
Eps. 27
Karena hari juga sudah mulai gelap, aku memutuskan untuk istirahat. Mungkin saja esok pesanku sudah dibalas oleh Rendy. Mata ini sudah tidak sanggup lagi untuk terjaga. Akhirnya aku memejamkan mata untuk rehat sejenak malam ini.
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang. Aku tidak nampak jelas penumpang yang ada di dalam mobil. Yang aku lihat samar samar dua orang lelaki yang masih muda dan tidak asing bagiku.
Saat tengah melaju di jalan tol, sebuah bus dari lawan arah melaju dengan kecepatan tinggi. Tampak bus tersebut hilang kendali hingga keluar jalur dan terjadilah kecelakaan beruntun.
Terdapat beberapa mobil yang menjadi korban bus tersebut. Diantaranya sebuah mobil sedan yang dikendarai oleh dua orang pria. Aku masih belum bisa melihat secara jelas. Pandanganku sangat kabur.
Terdengar suara sirine ambulans dan mobil Polisi dari kejauhan. Hingga suara itu semakin mendekat dan membuatku terbangun dari tidur. Ternyata ini semua hanya mimpi.
Hari sudah pagi, terlihat sorot sinar matahari masuk melalui celah kaca. Ku usap layar ponsel, ternyata sudah pukul tujuh pagi. Ku buka aplikasi whatsap, tidak ada satu pesanpun yang masuk dari Rendy. Nomornyapun juga belum aktif sampai sekarang.
Perasaanku semakin menjadi tidak tenang. Aku teringat akan mimpi yang semalam. Sebuah kecelakaan beruntun di jalan tol Semarang. Aku segera mencari info di media sosial. Dan akhirnya aku mendapatkan info tersebut.
Ternyata memang benar, telah terjadi kecelakaan beruntun di Jalan Tol kemarin sore. Terdapat beberapa korban jiwa. Diantaranya, luka berat lima orang, luka ringan delapan orang, dan dua meninggal di tempat.
Seketika aku sangat amat panik. Aku segera menghubungi sahabatku, Rere dan Andry untuk memastikan jika Rendy dan Arya sudah sampai di rumah. Ku kirimkan alamat Rendy kepada mereka berdua.
Sambil menunggu kabar dari sahabatku, aku berusaha untuk menenangkan fikiran. Berharap jika Rendy dan adiknya baik baik saja. Namun perasaan ini tetap saja tidak tenang.
Nafsu makan hilang, ingin beranjak sangat berat sekali rasanya. Satu jam, dua jam, tiga jam kemudian aku mendapatkan kabar dari sahabatku. Rere mengirimkan sebuah foto yang nampak di halaman rumah Rendy.
Bak disambar petir di siang bolong. Seakan aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Banyak sekali karangan bunga terpajang di halaman rumah Rendy. Banyak sekali para tamu dengan mengenakan baju hitam. Dan di depan rumah tampak bendera kuning dengan bertuliskan lelayu.
[Beb, kamu harus kuat. Kamu harus sabar menghadapi ujuan ini.]
[Ada apa ini, Re? Katakan apa yang terjadi! Siapa yang meninggal? Rendy dan Arya baik baik saja, kan?]
[Cha, Rendy dan Arya adalah korban kecelakaan beruntun di jalan tol kemarin sore.]
__ADS_1
[Mereka selamat, kan. Mereka baik baik saja, kan.?] Fikiranku sudah mulai tidak tenang.
[Cha, Rendy sekarang ada di Rumah Sakit. Dia mengalami benturan yang cukup parah. Dan masih koma hingga saat ini. Sedangkan Arya, dia meninggal dunia karena lukanya yang cukup parah.]
[Kamu nggak lagi becanda, kan?]
[Cha, untuk apa kita becanda.]
[Ini nggak mungkin, Re. Aku masih belum percaya. Baik, aku akan segera balik ke Semarang.]
[Silahkan Cha, biar kamu lihat sendiri secara langsung.]
