Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 61


Hari ini adalah hari terakhir aku tinggal di rumah ibu mertua. Dan sore ini juga aku dan mas Rohman akan pindah ke rumah baru. Rumah yang sudah dibeli mas Rohman dengan cara cicilan lewat salah satu Bank. Kata mas Rohman aku tidak perlu ikut pusing dalam urusan cicilan rumah ini. Karena semua sudah di atur. Dan aku terima beres saja.


Salah satu tujuan mas Rohman memilih untuk hidup mandiri setelah menikah adalah, dia ingin jika suatu saat nanti ada masalah tidak ada pihak dari keluarga kita yang ikut campur. Karena kita sudah dewasa dan harus tahu bagaimana cara menyikali dan cara menyelesaikan suatu masalah.


Karena jika ada pihak ke tiga yang ikut campur, maka rumah tangga akan berantakan. Mas Rohman hanya ingin hidup damai saja dan ingin langgeng dalam menjalani rumah tangga ini. Mengingat dia adalah seorang duda, aku rasa pernikahan pertama cukup dijadikan suatu pelajaran.


Tepat pukul empat sore aku dan mas Rohman berpamitan kepada bapak, ibu, dan juga Mirna. Karena kami berdua akan menempati rumah baru. Ku cium punggung tangan bapak dan ibu mertua sebagai baktiku sebagai seorang anak menantu.


"Bapak, ibu Rohman sama Lissa oamit dulu. Nanti kita akan sering sering ke sini, kok. Kan masih dekat ini jadi bisa mampir kapan saja."


"Ya sudah, kalian hati hati. Kamu jangan capek capek ya, Lissa. Di jaga kandungan kamu, jangan sampai kenapa kenapa." Ucapan ibu mertua membuat hati ini terenyuh hingga mata ini berkaca kaca. Walaupun aku tidak hamil anak dari mas Rohman, namun ibu mertua sangat menyayangi aku. Rasanya berat sekali aku meninggalkan rumah ini.


"Iya, bu. Lissa pamit dulu pak, bu, dan Mirna. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawabnya serentak. Aku dan mas Rohman sudah siap di atas kendaraan roda dua. Dan kendaraan pun mulai melaju dengan pelan meninggalkan pekarangan rumah. Aku melambaikan tangan pada keluarga mas Rohman. Begitu pula sebaliknya, mereka juga membalas lambaian tanganku.


Rasanya aku ingin menangis. Tapi ini sangat tidak mungkin. Di satu sisi aku harus ikut dengan mas Rohman, karena dia suami aku. Tapi di sisi lain, aku sangat sayang sama orang tua mas Rohman. Mereka sangat tulus menerima aku apa adanya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya kami berdua sampai di rumah baru. Rumahnya sudah bersih dan catnya juga baru. Karena satu minggu yang lalu mas Rohman menyuruh orang untuk membersihkan rumput liar dan juga mengecat tembok yang warnanya sudah tidak bagus.


Warna hijau muda, sangat segar dipandang. Warna yang sangat indah sekali dengan perpaduan warna kuning. Tembok jadi terlihat terang dan bersih.


Mas Rohman mulai membuka kunci dan pintu sudah terbuka. Kami berdua segera masuk dan membereskan pakaian yang ada di tas. Dari rumah ibi aku hanya membawa beberapa pakaian saja. Karena kata mas Rohman di sini sudah lengkap perabotnya. Dan ternyata benar saja.


Usai membereskan pakaian, aku segera merapikan tempat tidur. Ku pasangkan seprai denga motif bunga dengan warna merah. Tampak indah sekali jika dipandang. Setelah itu aku segera menyapu semua ruangan mumpung hari belum gelap.

__ADS_1


Walaupun rumah ini tergolong sederhana, dengan dua kamar tidur. Namun cukup menguras tenaga juga saat membersihkannya. Badanku lumayan lelah sekali. Keringatku mulai bercucuran.


Kuperhatikan jam dinding ternyata waktu sudah hamlir senja. Sudah menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Aku bergegas mandi agar tidak terlalu kemalaman.


