
Eps. 28
Malam ini aku memutuskan utuk menginap di rumah Rendy. Karena memang ibu Rita yang menyuruhku untuk bermalam di sini.
Suasana rumah sudah sepi. Dan malampun sudah larut, aku memutuskan untuk rehat sejenak. Agar esok bisa bangun lebih awal dan menjenguk Rendy di Rumah Sakit.
Mata ini sudah tidak kuat untuk berjaga. Kepalaku juga sedikit pusing. Mungkin karena efek banyak fikiran dan kurang istirahat. Kupejamkan mataku, dan akhirnya aku dapat tertidur dengan nyenyak.
**********
Samar samar terdengar suara alarm. Ku buka mata perlahan, ternyata hari sudah pagi. Aku menggeliat guna mengencangkan otot.
Aku mencari sumber suara alarm. Tanganku meraba raba di bawah bantal, dan akhirnya ketemu juga. Ku geser layar ponselku, dan ku matikan alarm. Ternyata sudah pukul enam pagi.
Aku segera beranjak untuk turun dari ranjang. Ku rapikan tempat tidur lalu aku menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Setelah mandi, tubuh ini terasa kembali segar. Samar samar aku mencium bau masakan yang sangat harum. Segera ku bergegas keluar dari kamar dan menuju dapur.
Ternyata Ibu Rita sedang memasak sesuatu. Sunggu aku tidak ada rasa malu atau sungkan sedikitpun padanya. Padahal aku belum jadi menantunya. Tapi dia sangat baik sekali padaku.
"Pagi bu, masak apa? Baunya harum banget, sepertinya enak."
"Eh, kamu sudah bangun. Ini ibu masak sayur sup sama ayam goreng."
"Apakah ada yang perlu aku bantu, bu?"
"Sudah kamu duduk saja di meja makan. Semuanya sudah selesai. Kita sarapan bareng, ya."
Aku membantunya menyiapkan makanan di meja. Rasanya aku seperti anak sendiri di sini. Sudah terasa tidak asing lagi dengan orang tua Rendy.
Semua makanan sudah beres tertata rapi di meja. Bu Rita memanggil suaminya untuk sarapan. Lalu kami sarapan bersama.
Rasanya ada yang hambar. Kuperhatikan sisi kanan kiriku. Seperti ada yang kurang. Dulu kami makan berlima di meja ini. Tapi kini, kami hanya bertiga saja.
Ku tahan air mataku agar tidak menetes. Aku harus menjaga perasaan ibu Rita. Aku tidak ingin beliau kembali bersedih.
Segera ku nikmati makanan hasil masakan bu Rita. Rasanya sangat enak sekali. Sama seperti masakan ibuku di rumah.
"Masakan ibu enak sekali."
__ADS_1
"Ah, kamu bisa aja."
"Oh ya bu, apa nanti jadi menjenguk Rendy?"
"Jadi, ibu ingin tahu keadaan Rendy seperti apa. Semoga saja dia sudah sadar ya, nak."
Aku tak mampu menjawab ucapan bu Rita. aku hanya bisa menundukkan kepala. Guna menutupi kesedihan dan kekhawatiran yang sedang aku alami. Aku benar benar tidak ingin kehilangan dia.
Baru aku ingin merasakan kebahagiaan, namun cobaan itu datang begitu saja. Diri ini sudah sangat rindu dengan sosok yang begitu perhatian padaku. Aku tidak mampu membayangkan jika kehilangan dia.
Aku hanya mampu berdoa, semoga Tuhan tetap mempersatukan aku dengan Rendy. Karena diri ini benar benar tulus mencintainya saat ini.
***********
Aku sudah bersiap siap untuk pergi ke Rumah Sakit bersama Ibu Rita. Ayah tidak ikut, karena harus di rumah guna menyambut tamu karena masih dalam keadaan berduka.
Kami berangkat dengan menggunakan taxi online. Tak berselang taxi yang kami tumpagi sudah tiba di RS tempat Rendy dirawat. Aku dan ibu bergegas berjalan sedikit cepat. Karena tidak sabar ingin segera melihat kondisi Rendy.
