
Kubuka mata perlahan. Sekujur tubuhku terasa lemas. Aroma minyak kayu putih menusuk hidung. Kepalaku sedikit pusing.
Dimana aku?
Ruangan serba putih terlihat di sekeliling.
Kuraba ranjang tempat berbaring.
Bukan milikku.
Semerbak bau alkohol menguar di indra penciuman.
Apa aku di rumah sakit?
Ada apa?
Derit pintu terdengar.
Kulihat Mbak Myra menenteng sebotol air mineral dan kantong kresek berwarna putih.
"Mbak .."
Panggilku lemah.
"Alhamdulillah ... kamu sudah sadar Lil?"
Tergopoh wanita itu menuju ranjangku.
"Aku pingsan ya Mbak?"
"Iya ... tadi pas di rumah Nisa kamu tiba - tiba saja pingsan."
Terangnya.
"Aku sama Mas Edi yang bawa kamu ke sini, khawatir terjadi apa - apa."
Kuedarkan pandangan di ruang putih ini.
Berusaha mengingat apa yang terjadi.
Kesadaranku kini sudah pulih sempurna.
Aku bisa mengingat kejadian sebelum pingsan. Netra ini sempat beradu dengan milik Azzam.
Ya benar, lelaki suami Nisa adalah cinta pertamaku.
Rupanya kenyataan pahit saat melihat dirinya membuatku sangat shock dan hilang keseimbangan.
"Nisa di sini juga mbak?"
Tanyaku pada mbk Myra. Aku ingin memastikn bahwa Nisa dan suaminya tidak berada di sini.
"Nggak Lil, mereka masih di rumah."
Ah, syukurlah. Aku menghela nafas lega. Di saat seperti ini aku belum siap bertemu dengan mereka.
"Tapi Nisa sudah bilang tadi, katanya mau nyusul ke sini."
Lanjutnya.
"Mbak aku mau pulang saja. Sudah enakan."
Aku bergegas bangkit setelah mbak Myra menyelesaikan kalimatnya.
Meskipun sebenarnya kepala masih tersa berat.
"Eh .. mau kemana kamu? Istirahat dulu ..."
Titah wanita itu.
"Dokter juga belum datang ke sini, jadi kamu gak boleh pulang dulu. Biar diperiksa dulu."
Lanjutnya seraya memegang lenganku.
"Enggak mbak, aku udah enakan."
__ADS_1
Ucapku sedikit memaksa seraya turun dari ranjang.
Sungguh diri ini tidak akan mampu bertemu dengan Azzam yang kini telah menjadi suami sahabatku sendiri.
Rasa cinta ini terlalu dalam untuknya.
Sungguh aku teramat merindukannya semenjak dia menghilang tanpa kabar 3 tahun lalu.
Lelaki itu selalu kusebut dalam doa, agar Allah mempertemukan kami kembali.
Dan kini DIA mengabulkan doaku.
Aku bertemu dengan Azzam.
Namun dalam kondisi yang begitu menyakitkan. Hatiku hancur melihatnya sekarang telah dimiliki orang lain. Dan orang itu sahabatku sendiri.
Kalau saja saat itu, kami berpisah secara baik - baik mungkin rasanya akan berbeda.
Saat itu tidak ada kata pisah dari mulutnya.
Bahkan sehari sebelum dia menghilang, Azzam sempat membelikanku sebuah cincin. Dia bilang itu untuk melamarku esok hari. Namun esok hari itu tak kunjung tiba. Azzam hilang entah kemana. Aku mencari ke rumahnya, namun tak seorangpun bersuara. Bahkan aku tak bisa menghubungi nomer ponselnya.
3 tahun lamanya aku menunggu. Dan selama itu pula aku tak mendengar kabar tentangnya.
"Eh mau kemana Lil?"
Sergah Pak Edi yang sudah berada di pintu kamar IGD.
"Saya mau pulang saja Pak, saya sudah enakan."
"Eh..ya gak bisa gitu. Biar diperiksa dokter dulu."
"Nggak Pak. Saya pulang aja."
"Udah jangan bandel, ini sudah malam. Kalo nanti di kos terjadi apa - apa gak ada yang bisa anter kamu!"
Ucap Pak Edi tegas.
Aku hanya menunduk mendengar perintahnya.
Ah, pak bos yang satu ini memang selalu perhatian sama anak buahnya. Dibalik sikapnya yang humoris, dia adalah bos yang selalu mengayomi bawahannya baik saat di dalam maupun di luar kantor.
Tak berselang lama, dokter telah memeriksaku dan meresepkan beberapa obat. Beliau memperbolehkanku untuk pulang dari Rumah Sakit. Aku pulang diantar Pak Edi. Sementara Mbak Myra sudah pulang duluan saat aku diperiksa tadi. Aku bersyukur tak sempat bertemu dengan Azzam, suami Nisa.
---
"Eh Lila, elu kok udah masuk?udah baikan?"
Nisa bertanya saat melihatku memasuki ruangan departemen QA tempat kami bekerja. Kemudian dia bergegas menuju ke arahku.
"Elu masih lemes gini..mending istirahat di rumah."
