
Eps. 53
Aku merasakan seseorang sedang membelai rambutku. Mungkinkah ini hanya sebuah mimpi. Atau hanya perasaanku saja. Aku enggan untuk membuka mata. Namun belaian itu terus aku rasakan. Hingga akhirnya aku membuka mata.
Ternyata itu bukan sebuah mimpi, namun kenyataan. Mas Rohman tengah membelai belai rambutku. Dan ternyata aku ketiduran di samping Mas Rohman.
Melihat aku terbangun, mas Rohman tersenyum padaku. Aku pun membalas senyum Mas Rohman. Ku perhatikan jam dinding, ternyata sudah pukul dua belas siang. Tidur ku cukup lama juga.
"Mas, maaf aku ketiduran di samping kamu."
"Iya, sayang. Nggak apa apa, kok. Aku malah senang sekali kamu tidur di pelukan aku. Deman ku sekarang sudah mendingan, sayang."
"Kamu mau makan, Mas. Atau kamu mau apa, biar aku ambilkan."
"Nggak usah sayang, aku mau ke kamar mandi dulu."
"Aku bantu jalan, Mas. Takut kamu jatuh kalau belum terlalu kuat untuk berdiri."
"Kamu jangan terlalu khawatir, sayang. Aku udah nggak kenapa kenapa, kok. Kamu yang tenang saja, ya."
"Ya udah, kamu hati hati jalannya."
"Iya, sayang."
Mas Rohman berjalan dengan sangat hati hati sekali menuju kamar mandi. Lalu aku bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan makanan. Untungnya masih ada bahan bahan yang bisa dimasak.
Aku segera meracik bumbu dan memotong motong sayuran. Siang ini aku akan memasak sayur sop dan tempe goreng. Tak buth waktu lama, kurang lebih satu jam kemudian semua makanan sudah tersaji di meja makan. Cukup cepat juga aku memasaknya. Karena yang aku masak ini sangat simple.
Ku ajak Mas Rohman ke meja makan. Lalu aku menuangkan nasi dan sayur ke dalam piring. Kuperhatikan wajah Mas Rohman tampak sumpringah. Terlihat sekali jika dia sangat bahagia.
"Maaf, Mas. Hanya ini yang bisa aku masak. Karena bahan makanan di kulkas tinggak ini. Aku belum sempat belanja."
"Nggak apa apa, sayang. Ini saja sudah sangat nikmat, selagi kamu yang masak."
"Aku makasih banget, sayang. Maaf, Mas udah merepotkan kamu."
"Iya Mas, nggak apa apa. Asalkan kamu sembuh, aku iklas ngelakuainnya."
"Ya sudah, mari kita makan. Mumpung masih hangat sayur dan nasinya."
"Iya, sayang."
Aku mulai menyendokkan nasi ke dalam mulut. Ku perhatikan Mas Rohman makan dengan sangat lahap. Aku sangat bahagia sekali. Apa pun yang aku masak, pasti Mas Rohman makan dengan sangat lahap dan menikmatinya.
Saat tengah menikmati makanan, aku teringat akan sesuatu. Tentang sebuah panggilan masuk pada ponsel Mas Rohman. Dan aku pun mulai memberi tahunya.
"Mas, maaf tadi aku lancang udan angkat panghilan masuk di ponsel kamu."
__ADS_1
"Ada panggilan tadi, sayang. Aku nggak denger, sih."
"Ya nggak denger, kan Mas tidur pules banget. Aku mau bangunin nggak berani. Ya udah aku angkat saja."
"Oh, iya nggak apa apa. Emang dari siapa tadi yang telepon."
"Aku nggak tahu, Mas. Nggak tanya juga nggaj liat namanya asal angkat saja."
"Dari perempuan, dia tanya kenapa kamu nggak berangkat kantor hari ini."
"Trus kamu bilang apa?"
"Ya, aku bilang saja kalau kamu lagi demam."
"Ya sudah, makasih ya, sayang."
"Iya, Mas."
"Kamu, nggak cemburu sama aku?"
"Cemburu kenapa, mas?"
"Ya cemburu kalau aku dapat telepon dari perempuan lain."
"Buat apa, cemburu. Aku nggak peduli kamu di luar gimana. Yang penting kalau kamu di rumah harus seperti biasa, Mas."
"Kenapa tanya seperti itu, Mas?"
