Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
(Bagian 2)


__ADS_3

Riuh kantin saat jam istirahat menjadi pemandangan yang biasa terlihat di ruangan depan loker.


Lalu - lalang karyawan PT membawa nampan berisi makanan dari stall kantin menuju meja besar berwarna oranye. Meja panjang itu tersusun berderet - deret.


Ada puluhan jumlahnya di kantin berukuran besar ini. Setiap meja dilengkapi kursi- kursi yang cukup untuk menampung 12 orang. Denting sendok garpu beradu dengan nampan stainless bersahutan, diiringi gelak tawa yang sesekali membahana. Bersenda gurau untuk melepas penat barang sebentar saja.


"Calon suamimu orang Batam atau orang Jakarta Nis?"


Tanyaku berhati - hati sesaat setelah menghabiskan makanan di atas nampan.


"Bukan, tapi orang Jawa Timur. Sama kayak kamu."


Nisa meringis kecil.


Uhuk!!


Sontak aku yang tengah minum tersedak mendengar perkataan Nisa. Air mineral muncrat dari mulutku. Untung saja tidak sampai menumpahi meja.


"Kenapa Lil?"


"Oh..ini kayak ada yang beda gitu sama rasa airnya."


Aku terpaksa berbohong.


Nisa mengangguk- angguk seraya melahap potongan semangka yang masih tersisa.


Ternyata calon suami Nisa berasal dadi Jawa Timur. Apa jangan - jangan memang dia adalah orang yang sama dengan lelaki itu.


"Ehm..berarti nanti elu diboyong dong ke sana."


Tanyaku sedikit menyelidik.


"Nggak lah..khan dia di sini, kalo dia disana gimana gue bisa taaruf Non."


"Lho katanya dia orang Jatim?"


Tanyaku seraya membuang muka, melihat sekitar kantin. Sengaja. Agar dia tak mengetahui betapa gugup diriku saat ini.


"Iya..tapi sejak 3 bulan lalu dia ke Batam, kerja di Kabil. Tapi dia sering ngaji sama Ustad Bahrul di Nurul Islam. Makanya itu bisa ditaarufin sama aku, gituuu ceritanya."


Jelasnya panjang lebar.


"Elu sih kalo diajak ngaji gak mau, mana tahu bisa ketemu jodoh kayak gue..ha..ha..ha.."


"Ish..malu lah gue sama ukhti - ukhti yang berjilbab besar itu, dandanan preman gini."


Ucapku menyeringai.


"Yee..ngapain malu, khan buat kebaikan. Malu itu kalo nyolong."


"Emang elu bareng ngajinya sama calon suami elu."


"Ya nggaklah, kalo dia ngajinya malam. Kalo aku khan sore."


Aku manggut - manggut.


"Eh elu nanti ke kos gue ya, bantuin packing he..he.."


"Siaplah pokoknya. Asal ditraktir bakso warung pojok."

__ADS_1


"Iyeelaahh.. "


Dan setelah itu kami sama - sama tergelak. Kemudian tenggelam dalam percakapan mengenai isu - isu yang berkembang di perusahaan ini.


----


Sore ini, sepulang kantor aku bergegas ke kos Nisa. Membantu untuk mengepak barang - barang yang dibawa ke Jakarta. Pesta pernikahannya akan digelar 5 hari lagi di kampungnya. Gadis yang sudah menjadi sahabatku sejak 2 tahun lalu itu akan terbang ke ibukota nanti malam.


Sementara menurut perempuan itu, calon suaminya akan terbang ke Surabaya 3 hari lagi. Karena dia karyawan baru di perusahaan tempatnya bekerja, maka cutinya pun terbatas.


Hari beranjak malam saat aku berpamitan dari kos Nisa. Mencari jasa ojek untuk mengantar ke masjid dimana sahabatku biasa mengaji untuk mencari jawaban atas rasa penasaran ini. Siapa tahu disana bisa ketemu dengan calon suaminya. Dia bilang hari ini lelaki itu akan mengaji di masjid seperti biasa. Aku hanya ingin memastikan apakah benar calon suami Nisa yang bernama Azzam itu adalah cinta pertamaku saat kuliah dulu.


Sesampai di pelataran masjid aku segera berjalan menuju kantin yang ada di depan bangunan ini. Kebetulan saat ini lagi berhalangan untuk sholat, jadi kuputuskan untuk melakukan pengintaian di kantin masjid yang cukup terbuka.


Dari kantin ini bisa dengan leluasa melihat orang - orang yang masuk ke masjid. Segera kupesan semangkok soto medan dan teh obeng. Kulahap makanan berkuah itu sambil mengamati lalu lalang para laki - laki yang memasuki masjid. Namun tak terlihat Azzamku. Ah, apa memang benar Azzamnya Nisa bukan lelaki masa laluku.


Jam di handphone menunjukkan pukul 21.00. Sudah 3 jam aku berada disini. Namun aku tak menemukan sosok yang kucari. Mungkin benar, hanya kebetulan saja nama mereka yang sama.


