Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 78


Senyum manis dari Mas Rohman yang selalu membuat hati ini terasa adem. Senyum manis dengan lesung di pipinya membuat aku terbuai dan terlena oleh dirinya. Hati ini kembali ragu untuk melontarkan sebuah pertanyaan.


Aku bingung dengan fikiran dan perasaanku saat ini. Aku tidak mau terus menerus seperti ini. Sunggu sangat menyiksa batinku. Fikiranku pun juga menjadi sangat kacau dan tidak tenang.


"Sayang, apa kamu baik baik saja?"


"Ehm, i..iya Mas. Aku baik baik saja, kok."


"Ya sudah, aku fikir kamu kenapa kenapa. Aku hanya kaget saja kok tiba tiba kamu jadi bengong, sayang."


"Oh, anu Mas. Tadi cuma lagi nyusun kalimat saja buat jadi pertanyaan."


"Kamu ada ada saja, sayang."


"Kamu jadi mau tanya apa, sayang? Aku dari tadi nungguin kamu, loh."


"Oh itu, iya mas."


"Sebenarnya aku mau tau tentang kamu yang jauh lebih dalam, Mas. Mungkin ada sesuatu yang mungkin aku belum tahu tentang kamu."


"Ya sudah, kamu tanya saja."


"Mas, apa kamu pernah kenal sama Mas Rendy?" Sepontan Mas Rohman menoleh kepadaku dan menatapku dengan penuh keheranan.


Mas Rohman mendadak membelokkan mobilnya ke sebuah mini market. Dia dia sejenak, mungkin sambil memikirkan sesuatu. Dan benar dugaanku, dia mulai menjawab pertanyaanku.


"Kamu kenapa tiba tiba tanya soal Rendy?"


"A..aku, hanya mau tau saja Mas. Karena aku merasa kamu pernah kenal sama dia."


"Baik, aku akan jawab pertanyaan kamu, sayang."


"Ya, dulu aku dan Rendy adalah sahabat. Tapi itu dulu, sayang. Kami berdua menjauh karena suatu hal."


"Apa karena seorang wanita, Mas?"


"Dari mana kamu tahu, sayang? Apa Rendy yang memberitahu kamu tentang semuanya? Apa dia menghasut kamu tentang masa lalu aku?" Aku mulai sedikit tegang karena pertanyaan Mas Rohman. Aku bingung harus jawab apa.

__ADS_1


"Aku.. Aku hanya asal menebak saja, Mas. Karena dulu aku sempat melihat kamu sama Mas Rendy berbicara saat di depan kost aku."


"Ya aku merasa saja kamu pernah kenal sama dia. Dan aku juga punya firasat kalau kamu ada sesuatu. Sebenarnya aku ingin bertanya tentang hal ini sejak lama, tapi aku tahan."


Mas Rohman berhenti menatapku. Dia membuang nafas dengan kasar. Aku marasa dia sedang berfikir tentang sesuatu. Bagaimanapun jawaban dia, aku akan tetap menerimanya.


"Sayang, kenapa kamu harus mengungkit masa lalu? Kita sudah bahagia untuk saat ini."


"Jadi, kamu nggak mau jawab, Mas?"


"Baik, sayang. Aku akan jawab pertanyaan kamu. Biar kamu tahu, kamu tidak berfikir yang tidak tidak lagi."


"Benar, sayang. Aku dan Rendy dulu memang saling kenal. Bahkan sangat kenal dan dekat. Karena kami berdua dulu adalah sahabat."


"Kami sahabat baik, senang maupun susah kita lalui bersama. Tapi suatu saat ada sebuah kejadian yang membuat kami jadi menjauh. Kejadian tidak terduga dan terjadi begitu saja."


"Aku akui itu semua memang kesalahan aku. Entah kenapa sifat jahatku muncul begitu saja. Aku sangat tega sekali sama Rendy. Aku akui aku sangat menyesal dan sangat merasa bersalah padanya."


"Tidak heran jika sampai detik ini Rendy membenciku. Aku sudah berusaha meminta maaf padanya, tapi semua sia sia. Dia tidak mau memaafkan aku dan terus jauh dari aku."


