
Eps. 84
Aku bergegas pulang dengan terburu buru. Takut jika Mas Rohman mencariku. Baru kemarin kami bersenang senang liburan ke Jogja, tapi hari Mas Rohman malah demam. Mungkinkah dia kecapekan. Aku mempercepat jalanku agar lekas sampai ke rumah.
Aku segera masuk ke kamar untuk melihat keadaan Mas Rohman. Ku pegang keningnya, suhunya masih tinggi sama seperti tadi pagi. Aku bergegas mengganti kompresnya.
Setelah itu aku ke dapur, untuk menuang bubur yang ku beli tadi ke dalam mangkuk. Aku segera menyuapinya selagi bubur masih hangat.
"Mas, bangun dulu. Kamu makan dulu buburnya, mumpung masih hangat. Habis itu kamu minum obat biar panasnya turun."
Tanpa basa basi, Mas Rohman segera bangkit dan duduk bersandar. Dia tersenyum padaku, lalu membelai rambutku. Di saat saat seperti ini, aku jadi teringat akan kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan di belakang Mas Rohman. Aku sangat menyesali semuanya, dan tidak ingin mengulanginya lagi.
Aku mulai menyuapkan bubur sedikit demi sedikit ke dalam mulut Mas Rohman. Dia makan begitu lahapnya. Maskipun aku tahu jika orang sakit makan apapun rasanya sangat tidak enak.
"Mas, pasti kamu kecapean."
"Aku nggak apa apa, sayang. Maaf kalau aku udah buat kamu jadi panik seperti ini."
"Iya, Mas. Udah kewajiban aku buat merawat kamu kalau kamu sakit."
"Sekali lagi maafkan aku, sayang."
"Sudah Mas, jangan dibahas lagi. Kamu makan dulu buburnya, setelah itu minum obat biar panasnya lekas turun."
"Atau nanti kita ke dokter, Mas. Aku akan minta tolong pada Andry jika dia tidak sibuk."
"Sudah, sayang. Aku nggak apa apa, nanti habis ini minum obat saja."
"Sini, buburnya biar Mas makan sendiri. Kamu juga makan dulu, sayang. Nanti buburnya keburu dingin jadinya kurang enak."
__ADS_1
Mas Rohman merebut mangkuk berisi bubur yang aku bawa. Lalu aku bergegas mengambil bubur milikku. Dan kami berdua makan bersama.
Ketika selesai makan, aku mengambilkan obat dan meminumkan pada Mas Rohman. Lalu dia aku suruh untuk istirahat agar cepat turun panasnya. Setelah itu aku bergegas pergi ke dapur untuk beberes.
Saat aku tengah beberes, tiba tiba teringat akan sesuatu di benakku. Yaitu pesan dari Mas Rendy yang kemarin. Saat dia meminta aku datang ke rumahnya untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit.
Lantas aku segera mengambil ponselku di kamar. Melihat Mas Rohman yang sudah tidur, aku segera mengirimkan pesan untuk Mas Rendy. Aku ingin membatalkan niatku untuk menjenguk Bu Rita. Melihat suami aku sendiri juga sedang demam.
[Mas, maaf. Aku tidak bisa ke sana. Ini suami aku tiba tiba saja demam.] Tak berselang lama pesan yang aku kirimkan sudah dibalas. Cepat sekali respon Mas Rendy.
[Lis, kamu kemarin sudah berjanji padaku. Aku juga sudah bilang sama ibu, jika kamu akan ke sini.]
[Tapi kenapa tiba tiba saja kamu batalkan.]
[Maaf, Mas Rohman itu suami ku. Dan sekarang dia juga sedang sakit. Dia sangat membutuhkan aku saat ini, Mas. Tolong kamu mengerti posisi aku saat ini.]
[Tidak bisa kah kamu meluangkan sedikut waktu untuk ibu aku, Lisa?]
[Aku kecewa sama kamu, Lis.]
Tak ku balas lagi pesan dari Mas Rendy. Jika terus aku tanggapi, nanti yang ada malah jadi semakin panjang dan dia pasti akan menggunakan senjatanya. Yaitu mengungkit bayi yang aku kandung saat ini.
