Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 71


(Rendy dan Rohman)


Aku dan Rohman sudah berteman sejak lam. Dulu aku dan Rohman pernah bekerja di sebuah Resto. Dan akhirnya kuta berdua akrab hingga menjadi sahabat.


Hingga suatu ketika aku memilih risagn karena mendapat panggilan kerja di sebuah pabrik. Alhamdulillah aku diterima menjadi HRD. Rasa syukur aku ucapkan pada yang kuasa.


Aku segera memberitahu sahabatku, yaitu Rohman. Aku akan mentraktir dia sebagai hari bahagiaku. Dia pun menyetujuinya. Dan sepakat bertemu di sebuah Cafe pada pukul tujuh malam.


********


Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Tepat pukul tujuh aku sudah sampai di Cafe tempat aku janjian dengan Rohman. Tak lupa aku membawa Chika, pacarku. Dan tak berselang lama Rohman datang lalu menghampiri aku.


"Hallo bro, duduk dulu. Kenalin ini pacar aku namanya Chika." Rohman dan Chika saling berjabat tangan sambil sama sama tersenyum. Aku tidak menaruh curiga sama sekali dengan mereka.


"Hai, aku Chika. Pacarnya Rendy."


"Rohman, sahabat Rendy."


"Oh ya, ngomong ngomong kalian udah lama pacaran?"


"Tepat satu tahun hari ini."


"Wah, berarti hari ini ceritanya kamu merayakan unniversary nih." Canda Rohman denganku.


"Salah satunya itu. Tapi ada yang mau aku rayakan juga, bro?"


"Apa itu, kamu mau nikah sama Chika?"


"Amin, makasih doanya. Tapi bukan itu."


"Trus apa, dong?"


"Alhamdulillah aku udah diterima kerja di pabrik, bro. Aku keterima jadi HRD."


"Widih, selamat ya bro. Aku ikut seneng dengernya. Pantes aja kamu risagn mendadak."


"Iya, makasih. Kamu sendiri gimana? Masih betah di Resto itu?"


"Aku sebenarnya udah nyiapin lamaran. Aku mau melamar di BPN. Mungkin minggu minggu ini aku masukin lamaran. Doain aku ya, bro mudah mudahan diterima."


"Amin. Pasti aku doakan lah. Semoga sukses ke depannya."


"Oh iya, kalian mau pedan apa silahkan. Biar nanti aku yang bayar semuanya."


Makanan yang kami pesan sudah datang. Dan kamipun makan malam bersama. Namun belum juga habis Chika pamit untuk ke toilet. Akupun mempersilahkannya.


Tak berselang lama, Rohman juga ijin ke toilet. Karena dia mendadak sakit perut. Dan akupun mempersilahkannya juga. Aki duduk sendirian sambil menikmati makanan yang ada di meja.


********

__ADS_1


Rohman menunggu Chika di depan toilet wanita. Ternyata ada sesuatu dengan mereka. Namun Rendy tidak mengetahui kebusukan mereka. Dan dari sinilah awal dari perselingkugan Rohman dan Chika dimulai.


Saat Chika keluar dari toilet, Rohman menarik tangan Chika. Mereka berhadapan badan dan saling bertatap mata.


"Ada apa, mas kok kamu nyusulin aku di sini. Mas Rendy di mana?"


"Ada lagi makan. Ehm, aku boleh minta nomor ponsel kamu?"


"Nomor aku? Buat apa, ya mas?"


"Ya nggak apa apa, sih. Pengen kenal aja sama kamu lebih deket."


"Ehm, gitu ya. Ya udah boleh deh, ini nomor aku."


"Oke, makasih. Ehm, btw tapi kamu jangan bilang sama Rendy kalau aku minta nomor ponsel kamu."


"Iya, mas. Aku jamin aman."


"Ya sudah, kamu duluan saja ke sana. Nanti kalau kita barengan takutnya dituduh yang macam macam sama Rendy."


"Iya, aku permisi dulu."


Chika berlalu meninggalkan Rohman yang masih berdiri di dekat toilet. Dia senyum senyum sendiri seakan sedang merasakan kebahagiaan.


"Kenapa lama sekali kamu di toilet?"


"Oh, tadi ada telepon dari mama. Jadi aku angkat dulu di sana."


"Enggak kok, sayang. Oh ya, teman kamu mana? Apa dia sudah pulang?"