"Ya sedih saja kamu bersikap biasa saja. Aku fikir kamu bakalan cemburu, ternyata tidak."
"Emang kalau aku cemburu kenapa, Mas."
"Kalau kamu cemburu ya Mas seneng, lah. Itu tandanya kamu sayang dan cinta sama aku, sayang."
"Ih, Mas ada ada saja."
"Oh ya, apa Mas bener bener udah enakan ini badannya?"
"Aku nggak apa apa, sayang. Udah mendingan, dan ini semua berkat kamu. Makasih istriku tercinta."
Sebuah kecupan mesra mendarat di pipiku. Aku pun tersenyum bahagia. Sungguh tak ku sangka aku akan mendapatkan suami seperti Mas Rohman. Meskipun masa lalunya seperti itu, namun aku sangat bersyukur. Aku harap dia benar benar tulus padaku dan tidak akan kembali mengulang masa lalunya.
"Uang belanja kamu apa masih ada, sayang?"
"Masih, kok. Emang kenapa, Mas?"
"Nggak apa apa, kalau kurang bilang saja."
__ADS_1
"Aku nggak pernah merasa kurang, Mas. Malah lebih dari cukup."
"Oh iya, kamu nggak jadi ke rumah Rendy buat jenguk ibunya, sayang?"
"Gimana aku tega ninggalin kamu, mas. Kan kamu sendiri juga lagi sakit. Ya jelas aku milih di rumah saja nemenin kamu."
"Kamu jauh lebih butuh aku, Mas."
"Sekali lagi makasih, sayang atas semuanya."
"Iya iya, Mas. Udah berapa kali Mas bilang makasih. Aku kan udah iklas, Mas."
"Kamu kalau mau jengu ibunya Rendy silahkan, sayang. Aku udah enakan, udah bisa jalan."
"Nggak, Mas. Udah siang, aku males. Kan di luar panas banget. Mending di rumah sama kamu."
"Ya sudah, terserah kamu saja. Kalau mau ke sana, bilang saja nggak usah sungkan."
"Iya, Mas aku ngerti."
Aku mulai bangkit dari tempat duduk dan mulai membereskan piring kotor. Lalu bergegas untuk mencucinya. Sedangkan Mas Rohman duduk di ruang tamu sambil bermain ponselnya. Aku tidak memperdulikan itu, walaupun dia mungkin sedang berkirim oesan pada seseorang. Aku lebih memilih tidak tahu dan tidak ingin tahu.
Usai mencuci piring, aku duduk di depan tv untuk menonton tv. Karena binging mau ngapain lagi. Semua kerjaan sudah beres, mending aku menonton sinetron ikan terbang.
'Pacar sahabatku ternyata adalah suamiku.' Judul sinetron yang aku tonton saat ini. Judul yang sangat meresahkan. Bagaimana tidak meresahkan, karena itu sering terjadi di dunia nyata. Banyak sekali orang yang merebut suami dari sahabatnya sendiri. Begitu pula sebaliknya.
Tapi semoga saja itu tidak terjadi pada diriku. Jika itu terjadi padaku, aku memilih untuk mundur dan fokus pada diri sendiri. Hanya andai saja, semoga saja tidak terjadi.
Tak beeselang lama Mas Rohman menyusulku duduk di depan tv. Dia merangkul pundakku dan mencium pipiku. Lagi lagi sebuah belaian hangat aku rasakan.
"Mas, coba deh lihat itu judulnya bagus."
Tiba tiba saja Mas Rohman tampak murung. Entah aku juga tidak tahu kenapa. Apakah mungkin aku salah ucap. Tapi kan tidak ada yang salah. Aku hanya menunjukkan judul filmnya saja. Tidak ada maksud yang lain.
"Mas, kenapa kamu tiba tiba murung gitu?"
"Apa aku ada salah ucap sehingga kamu jadi seperti ini?" Terdengar dengan jelas Mas Rohman menghembuskan nafas denfa kasar.
"Sayang, apakah kamu belum bisa memafkan dan melupakan masa lalu aku?"
"Kenapa Mas ngomong sepert itu?"
"Apa kamu sedang menyindir aku dengan judul film itu, sayang?"
"Astagfirullah, Mas. Aku nggak berfikir sampai ke sana. Aku nggak ada maksud apa apa sama kamu."
"Aku hanya saja ingin menunjukkan judul film itu sama kamu. Tapi kenapa kamu malah seperti ini, Mas."
__ADS_1