Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 99


"Alhamdulillah."


Ucap semua orang yang ada di ruangan ini. Mereka semua berucap syukur karena aku mau menerima lamaran Mas Rendy. Dan aku juga berharap semoga ini yang terbaik. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan hingga maut menjemputku kelak.


"Nak, ibu senang kamu menerima lamaran Rendy. Ibu sangat berterimakasih padamu, ya sayang."


"Iya, bu. Semoga saja ini jalan terbaik. Aku yakin aku sama Mas Rendy akan memulai hidup baru dan memulai semua dari awal."


"Iya, Liss. Kamu benar, kita mulai semuanya dari awal. Semoga saja setelah ini kita bisa hidup bersama dan bahagia selamanya."


"Amin."


Setelah percakapan cukup panjang, lalu Bu Rita mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sekotak perhiasan dan sebuah amplop coklat yang isinya lumayan tebal. Aku tidak tahu itu isinya apa. Bu Rita memberikannya pada Mas Rendy.


"Lis, maaf sementara ini dulu mahar yang bisa aku kasih. Lainnya nanti menyusul, dan semoga saja kamu mau terima."


"Mahar?"


"Iya, tolong diterima."


"Tapi dalam amplop ini isinya apa, Mas?"


"Itu uang tiga puluh juta."


"Masyaallah, Mas ini banyak sekali. Aku nggak bisa terima ini semua, Mas. Terlalu berlebihan dan ini juga terlalu banyak."


"Itu semua hak kamu, Lis. Aku harap kamu mau terima itu."


"Tapi, Mas."


"Aku mohon, Lis."


Selama hidup aku tidak pernah memiliki uang sebanyak ini. Rasanya ini seperti sedang bermimpi. Aku fikir jika Mas Rendy dan Bu Rita ini terlalu baik buat aku. Apa lagi Mas Rendy, untuk masalah uqng dia sangat royal. Padahal dulu dia sering sekali memberi aku uang tanpa aku meminta. Bahkan aku juga sempat menolak, namun dia selalu memaksa aku untuk menerima pembriannya.


"Baiklah, Mas. Uang ini aku terima dan akan aku simpan."

__ADS_1


"Terserah mau kamu apakan dengan uang itu, aku tidak akan pernah tanya untuk apa. Karena itu sudah jadi milik kamu."


"Terimakasih Mas, Ibu Rita. Kalian sudah sangat baik sekali padaku."


"Ibu yang harusnya berterimakasih sama kamu, nak. Karena kamu sudah bersedia menikah dengan Rendy."


"Iya,Bu. Insyaallah, semoga swmua akan berjalan dengan lancar sampai hari H nanti."


"Amin."


"Oh iya, Mas di sini tidak ingin menikah secara mewah. Aku hanya ingin mengundang beberapa warga, saudara, dan akan mengadakan syukuran sederhana saja. Yang terpenting buat aku itu Sah."


"Iya, Liss. Aku dan ibu tidak masalah dengan ini keputusan kamu. Tapi apa kamu nanti keberatan jika aku sama ibu akan menggelar resepsi di Solo?"


"Terserah kamu sama ibu saja, Mas."


"Baiklah kalau begitu."


**********


Hari demi hari aku menghitung hari. Hingga akhirnya acara sakral ini tiba. Jantungku berdegub kencang. Seakan aku tidak percaya jika hari ini aku akan menikah dengan Mas Rendy. Setelah sekian lama berpisah, akhirnya aku akan bersatu pada Mas Rendy. Semoga saja dia laki laki terakhir yang akan menemani aku hingga ajal menjemputku.


Para tamu yang tak lain adalah tetangga dan saudara saudaraku sudah berkumpul. Mereka ingin menyaksikan pernikahanku. Aku sudah siap dengan balutan kebaya putih dan makeup natural. Aku sama sekali tidak ingin berlebihan, karena ini adalah pernikahanku yang ke dua. Semoga saja tidak ada kata perpisahan lagi.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Mas Rendy beserta keluarga sudah tiba. Dengan mengenakan jas hitam dia tampah gagah sekali. Aku melihat ada perbedaan pada dirinya.


Setelah semua sudah berkumpul, aku dan Mas Rendy sudah berada di depan penghulu. Dan acara sakral akan segera dimulai. Aku merasa sedikit tegang. Aku masih belum percaya jika sebentar lagi aku akan berstatus istri dari Mas Rendy.