Segera aku beranjak meninggalkan kantin. Mencari opang untuk mengantar kembali ke kos.


--------


Matahari di ufuk barat kian memerah saat aku menyusuri jalanan beraspal di area kawasan industri tempat bekerja. Aku bermaksud untuk membeli sabun mandi dan detergen yang kebetulan telah habis di minimarket kawasan. Hanya perlu menempuh jarak beberapa meter untuk sampai ke tempat itu.


Perlahan kubuka pintu minimarket. Ucapan selamat datang diberikan kasir berseragam ketika mereka melihat pelanggan masuk. Aku melangkah menuju rak tempat sabun dan detergen. Mengambil sebanyak yang diperlukan kemudian melangkah kembali ke kasir.


Setelah membayar, segera bergegas menuju masjid karena sebentar lagi azan berkumandang. Aku memutuskan kembali mencari lelaki itu di masjid, tempat calon suami Nisa mengaji. Dengan harapan aku bisa mendapat jawaban atas pertanyaan yang menggelayuti hati.


Setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah, kulipat mukena dan memasukkannya ke dalam tas ransel kecil. Kemudian merapikan jilbab yang menutup kepala. Rasa lapar membuatku melangkah ke kantin depan masjid. Tak berapa lama aku sudah melahap nasi campur yang kupesan.


"Mas, nasi campur satu nggih!"


Aku begitu tersentak saat mendengar teriakan laki - laki yang baru saja memesan makanan.


"Az..zam." gumamku bergetar.


Jantungku serasa luruh melihat pria yang berdiri di pintu kantin.


Nafasku tersengal. Hatiku berdetak tak karuan. Salah tingkah. Apa yang harus kulakukan. Haruskah aku memanggilnya?


"A..zam..!"


Teriakku hati - hati dengan suara bergetar.


Sang pemilik nama menoleh ke arahku.


Wajahnya mengernyit seperti memastikan diriku. Terlihat pria itu berjalan mendekat.


Dalam keremangan bisa kulihat wajahnya yang sekarang berjarak tak sampai 2 meter di hadapan.


"Ya Mbak?"


"Eh maaf Mas, salah orang."


Ah, rupanya aku salah orang. Beruntung keadaan masih sepi. Hanya ada aku dan dia. Jadi tak begitu terasa malunya.


Lelaki itu segera pergi saat tahu aku salah memanggilnya. Ya Allah ternyata aku salah orang. Suaranya begitu mirip terdengar. Apa ini hanya halusinasi karena aku begitu berharap bertemu sosok Azam. Hanya untuk memastikan nama yang ada di undangan Nisa.


Mungkin benar memang hanya nama mereka yang persis sama.

__ADS_1


Buktinya aku tak bertemu dengan Azzamku setelah dua hari aku menunggu di kantin ini. Akhirnya kutinggalkan kantin ini dengan hati yang sedikit lega.


'Ya benar, hanya namanya saja yang sama' Hiburku dalam hati.


----


"Lil, nanti bareng aku saja ya ke tempat Nisa."


Ucap Mbak Myra saat menghampiri meja kerjaku.


"Baik Mbak, makasih."


"Ok, nanti langsung cus jam 5 ya biar gak kemaleman."


"Siap!"


Hari ini adalah hari kepulangan Nisa ke Batam. Dia mengadakan syukuran kecil - kecilan di rumah kontrakan yang disewanya bersama suami. Mereka mengundang teman - teman satu departemen untuk datang ke rumah sekaligus perkenalan dengan suami Nisa.


Jam menunjukkan pukul 5.05 saat aku berada di dalam mobil Mbak Myra. Wanita berambut sebahu itu kemudian melajukan kuda besinya menuju rumah kontrakan Nisa. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya kami tiba di sana.


Kulihat teman - teman sudah banyak yang berkumpul disana. Mereka tengah menikmati makanan yang terhidang.


"Nisa mana?"


Tanyaku pada Andi, teman sejawat.


"Itu lagi di belakang, ngambil cemilan lagi."


"Oh.."


Aku kemudian mengambil duduk di teras, bersebelahan dengan Andi dan Mbak Myra. Menikmati sebuah bolu kukus yang ada di piring sembari mendengarkan senda gurau tamu undangan.


"Eehh..Kalila akhirnya datang juga."


Seru Nisa.


"Selamat ya Nis, mudah - mudahan samawa selalu."


Aku menjabat tangannya kemudian saling cipika cipiki.


"Eh iya..kenalin suamiku, Mas..!"


Nisa memanggil suaminya yang masih berada di ruang tamu.


"Iya Dek.."


Terdengar jawaban di antara keriuhan suara tamu.


"Mas sini kenalin, ini sahabat Nisa. Namanya Kalila."


Ucap gadis itu riang menggamit tangan suaminya.


Kini aku bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu.


Bruk!!


Tiba - tiba saja tubuh ini terasa oleng. Aku tersungkur.


Samar - samar kudengar suara yang begitu kurindukan di telinga.

__ADS_1


"Kalila.. Kalila.."


Bersambung


__ADS_2