Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 45


Langkahku sudah mendekati pintu. Dan dapat ku dengar suara keluarga Rohman sedang berbincang. Sesekali terdengar tawa mereka.


Dan akhirnya aku dan Rohman sudah berdiri tepat di pintu masuk. Ternyata keluarga Arman sedang berkumpul di ruang tamu


Ku ucapkan salam, dan semua mata tertuju padaku. Aku sangat gugup dan malu untuk melangkah masuk.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Serempak semua yang ada di ruangan itu menjawab salamku. Mereka memandangku dan tersenyum padaku.


"Silahkan masuk, nak. Duduklah di sini bersama keluarga Rohman."


"Baik, bu."


Aku melangkahkan kaki masuk dan menyalami semua keluarga Robman sambil memperkenalkan diri. Mereka semua menyambutku dengan sangat ramah.


Aku duduk tepat di depan kedua orang tua Arman. Aku menunduk malu dan tidak berani menatap kedua orang tua Rohman. Aku bingung harus memulai percakapan dari mana. Namun tak lama kemudian ibunya Rohman memulai obrolan. Aku tampak gugup dan takut tidak diterima di keluarga ini.


"Nak, kita semua sudah tahu tentang kamu. Ibu juga sudah mencari tahu tentang siapa kamu, latar belakang kamu, dan keadaan kamu."


"Iya bu." Sebisa mungkin aku mencoba untuk tenang.


"Awalnya ibu sempat ragu sama kamu. Tapi ibu penasaran sama kamu, nak. Makanya ibu menyuruh Rohman untuk membawa kamu ke sini." Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


"Sebenarnya ibu sempat keberatan dengan keputusan Rohman. Tapi begitu ibu melihat kamu, ibu ga bisa bicara apa apa lagi." Dengan sedikit keberanian aku memotong pembicaraan.


"Maaf bu, pak jika saya lancang berbicara. Saya memang bukan keluarga kaya. Saya tahu jika saya perempuan kotor yang sedang mengandung tanpa seorang suami. Tapi itu semua itu di luar dugaan. Saya juga tidak mau seperti ini. Jika bapak dan ibu tidak merestui saya bersama Rohman, saya tidak apa apa. Mungkin kita belum berjodoh." Tanpa ku sadari, aku berbicara hingga air mataku menetes membasahi pipi.


"Iya nak, ibu tahu itu semua. Tapi satu hal yang ingin ibu sampaikan. Rohman itu mandul dan kemungkinan besar tidak bisa memberi keturunan. Satu pertanyaan ibu untuk kamu, apa kamu bisa menerima Arman apa adanya?"


"Itu tergantung Rohman bu. Saya juga sedang mengandung tapi bukan anak dari dia. Apa Rohman juga bisa menerima keadaan saya seperti ini. Apakah keluarga ibu dan bapak tidak malu nantinya."


"Baik nak, ibu serahkan semuanya sama Rohman. Karena nanti Rohman yang akan menjalani. Kami selaku orang tua hanya bisa memberi dukungan saja. Gimana kamu Rohman?"


"Jika bapak dan ibu memberikan restu, Rohman ingin menikahi Lissa. Rohman akan berusaha menerima keadaan Lissa dan anak yang ada di kandungannya." Rohman menjawab dengan percaya diri.


"Kamu sudah dengar jawaban Rohman, nak. Sekarang tinggal kamu bagaimana?"


"InsyaAllah bu, pak Lissa akan menerima Rohman apa adanya."


"Ya sudah, saran ibu sebaiknya kalian lebih baik cepat menikah saja. Kalau ditunda tunda takutnya nanti kandungan kamu semakin besar."


"Saya ngikut saja bu, bagaimana baiknya."

__ADS_1


"Kalau begitu bulan depan saja kita menikah."


"Terserah kamu saja mas, tapi aku tidak mau pesta besar besaran. Jika tidak keberatan aku mau yang sederhana saja, mas."


"Iya, kita atur bagaimana baiknya saja."


"Nak, kapan kami semua bisa bertemu keluarga kamu?"


"Mungkin Minggu depan, bu. Biar nanti saya pulang kampung dulu menceritakan semuanya."


"Ya sudah ibu tunggu kabar dari kamu, nak."


