Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Bagian 7


__ADS_3

"Apa apaan elu Nis!"


Aku berdiri sembari menunjuk-nunjuk kertas coklat di meja.


Di dalamnya terdapat foto Azzam berukuran 4×6 yang di tempelkan menggunakan klip kertas.


Terlihat Nisa memejamkan mata. Tubuhnya sedikit terguncang. Kaget. Dia tak menyangka reaksiku sebegitu ekstrim.


Wanita itu menarik lenganku saat aku hendak meninggalkannya.


"Dengerin penjelasan gue dulu Lil."


"Gak ada yang perlu dijelasin!"


Aku menatapnya tajam.


"Dengerin dulu, plis."


Nisa memelas. Kulihat tetesan bening luruh dari matanya.


Akhirnya aku duduk kembali. Tak kuasa melihatnya memelas.


"Kamu tahu kan, kalo aku sering banget pingsan saat hari pertama mens?"


Aku mengangguk.


"Kemarin aku memberanikan diri periksa ke dokter kandungan. Dan beliau bilang--"


Nisa tergugu. Tak sanggup meneruskan kalimatnya.


Aku menggeser kursiku agar lebih dekat denganya. Kurengkuh kepalanya ke dalam pelukanku. Aku ikut terisak meskipun aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sesaat kami larut dalam tangisan.


"Dokter bilang aku menderita endometriosis yang sudah parah, jalan satu satunya adalah mengangkat rahimku agar aku tak kesakitan lagi jika haidku datang."


Tangis Nisa kembali pecah dalam pelukanku.


Innalillahi...


Aku semakin mendekap tubuhnya erat. Sebagai sesama wanita aku tahu apa artinya itu. Kurasakan detak jantung Nisa bergerak begitu cepat. Nafasnya tak beraturan. Tangisnya berhasil membuat tubuhku sedikit terguncang. Kuperhatikan sekeliling. Beberapa pengunjung kafe tampak memperhatikanku. Tapi biarlah, itu hak mereka.


Kulepas pelukanku saat suara tangis tak lagi terdengar. Menatapnya dengan penuh kasih. Memegang pundaknya dengan lembut. Kini dia nampak lebih tenang.


"Nisa denger. Azzam tidak seperti yang elu pikirin. Gue yakin dia tidak akan menceraikanmu hanya gara - gara elu tak bisa punya anak."


"Gue tahu betul gimana dia."


Lanjutku. Nisa mengernyitkan dahi sepertu meminta penjelasan dari kalimatku barusan.


"Emm..maksud gue, kalo dilihat dia suami yang setia dan bertanggung jawab."


Buru-buru kuklarifikasi ucapanku agar Nisa tak curiga.


"Iya lil..memang bukan Mas Azzam yang meminta poligami. Ini murni gue inisiatif gue."


Matanya nanar melihat ke arah depan.


"Gue nggak bisa ngasih keturunan buat dia. Dia berhak punya anak."


"Tapi nggak gini caranya Nis. Elu bisa adopsi anak yatim. Banyak kok di panti."


Sungutku.


Perempuan itu menggeleng.


"Gue udah memikirkan matang- matang. Gue pengen mas Azzam punya keturunan dari darahnya sendiri."


"Kalo gitu jangan gue."


Aku menolak tegas.


"Elu yang pantes Lil."


"Atas dasar apa elu ngomong kayak gitu?"


"Gue udah tahu banget sifat elu. Dari yang baik sampe yang jelek."


Ujarnya terkekeh.


"Diantara sahabat - sahabat gue, elu paling pantas buat Mas azzam."


Perempuan itu berusaha meyakinkanku.


"Gue nggak mau!"


"Mas Azzam orangnya baik Lil, sangat baik. Dia lelaki yang bertanggung jawab."

__ADS_1


Berat aku menelan saliva.


Ah Nisa, bahkan aku lebih tahu Azzam daripada dirimu.


"Insyaallah gue ikhlas Lil."


"Elu bisa bilang ikhlas, rela dan segala macamnya karena elu belum ngalamin Nis. Hati manusia selalu berubah. elu sekarang ngomong rela, tapi nanti kita gak tahu. Bisa aja elu..gue.. ngrasa cemburu satu sama lain, ngrasa sakit hati. Hancur persahabatan kita."


Ucapku berapi-api.


Kusesap kopi yang sudah mendingin.


"Hal - hal kayak gitu pasti ada di sebuah poligami. Gue nggak mau mengorbankan persahabatan kita hanya demi hal ini. Gue udah nganggep elu saudara gue Nis."


"Banyak juga contoh poligami yang bahagia. Apa gak sebaiknya istikha--"


"Gak ada acara istikharoh!"


Sergahku tegas memotong kalimatnya.


"Apa Azzam udah tahu tentang hal ini?"


Nisa mengangguk.


"Apa dia bilang?"


"Dia menolak."


Aku menghela nafas lega.


