
Eps. 31
Aku melongo mendengar percakapan antara Jimmy dan pekerja hotel tersebut. Namun memang saat ini kondisi sedang tidak memungkinkan untuk keluar. Hujan yang sangat deras disertai dengan petir yang bergemuruh. Tubuhku pun juga cukup kedinginan karena pakaianku sedikit basah.
Tak berselang lama kami diantarkan menuju ke kamar yang telah disewa. Jimmy mengucapkan terimakasih kepada pekerja hotel tersebut. Jimmy mengajakku masuk lalu menutup pintu dan menguncinya.
Jujur aku takut dan mu jika harus berada dalam satu kamar dengan seorang laki laki. Meskipun aku pernah tidur sekamar dengan Rendy. Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada diriku.
"Cha, lebih baik kamu segera copot jaketmu. nanti kamu bisa masuk angin.
"Ehm, tapi.."
"Jaket kamu basah, Cha. Kamu kedinginan, nanti bisa sakit."
Jimmy melepas paksa jaket yang aku kenakan. Akupun juga tidak bisa menolaknya. Karena memang jaketku basah dan aku juga kedinginan.
"Cha, hijab kamu juga basah. Kamu lepas juga, ya. Nanti kamu bisa pusing."
"Ehm, tapi Jim.."
"Sudahlah Cha, kamu kalau dibilangin nggak usah ngeyel bisa nggak sih."
Akupun melepas hijab yang aku kenakan. Aku sedikit malu dan canggung dengan Jimmy. Meskipun sudah lama kenal, tapi aku memang masih segan sama dia. Karena sudah lama sekali tidak bertemu.
Tiba tiba aku dikejutkan dengan kelakuan Jimmy yang melepas baju di depanku. Aku segera membalikkan badan, karena merasa malu melihatnya. Tubuhnya cukup kekar dan bersih. Karena memang mataku sudah sedikit ternodai, tadi tidak sengaja melihatnya.
"Kamu kenapa, Cha?"
"Nggak ada apa apa, Jim. Aku mau ke kamar mandi dulu."
Aku segera berlalu dari hadapan Jimmy sambil menundukkan kepala. Aku tidak mau mataku rusak karena pemandangan yang meresahkan.
Aku masuk ke kamar mandi dan ku tutup pintu. Ku basuh wajah dan tanganku karena sedikit kotor. Terasa sangat fresh sesudah aku basuh. Saat hendak membuka pintu, aku teringat akan Jimmy yang tidak memakai baju. Ku urungkan niatku untuk keluar. Namun aku juga tidak mungkin berlama lama di dalam kamar mandi.
"Jim.." (Panggilku sedikit kencang dari dalam kamar mandi.)
__ADS_1
"Iya Cha, ada apa?"
"Apa kamu sudah memakai baju?"
"Belum, Cha. Kamu tau sendiri bajuku basah kuyup. Tuh, baru aku jemur."
"Ya sudah."
Aku segera membuka pintu kamar mandi dan hendak keluar. Aku melangkah dengan pelan dan tertunduk malu. Karena melihat Jimmy tengah berbaring tanpa mengenakan baju.
Saking malunya aku sampai tidak memperhatikan jalan. Saat hendak nengambil ponsel di meja, kakiku tersandung sepatu milik Jimmy. Hingga aku terjatuh tepat di atas tubuh Jimmy. Dan yang lebih parah, bibir kami sampai bersentuhan.
Wajahku memerah karena malu. Aku segera bangkit, namun Jimmy menahanku. Dia memeluk tubuhku dengan erat dan enggan melepasnya.
"Ma.. Maaf, Jim aku tidak sengaja. Aku tersandung sepatumu. Lepaskan aku, Jim."
Jimmy tidak menghiraukan ucapanku. Justru dia malah mengubah posisi. Membalikkan tubuh hingga aku berada di bawah dan terkunci tubuhnya. Tatapannya sangat tajam, hingga membuatku sedikit takut untuk menatapnya.
"Jim, kamu mau ngapain?"
"Ma..Maksud kamu apa, Jim. Lepasin aku Jim, dadaku sedikit sesak."