"Iya bu. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih sama ibu dan bapak atas restunya. Dan buat kamu mas, terimakasih sudah mau menerima keadaan aku."


Rohman tersenyum padaku dan mulai membelai rambutku. Aku tersenyum lega dengan berita ini. Rasa gugup, takut, dan tegang kini menghilang dengan tiba tiba Tak ku sangka ternyata keluarga Arman sangat baik sekali.


Sungguh beruntungnya aku ini. Dibalik cobaan yang datang bertubi tubi, dan inilah yang aku dapat. Mungkin aku memang harus merelakan yang sudah sudah. Aku berharap semoga tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi aku dan Rohman nanti.


Seketika dalam fikiranku terlintas nama Chika. Astaga, kenapa perasaanku jadi tidak enak. Aku sedikit cemas dengan orang itu.


"Mas, bagaimana dengan Chika. Aku takut nanti dia akan menerorku seperti dulu."


"Apa, nak? Chika meneror kamu?"


"I..iya bu, tapi itu dulu. Saya hanya takut jika itu terjadi lagi jika dia tahu aku dan mas Rohman akan menikah."


"Sudah kamu tenang saja. Semoga itu tidak akan terjadi." Ucap Rohman berusaha menenangkan aku.


"Iya mas."


Usai membahas tentang aku dan Rohman, bu Heni mengajak kami semua untuk makan bersama. Karena memang sudah dipersiapkan sejak tadi sebelum aku datang.


***********


Hari sudah larut. Semenjak pulang dari rumah Rohman, badanku terasa sangat lelah. Kepala kembali pusing. Mungkin karena tadi siang aku tidak tidur.


Aku membasuh wajah, tangan, dan kaki. Setelah itu aku berbaring dan hendak istirahat. Namun sebuah pesan masuk melalui whatsap. Sebenarnya aku sudah sangat mengantuk. Tapi karena penasaran takut ada yang penting aku segera membukanya.


[Sayang, sudah tidur?]


[Tadinya mau tidur, tapi karena ada pesan masuk jadi aku buka dulu. Ternyata dari kamu, mas. Ada apa?]


[Tidak ada, aku hanya kangen saja.]


[Kamu ada ada saja, tadi kan baru saja bertemu.]

__ADS_1


[Iya, tapi sekarang aku sudah kangen lagi.]


Ku balas pesan Rohman dengan emoji tersenyum. Lalu tak berselang lama Rohman menelpon aku. Bergegas aku segera menganggkatnya.


[Iya mas, kenapa]


[aku ingin dengar suara kamu.]


[Kamu itu, lusa kan bisa ketemu lagi. Kayak mau ditinggal ke mana saja kamu sampai seperti ini.] Terdengar Rohman tertawa kecil.


[Oh iya sayang, kamu kapan pulang kampung?]


[Mungkin besok mas. Lebih cepat lebih baik jika dibicarakan.]


[Bagus lah, tapi maaf aku tidak bisa mengantar.]


[Iya, tidak apa apa.]


[Niatnya keluargaku nanti jika sudah ada kabar dari kamu, aku mau langsung melamar kamu saja. Biar nggak kelamaan.]


[Ehm, terserah kamu saja. Atur bagaimana baiknya nanti.]


[Kamu mau minta mas kawin apa, sayang?]


[Apa saja mas, yang penting tidak kamu mampu dan tidak keberatan.]


[Iya sayang, mau apa sebutkan saja.]


[Aku tidak akan menuntut kok mas. Semampu kamu saja]


[Kamu memang beda ya sayang. Beruntung sekali nanti aku jika memilikimu. Ya sudah, semoga nanti kamu suka dengan apa yang aku beri.]


[Iya mas, insyaAllah.]


[Ya sudah, ini sudah malam. Kamu istirahat saja ya.]


[Iya, mas.]


[Oh iya, ongkos untuk pulang kampung besok ada]


[Ada mas, uang dari kamu kemarin masih ada kok.]


[Ya sudah, jangan pernah segan jika kamu butuh sesuatu. Kalau aku sanggup pasti aku ushakan. Dan jangan pernah menolak apa yang aku beri buat kamu.]


[I..iya mas, aku mengerti.]

__ADS_1


[Ya sudah sayang, selamat istirahat.] Sambungan telepeon terputus secara sepihak. Dan akupun memutuskan untuk istirahat.


__ADS_2