Tak ku balas lagi pesan dari Rere. Aku segera mandi lalu berkemas dan bersiap untuk berangkat ke Semarang. Ibuku sempat bingung, melihatku yang tengah panik dan terburu buru.
"Kok udah mau berangkat aja. Katanya masih dua hari lagi di sini?"
"Bu, ada kabar ttidak megenakkan. Makanya aku harus berangkat sekarang untuk memastikan."
"Iya bu, ini sangat serius. Aku dapat kabar jika Rendy kecelakaan. Makanya aku harus mengecek apakah itu benar."
"Astagfirullah, ya sudah sana kamu segera berangkat. Hati hati di jalan, kalau sudah sampai kabari ibu."
"Iya, bu. Aku berangkat dulu. Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ku cium punggung tangan ibuku lalu aku bergegas pergi dengan terburu buru. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk menuju jalan raya. Dan ku stop bus umum untuk berangkat ke Semarang.
Selama perjalanan, ku buka galery foto. Ku pandangi satu persatu foto foto Rendy. Sekilas teringat akan malam bersejarah dengannya. Dimana pertama kali memberikan kesucianku untuknya.
Tak terasa air mata ini menetes begitu saja. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga semuanya akan baik baik saja.
__ADS_1
Akhirnya perjalanan telah usai. Aku sudah tiba di Semarang. Aku mencari ojeg untuk mengantarkanku ke rumah Rendy. Tak butuh waktu lama, aku mendapatkan ojeg. Dan akhirnya aku tiba di rumah Rendy.
Suasanya sama persis seperti foto yang dikirim Rere lewat ponsel tadi. Sangat Ramai tamu, dan banyak sekali karangan bunga yang berjejer di halaman. Aku berjalan, dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah.
"Assalammualaikum."
Sontak semua orang yang ada di dalam melihat ke arahku. Mereka serentak menjawab salamku. Ibu Rita menghampiriku lalu memelukku.
"Bu, apakah semua baik baik saja?"
Bu Rita tidak menjawab pertanyaanku. Beliau hanya menangis dan memelukku.
"Bu, maafkan aku. Jika kemarin acaranya tidak dilangsungkan, mungkin ini tidak akan terjadi. Maaf bu, ini semua salah saya."
Aku tak kuasa menahan air mata. Tangis kami kembali pecah. Bu Rita memelukku semakin erat. Beliau membelai rambutku dengan penuh Kasih sayang. Seperti menyayangi anaknya sendiri."
"Bukan, nak. Ini bukan salah kamu. Ini semua sudah takdir. Mungkin usia Arya hanya sampai di sini. Kamu nggak salah, sayang. Jangan menyalahakan diri kamu seperti ini."
"Seandainya acara kemarin diundur, ini tidak akan terjadi bu."
"Sudahlah, nak. Ini bukan salah kamu. Ini memang keinginan Rendy ingin segera mempersunting kamu. Berhenti menyalahkan diri kamu. Ibu sudah iklas melepas kepergian Arya."
"Lalu bagaimana dengan Rendy, bu? Dia baik baik saja kan, bu?"
"Rendy masih belum sadar, nak. Sudah lebih baik kamu tenangkan diri kamu dulu. Kamu istirahat dulu. Besok kita sama sama jenguk Rendy."
Aku mengikuti apa yang dikatakan ibu Rita. Aku berusaha tenang setenang mungkin. Aku duduk dekat jenazah Arya. Tak kuasa aku menahan air mata hingga mengalir begitu saja.
Ku buka kitab suci dan ku bacakan surat surat pendek untuknya.
Hingga akhirnya waktu pemakamanpun tiba. Aku turut ikut ke tempat peristirahatan terakhir untuk Arya. Sampai detik ini masih belum percaya, dia oergi secepat ini. Padahal baru kemarin kami bertemu dan ngobrol. Ternyatakemarin menjadi hari terakhir kita bertemu.
__ADS_1
Aku hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga Tuhan mengampuni segala kesalahanmu. Dan semoga kamu tenang di sana Arya Hadinata. Belum sempat aku menjadi kakak iparmu, namun kamu sudah pergi lebih dulu menghadap Sang Kuasa.