Wanita itu menuntunku menuju kursi kerja. Sementara aku hanya tertunduk. Tak kuasa menatapnya.
Ya Allah, kenapa hatiku begitu sakit melihat Nisa. Ada rasa kecewa, jengkel terhadapnya.
Padahal aku tahu, Nisa tidak salah apa - apa.
Dia bahkan tidak tahu jikalau suaminya adalah mantanku.
"Udah Nis, makasih."
Ujarku menyingkirkan tangan Nisa yang merangkul pundakku dengan nada sedikit dingin.
Aku bisa melihat raut wajahnya yang tampak sedikit terkejut mendengar perkataanku.
Mungkin dia berpikir ada yang aneh dengan Kalila.
Dalam kondisi seperti ini memang biasanya Nisa yang selalu kuandalkan.
Sebagai sesama perantauan yang tidak punya sanak saudara, kami terbiasa mengandalkan satu sama lain.
Pernah suatu ketika aku harus di rawat di rumah sakit, dia yang menjagaku setiap harinya. Tak heran jika saat ini dia kaget dengan sikapku tadi.
"Maaf kemarin gue gak bisa ke rumah sakit Nis, masih banyak teman Mas Azzam dirumah."
__ADS_1
Sakit. Iya sakit sekali. Saat Nisa mengucap nama itu.
"Iya gak papa kok."
Suasana sejenak hening. Entah kenapa aku merasa malas melihat sahabatku ini.
Sejujurnya aku juga tidak mau berada dalam situasi ini. Namun hati tidak bisa diajak kompromi. Hatiku yang paling dalam tak rela Nisa menikah dengan Azzam. Tapi di sisi lain, aku sadar ini bukan salahnya. Dia pasti tak mengetahui hal ini. Karena aku tak pernah bercerita tentang lelaki masa lalu itu.
Maafkan aku Nis.
"Kalo masih sakit istirahat aja di rumah Lil."
Ujar Pak Edi saat aku menghadap di ruang kubiklenya.
"Kamu kok kayak masih lemes banget gitu."
"Saya mau mengajukan cuti Pak."
"Lho kok mendadak banget."
"Iya Pak ada urusan keluarga."
"Ya sudah mana form nya, saya tanda tangani nanti langsung kasih mbak Ani biar diinput ke sistem."
"Terima kasih Pak."
Tak berapa lama form cuti itu telah kembali ke tanganku.
Aku melangkah menuju meja Mbak Ani, clerk departemen kami.
Tak sengaja ekor mataku melihat Nisa yang tengah memperhatikanku dari jauh.
Ada raut bingung di wajahnya.
Aku kemudian pura - pura serius dengan Mbak ani agar tak perlu melihatnya lagi.
----
Hari ini aku mulai cuti. Tak seorangpun kuberi tahu, kecuali Pak Edi dan Mbak Ani.
Bahkan Nisa, sobat kentalku juga tak mengetahui hal ini.
Aku ingin menepi barang sebentar.
Menetralkan rasa sakit yang singgah di hati. Menumpahkan segala kesedihanku bersama seorang yang selalu menjadi pelipur lara hati.
Ibu, tunggu aku di rumah.
Aku ingin menangis di pangkuanmu.
Sungguh hati ini tak sanggup menanggung rasa sedih ini sendirian.
Jam 7.30 aku tiba di bandara Hang Nadiem. Segera kulangkahkan kaki menuju counter check in sebuah maskapai berwarna oranye. Pesawat akan lepas landas 1 jam lagi.
Setelah proses check in selesai, aku menuju sebuah restoran cepat saji di bandara. Perut terasa keroncongan karena belum sempat sarapan tadi pagi.
Aku memesan sepaket nasi dan ayam goreng, kemudian menyantapnya dengan agak malas - malasan.
Pandanganku beredar ke seluruh ruangan restoran berwarna merah dan putih ini.
Dari meja terlihat sekelompok laki - laki memakai seragam wearpack tengah berbincang- bincang. Gelak tawa mereka membahana di seluruh ruaangan yang tak seberapa besar ini.
Ah, dasar para lelaki. Tak bisa mengontrol volume suaranya saat mereka berkumpul.
Antrian penumpang mengular di atas garbarata pesawat boeing tujuan Surabaya. Satu persatu memasuki burung besi itu. Terlihat cukup ramai, padahal bukan hari libur.
Aku berjalan di antrian dalam pesawat di antara lelaki berkostum wearpack. Rupanya mereka juga akan pergi ke Surabaya. Perjalanan Batam Surabaya ini ditempuh dalam waktu 2 jam.
Sejurus kemudian aku sudah berada di tempat duduk dekat jendela. Sesuai dengan nomer kursiku 23 A. Di sebelah ujung deretan kursi kulihat seorang kakek ras tionghoa sudah duduk seraya memakai sabuk pengaman. Sedang kursi tengah masih kosong.
"Permisi Pak."
Suara seorang pemuda berpakaian wearpack menyentakku yang tengah melihat pemandangan luar pesawat melalui kaca di jendela.
Deg!
__ADS_1
Jantungku berdegup kencang saat tahu siapa pemilik tempat bernomor 23B. Kursi di sampingku.
"Kalila ..." teriaknya lirih