
Eps. 62
Hari ini masa cuti mas Rohman sudah habis. Dan mulai hari ini juga mas Rohman sudah mulai masuk kerja lagi. Aku tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk mas Rohman. Menu pagi ini hanya nasi goreng telor ceplok. Menu yang simple tapi mampu menggugah selera makan. Apalagi di pagi hari seperti ini, sangat pas sekali.
Mas Rohman keluar dari kamar. Dia tampak gagah dengan mengenakan seragam kerjanya yang berwarna coklat dilengkapi dengan sepatu kulit berwarna hitam. Senyum manis disertai lesung pipi membuat aku semangat.
"Ayo mas, kita sarapan dulu."
"Iya, sayang. Kamu masak apa?"
"Nasi goreng, mas." Mas Rohman duduk dan aku mengambilkan sarapan untukknya. Lalu akupun juga ikut menemani mas Rohman sarapan.
Usai sarapan mas Rohman bersiap untuk berangkat kerja. Aku membawakan tas dan mengantarkannya sampai sepan pintu. Tak lupa ku cium punggung tangan suamiku sebagai bentuk baktiku. Mas Rohman mengecup keningku lalu bergegas menaiki kendaraan roda duanya.
Aku melambaikan tangan hingga mas Rohman semakin menjauh hingga tak nampak lagi. Lalu aku segera masuk dan membereskan piring piring kotor.
Tak terasa usai beberes ternyata hari sudah siang. Aku lupa jika aku belum punya stok bahan makanan yang akan aku masak untuk nanti. Mana aku belum tau daerah sini. Mungkin lebih baik aku keluar sebentar. Jika ada tetangga di depan rumah alangkah baiknya aku bertanya. Sambil memperkenalkan diri agar kenal dengan warna sekitar. Karena aku dan mas Rohman warga baru di sini. Agar bisa beradaptasi dengan lingkungan.
Kebetulan tetangga sebelah sedang berada di teras rumah. Seorang wanita yang mungkin usianya di atasku. Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Permisi mbak, saya Lissa tetangga baru tinggal di sebelah."
"Oh iya mbak, ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau numpang tanya, di sekitar apa sini ada yang jual sayuran mbak?"
"Oh ada mbak, kamu lurus saja nanti ada pertigaan pertaman tris belok kiri. Rumah nomer lima kiri jalan ya. Nanti ada warung bu Idah, di situ lengkap."
"Baik, mbak. Terimakasih banyak, ya."
"Sama sama, mbak. Kalau butuh apa apa ke rumah saya saja, mbak."
"Ya, mbak terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, mari."
Aku berjalan sesuai arahan penghuni rumah sebelah tadi. Aku sampai lupa tidak tanya namanya. Sepertinya dia juga sedang di rumah sendiri.
Tidak butuh lama, akhirnya aku sampai di warung yang aku maksud tadi. Benar benar lengkap sekali di sini. Sayurannya juga masih seger seger.
Aku segera memasukkan beberapa sayuran dan lauk pauk sekalian untuk setok beberapa hari ke depan. Segera ku bayar sayuran itu dan aku beranjak pergi. Mengingat hari sudah sangat siang aku aku segera pulang untuk memasak. Perutku juga sudah sangat lapar sekali.
__ADS_1
Tumis kangkung, telur dadar, dan bakwan jagung sudah siap. Aku segera makan siang agar mual di perutku tidak berlebihan. Akhirnya perutku sudah terisi dan alhamdulillah sudah kenyang.
Saat aku akan membereskan piring kotor, ponselku berdering. Sebuah panggilan masuk dan ternyata dari suamiku. Aku segera mengangkatnya.
"Hallo, mas."
"Iya, sayang. Kamu sudah makan?"
"Udah ini baru saja selesai."
"Ya sudah, jangan telat makan. Kalau nggak sempat makan pesan saja lewat ojol."
"Sudah kok, mas. Kamu sendiri sudah makan?"
"Ini baru saja mau makan."
"Ya sudah kamu makan dulu saja, mas."
"Iya, sayang. Kamu hati hati, ya. Jangan capek capek. Nggak usah ngerjain pekerjaan yang berat berat. Jangan lupa habi ini kamu istirahat."