Kenapa harus seperti ini pada akhirnya. Kenapa Mas Rohman harus mandul. Dan kenapa anak yang ada di perutku ini adalah anak Mas Rendy. Aku benci semua ini. Aku memang wanita bodoh.
Tak terasa air mataku jatuh dengan sendirinya. Ingin aku sesali hidupku ini. Tapi percuma saja, karena ini sudah terjadi. Dan wakty juga tidak mungkin dapat diputar kembali. Satu satu jalan adalah, menjalani hidup yang ada.
Ku letakkan kembali ponselku, dan aku lanjut melanjutkan beberes. Menyapu, mencuci piring, lalu mencuci pakaian. Setelah semuanya selesai, aku membersihkan diri. Rasanya sangat segar sekali. Fikiranku kembali jernih dan dingin.
Saat aku akan mengambil pakaian di almari, terdengar derung ponsel. Ternyata milik Mas Rohman. Sebuah panggilan masuk, entah dari siapa aku juga tidak mengerti. Mas Rohman tak kunjung bangun. Aku pun segera mngangkat panggilan tersebut, takutnya jika ada yang penting.
__ADS_1
"Hallo, selamat pagi Pak Rohman." Suara seorang wanita memanggil nama suamiku dengan sebutan Pak.
"Iya, selamat pagi. Maaf saya istrinya. Pak Rohman sedang istirahat, karena sedang sakit."
"Mungkin ada pesan yang akan disampaikan, bu? Biar nanti jika suami saya bangun segera saya beri tahukan."
"Oh seperti itu. Niat maksud saya telepon Pak Rohman, hanya ingin menanyakan tentang peri hal megapa Pak Rohman hari ini tidak masuk kantor.
"Iya, bu. Seperti yang saya sampaikan tadi. Suami saya tiba tiba saja demam, sekarang sedang istirahat."
"Iya, baik terimakasih atas informasinya. Kalau begitu saya tutup dulu teleponnya."
"Iya, bu. Terimakasih kembali."
Panggilan telepon terputus secara sepihak. Ternyata dari teman kantor Mas Rohman. Tapi bisa saja dia adalah atasan Mas Rohman. Aku tak terlalu memperdulikan itu semua. Aku segera memeriksa keadaan Mas Rohman.
Alhamdulillah, panas sudah mulai turun. Dan sudah mulai berkeringat. Aku sedikit lega melihat keadaan Mas Rohman. Yang tadinya demam tinggi sekarang sudah berangsur membaik.
Aku duduk di samping Mas Rohman yang tengah terbaring dengan wajah sedikit pucat. Melihat wajahnya, kembali aku teringat akan dosa dosaku sebelumnya. Saat aku berhubungan badan beberapa kali denga Mas Rendy. Menyerahkan perawanku untuk orang yang bukan suami aku.
Penyesalan pasti ada. Tapi mau menyesal bagaimana pun itu, semua tidak akan berubah. Keadaan aku tetap seperti ini. Aku harus tetap sabar dan harus menata hidup agar menjadi lebih baik.
'Maafkan aku, suamiku. Aku sempat bermain api di belakang kamu. Tapi aku berani bersumpah, bukan aku yang menginginkan. Tapi aku dipaksa dan takut akan kekerasan fisik.'
'Aku tidak ingin itu semua terjadi lagi. Aku janji, aku akan berusaha menghilangkan rasanku ini pada Mas Rendy.'
'Aku hanya ingin di hati ku ini ada kamu seorang. Aku tidak mau yang lain.'
Tak terasa air mata ini menetes dengan sendirinya. Sebuah air mata penyesalan hidup karena sudah menghianati seorang suami. Aku tidak bisa membayangkan jika dia tahu semuanya. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancur hatinya.
__ADS_1
Aku harap rahasia ini akan tetap tersimpan rapat. Dan jangan sampai Mas Rohman tahu semuanya. Dan semoga saja Mas Rendy berhenti berharap denganku. Semoga saja dia bisa sadar jika saat ini aku sudah menjadi istri orang. Dan aku juga berharap, dapat menghilangkan rasa ini padanya.
Aku hanya ingin hidup tenang dan hanya ingin bahagia bersama suami aku. Aku tidak ingin menyia nyiakan seseorang yang benar benar tulus dan memperlakukan aku dengan baik. Aku tidak ingin kehilangan itu.