
Eps. 76
Setelah menunggu lebih dari satu jam, akhirnya Mas Rendy datang juga. Dia membawakan sebuah kantung plastik yang isinya penuh.
Aku memang sengaja tidak memejamkan mata. Karena takut ketiduran terlalu lama. Aku hanya tidak ingin sampai di rumah terlalu sore. Hingga Mas Rohman duluan sampai rumah.
"Kamu lama sekali, Mas?"
"Tadi antre warung makannya. Ini juga tadi aku mampir dulu ke mini market beliin jajan."
"Banyak banget jajan yang kamu beli, Mas."
"Buat ngemil kamu, Lis. Ini nasi padangnya di makan dulu. Kita makan sama sama, Lis."
"Ini minumnya Lis, diminum dulu selagi masih hangat. Aku belikan jeruk hangat, biar perut kamu enakan."
Dengan cekatan Mas Rendy membukakan minuman hangat di plastik. Lalu menyodorkannya untukku. Aku segera meminumnya karena memang aku merasa haus. Dari tadi belum makan dan minum.
Setelah itu aku melahap nasi padang yang dibelikan Mas Rendy. Dia tahu kesukaan aku, nasi ayam dengan nasi sedikit. Ditambah dengan sayur daun singkong dan sambal. Menambah selera makanku.
Alhamdulillah makananku sudah habis. Aku bergegas mencuci tangan dan buang air kecil. Perutku juga sudah merasa enakan. Aku duduk sebentar dan memainkan ponsel.
Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku berniat untuk berpamitan. Karena aku pergi sudah cukup lama sekali. Aku hanya takut akan suatu hal.
"Mas, aku mau pamit pulang. Ini sudah sore, aku takut nanti duluan Mas Rohman yang sampai rumah."
"Aku nggak mau dia curiga sama aku."
Baiklah, kalau begitu biar aku antar kamu pulang."
"Nggak usah Mas, aku naik ojeg saja."
"Tidak, Lis. Kamu berangkat aku jemput, pulang juga harus aku yang antar."
"Kamu tenang saja, aku cuma antar kamu sampai di depan mini market tadi. Nggak sampai depan rumah kamu, kok."
"Ya sudah, Mas."
Aku segera beranjak dari duduk. Mas Rendy memberikan bungkusan plastik yang dibawanya tadi untukku. Aku menerimanya dengan senang hati. Karena isinya adalah makanan ringan, ada biskuit, roti, chiki, susu. Itu semua aku suka, dan memang tipe orang yang suka ngemil.
Apalagi posisi hamil saat ini, kadang makan nasi pun aku malas. Sebenarnya bukan malas, hanya tidak mau saja nasi yang aku makan nanti keluar lagi. Karena di usai kehamilan saat ini memang rawan rawannya perut mual. Hanya ingin makan makanan ringan saja. Yang penting perut terisi.
Aku dan Mas Rendy chek in. Setelah menyelesaikan administrasi, kami berdua bergegas keluar dan menuju mobil. Aku duduk di sebelah Mas Rendy, tepatnya samping kemudi. Dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Untuk menghilangkan rasa ngantuk, aku mengajak Mas Rendy untuk berbincang. Walaupun itu hanya sekedar basa basi saja. Karena perjalanan juga lumayan jika menurut aku.
"Mas, apa kamu sudah tidak bekerja lagi di pabrik?"
"Aku cuti untuk beberapa saat. Lagian kantor juga tahunya aku masih sakit. Jadi ya aku manfaatin saja waktu ini."
"Oh gitu."
"Kenapa kamu tanya itu, Lis?"
"Nggak ada apa apa, Mas. Hanya ingin tahu saja."
"Kalaupun aku diberhentikan, aku bisa cari kerjaan lain. Atau buka usaha lain. Kan masih ada usaha bengkel alhamdulillah masih jalan sampai sekarang."
"Tapi sepertinya aku tidak mungkin diberhentikan. Soalnya setiap tiga hari mamaku selalu kirim surat Dokter ke perusahaan."
"Ehm, gitu ya Mas."