Kami berharap Rendy sudah sadar dari koma. Semoga saja apa yang aku harapkan menjadi kenyataan. Kaki ini terus berjalan menembus lorong demi lorong. Dan hingga akhirnya sampailah pada sebuah ruangan VIP. Di mana tempat Rendy dirawat.
Tak sabar aku ingin segera bertemu dengannya. Ku buka pintu kamar, dan ku langkahkan kaki ini masuk ke dalam kamar. Sungguh terkejut aku dengan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan.
Rendy sedang disuapi makan oleh seorang wanita, cantik, dan seksi dengan rambut sebahu berwarna pirang. Dia menatapku heran dan menunjukkan raut wajah tidak suka dengan kehadiranku. Hatiku bertanya tanya, siapakah wanita yang ada bersamantmya itu.
Bu Rita menggenggam tanganku dan mengusap pundakku. Seolah beliau mengerti apa yang ada di fikiranku saat ini. Dia membisikkan sesuatu di telingaku.
"Dia Dilla, mantan pacarnya Rendy dulu. Putus karena dia selingkuh dengan seseorang."
"Lalu kenapa dia sekarang ada di sini, bu?"
"Ibu juga tidak tahu, nak. Sudah kamu yang tenang. Semua akan baik baik saja."
"Baiklah bu."
Aku dan ibu berjalan mendekati ke arah Rendy. Sontak Dilla menyambut kedatangan kami dengan senyuman. Lalu dia mencium punggung tangan bu Rita. Namun dia justru menatapku dengan sinis.
Akupun bingung dengannya. Aku tidak mengerti apa maksud dia. Namun aku tidak menghiraukannya. Lalu aku mendekat ke arah Rendy. Ku genggam tangannya dan ku belai rambutnya.
Akupun juga tersenyum padanya. Dia juga menatapku dan membalas senyumku. Namun tatapan matanya tampak ada yang aneh. Aku memberanikan diri untuk memulai percakapan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu baik baik aja ya mas."
"Iya, aku baik baik saja. Hanya kepalaku saja yang masih pusing."
"Seiring berjalannya waktu kamu pasti bakal sembuh kok, mas. Aku akan suport kamu terus."
"Terimakasih. Tapi maaf, kamu siapa ya?"
Bak disambar petir di siang blong. Dada ini terasa sesak sekali. Rasanya aku sangat kesulitan untuk bernafas. Diri ini sangat tidak percaya dengan apa yang diucapkan Rendy.
Ku genggam tangan bu Rita. Beliau mencoba menguatkan aku. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Rendy aku juga belum mengerti.
"Rendy, ini ibu nak. Apa kamu baik baik saja?"
"Ibu?"
"Iya, aku ibumu. Dan ini Lissa calon istri kamu, nak. Kalian baru kemarin tunangan. Apa kamu tidak ingat?"
"Lissa? Tunanganku? Aku benar benar tidak mengingatnya, bu."
Tiba tiba seorang dokter masuk ke ruangan. Beliau tersenyum kepada kami. Lalu memeriksa keadaan Rendy.
"Dok, apa yang terjadi pada anak saya?" Kenapa dia tidak mengingat siapa kami?"
"Begini bu, anak ibu terkena benturan yang cukup keras di kepala. Sehingga terdapat gumpalan darah di kepala dan terjadi amnesia."
"Astaga, apakah anak saya bisa sembuh dok?"
"Kemungkinan sembuh sangat besar. Jika keadaan stabil kami akan melakukan tindakan operasi secepatnya. Semoga semua akan baik baik saja."
"Baik dok, terimakasih."
"Baik, kalau begitu saya permisi."
"Iya dok, silahkan."
Aku tak kuasa untuk menahan air mata. bu Rita memelukku dan membelai rambutku. Beliau berusaha menenangkan aku.
"Ibu, apakah dia benar benar tunanganku?"
__ADS_1
"Mas, aku punya bukti kalau kemarin kita sudah tunangan."
Segera ku ambil ponsel dan kuperlihatkan foto ketika kami bertunangan. Rendy tampak memperhatikannya dengan serius. Namun jawaban dia sangat membuat aku down. Seolah aku sangat tidak percaya dengan apa yang dia katakan.