Semua orang yang akan menyaksikan acara sakral ini sudah mulai tenang. Hingga tidak terdengar lagi orang berbicara. Dan akhirnya acara ini akan dimulai.


Pak Penghulu dan Mas Rendy mulai berjabat tangan. Aku tidak melihat ketegangan di wajah Mas Rendy. Dia tampak biasa biasa saja. Mungkin saja dia benar benar sudah siap dari jauh jauh hari.


"Sudah siap?"


"Sudah pak."


"Baik kita mulai sekarang."

__ADS_1


Dan yang dinanti nanti akhirnya terlaksana juga. Sebuah ucapan sakral telah diucapas Rendy. Detik ini juga aku sudah sah menjadi istri Mas Rendy. Semua orang turut berucap alhamdulillah.


Ku cium punggung tangan Mas Rendy sebagai baktiku sebagai istri. Dan juga ku cium punggung tangan ibuku dan ibu mertuaku juga. Mereka semua turut bahagia dengan pernikahanku. Walaupun secara sederhana, aku tidak mempermasalahkan itu. Yang terpenting buat aku adalah sah.


Semua orang yang ada menikmati hidangan yang sudah disediakan. Aku dan Mas Rendy sangat bahagia sekali. Dia terus menggenggam erat tanganku. Seakan tak ingin berpisah denganku.


Setelah semua tamu sudah pulang, kini keluarga Mas Rendy meminta ijin untuk membawaku pulang Karena besok akan ada resepsi di Rumah Mas Rendy. Dan ibu mengijinkan aku untuk dibawa Mas Rendy. Karena aku sudah menjedi istrinya. Dan aku juga harus ikut Mas Rendy.


***********


Tepat pukul sepuluh, acara resepsi sudah dimulai. Dengan balutan kebaya berwarna gold dengan hijab senada dan sepatu hak tinggi mampu membuat diriku lebih cantik. Begitu juga dengan Mas Rendy yang mengenakan kemeja batik dengan warna elegan, tampak membuatnya terlihat berwibawa. Aku semakin kagum padanya.


Semua tamu menikmati hidangan yang disediakan. Banyak saudara dari Mas Rendy, dan Bu Rita yang hadir dan mengucapkan selamat atas pernikahan kami berdua. Tak jarang juga teman Mas Rendy yang meminta foto bersama. Sungguh ini sangat menyenangkan buat aku.


Alhamdulillah acara resepsi sudah selesai. Hari juga sudah semakin larut malam. Aku melepas kebaya dan segera membersihkan diri. Seharian menjadi seorang ratu sungguh melelahkan. Tapi aku sangat bahagia dengan semua ini. Karena hari ini juga aku akan memulai hidupku yang baru bersama Mas Rendy.


Selesai mandi, aku duduk di meja rias sambil menyisir rambut. Mas Rendy masuk lalu melihatku. Dia menghampiri aku lalu mencium pipiku. Dia juga membelai rambutku yang panjang.


"Sayang, apa kamu bahagia?"


"Ya, Mas. Aku bahagia."


"Sayang."


"Ya, Mas. Ada apa?"


"Apa aku boleh meminta hak ku yang ada pada kamu?"


"Insyaallah. Tapi lebih baik kamu mandi dulu, mas. Bukan apa, tapi biar kamu seger saja."


"Iya, sayang aku tahu. Aku mandi dulu, ya. Pokoknya nanti sampai pagi." Mas Rendy tersenyum menggodaku.


"Apa, Mas." Mas Rendy tertawa dan lalu masuk ke kamar mandi. Aku hanya mampu geleng geleng kepala saja.


Usai mandi, Mas Rendy menagih janji ku padanya. Dan aku pun melayaninya karena memang itu kewajiban ku sebagai seorang istri. Kami melakukannya cukup lama. Hingga membuatku tak tahan karena sangat lelah.


"Mas, bisa kita istirahat dulu. Aku lelah sekali."

__ADS_1


"Ya sudah, sayang. kita istirahat dulu." Mas Rendy bangkit dan lalu mencium perutku yang masih dalam keadaan tanpa sehelai benang


"Cepat tumbuh benih cintaku."


__ADS_2