"Kita sudah sampai, Lis." Mas Rendy bergegas membukakan sabuk pengaman yang aku pakai. Seketika wajah kami berhadapan. Detak jantung pun menjadi tak karuan.
Mata kami saling beradu pandang. Tanpa basa basi Mas Rendy melahap bibirku dengan rakus. Aku hanya diam dan tak membalasnya. Karena jika aku membalas, aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan.
Setelah dia puas, dia melepas pagutannya. Dia membersihkan bibirku yang basah karena perbuatannya. Dia membelai rambutku. Aku sempat memperhatikan kedua bola matanya tampak berkaca kaca. Mungkinkah dia sedang bersedih.
"Lis, tunggu sebentar."
"Iya Mas, ada apa?"
"Ini buat jajan kamu. Mudah mudahn cukup." Mas Rendy memberikan aku uang yang jumlahnya tidak sedikit menurut aku. Aku sudah berusaha menolak, tapi dia terus memaksa.
"Uang buat apa, Mas?"
"Terserah kamu mau pakai buat apa. Mungkin buat beli keperluan anak kita."
"Tapi aku masih ada uang, Mas."
"Simpan saja uang kamu, pakai ini."
"Maaf Mas, aku cuma takut Mas Rohman tahu jika aku punya banyak uang. Dia nanti pasti akan bertanya tanya."
"Sudahlah, nggak bakalan tahu dia. Aku mohon terima saja uangnya. Aku bener benar tulus kasih kamu uang tanpa imbalan apa pun, Lis."
Aku menerima uang pemberian Mas Rendy lalu aku masukkan ke dalam tas. Aku tidak tahu berapa yang dia berikan. Namun itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan gajinya Mas Rohman.
__ADS_1
"Terimakasih, Mas."
"Sama sama, Lis."
"Aku pamut dulu."
"Iya, kamu hati hati jalannya."
" Ya, Mas."
Aku segera keluar dari mobil Mas Rendy sambil melihat kiri kanan. Takut ada orang yang melihat aku. Dan alhamdulilah kondisi aman. Aku segera berjalan masuk ke dalam gang. Aku mempercepat langkahku agar segera sampai di rumah.
Ku perhatikan layar ponsel masih jam empat kurang sedikit. Itu berarti tandanya Mas Rohman belum pulang. Aku segera masuk ke dalam rumah. Lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tepat pukul setengah lima Mas Rohman sudah tiba. Aku sudah menyiapkan minuman hangat dan camilan yang dibelikan Mas Rendy tadi.
Ku cium punggung tangan Mas Rohman sebagai baktiku pada suami. Lalu dia membalasnya dengan kecupan mesra di bibir. Ku bawakan tas kerjanya dan Mas Rohman duduk di sofa.
Dia tertegun melihat jajanan yang sangat banyak di dalam plastik. Aku sudah merasa tak enak, takut kalau dia curiga padaku.
"Sayang, jajannya banyak banget."
"Ma..maaf, mas kalau aku boros sudah banyak pakai yang kamu buat beli jajan."
"Astaga, bukan begitu maksud aku sayang. Kamu beli makanan sebanyak ini apa busa habis kamu makan?"
"Tadi aku jenuh, Mas. Trus aku jalan jalan sampai ke ujung gang. Kan kebetulan ada mini market."
"Aku iseng saja masuk situ. Eh, malah rasanya aku pengen jajan. Pengen beli ini beli itu, jadi penuh deh jajannya."
"Ya sudah, kamu mau beli apa itu terserah kamu, sayang. Kalau ada uang pengen beli sesuatu, ya beli saja. Nggak usah di tahan."
"Iya, Mas aku ngerti kok."
"Oh ya sayang, Mas minta maaf ya soal kemarin."
"Soal apa, Mas?"
"Kemarin Mas sudah kasar sama kamu."
"Oh itu, iya mas. Mudah mudahan nggak sampai gitu lagi, Mas. Jujur Mas, aku takut banget. Karena nggak biasanya kamu seperti itu."
"Sebagai permintaan maafku, nanti malam kita jalan jalan ya, sayang. Kita makan malam di luar."
__ADS_1
"Serius kamu, Mas?"