmm, iya sayang." Mas Rohman sudah bangkit dari tiduranya dan mulai duduk di tepi ranjang. Dia membelai rambutku dan mengecup keningku.
"Ayo, ambil air wudhu mas. Mumpung masih ada waktu."
Tanpa basa basi mas Rohman segera beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Pun denganku yang mengikutinya dari belakang. Usai wudhu kami melaksanakan sholat subuh bersama. Kemudian dilanjut membaca Al quran bersama.
***********
Hari sudah mulai menampakkan cahaya matahari. Hari ini aku melayani mas Rohman layaknya seorang istri. Aku membuatkan minum dan juga makanan untuk sarapan pagi.
Selama aku memasak, aku belum melihat ibu bapak dan juga adiknya mas Rohman. Kira kira mereka ke mana ya. Masak iya masih tidur, sepertinya nggak mungkin.
Akhirnya masakan aku sudah selesai. Makanan segera aku hidangkan di meja makan. Ada sayur sop, ayam goreng, tempe goreng, dan sambal terasi. Aku memanggil mas Rohman untuk segera sarapan. Yah, walaupun hari ini dia masih cuti setidaknya sudah sarapan pagi.
"Mas, masakan sudah siap. Ayo, makan dulu."
"Oh iya, bapak ibu sama adik kamu ke mana ya. Kok dari tadi aku belum lihat, mas."
"Aku nggak tahu, sayang. Mungkin lagi ke rumah sodara atau ke pasar. Ya udah, ayo kita makan."
"Apa nggak apa apa kita makan duluan nggak nungguin dulu."
"Nggak apa apa, sayang. Nanti kamu kelaperan kasian anak kamu."
"Ya, sudah ayo mas kita makan bareng."
Aku mulai mengambilkan nasi, sayur dan juga lauk untuk mas Rohman. Dan dia mulai menyendokkan makanannya ke dalam mulut. Tampak kepalanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Masakan kamu enak, sayang. Nggak kalah jauh sama masakan ibu."
"Ini adalah menu kesukaan aku mas. Sayur sop dan ayam goreng."
"Kamu makan yang banyak sayang. Harus banyak nutrisi. Biar bayi dan juga ibunya tetap sehat."
"Iya mas, aku ngerti. Oh ya mas, kamu kapan mulai masuk kerja?"
"Mungkin tiga hari lagi, sayang. Dua hari lagi kan kita akan lindah ke rumah baru."
"Dua hari lagi, mas?"
"Iya sayang. Di sana barangnya sudah lengkap kok. Kita tinggal bawa pakaian aja secukupnya.
Saat kami berdua asik makan sambil ngobrol, tiba tiba bapak dan ibu mas Rohman datang. Mereka membawa beberapa kantung plastik.
"Ibu, bapak dari mana?" Tanya mas Rohman dengan sedikit keheranan.
"Dari pasar habis beli bahan untuk isi kulkas."
"Kok ibu nggak nyuruh kami saja, sih."
"Kami sudah bangun dari subuh tadi, bu."
"Ya sudah lah, yang penting ibu sama bapak kan sudah pulang."
"Oh ya, ibu bapak masri sarapan dulu. Aku sudah masak sayur sop sama ayam goreng."
"Kalian duluan saja, nak. Nanti ibu menyusul. Ibu mau ke tempat tante kamu dulu kasihkan titipannya. Nanti takutnya ibu lupa."
"Ya sudah, bu."
Bapak duduk di meja makan ikut bergabung bersama aku dan mas Rohman. Kami hanya makan bersama bapak, sedangkan Mirna smpai sekarang belum terlihat. Apakah dia belum bangun.
"Mirna ke mana, pak? Kok sampai sekarang belum kelihatan?"
"Ooh, tadi pagi dijemput temannya katanya mau jogging bareng."
"Hmm, aku kira belum bangun."
Usai makan aku segera membereskan bekas piring kotor di meja menuju dapur. Aku mencuci semua peralatan yang kotor. Setelah itu aku membersihkan meja.
__ADS_1
Ku tengok jam dinding ternyata sudah pukul sembilan. Cuacanya sangat cerah sekali. Aku segera mandi agar badan terasa segar.
**********
Siang ini aku duduk di kursi teras rumah. Sambil melihat orang orang yang sedang membongkar tenda untuk acara kemarin. Mas Rohman datang dan duduk di sebelahku.
"Sayang, apa kamu betah tinggal di sini?"
"Kenapa mas tanya seperti itu?"
"Nggak apa apa, hanya memastikan saja."
"Prinsip hidupku ya mas, betah nggak betah, nyaman nggak nyaman itu tergantung orang orang sekitar dan lingkungan seperti apa."
"Selama di sini aku diperlakukan baik oleh keluargamu, ya begitu pula sebaliknya. Aku juga bisa memperlakukan baik keluarga kamu."
"Betah atau tidak sih untuk saat ini aku bisa bilang betah. Keluarga kamu baik semua, mas. Dan aku suka itu tandanya mereka bisa menerima aku."
"Ya sudah sayang, aku hanya memastikan saja. Mudah mudahan nanti di rumah baru kamu juga betah, ya."
"Kalau misalkan nanti pas aku kerja kamu di rumah merasa kesepian nggak ada teman, kamu bolah kok ke rumah ibu dulu. Nanti pulang kerja aku jemput."
"Sudah mas, itu tidak perlu difikirkan. Kita masih di sini, kan. Urusan itu kita fikirkan nanti saja jika sudah pindah."
Tak buth waktu lama semua tenda sudah di bongkar dan sudah diangkut kendaraan. Aku dan mas Rohman berinisiatif membersihkan sampah di halaman lalu membakarnya. Alhamdulillah, halaman rumah sudah tampak bersih lagi.
************
Hari sudah mulai berganti malam. Seperti biasa setiap malam kami selalu berkumpul di depan tv bersama keluarga mas Rohman. Dan ini saatnya aku berbicara kepada orang tua mas Rohman. Bahwa dua hari lagi kami akan pindah ke rumah baru.
Sebenarnya berat buat aku. Aku merasa tidak tega dengan orang tua mas Rohman. Mereka sangat baik padaku. Mau menerima aku dengan apa adanya. Meskipun aku sedang hamil dan bukan anak kandung mas Rohman. Tapi mereka terlihat sangat menyayangi aku layaknya anak sendiri.
"Bapak, ibu, begini. Rencana dua hari lagi Rohman sama Lissa mau pindah ke rumah baru. Kami mohon ijin ya bapak, ibu. Rohman hanya ingin hidup mandiri saja karena sudah bukan tanggung jawab bapak sama ibu."
"Tapi nanti Rohman sama Lissa bakalan sering sering ke sini, kok buat jenguk ibu sama bapak. Kan jaraknya juga tidak jauh jauh sekali."
"Semoga bapak sama ibu bisa mengerti."
"Nak, sebenarnya ibu sama bapak itu seneng kalian ada di sini. Tapi jika itu kemauan kalia, ya ibu sama bapak tidak bisa melarang."
"Pesan bapak, jaga rumah tangga kalian. Kalau ada permasalahan ya di selesaikan dengan kepala dingin. Jangan dengan emosi, itu pesan bapak."
__ADS_1