"Lagi di toilet. Katanya perutnya mendadak mules."


"Oh, gitu. Ya udah kita lanjut makan saja, sayang. Nanti keburu dingin, malah jadi nggak enak ntar."


"Iya, Chika."


Aku dan Chika kembali menikmati hidangan yang di meja. Tak berselang lama Rohman datang lalu kembali duduk untuk menikmati makan malam.


Namun jika aku perhatikan, gelagat Rohman sedikit berbeda. Dia senyum senyum sendiri sambil memperhatikan layar ponsel. Aku berusaha berfikir secara positif. Mungkin dia sedang dapat gebetan baru. Makanya di jadi kasmaran. Maklum dia jomblo lumayan lama juga.


Tapi aku juga sempat melihat ke arah Chika. Dia pun juga sedikit aneh. Melihat layar ponsel sambil tersenyum. Kok tiba tiba seperti ini, sedikit ada rasa aneh.


"Chika, kamu kenapa senyum senyum sendiri?"


"Ah, enggak kok yang. ehm, anu ini cuma lucu aja. Temen aku malah ngelawak sama aku."


"Masak, sih. Mana coba lihat ponsel kamu."


"Ih, apa sih yang. Ini itu urusan perempuan, kamu nggak boleh tahu."


"Ya sudahlah."

__ADS_1


"Oh ya, kamu juga kenapa bro. Kamu sama Chika habis dari toilet tadi senyum senyum sendiri. Ada apa sama kalian?"


"Apa jangan jangan kalian ada main di belakang aku, ya."


Saat aku berbicara seperti itu, ku dapati wajah Chika dan Rohman tampak tegang. Padahal niat aku hanya sekedar candaan saja. Tapi mereka seolah terkejut dan sedang menyembunyikan sesuatu.


"Apa sih, yang. Kamu jangan nuduh gitu, deh."


"Kamu bicara apa, bro."


"Loh, kok kalian jadi tegang gitu. Kalau memang tidak merasa ya harusnya santai dong."


"Udahlah, kita pulang saja. Lagian makanan juga sudah habis."


"Ya sudah, kalian tunggu di sini dulu. Aku mau bayar makanan tadi."


Aku beranjak dari tempat duduk dan menuju kasir untuk membayar semua makanan tadi. Dari sini aku juga memantau mereka berdua. Siapa tahu mereka benar main di belakang aku.


Setelah membayar, lalu aku menuju toilet. Usai dari toilet aku tidak langsung menghampiri mereka berdua. Ku nyalakan kamera ponselku dan merekam mereka.


Ku lihat Rohman dan Chika tampak asik ngobrol. Sekilas tidak ada yang abeh dan mencurigakan. Namun lama kelamaan Chika dan Rohman semakin berani. Mereka sempat berpegangan tangan dan salin tersenyum.


Apa maksud dari semua ini. Kenapa mereka berdua begitu akrab jika di belakang aku. Sedangkan ketika di depan seperti orang asing yang tidak saling kenal.


Aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari tahu terlebih dahulu. Aku akan sadap whatsap Chika. Dengan begitu aku akan tahu dengan siapa dia mengirimkan pesan.


Ku matikan kamera dan ku masukkan pinsel ke dalam saku. Aku berjalan kembali menuju meja ku. Aku bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa apa.


Namun apa yang terjadi, saat aku datang Chika dan Rohmna yang tadinya tertawa bersama mendadak terdiam. Seolah dia terkejut dengan kedatanganku. Padahal aku sudah bersikap biasa saja.


"Eh, sa... sayang kok cepet baget ke toiletnya."


"Cuma buang air kecil saja, kenapa harus lama lama."


"Ehm, iya juga." Chika tersenyum kaku.


"Ya sudah kita pulang saja, yuk. Atau kita mau ke mana dulu mumpung malam belum terlalu larut."


"Aku mau langsung pulang saja, bro. Soalnya besok aku harus bangun pagi buat siap siap masukin lamaran."


"Oke kalau begitu, kamu juga mau pulang Chika?"


"Iya, sayang aku mau pulang saja."


"Oke, deh."


"Ngomong ngomong makasih banyak atas traktiran kamu hari ini ya, bro."


"Sama sama, semoga diterima besok."


"Amin, makasih."

__ADS_1


__ADS_2