
Eps. 29
"Maaf, aku benar benar tidak ingat siapa kamu. Yang aku ingat Dilla ini adalah pacarku. Dan kita akan secepatnya menikah."
Bak disambar petir disiang bolong. Hatiku terasa teriris mendengar perkataan Rendy. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi begitu saja.
Tak terasa air mataku menetes begitu saja. Ku tatap wajah Rendy, dia tampak tersenyum bahagia menggenggam tangan Dilla. Dan ku perhatikan Dilla, dia tampak menatapku sinis dan menyunggingkan senyuman.
Apakah selama ini Rendy belum bisa move on dari Dilla. Apa selama ini dia mencintaiku hanya pura pura saja. Setelah apa yang dia dapat dariku, kini dia melupakanku begitu saja.
Kepalaku terasa sangat pusing sekali. Aku tidak kuasa melihat pemandangan seperti ini. Aku memutuskan untuk pergi, daripada menahan sakit hati yang amat dalam.
"Bu, Lissa pamit ya."
"Nak, apa tidak sebaiknya kamu di sini dulu nemenin ibu."
"Maaf bu, Lissa tidak bisa. Karena nanti saya sift malam. Jadi harus banyak istirahat. Takutnya saya pusing bu, jika kurang tidur."
"Nak, maafin ibu dan Rendy. Ibu harap kamu bisa sabar. Doakan Rendy supaya cepat sembuh, biar dia bisa mengingat semuanya. Dan kamu bisa cepat menikah dengan Rendy. Ibu sayang sama kamu, nak."
"Baik bu, tanpa di suruhpun Lissa akan selalu mendoakan Rendy agar cepat sembuh. Ibu jaga kesehatan, ya. Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati hati, nak."
Aku pergi tanpa menoleh ke belakang. Aku benar benar tidak kuasa menerima takdir ini. Begitu sulit kubayangkan dan begitu sakit yang aku rasakan saat ini.
Mungkinkah Tuhan tidak mengizinkan aku untuk bahagia. Sungguh hidup ini sangat tidak adil untukku. Hanya satu langkah lagi kebahagiaan sudah di depan mata. Namun semua lenyap begitu saja.
Entah aku harus bagaimana sekarang. Aku berjalan tanpa arah. Pandanganku lurus ke depan, namun fikiranku tertuju pada Rendy. Sebegitu cepatnya kamu melupakan aku.
Apakah aku harus melupakan dia untuk saat ini. Atau aku tetap berusaha untuk mengembalikan ingatan dia. Fikiranku sangat kacau dan membuat aku sedikit pusing. Aku bingung harus bilang apa pada keluargaku.
Saat sedang berjalan, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Aku terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Ku dongakkan kepala, dan ternyata dia adalah Jimmy.
Jantungku berdetak kencang. Aku menatap dia sedikit malu. Ingin aku menyapanya, namun hati ini masih tertahan. Aku segera meminta maaf padanya.
"Ma.. Maaf Jim, aku tidak sengaja."
"Ayo Cha, aku bantu berdiri."
"Aku benar benar tidak sengaja. Maafkan aku, Jim." Aku sangat gugup saat berbicara dengannya.
"Sudahlah Cha, aku tidak apa apa. Aku lihat kamu seprtinya kecapean."
"Ehm, aku hanya sedikit pusing saja."
__ADS_1
"Sorot matamu tidak bisa berbohong, Cha. Kamu pasti sedang ada masalah?"
"Begitulah Jim, hidup orang tidak ada yang tahu."
"Ada apa, Cha? Cerita saja sama aku, biar kamu lega."
"Nanti saja, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita. Oh ya, kamu ada apa ke sini? Siapa yang sakit, Jim?"
"Ini tadi aku habis jenguk istrinya temenku lahiran."
"Oh, seperti itu. Ehm, ya udah kalau begitu aku duluan ya. Soalnya aku capek banget butuh istirahat."
Saat aku hendak melangkah pergi, Jimmy memegang lenganku, seolah dia menahanku untuk pergi. Aku menatap dia sedikit bingung dan canggung.
"Kenapa, Jim?"