Lagi lagi Jimmy tidak menghiraukan ucapanku. Tatapan dia semakin tajam. Jantungku mulai berdebar kencang tak beraturan. Rasa ketakutan kin telah menyelimutiku. Dan dengan cepat Jimmy ******* bibirku. Aku ingin berontak namun keadaan yang tidak memungkinkan.
Tubuhku terhimpit hingga membuatku semakin sesak dan aku kesulitan untuk bernafas. Ku pukul punggung dia supaya mau berhenti. Namun ternyata usahaku sia sia. Lumatannya semakin dalam hingga membuat aku tak berdaya.
Hal yang tadinya aku takutkan, kini benar benar terjadi. Malam ini aku melakukan aktivitas panas yang seharusnya tidak aku lakukan dengannya. Tidak ada penolakan dariku, karena sebelumnya aku memang pernah melakukannya dengan Rendy.
Hujan bergemuruh disertai angin membuat aktivitas malam ini sangat menyenangkan. Sepintas aku bisa melupakan beban yang membuat fikiranku sedikit terganggu.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku meminta untuk menyudahi permainan ini. Aku sudah cukup lelah dan mengantuk. Tidak ada penolakan dari Jimmy. Dia mengiyakan permintaanku.
"Maaf Jim, aku sudah sangat lelah. Bisakah kita sudahi aktivitas ini?"
"Baiklah Cha, sebenarnya aku masih ingin. Tapi ya sudah, lagian aku juga sudah cukup puas. Aku lihat wajah kamu sudah kelelahan. Kamu istirahat ya."
__ADS_1
Aku hanya mampu menganggukkan kepala. Saat hendak memejamkan mata, Jimmy membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Cha, terimakasih ya."
Aku mendengarnya dengan jelas perkataannya. Namun karena rasa lelah yang tidak dapat tertahan, aku mengabaikannya. Dan memilih diam tidak membalas ucapannya. Hingga akhirnya aku memejamkan mata.
**********
Sorot sinar matahari masuk melalui celah kaca. Hingga membuat mataku sedikit silau. ku buka mata berlahan lahan, dan melihat sekeliling ruangan.
Aku baru ingat jika sekarang tengah berada di hotel. Aku melihat ke samping, Jimmy tidak ada di sebelahku. Dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka, aku mengambil ponsel di meja. Ku buka pesan di whatsap, ternyata ada sebuah pesan dari Jimmy.
"Cha, aku keluar sebentar untuk membeli makanan. Kalau kamu sudah bangun, segeralah mandi. Kamu pakai saja dulu handuk, aku sedang mencarikan baju ganti untukmu."
Ku lihat jam di layar ponsel, ternyata sudah pukul sembilan pagi. Cukup terkejut, karena baru kali ini aku bangun sesiang ini. Aku segera bergegas turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Ku nyalakan shower dan ku basahi seluruh tubuhku. Rasanya badanku sangat segar kembali. Otakku mulai berfungsi setelah cobaan yang begitu berat kemarin aku alami. Semoga saja aku bisa melupakannya begitu saja. Dan semoga saja ini segera berakhir.
Usai mandi aku duduk di sofa sambil menonton tv hanya dengan menggunakan handuk. Karena pakaian yang kemarin masih belum kering juga.
Tak berselang lama, Jimmy kembali dengan membawa beberapa kantung plastik. Ada makanan, dan pakaian. Dia memberikan senyum ramah untukku. Akupun dengan senang hati membalas senyumnya.
Dia duduk di sebelahku, sambil memberikan satu stel pakaian untukku lengkap dengan dalaman. Aku segera beranjak untuk memakainya di kamar mandi.
satu buah tunik berwarna biru dongker, celana jeans biru. Sungguh luar biasa pilihan Jimmy. Sangat bagus sekali dan aku sangat menyukainya. Aku segera memakainya, dan bergegas keluar dari kamar mandi.
Aku kembali duduk di sebelah Jimmy. Ku lihat dia sedang memainkan ponselku. Aku sedikit kesal dengannya, karena membuka ponselku tanpa seijinku.
"Jim, kamu ngapain buka buka ponselku?"
"Ahh, nggak ada apa apa. Aku cuma lihat lihat saja, Cha."
"Lain kali jangan gitu, aku nggak suka. Karena ini kan privasi orang. Aku nggak pernah lho buka buka ponselmu."
"Maaf, Cha."
__ADS_1