Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 92


Tak ada jawaban sama sekali dari ibu ku. Justru ibu malah menangis terisak. Perasaanku sangat tidak enak sekali. Namun aku terus mendesak ibu supaya memberitahu aku apa yang sebenarnya terjadi.


"Ibu, ini ada apa?"


"Di mana bayi yang ada di perutku?"


"Mas Rohman juga ke mana, bu? Kenapa dia menemani aku di saat aku seperti ini, bu?"


"Nduk, kamu yang tenang. Kamu harus iklas menerima semua ini."


"Katakan, bu! Ini ada apa?"


"Suami kamu sudah meninggal satu minggu yang lalu. Kalian mengalami kecelakaan malam itu. Dan kamu juga koma selama satu minggu ini."


"Kamu juga keguguran, nak."


"Astagfirullah."


Nafasku terasa sesak sekali. Aku tak kuasa mendengar semua yang ibu katakan. Ini sangat tidak mungkin. Aku tidak percaya ini semua. Ini pasti hanya mimpi.


"Ibu, ini tidak mungkin. Ibu pasti bohong kan?"


Aku berusaha memejamkan mata, dan berharap itu semua adalah mimpi. Namun ternyata itu semua adalah kenyataan. Aku memukul diriku sendiri. Sangat terasa sakit, ini benar benar nyata adanya.


Setragis inikalh perjalanan hidupku. Kenapa orang orang yang aku sayang selalu pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Hidup ini sangat tidak adil. Kenapa tidak sekalian aku saja diambil.


Aku tak mampu lagi untuk menangis. Air mata ini terasa kering hingga tak lagi bisa mengalir. Tak henti hentinya aku menyalahkan diriku sendiri. Seandainya waktu itu aku tidak mengajak Mas Rohman untuk beli martabak. Pasti saat ini aku masih bersamanya hidup bahagia. Aku lah penyebab semua ini. Ini semua salahku.


Aku berteriak tidak jelas. Terus memukul mukul diriku sendiri. Hingga ibuku panik melihat keadaan ku saat ini. Seorang Dokter dan Perawat masuk dan lalu menyuntikkan obat pada diriku. Hingga aku dapat tidur dengan tenang.


*********

__ADS_1


Hari sudah berganti. Aku masih termenung duduk di atas kasur Rumah Sakit. Meratapi hidupku yang begitu memprihatinkan. Entah sampai kapan cobaan ini akan terus berdatangan.


Kini aku berada di ruang rawat inap sendirian. Mungkin seluruh keluargaku sudah pulang atau mungkin ada di rumah ibu mertuaku. Aku tidak memikirkan itu. Yang ada di fikiranku saat ini hanya Mas Rohman.


Masih ku ingat senyum terakhir kalinya sebelum dia pergi. Saat aku memeluk tubuhnya dan pada saat itu juga aku merasa tidak mau berpisah dengannya. Apakah mungkin itu adalah sebuah firasat jika Mas Rohman akan pergi meninggalkan aku untuk selamanya.


Tak hanya itu, aku juga memegang bagian perutku yang sudah rata. Bayi yang ada dalam kandunganku juga ikut meninggalkan aku sendiri. Apakah aku tidak diijinkan untuk bahagia.


Ku remas jemariku dan air mata ini menetes dengan sendirinya. Pandangan ku tanpa arah. Aku mirip sekali dengan orang gila. Fikiranku sangat kacau dan hancur sehancur hancurnya. Aku tak tahu lagi jalan hidupku saat ini. Tiada lagi bahu untuk bersandar. Tak ada lagi jemari untuk digenggam. Tinggallah aku sendiri yang dibalut sepi, tiada tempat untuk bercurah lagi.


Pandangan ku mulai sedikit buram. Kepala juga aga pusing. Mungkin karena terlalu banyak yang difikirkan. Ku peluk erat kedua lututku. Dan aku mulai menangis terisak. Hingga tak sadar jika seseorang tengah berada di sampingku.


Seseorang menepuk pundak ku dengan halus. Aku menoleh ke samping. Betapa terkejutnya aku, ternyata Rere datang menjenguk ku. Dia tidak datang sendirian, ada Andry juga. Aku sedikit terhibur karena kedatangan para sahabatku yang kebetulan sudah lama tidak bertemu.