"Iya iya, mas."
"Daahh, mas."
Sambungan telepon terputus secara sepihak. Aku melanjutkan mencuci perlatan dapur yang kotor tadi. Teringat kata kata mas Rohman, aku harus istrirahat. Kebetulan mataku juga sudah lumayan ngantuk.
Aku berjalan ke depan untuk memastikan pintu sudah terkunci. Karena aku akan istirahat sebentar. Setelah semua dipastikan aman, aku bergegas masuk ke dalam kamar untuk istrirahat.
Baru juga empat hari tinggal di sini udah sangat membosankan sekali. Bagaimana tidak bosan, aku di rumah sendirian. Ingin mencari kesibukkan, namun bingung kesibukkan apa.
**********
Aku terbangun dari tidurku. Ku perhatikan jam dinding ternyata sudah pukul tiga sore. Jika dipikir pikir ternyata tidurku lumayan lama juga. Mungkin masih efek capek karena beberes kemarin.
Aku segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi aku mengbil air wudhu setelah itu lanjut melaksanakan sholat asar. Sambil menunggu suamiku pulang, aku membaca Al Quran untuk mengisi waktu luang. Kebetulan mas Rohman pulang jam Empat sore.
Tak terasa aku mengaji sudah hampir satu juz. Karena terdengar suara ketukan pintu, aku segera mengakhiri membaca Quran. Dan segera membukakan pintu. Mana tahu itu adalah mas Rohman.
Dan ternyata benar, suami ku sudah pulang. Segera ku cium punggung tangannya dan membawakan tas kerjanya. Mas Rohman duduk di sofa, lalu aku bergegas ke dapur untuk membuatkan minum. Betapa bahagianya diriku ini bisa melayani suami ku dengan tulus.
"Ini mas, minummnya diminum dulu selagi masih hangat."
__ADS_1
"Iya, sayang makasih."
"Sama sama, mas."
"Oh iya mas, kapan kita ke kost buat ambil barang barangku yang masih di sana?"
"Terserah kamu saja, sayang kapan mau. Asalkan jangan jam kerja ya."
"Hmmm, iya deh. Mas madi dulu sana. Ini udah terlalu sore."
"Iya, sayang." Mas Rohman beranjak dari duduknya. Dia segera menuruti perintahku untuk segera mandi. Karena hari memang sudah sangat sore. Dan sebentar lagi juga sudah memasuki magrib.
Usai sholat magrib bersama aku mengajak mas Rohman untuk segera makan malam. Nasi, sayur, dan lauk sudah ku hidangkan di atas meja makan. Mas Rohman duduk dan aku mengambilkan makanan untuknya.
Mas Rohman tidak pernah komplen tentang masakan ku. Tapi dia pernah bilang jika masakanku enak katanya. Semoga saja mas Rohman memuji makananku tanpa berbohong.
"Mas, aku kalau siang kesepian banget."
"Mau gimana lagi sayang. Nanti kalau anak kita lahir pasti nggak kesepian lagi. Atau kamu bisa ke rumah ibu, nanti sorenya aku jemput."
"Nggak mas, nggak enak aku sama ibu. Lagian kalo harus bolak balik juga capek. Meskipun tidak terlalu jauh jaraknya."
"Ya sudah, terserah kamu saja sayang bagaimana baiknya."
"Oh ya mas, boleh nggak besok aku jalan jalan ke mall?"
"Ke mall? Sendirian?"
"Iya, mas. Aku pengan jalan jalan."
"Mau aku suruh Mirna buat nemeni kamu besok?"
"Jangan mas, nanti malah ganggu waktunya Mirna. Lagian kan Mirna juga sekolah."
"Ya sudah sayang, terserah kamu saja. Yang penting kamu hati hati di jalan."
"Iya mas, pasti."
"Emang kamu mau beli apa sayang? Apa nggak nungguin aku saja pulang kerja. Aku khawatir sama kamu sayang, lagi hamil tapi pergi sendiri. Aku takut kalau ada apa apa."
"Aku nggak apa apa, mas. Aku pasti hati hati kok."
__ADS_1