
Eps. 26
Acaraku berjalan dengan lancar. Aku sangat bahagia sekali. Aku tak menyangka perjalanan cintaku bisa secepat ini.
Aku mengambil foto tanganku saat sedang saling menggenggam sambil memperlihatkan sepasang cincin di jari. Lalu ku unggah moment tersebut di akun sosial media. Tak lupa ku pasang di story whatsap juga.
Benyak sekali komentar dan pesan masuk karena unggahan fotoku. Tak jarang mereka memberikan aku ucapan selamat dan doa yang terbaik buat aku dan Rendy. Karena banyaknya pesan yang masuk, aku tidak sempat membalasnya. Ku letakkan ponselku, akan ku balas nanti jika sudah longgar waktunya.
Selesai acara kami sekeluarga makan bersama sebagai syukuran. Rendy dan Arya makan dengan lahapnya. Mereka berdua masakan ibuku sangat enak. Sepiring lontong sayur habis tak tersisa. Akupun tersenyum melihat tingkah kakak adik ini.
Karena hari sudah siang, aku menyuruh Rendy dan Arya untuk istirahat terlebih dahulu. Agar tidak capek nanti jika perjalanan pulang. Mereka tidur dengan nyenyak di kamarku.
Sambil menunggu mereka bangun, aku membuka ponsel. Ku balas satu persatu pesan masuk yang tadi belum sempat terbalas. Dan ada dua nomor whatsap terakhir yang belum aku balas.
Nomor asing tidak dikenal. Tidak terdapat foto profile. Jujur sebenarnya aku paling malas dengan nomor asing. Tapi karena penasaram, ku baca pesan tersebut.
[Non, selamat ya atas pertunangan kamu dengan Rendy. Semoga kamu bahagia dengan dia.] Rohman.
Aku sedikit terkejut. Ternyata selama ini dia ganti nomor dan masih menyimpan nomorku. Lantas untuk apa dia melakukan hal ini. Sungguh seperti ada yang tidak beres.
[Makasih.] Balasan ku singkat. Lalu ku baca pesan berikutnya dari nomor asing juga.
[Ehm, yang lagi bahagia tunangan sama orang yang disayang. Semoga langgeng ya, Cha. Aku harap kamu jangan pernah lupa sama aku.] Pesan dari Jimmy
[Iya, terimakasih.] Balasku singkat.
Tanpa ku sadari mataku terasa sangat berat. Dan akhirnya akupun tertidur di ruang tamu. Mungkin karena capek mempersiapkan segalanya, aku tertidur di sembarang tempat.
**********
Seseorang mengguncangkan tubuhku. Aku terbangun dari tidurku. Ku perhatikan jam dinding ternyata sudah pukul empat sore. Ku lihat Rendy dan Arya sudah duduk di depanku. Mereka berdua tersenyum padaku.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tidak ada rasa malu sedikitpun dengan Rendy saat aku bangun tidur. Itu karena aku juga pernah tidur dengannya. Rasanya sudah menjadi hal yang sudah terbiasa.
Aku kembali ke ruang tamu dan duduk di sebelah Rendy. Rendy membelai rambutku lalu merangkulku. Dia juga tersenyum padaku.
__ADS_1
"Sayang bentar lagi aku pamit, ya."
"Iya, mas."
"Kamu jangan lama lama di sini."
"Lho, emang kenapa? Kan di sini memang rumah aku."
"Nanti aku kangen, sayang."
Sepontan ku cubit lengannya. Diapun tertawa geli. Tanpa ku sadari Arya menatap kami dengan raut wajah yang sangat kesal.
"Dipuas puasin dulu kangennya. Biar kalau ditinggal pulang ntar nggak kangen."
Kami bertiga tertawa geli. Ternyata adiknya Rendy juga bisa melawak juga. Aku fikir dia orangnya cuek. Ternyata humoris juga.
Tak berselang lama Rendy mengeluarkan sejumlah uang lalu diberikan kepadaku. Akupun enggan untuk menerimanya. Karena aku merasa belum pantas menerima uang pemberian darinya.
"Ini buat kamu, sayang."
"Ya terserah kamu mau dipakai untuk apa aja boleh boleh aja."