Aku melepas rindu dengan memeluk Rere. Begitu pula dengan Andry, dia juga memeluk aku. Sagabatku selalu datang di saat waktu yang tepat. Saat aku butuh tempat untuk mencurahkan segala sesuatu.


"Maaf say, aku baru dapat kabar kalau.."


Rete tak lagi melanjutkan kata katanya. Aku semakin menangis sejadi jadinya. Hanya menangis yang dapat aku lakukan saat ini. Menangis meratapi nasib buruk ku ini.


"Sudah say, ini semua takdir. Ini sudah jadi kehendal Tuhan. Aku harap kamu harus iklas dan sabar bisa menerima semua ini."


"Doakan suami kamu, supaya dia tenang di sana."


"Lis, aku ikut belasungkawa. Aku sama Rere juga baru tahu kabar ini. Jadi kami berdua baru sempat ke sini."


Aku tak mampu lagi untuk berkata kata. Rere memang benar, ini semua adalah takdir Tuhan. Tapi aku belum bisa menerima kenyataan yang sangat pahit ini. Kehilangan orang yang sangat dicintai dan berarti dalam hidup itu sangat menyakitkan.


Aku harus bisa sabar untuk menjalani ini semua. Aku harus mengiklaskan Mas Rohman dan calin anak ku pergi untuk selamanya. Walaupun sebenarnya hati ini sangat sakit.


Tiba tiba saja pintu terbuka, dan seseorang masuk. Seorang ibu paruh baya dan laki laki berjalan menghampiri aku. Aku dapat melihat dengan jelas siapa mereka berdua. Ya, tentunya Bu Rita dan Mas Rendy.


Bu Rita dan Mas Rendy menghampiriku. Dengan tiba tiba Bu Rita memeluk aku. Dia membelai rambutku dengan penuh lembut sekali.

__ADS_1


"Maaf nak, ibu baru tahu musibah yang kamu alami. Jadi ibu bru ke sini sekarang."


"Kamu yang sabar ya, sayang. Ibu turut berbela sungkawa atas kepergian suami dan calon anak kamu yang juga cucu ibu."


Bu Rita melepaskan pelukannya. Pun dia menyeka air mataku yang jatuh di pipi. Dia terus membelai rambutku. Sedangkan Mas Rendy hanya berdiri di samping ku. Tak ada obrolan sepatah kata pun antara kami berdua.


"Ehm, Lis kalau begitu aku sama Rere pamit pulang dulu."


"Nanti kami akan kembali lagi. Kamu tetap harus jaga kesehatan, ya."


"Kalau ada apa apa atau butuh sesuatu langsung saja hubungi kami."


"Iya, terimakasih." Ku ucapkan kata itu dengan nada pelan dan serak. Karena seringnya menangis dan aku juga belum makan ataupun minum. Hanya sebuah cairan infus aku bisa bertahan hidup.


Ke dua sahabatku sudah pergi meninggalkan ruangan tempat aku dirawat. Kini tinggal aku yang ditemani Bu Rita dan Mas Rendy. Suasana mendadak menjadi hening. Mungkin karena aku bingung harus memulai obrolan dari mana. Lagi pupa aku juga sangat canggung dengan Mas Rendy.


"Nak, kamu sudah makan?"


"Aku belum lapar, bu."


"Kamu nggak boleh seperti ini. Kamu jangan menyiksa diri kamu seperti ini."


"Kalau terus terusan seperti ini, yang ada malah lama lama kamu akan sakit."


"Ayo, kamu makan dulu. Sini biar ibu yang suapin kamu."


"Jangan, bu Aku bisa makan sendiri, kok."


"Tidak, nak. Kamu duduk saja dsambil bersandar."


"Kamu itu kemarin sering menasehati ibu supaya ibu mau makan. Dan setelah ibu melakukan apa yang kamu minta, akhirnya ibu sekarang sudah sehat, nak"


"Sekarang ibu juga ingin kamu makan supaya badan kamu tetap fresh. Kamu makan, ya nak?"

__ADS_1


"Ayo, nak. sedikit saja supaya perut kamu tidak kosong." Aku hhanya mampu mengannggukkan kepaku saja. Aku makan sedikit demi sedikit.


__ADS_2