"Cha, tidak bisakah kamu pergi denganku walaupun hanya sebentar saja. Aku mohon, luangkan sedikit waktu untukku. Hati ini tidak mampu berbohong. Aku sangat merindukan kamu, Cha."
"Tapi, Jim. Aku benar benar capek sekali. Next time pasti aku luangkan waktu buat kamu, aku janji."
Jimmy semakin kencang mencengkram lenganku. Aku sedikit meringis kesakitan. Dia tetap menahan aku untuk pergi.
"Plis, Cha. Apa aku harus memohon padamu?"
"Baiklah, Jim."
Kulihat senyum sumringah dari bibir Jimmy. Dia langsung menggandengku untuk berjalan layaknya seorang pasangan. Ku lihat wajah Jimmy tampak bahagia. Di sepanjang koridor dia tersenyum bahagia.
"Cha, maaf aku bawa motor. Apa kamu keberatan? Jika kamu tidak suka, kita bisa naik taxi saja."
"Jim, apakah itu sifatku yang sangat suka dengan kemewahan?"
"Maaf, Cha. Mana tahu sifat kamu berubah. Ternyata masih sama seperti dulu yang suka dengan apa adanya. Tapi sayang, aku..."
Jimmy tidak melanjutkan perkataannya. Dia membuatku penasaran dengan ucapannya.
"Aku apa, Jim?"
"Sudahlah tidak perlu dibahas."
"Aku tidak mau kalau kamu tidak melanjutkan kata katamu."
"Cha, kamu benar benar membuatku gemas. Baiklah Cha, akan aku lanjutkan kata kataku tadi. Tapi sayang aku terlambat memilikimu."
Antara senang dan lucu. Aku tidak tahu dia sedang becanda atau serius. Yang jelas aku sudah tidak penasaran dengan ucapannya tadi.
__ADS_1
"Sudah jelaskan kata kataku tadi, Cha. Nunggu apalagi? Kamu masih tidak mau? Bilang aja, Cha kamu mau apa?"
"Aku tidak mau naik motor tanpa pakai helm."
"Astaga, iya aku sampai tidak kefikiran. Sepertinya di arah sana toko helm, Cha. Nanti kita beli dulu. Ayo, naik keburu sore nanti. Takutnya hujan, sudah mendung langitnya."
"Baiklah."
Jimmy melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sambil menoleh kanan kiri guna mencari toko helm yang dimaksud Jimmy.
Dan akhirnya ketemu juga toko helmya. Aku memilih milih helm yang pas untukku. Aku mengambil sebuah helm berwarna merah, dan ku mencobanya. Ternyata sangat pas dan nyaman untukku.
"Yang ini aja, Jim."
"Yakin yang ini? Nggak pilih pilih dulu yang lain? Mana tahu ada yang lebih bagus."
"Aku suka ini, Jim. Sudah pas dan nyaman kok dipakai."
"Ya sudah, bawa sini helmnya. Aku bayar dulu."
Jimmy menuju meja kasir guna membayar helm. Setelah itu di memakaikannya di kepalaku. Sekilas hatiku terenyuh teringat akan sesuatu.
Sebuah kenangan yang sudah aju kubur dalam kin teringat kembali. Ingatan itu muncul, teringat akan Rohman ketika memakaikan helm untukku. Aku sangat bingung dengan persaanku saat ini. Aku tidak ingin cinta lama bersemi kembali.
"Kamu kenapa melamun, Cha."
"Eh, enggak kok."
"Ya, sudah ayo naik."
Aku segera naik ke motor milik Jimmy. Dan kendaraan mulai melaju dengan kecepatan sedang. belum sampai jauh, tiba tiba Jimmy menghentikan laju kendaraannya.
"Ada apa, Jim?"
"Ehm, aku boleh minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Bisakah kamu memelukku dari belakang, Cha?"
"Memangnya ada apa, Jim?"
"Tida ada apa apa, Cha. Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku juga tidak memaksa."
Jimmy kembali melajukan kendaraannya. Entah mengapa tangan ini butuh sekali genggaman. Kulingkarkan tanganku pada bagian perutnya dan kusandarkan janggut ini dibahunya. Ku perhatikan dia tampak tersenyum, dan menggenggam tanganku dengan erat.
__ADS_1