Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa lalu


__ADS_3

Eps. 22


Aku berusaha untuk tidak menengok ke belakang. Aku tidak ingin lagi berhadapan dengan dia. Aku tidak mau rasa itu kembali muncul dalam hatiku. Karena aku harus menjaga perasaan seseorang yang sekarang hadir dalam hidupku.


Ku perhatikan dari kaca spion, dia menatap kepergianku. Aku berusaha tetap tenang. Mana mungkin bisa dia muncul di hadapanku saat aku sudah bahagia bersama orang lain.


"Cha, dia ngomong apa sama kamu?"


"Belum sempet ngomong, kamu udah datang. Ya udah lebih baik aku pergi saja. Soalnya aku nggak mau terlibat masalah sama dia."


"Maaf ya, Cha. Mungkin aku ganggu kamu."


"Nggak gitu Ndry, justru aku makasih lho sama kamu. Udah dateng tepat waktu. Jadi aku ada alasan buat menghindar dari dia."


"Ehm, seperti itu kah."


"Iya, emang kenapa?"


"Nggak apa apa, sih. Aku dukung kamu kali ini."


"Iya, Ndry. Karena ada hati yang harus dijaga saat ini."


"Tumben fikiran kamu kali ini bagus banget."


"Heh, maksud kamu apa?"


Sepontan aku memukul lengan Andry. Dia malah tertawa geli setelah mengataiku seperti itu. Sungguh teman yang lucu. Selalu saja buat aku tertawa.


"Eh Ndry, tapi kok aku penasaran ya."


"Penasaran kenapa lagi?"


"Ya kenapa dia tiba tiba muncul disaat aku udah bahagia dengan orang lain. Bahkan aku juga akan menikah waktu dekat ini."


Seketika Andry menghentikan kendaraannya. Aku lihat dia tamoak sangat terkejut mendengar ucapanku. Spontan aku pukul dia karena membahayakan pengendara yang lain.


"Ndry, kalau mau berhenti lihat lihat dong. Nanti kalau dari belakang ada kendaraan trus nabrak gimana? Untung kita lagi di jalan kampung, coba kalau di jalan raya."


"Maaf, Cha. Aku cuma kaget saja tadi denger kamu ngomong. Apa bener kamu mau menikah?"


"Iya, Rendy mau ajak aku tunangan besok. Kebetulan aku ambil cuti. Aku bisa pulang kampung bareng dia."


"Secepat itu kah, Cha?"


"Ya, mau gimana lagi. Mungkin memang dia jodohku."


"Itulah Cha, cobaan orang yang akan menikah pasti selalu ada. Salah satunya, hadirnya seseorang yang pernah ada di hati kita."

__ADS_1


"Iya Ndry, kamu bener banget. Padahal tadinya aku udah bisa lupa sama dia. Nggak tahunya sekarang tiba tiba dia muncul."


"Ikutin kata hatimu saja gimana baiknya, Cha."


"Iya, aku ngerti."


Saat aku dan Andry tengah berhenti di ujung gang, tiba tiba kami dikejutkan dengan suara cempreng seseorang. Dia tidak lain adalah Rere. Sontak kami semua tertawa karena ulahnya.


"Weee... Kalian ngapain di situ?"


"Ngagetin aja kamu."


"Tau nih, lagi mojok juga tiba tiba nongol."


Tawa kami pecah jika sudah jadi satu. Tiada hari tanpa canda mereka. Tingkah lucu kedua temanku ini sangat menghibur diriku.


"Btw, aku tadi seperti melihat Rohman di depan kost kamu. Tapi nggak tahu juga sih kalau akubsalah lihat."


"Nggak salah lihat, kok. Emang bener itu Rohman."


"Oh, jadi kamu tadi sempat ketemu sama dia."


"Iya, sempat berhadapan juga."


"Trus dia ngomong apa sama kamu?"


"Bagus deh, Cha."


"Udah yuk, kapan sampainya ini kalau mogok di sini."


Kendaraan kami segera melaju ke tempat kerja. Tidak butuh waktu lama, karena tempat kerja kami juga lumayan dekat. Akhirnya kami sampai di Resto. Dan seperti biasa, kami mulai beraktifitas seperti biasa. Melayani setiap pengunjung Resto yang datang


Baru satu jam kerja, aku sudah dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang membuatku heran. Dia adalah Rendy, calon tunangan aku.


