
Eps. 34
Dua puluh menit berlalu, kami sudah sampai di sebuah Rumah Sakit tempat di mana Jimmy dirawat. Aku berlari dengan fikiran kacau. Mencoba mencari tau nama pasien kecelakaan bernama Jimmy.
Dan akhirnya kami diantar oleh suster menuju IGD di mana Jimmy terbaring lemah tidak berdaya. Aku hanya bisa melihatnya dari kaca. Karena belum diperbolehkan masuk dan kondisi Jimmy sangat kritis.
Tubuh ini jatuh terduduk dan bersandar di tembok. Kuteteskan air mata ini tiada henti. Ingin sekali aku berteriak sekencang kencangnya. Ingin rasanya aku menangis sejadi jadinya. Meratapi nasib burukku ketika kebahagiaan sudah di depan mata. Kini semua sirna sudah.
Tak berselang lama seorang Dokter keluar dari ruang IGD. Aku segera menghampirinya dan bertanya bagaimana keadaan Jimmy. Aku hanya berharap semua baik baik saja.
"Dok, bagaimana keadaan teman saya?"
"Maaf, ada yang namanya Icha?"
"Iya Dok, saya sendiri."
"Saudara Jimmy kondisinya sangat kritis. Beliau kehilangan banyak darah dan mengalami patah tulang di bagian pinggang. Beliau sempat menyebut nama Icha. Mungkin saja ada sesuatu yang akan disampaikan. Silahkan masuk temui pasien."
"Baik Dok, terimakasih."
Kami bertiga bergegas masuk dan menemui Jimmy. Ku genggam erat tangannya dan ku belai rambutnya. Ingin sekali rasanya aku memeluk tubuhnya.
Sedikit demi sedikit jari tangan Jimmy mulau bergerak. Mata mulai terbuka. Aku menangis haru dan ku peluk dirinya.
"Jim, kenapa jadi seperti ini? Kamu harus kuat demi aku, Jim. Tolong jangan tinggalkan aku."
"I.. cha.. Ma.. afkan.. aku.. belum.. bisa.. mem.. baha.. giakan.. kamu..."
"Sudah Jim, jangan banyak bicara. Kamu harus istirahat. Aku nggak mau kamu kenapa kenapa. Tolong bertahan, demi aku."
Tangan Jimmy bergerak pelan merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah benda dan diberikan kepadaku. Sebuah kotak merah berbentuk hati. Setelah aku buka ternyata isinya adalah sebuah cincin dengan mata berwarna merah. Sangat indah sekali cincin pemberian darinya.
"To.. long.. teri.. ma.. ini.. dan.. pakai.. di jari.. mu..!"
Aku mengikuti apa yang dikatakan Jimmy. Ku pakai cincin pemberian darinya. Kebetulan juga ukurannta sangat pas di jariku. Tampak indah sekali. Entah aku harus bahagia atau sedih dengan keadaan yang sekarang ini.
__ADS_1
Bahagia karena sebuah cincin pemberian Jimmy melingkar di jariku. Sedih karena melihat kondisi Jimmy yang semakin kritis. Tak henti hentinya aku memohon kepada yang Kuasa agar Jimmy tetap baik baik saja.
Ku genggam terus jemari Jimmy. Begitu pula sebaliknya dia juga menggenggam jemariku. Namun tiba tiba Jimmy melepaskan genggamannya. Tangannya mulai lemas. Dan nafasnyapun mulai tersengal.
Aku dan kedua temanku panik. Keadaan Jimmy mulai bertambah kritis. Kami berteriak memanggil Dokter agar segera memeriksa kondisi Jimmy.
Tak berselang lama Dokter dan perawat masuk memeriksa keadaan Jimmy. Kamipun disuruh menunggu du luar.
Tubuhku gemetar hebat. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuh. Air mata mengalir tiada henti. Tak henti aku menyebut nama Allah, memohon agar Jimmy baik baik saja.
Selang beberapa menit Dokter keluar dari IGD. Wajahnya tampak tegang dan menghampiri kami. Aku segera bangkit dan bergegas bertanya keadaan Jimmy.
"Dik, bagaimana keadaan teman saya? Semua baik baik saja kan, Dok? Teman saya pasti sembuh kan, Dok?"