"Apakah gara gara Chika kalian jadi menjauh?"


"Iya, sayang. Semua gara gara Chika. Aku memang jahat padanya. Aku tega main serong di belakang Rendy. Aku tega merebut Chika dari Rendy. Bahkan aku juga berkali kali tidur dengan Chika."


Iya, aku memang shock dengan perkataan Mas Rohman. Dia bilang berkali kali tidur dengan Chika. Aku sangat tiadk menyangka, begitu buruknya Mas Rohman terhadap sahabatnya sendiri.


"Tapi kamu tenang saja, sayang. Aku sekarang tidak pernah lagi tidur dengan wanita di luar sana. Aku sangat sayang sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu."


"Maka dari itu, aku tidak pernah main main di luar sana. Semoga saja setelah apa yang aku katakan ini kamu tidak membenci aku, sayang. Aku sudah mengatakan semuanya. Tidak ada lagi yang aku tutupi untuk kamu. Semuanya sudah aku buka, aku udah jujur."


Aku terdiam mendengar penjelasan Mas Rohman. Memang selama ini Mas Rohman tidak pernah macam macam di luar. Pulang kerja juga langsung pulang. Kalaupun dia telat kuga pasti langsung memberi kabar aku.


Aku tambah bingung dengan situasi saat ini. Tapi aku sadar, jika Mas Rohman sekarang adalah suamu aku. Dan aku juga sudah berjanji tadi, apapun yang dikatakan Mas Rohman aku harus menerimanya.


"Baiklah, mas. Aku mengerti sekarang."


"Apa kamu marah padaku, sayang?"


"InsyaAllah tidak, Mas. Apapun yang kamu katakan aku terima, kok."

__ADS_1


"Kamu serius, sayang."


"Iya, Mas."


"Aku harap kamu bilang tidak marah benar benar dari dalam hati. Bukan hanya ucapan saja, sayang."


"Kita akan liburan, sayang. Aku harap mood kamu tetap baik baik saja. Karena aku tidak mau nanti selama kita liburan ada pertengkaran. Walaupun itu pertengkaran kecil."


"Iya, Mas. Aku ngerti kok."


"Ya sudah, bisakah kita lanjut jalan lagi, sayang?"


"Aku belum bisa, Mas?"


"Ada apa lagi, sayang? Apa ada sesuatu yang mau kamu tanyakan lagi?"


"Tidak, Mas."


"Lalu apa lagi, sayang?"


"Aku pengen beli jajan, Mas."


"Astaga, sayang. Aku tambah gemes sama kamu."


Mas Rohman kembali membelai rambutku. Kami berdua pun akhirnya turun dari mobil dan masuk ke dalam mini market untuk membeli makanan ringan. Wajarlah, wanita yang sedang mengandung mudah sekali merasakan lapar. Jadi harus siap sedia camilan.


Aku mengambil keranjang dan mulai memasukkan makanan makanan ringan kesukaan aku. Ada chiki, roti, biskuit, dan susu. Aku juga tidak lupa membeli coklat. Camilan favorit aku yang tidak pernah ketinggalan.


Keranjang sudah penuh, dan akupun menuju ke kasir untuk membayarnya. Saat aku hendak membayar, Mas Rohman lebih dulu mengeluarkan uang. Padahal kan aku juga ada uang dari gaji dia.


"Kamu simpan saja uang kamu, sayang."


"Kalau uang ini aku simpan terus dan nggak pernah aku gunakan, nanti yang ada malah uangnya jadi jamuran Mas."


Mas Rohman hanya tersenyum mendengar ucapanku. Dia seolah tidak mau aku mengeluarkan uang untuk membeli keperluanku.


Setelah semua belanjaan dibayar, kami kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju ke Jogja. Baru juga separuh perjalanan aku sudah merasakan kantuk.


Ingin sekali aku memejamkan mata, namun aku kasihan sama Mas Rohman. Jika aku tinggal tidur, nanti dia tidak ada teman untuk mengobrol. Aku takutnya nanti dia juga ikut ikutan mengantuk. Tapi mata ini sudah tidak kuat lagi untuk terjaga. Sudah berkali kali aku menguap.

__ADS_1


__ADS_2