"Enggak mas, aku belum jadi istrimu. Rasanya belum pantas aja menerima uang sebanyak itu dari kamu."
"Emang salah ya kalau aku mau kasih kamu uang jajan?"
"Ya enggak, sih. Tapi kan.."
"Udah, nggak usah tapi tapian. Terima aja sih mbak. Rejeki nggak boleh ditolak."
"Tuh, dengerin Arya ngomong. Rejeki nggak boleh ditolak. Tinggal terima aja apa susahnya sih, sayang."
"Tapi ini terlalu berlebihan lho, mas. Kamu udah kasih aku banyak banget. Padahal kan aku juga nggak pernah minta."
"Justru itu sayang, karena kamu nggak pernah minta aku jadi mau kasih semuanya sama kamu. Kamu mau terima pemberian dariku aja aku udah seneng banget kok."
__ADS_1
"Ya udah, aku terima mas. Makasih, ini banyak banget uangnya."
"Ini nggak ada apa apanya sayang, dibanding dengan kamu."
Aku hanya mampu tersenyum padanya. Ku simpan uang pemberian darinya ke dalam tas. Aku tidak mengerti kenapa Rendy begitu royal padaku. Aku hanya berharap semoga dia benar benar tulus padaku.
Kusimpan uang pemberian dari Rendy ke dalam tas. Aku tidak tahu pasti berapa jumlahnya. Yang pasti lebih dari dua juta. Jumlah yang cukup banyak untukku.
Rendy dan Arya sudah bersiap siap untuk pulang ke Semarang. Mereka berdua tengah sibuk berpamitan dengan keluargaku yang lain.
Saat semua sudah siap, Rendy dan Arya masuk ke dalam mobil. Mereka melajukan mobilnya berlahan hingga menjauh dari hadapanku.
Entah mengapa perasaanku sedikit tidak enak. Firasatku seperti mengatakan akan ada sesuatu yang akan terjadi.
Teringat akan lambaian tangan Rendy, seolah mengisyaratkan sesuatu. Seolah dia akan pergi jauh dariku. Jantungku berdetak tak beraturan. Aku hanya mampu berdoa, semoga mereka selamat sampai tujuan. Dan semoga firasatku ini salah.
Aku segera masuk ke dalam dan mengambil ponsel. Ku kirimkan pesan untuk Rendy agar nanti mengabariku jika sudah sampai rumah.
[Mas, tolong kabari aku jika sudah sampai rumah. Perasaanku sedikit tidak enak.]
[Apasih sayang, berdoa yang baik baik dong supaya calon suamimu ini selamat sampai tujuan. Iya nanti aku kabari jika sudah sampai rumah. Miss you sayang.]
[Miss you too Rendy.]
Ku letakkan ponsel lalu aku mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Membereskan rumah karena terlihat sangat berantakan. Sebagian saudaraku juga sudah pulang ke rumah masing masing. Karena mereka juga punya kesibukkan yang lain juga.
**********
Hari sudah gelap dan jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ku rebahkan diri di kasur karena aktifitasku yang cukup padat hari ini. Lumayan melelahkan sekali.
Dalam fikiranku teringat akan Rendy dan Arya. Ku ambil ponsel dan ku buka pesan. Tidak ada pesan masuk maupun panggilan dari Rendy. Apakah mungkin dia sudah sampai di rumah dan lupa mengabarinya.
Aku berusaha tenang dan tidak berfikir macam macam meskipun fikiranku tidak karuan. Ku letakkan kembali ponselku. Niat untuk menghubunginya aku urungkan. Mungkin saja dia sedang istirahat atau sedang sibuk mempersiapkan untuk kerjanya besok.
Namun karena jari ini gatal, aku kembali mengambil ponsel dan menghubungi Rendy. Namun sayang sekali, nomor di luar jangkauan. Tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
Ku kirimkan pesan untuknya. Namun pesan tersebut juga tidak terkirim. Jantungku berdetak tak karuan. Tubuhku gemetar hebat. Tidak biasanya nomor Rendy seperti ini. Biasanya langsung dibalas. Ada apakah ini. Firasatku juga semakin tidak enak.