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lain. Teman anda meninggal dunia."
"A...apa Dok? Ini nggak mungkin. Dokter pasti bercanda kan. Jimmy tadi ngobrol sama saya, Dok. Bilang sama saya Jimmy baik baik saja kan."
"Yang sabar ya." Ucap Dokter tersebut sembari pergi dari hadapanku.
Rere memelukku dan berusaha menenangkan aku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku alami. Kebahagian yang sudah di depan mata kini lenyap sudah.
Tak henti hentinya aku menangisi kepargian Jimmy. Hingga aku kehabisan tenaga. Tak mampu lagi aku bergerak. Tubuhku jatuh tersungkur tiada daya.
Mataku terpejam, namun aku masih bisa mendengarkan percakapan orang orang di luar sana. Tak mampu lagi aku menahan sesak di dada ini.
Dunia ini sungguh tidak adil untukku. Bukan Ini sudah yang ke dua kalinya aku mengalami. Kebahagiaan yang sudah di depan mata, tiba tiba lenyap sudah. Mungkinkah aku tidak diperbolehkan untuk bahagia.
***********
Ku buka mat perlahan lahan. Masih kurasakan sedikit pusing di kepala. Kuperhatikan sekeliling ruangan bercat putih. Tampak jarum infus menancap di punggung tanganku.
Tampak seorang suster masuk dan menghampiriku. Dia tampak terkejut melihat aku sudah sadar. Bergegas dia memeriksa kondisiku saat ini.
"Mbak sudah sadar? Saya cek dulu tensinya ya, mbak."
__ADS_1
"Iya, sus." Kataku pelan, karena masih belum memiliki tenaga.
"Tensinya masih rendah. Istirahat dulu ya mbak, jangan lupa makan biar punya tenaga."
"Ehm, sus. Sejak kapan saya dirawat di sini?"
"Yah, lumayan lama mbak. Mungkin kurang lebih selama satu bulan."
"apa sus? Satu bulan saya dirawat di sini. Suster serius?"
"Iya, mbak koma selama itu. Tapi alhamdulillah, kandungan mbak baik baik saja tidak ada masalah sama sekali."
"Apa sus? Kandungan? Maksud suster saya tengah hamil sekarang?"
"Iya, mbak sedang hamil. Sudah jalan tujuh minggu."
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Aku hamil tujuh minggu. Dan seingatku, aku hanya melakukannya hanya dengan Rendy dan Jimmy.
Tapi kini Jimmy sudah pergi jauh dan tidak mungkin kembali lagi. Sedangkan Rendy, dia mengalami amnesia. Sehingga tidak ingat dengan siapa aku. Apakah aku harus menuntut pertanggung jawaban pada Rendy.
Tapi sepertinya ini sangat tidak mungkin. Secara dia tidak ingat siapa aku. Yang dia ingat hanya perempuan yang sedang bersamanya saat ini.
"Ehm sus, selama saya dirawat , apakah ada orang yang menemani saya?"
"Ada mbak. Teman mbak yang cewek sama cowok kadang bergantian. Kadang juga mas mas saya tidak tahu namanya. Orangnya gagah, manis ada lesung pipinya kalau tersenyum. Kadang juga ada ibu ibu orangnya tinggi langsing, rambutnya pendek."
"Gitu ya sus, baik terimakasih sus informasinya."
"Iya mbak, sama sama. Nasinya jangan lupa dimakan ya. Saya permisi dulu."
"Baik, sus."
Tak berselang lama setelah suster keluar, seoarng laki laki masuk dan menghampiriku. Aku seolah tidak percaya dengan kedatangannya. Dia yang pernah aku cintai di masa lalu. Kini ada di depan mata. Dia adalah Arman.
Rasa canggung ketika hanya berdua dengannya. Ingin berbicara tapi entah dimulai darimana. Aku gugup sehingga tidak berani untuk bicara. Jantung berdetak tak beraturan.
__ADS_1
Kami saling adu pandang. Senyumnya yang khas membuatku tidak berkutik. Untuk memecah keheningan, aku memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Mas, kamu mau apa ke sini. Lebih baik kamu pulang saja. Aku tidak mau nanti ada ribut ribut sama Chika."