Dia datang bersama rekan kerjanya.Aku berusaha menghindar dan menyuruh waiters lain untuk melayaninya. Karena aku sangat malu dan aku merasa sangat tidak pantas dengannya.


Melihat penampimpilan yang berwibawa, aku enggan mendekat. Walaupun hanya sekedar menyapa atau memberi senyum. Aku berusaha bekerja profesional. Aku pura pura tidak mengenalnya ketika melewati meja tempat dia makan.


Namun berbeda dengan sikap Rendy. Saat aku melewati mejanya, dia justru memanggilku dengan sebutan sayang. Akupun spontan berhenti dan menghampirinya.


"Lissa, sayang."


"Iya, ada apa?"


"Kamu kenapa seperti tidak kenal denganku? Apa kamu malu punya calon suami seperti aku?"


"Wah, jadi ini calon istrinya pak Rendy? Tidak salah pilih, sangat cantik sekali ya." ( Aku membalas dengan senyuman)

__ADS_1


"Maaf bukan begitu maksudku. Aku hanya profesional kerja saja. Di sini kamu pengunjung, dan aku hanya palayan."


"Jangan ngomong seperti itu, sayang. Sini kita makan bareng."


"Maaf mas, aku masih banyak kerjaan. Lagian aku baru saja masuk. Jam istirahatku juga masih nanti."


"Ya sudah, kamu semangat kerjanya. Jangan lupa makan."


"Iya, mas. Aku permisi dulu, mari semuanya."


Semua teman Rendy tersenyum. Saat aku hendak membalikkan badan aku menabrak seorang pria. Spontan orang yang aku tabrak memegang lenganku agar aku tidak terjatuh.


Kami saling bertatapan mata. Aku berfikir sejenak, dalam hatiku berkata orang ini sangat tidak asing. Aku mencoba mengingatnya, namun sangat nihil hasilnya. Entah aku yang lupa atau memang aku tidak kenal.


Namun fakta mengejutkanku. Pria tersebut memanggil namaku. Aku gemetar bukan main. Dan Rendy yang mengetahuinya sontak berdiri dan menghampiriku.


"Kamu tidak apa apa, sayang?"


"Aku tidak apa apa, mas?"


"Kamu Icha, kan?" (Tiba pria itu menyebut nama panggilanku. Sontak Rendy langsung menarikku agar aku dekat dengannya. Dan pria itu melepaskan lenganku.)


"Maaf, anda siapa? Dari mana anda tahu nama saya?"


"Astaga Cha, aku Jimmy. Teman lama kamu."


Aku terdiam sejenak untuk berusaha mengingat nama Jimmy. Dan akhirnya aku mengingatnya. Jimmy adalah teman masa sekolahku. Di mana dulu kita pernah saling suka namun tidak pernah diungkapkan. Dan kita menjauh dengan sendirinya. Pada akhirnya kita sama sama kehilangan kabar.


"Jimmy, apa kabar?"


"Aku kabar baik. Aku selama ini berusaha mencari kamu, Cha. Dan alhamdulillah kita bisa bertemu di sini."


Aku melirik ke arah Rendy. Ku perhatikan raut wajahnya seperti tidak suka. Aku berusaha menghindar untuk menghargai Rendy. Karena dia adalah calon suamiku.


"Sukurlah jika kamu baik baik saja. Oh ya maaf, aku harus kembali bekerja. Nanti kalau manager tahu, aku bisa dilaporkan pemilik Resto ini."


"Kamu tenang saja, Cha. Itu tidak akan terjadi. Aku pemilik Resto ini. Aku pastikan kamu aman."


Aku sangat terkejut. Bagaimana bisa aku bekerja di tempat usaha teman lamaku. Aku semakin tidak enak hati dengan Rendy. Tanpa basa basi aku memperkenalkan Rendy dengan Jimmy. Agar dia faham dengan statusku saat ini.


"Jim, kenalin. Ini Rendy, calon suamiku."


Tatapan Jimmy berubah drastis. Dia tampak terkejut jika aku sudah memiliki calon suami. Seolah dia tidak mempercayainya.


"Calon suami kamu, Cha?"


"Iya, dan dalam waktu dekat ini kami akan segera menikah."

__ADS_1


__ADS_2