Terdengar suara azan magrib. Aku segera memanggil mas Rohman yang sedang asik menonton tv untuk segera sholat magrib. Karena waktu magrib hanya sebentar saja.


"Mas, sudah magrib. Ayo kita sholat bersama."


"Iya, sayang."


Mas Rohman segera beranjak dari sofa lalu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Pun dengan aku yang mengikutinya dari belakang. Setelah itu kami melaksanakan sholat magrib bersama. Rasanya sangat adem sekali jika sudah sholat. Hati dan fikiran terasa tenang.


Hari sudah semakin larut, namun mata ini masih belum mengantuk juga. Aku masih duduk di depan tv bersama mas Rohman menonton suatu acara di salah satu stasiun tv. Meskipun sudah pukul sembilan lewat, kami tetap saja asik terjaga. Sesekali sambil bercanda agar suasana tidak terlalu sepi.


"Oh ya, mas kamu kapan berangkat kerja?"


"Nggak ada apa apa sih, mas. Hanya saja kalau nanti kamu kerja, aku bakalan kesepian di rumah ini."


"Sabar sayang, kam aku juga sore udah balik. Kamu bisa kan cari cari kesibukan biar nggak kesepian."


"Hmm, iya iya deh. Kenapa sih nggak tinggal sama orang tua kamu saja, mas. Kan di sana enak."


"Kamu tahu kan sayang, tujuan utama aku pengen hidup mandiri setelah menikah itu apa?"


"Iya mas, aku tahu. Ya sudahlah, nggak perlu dibahas lagi. Nanti yang ada kita malah jadi berantem. Kan pengantin baru, masak udah mau berantem aja. Kan nggak seru."


Mas Rohman tertawa mendengar perkataanku. Dia membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Betapa beruntungnya aku memiliki suami sepertinya. Aku harap dialah orang yang menemaniku hingga tua nanti.

__ADS_1


"Sayang, tidur yuk. Sudah malam ini, kamu jangan banyak begadang. Nggak baik buat kesehatan."


"Iya, mas. Kamu juga jangan begadang."


"Nggak kok, kalau kamu ngantuk ya aku ikut tidur sayang. Nggak betah juga jauh jauh dari kamu, sayang."


"Apa sih, mas. Nggak lucu, tau."


Mas Rohman terkekeh karena menggodaku. Sebelum masuk kamar, mas Rohman memastikan terlebih dahulu pintu rumah. Apakah semua sudah aman terkunci. Setelah semua dipastikan sudah aman, baru kami berdua masuk ke kamar.


"Sayang."


"Hmm, iya mas. Ada apa?"


"Emm, boleh nggak?"


"Boleh apa, mas?" Aku menatap heran pada mas Rohman. Aku masih belum mengerti apa yang dia maksud. Namun bukannya mas Rohman bicara apa maunya malah menaik turunkan alisnya sembari tersenyum menggoda.


"Kamu kenapa, mas?"


Tanpa basa basi mas Rohman langsung saja melahapku bibirku. Aku baru sadar jika ternyata dia meminta jatah malam ini. Aku sebagai seorang istri melayaninya dengan tulus dan iklas. Karena memang itu adalah kewajiban seorang istri.


Walaupun aku sebenarnya sedang lelah sekali, tapi aku tetap memberikannya. Aku tidak bisa menolak karena takut mas Rohman menanggung dosaku.


Kami berdua melakukannya atas dasar cinta. Sama sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan hingga beberapa kali. Aku akui mas Rohman bukan saja badannya yang gagah, namun tenaganya juga luar biasa. Setiap melakukannya aku selalu dibuat kewalahan. Namun aku tidak keberatan, asalkan mas Rohman senang akupun juga senang.


Dan akhirnya permainan ini usai. Kami saling merebahkan diri berdampingan. Keringat membasahi seluruh tubuh. Tubuh kami terasa panas karena aktivitas barusan. Karena saking lelahnya, akhirnya aku terlelap dalam pelukan mas Rohman. Begitu pun mas Rohman, dia juga tampak lelah hingga akhirnya tertidur.

__ADS_1


__ADS_2