"Tapi gue berhasil meyakinkannya."


Lanjutnya.


"Ya Allah, Nis!"


Ujarku geram.


"Gak usah maksa Azzam buat berpoligami dengan gue, atau dengan perempuan manapun. Hanya karena elu gak bisa ngasih keturunan buat dia. Karena tujuan menikah bukan hanya tentang keturunan. Ada banyak pasangan di luar sana yang bisa bahagia meskipun gak punya anak. Elu harus terus sama Azzam."


Nisa terdiam menatapku yang tengah tegas berbicara.


"Udah kita pulang sekarang."


Dengan sedikit memaksa aku meminta wanita itu berdiri dari kursinya. Kemudian menyusuri jalan untuk mencari angkot yang bisa mengantar Nisa pulang.


Sejurus kemudian kendaraan beroda empat itu datang. Nisa segera naik kemudian melambaikan tangan ke arahku.


Aku bergegas mencari angkot untuk menuju kos. Tak sampai 5 menit aku kini sudah berada di dalamnya.


Kusandarkan kepala di kursi kendaraan itu sembari terpejam. Menghayati suara lagu samson dari tape mobil yang seolah mewakili perasaanku.


.....................


Bila yang tertulis untuk ku


Adalah yang terbaik untukmu


Kan 'ku jadikan kau kenangan


Yang terindah dalam hidupku


Namun takkan mudah bagiku


Meninggalkan jejak hidup mu


Yang t'lah terukir abadi


Sebagai kenangan yang terindah


.....................


Dadaku sesak. Air mata luruh membasahi pipi.


Ya Allah, aku memang sangat mencintai lelaki itu.


Dan aku mengakui bahwa dulu aku memang pernah tak henti- hentinya berdoa agar engkau menyatukan aku dengan Azzam.


Tapi kalau boleh aku meminta, bukan dengan cara seperti ini.


Aku tak mau menyakiti sahabatku sendiri.


Di sisi lain aku juga tak akan mampu berbagi.


Engkau memang menghalalkan sebuah poligami.

__ADS_1


Namun aku tidak akan siap menanggung konsekuensinya.


****


[Assalamualaikum Kalila, bisa kita ketemu?]


Aku melihat sebuah pesan muncul di gawaiku.


[Ini siapa?]


Segera kubalas pesan itu.


[Azzam]


Deg!


Mau apa dia minta ketemu. Apa jangan - jangan ada hubungannya dengan proposal taaruf itu.


[Aku sibuk. Lewat wa aja]


[Gak Bisa Kalila. Kita harus ketemu]


[Dimana?]


[Kafe tempat kemarin kamu ketemu Nisa. Meja 9. Habis maghrib]


[Baiklah]


Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya. Barangkali dengan bertemu kami bisa menyelesaikan masalah yang sangat rumit ini.


Setelah menunaikan sholat maghrib aku segera bergegas menuju ke kafe yang dibilang Azzam. Suasana kafe tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan akhir pekan. Beberapa orang menikmati kopi sambil bercengkrama satu sama lain. Alunan lagu evergreen terdengar lembut membuat suasana kafe ini terasa begitu syahdu.


Aku melangkah menuju meja 9 seperti yang dibilang Azzam. Sebuah tulisan "RESERVED" telah terpasang di atas meja.


Aku melihat 2 gelas jus alpukat dan 2 potong roti manis bertopping selai srikaya. Kesukaanku.


Ada rasa haru menyelinap masuk dalam hati.


Ah pria itu, masih saja memperlakukanku seperti ini.


Lelaki itu nampak dari kejauhan. Masih memakai wearpack dan sepatu safetynya. Sepertinya dia baru pulang kerja. Rambut hitam nan lurus itu basah, sepertinya bekas terkena air sisa berwudhu. Dulu aku sangat menyukainya bila melihatnya dalam kondisi seperti itu. Terlihat lebih mempesona.


Namun sekarang?


Ish sudahlah, menyukainya pun tak ada gunanya lagi.


"Assalamualaikum."


Pria itu menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Waalaikumsalam."


Jawabku pendek tanpa melihat wajah Azzam.


"Lho kok masih utuh ini jus sama rotinya?"


Tanyanya.


"Apaan sih.."


Jawabku sedikit sewot.


Lelaki itu tersenyum kemudian segera duduk di kursi. Melepas tas ransel yang melekat di punggungnya kemudian mengeluarkan sebuah map berwarna kuning.


"Baca!"


Pria itu menyodorkan benda itu ke hadapan.


"Apa ini?"


Jawabku ketus


"Ish..jutek banget sih sama mantan."


Ujarnya terkekeh.


Aku melengos seraya mengambil map itu kasar.


Ada sebuah nama di atas sampul depan.


- CV Annisa Salmarani-


Bersambung.


*CV..curriculum vitae atau biodata yang biasa dipakai seseorang saat melaksanakan taaruf.

__ADS_1


__ADS_2