
Eps. 98
Sudah tiga bulan aku tinggal di kampung halaman ku. Hari hari ku jalani dengan usaha salad buah dan aneka kue yang dijual melalui online. Alhamdulillah rejeki selalu ada dan ada beberapa reseller. Aku sangat bersyukur karena hudupku jauh lebih baik untuk saat ini.
Setiap hari aku bisa menyisihkan sedikit uang dari hasil jualan. Tak hanya itu, aku menyempatkan diri untuk kursus salon. Dan sudah hampir tiga bulan ini aku sudah hampir selesai kursus. Dan aku juga sudah mahir dalam bidang kecantikan.
Mungkin nanti jika uangku sudah terkumpul, aku berniat akan membuka salon sendiri. Tapi nanti jika ada rejeki insyaallah semua akan terpenuhi. Harus perbanyak sabar untuk menjalani ini semua.
Tak hanya itu, alhamdulillah semua berkas yang berkaitan dengan mantan suami sudah selesai. Aku juga sudah pindah ke kota ini. Begitu juga dengan KTP aku, semua sudah diproses dan tanpa kendala sedikitpun.
*********
Enam bulan sudah berlalu, usahaku semakin meningkat. Dan alhamdulillah aku juga sudah buka usaha salon. Dengan menyewa sebuah ruko minimalis dan ada dua karyawan untuk bantu bantu di salon. Aku sangat bersyukur sekali untuk hidupku yang sekarang. Semoga saja usahaku semuanya tambah maju dan membuka beberapa cabang.
Sebuah panggilan masuk dari adik ku. Aku segera untuk mengangkatnya. Karena aku punya filling jika ada sesuatu yang sangat penting.
"Hallo, kenapa dek?"
"Mbak, bisa pulang ke rumah sekarang nggak? Ini ada nyariin."
"Nyariin? Siapa?"
"Udah mbak pulang saja dulu. Nanti juga tahu siapa yang nyari."
"Iya udah tunggu aku pulang sekarang."
Aku bergegas pamit kepada kedua karayawanku di salon untuk segera pulang. Karena ada sesuatu hal. ke dua karyawan ku Rina dan Vivi sudah cukup mahir untuk urusan salon. Karena sebelunya mereka berdua juga pernah bekerja di sebuah salon. Jadi aku tidak begitu mengkawatirkan. Karena aku yakin mereka bisa mengurusnya.
Aku melajukan kendaraan roda duaku dengan kecepatan yang lumayan kencang. Karena terburu buru dan ingin tahi siapa yang mencari aku. Karena jantungku berdegub lumayan cepat. Seperti akan ada sesuatu yang terjadi nanti. Tapi semoga saja yang terjadi nanti adalah hal yang baik baik.
__ADS_1
Hanya butuh waktu lima belas menit saja kendaraanku sudah terparkir di halaman rumah. Aku tertegun melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahku. Mobil yang cukup bagus menurut aku. Namun siapa ya kira kira yang datang. Kenapa orang ini mencari aku. Hatiku sedikit tegang saat akan masuk ke dalam rumah dan melihat siapa yang datang.
Saat kaki ini menginjak ke dalam rumah, sungguh terkejut aku melihat siapa yang datang. Mata ini seperti tidak percaya melihat seseorang yang kini ada di hadapanku. Entah mimpi apa aku semalam hingga tiba tiba saja dia mencari aku. Bibir ini tergagap saat akan menyebut namanya.
"Ma...Mas Rendy.... Bu Rita.."
Senyum Mas Rendy yang tidak pernah berubah. Wajahnya yang kalem dengan postur tubuh yang masih sama. Begitu juga dengan Bu Rita yang tampak ada beberapa perubahan. Wajahnya yang terlihat lebih fresh dan lebih berisi. Alhamdulillah aku ikut senang dengan keadaan Bu Rita yang sekarang. Tambah cantik dan awet muda.
Aku segera berjalan menghampiri Mas Rendy dan Bu Rita. Ku cium punggung tangan Bu Rita, begitu juga denga Mas Rendy. Mereka seperti sangat bahagia saat bertemu denganku. Kini aku sudah duduk berhadapan dengan Mas Rendy dan Bu Rita. Ada rasa gugup tersendiri harus mulai dari mana untuk membuka percakapan. Rasanya masih sangat canggung.
"Ehm, Ibu sama Mas Rendy apa kabar?"
"Alhamdulillah kami berdua baik, nak."
"Syukurlah kalau begitu, Bu."
"Kamu ke mana saja, Lis? Kenapa tidak pernah kasih kabar aku? Bahkan nomor kamu juga sudah tidak aktif."
"Kenapa kamu tidak pernah berkabar sama ibu, nak?"
"Ehm, maaf bu."
"Ya sudah tidak perlu diperpanjang lagi. Yang penting kami sudah bertemu kamu saja sudah sangat bahagia."
"Iya, bu alhamdulillah kalau begitu. Aku juga senang ibu menyempatkan diri untuk ke mari."
"Lis, sebenarnya ada sesuatu hingga aku sama ibu ke mari untuk mencari kamu."
"Sesuatu, apa itu?"
__ADS_1
"Sebenarnya maksud kedatangan ku ke mari ingin melamar kamu."
"Apa, Mas?" Sontak aku terkejut dengan apa yang diucapkan Mas Rendy. Aku masih belum percaya dengan apa yang ucapannya.
"Lis, sesuai janjiku dulu aku akan datang untuk membawa kamu hidup bersamaku setelah masa idah kamu selesai. Dan kini aku menepati janjiku yang pernah aku ucapkan padamu."
"Kamu tidak sedang bercanda kan, Mas?"
"Nak, Rendy tidak bercanda. Dan memang ini niat kami datang ke mari untuk melamar kamu. Apa kamu bersedia menikah dengan Rendy dan menjadi menantu ibu?"
"Lis, semua aset aku yang ada di Semarang sudah aku jual. Rumah, bengkel, mobil, motor, semuanya yang aku punya aku sudah jual. Dan sudah tiga bulan ini aku dan ibu kembali ke kota Solo. Aku juga sudah bangun usaha di sana."
"Betul apa yang dikatakan Rendy, nak. Kami berdua sudah kembali ke kota kelahiran di Solo. Karena ibu tahu kamu pasti tidak akan pernah mau kembali ke kota itu. Jadi mungkin ini adalah jalan terbaik."
Aku masih diam dan belum bisa memberikan kepastian apakah aku mau menerima lamaran Mas Rendy. Semua ini sangat mendadak dan tanpa terduga. Aku bingung harus bagaimana. Aku merasa ini terlalu cepat untukku. Karena belum genap satu tahun aku menjadi seorang janda dan kini ada seorang laki laki di masa lalu yang datang untuk melamar aku.
"Jadi bagaimana, nak? Apa kamu bersedia menikah dengan Rendy?"
"Ehm bu, maaf sebelumnya. Bukan maksud aku menolak lamaran. Tapi aku fikir ini terlalu cepat sekali untuk aku, bu. Aku masih butuh waktu untuk berfikir." Ibuku yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan kami, akhirnya ikut berbicara juga.
"Semua keputusana ada sama kamu. Kalau kamu masih belum siap, lebih baik tunggu saja waktu yang tepat. Tapi kalau kamu sudah siap, ya bagaimana baiknya saja. Ikuti kata hatimu saja, toh lagian kamu juga sudah tau sama Rendy dan ibunya.
Apa yang dikatakan ibu memang ada benarnya. Tapi hatiku berkata kalau aku sebenarnya siap. Namun aku takut akan sesuatu terjadi seperti yang sudah sudah. Fikiran kotor ini kenapa selalu saja muncul.
"Jadi bagaimana, Lis? Apa kamu sudah ada jawaban?"
"Atau jika kamu belum siap tidak masalah, aku sama ibu akan datang lagi lain waktu. Karena aku tahu ini sangat tiba tiba, jadi kamu pasti tidak akan menyangka kan."
"Iya, nak. Kalau kamu belum siap tidak jadi masalah. Rendy akan setia menunggu kamu."
__ADS_1
"Bismillah, semoga saja keputusanku ini adalah yang terbaik. Dan semoga saja ke depannya akan jauh lebih baik."
"Ibu, Mas Rendy, aku... aku mau menerima lamarannya."