
Eps. 96
"Bu, ijinkan aku pulang." Ku genggam erat tangan Bu Rita sembari memohon. Karena dapat aku lihat jika beliau begitu berat melepaskan aku.
"Nak, sebenarnya ibu sangat berat untuk melepas kamu. Tapi ibu sadar, jika ibu tidak ada hak buat melarang kamu."
"Ibu hanya mampu mendoakan kamu, supaya kehidupan kamu nanti ke depan jauh lebih baik lagi."
"Dan ibu juga minta, tolong jangan lupaka ibu sama Rendy."
"Kebaikan ibu sama Mas Rendy akan selalu aku ingat terus, Bu."
"Aku sangat berterimakasih pada ibu dan Mas Rendy yang sangat baik dan sudah banyak membantu aku."
"Aku nggak tahu lagi harus membalas budi dengan apa, karena memang aku tidak punya apa apa."
Bu Rita dan Mas Rendy hanya menunduk saja. Mereka enggan bertatap muka denganku. Namun walaupun demikian, dapat aku rasakan kesedihan yang sangat mendalam.
Tapi bagaimana lagi, ini juga demi kebaikan untuk diriku sendiri. Agar aku bisa terbebas dari penderitaan ini. Agar aku juga bisa melupakan semua kenangan pahit yang pernah aku alami di Kota Semarang ini.
Hari ini aku berniat untuk menemui adiknya Mas Rohman secara diam diam tanpa sepengetahuan orang tuanya. Aku membuat janji dengannya karena akan ada sesuatu yang harus aku bicarakan.
Setelah aku dapat ijin untuk keluar, aku memutuskan untuk bertemu di sebuah Cafe. Ternyata adiknya Mas Rohman datang bersama bapak mertua aku. Rasa khawatir dan takut pasti ada. Namun aku berusaha setenang mungkin untuk menghadapinya. Karena niatku ini juga baik.
Aku duduk berhadapan dengan adik ipar dan bapak mertua. Mereka menyambut kedatanganku dengan sangat amat ramah. Senyum menghiasai wajah keduanya. Entah itu senyum asli atau palsu aku tidak tahu. Semoga saja mereka benar benar baik padaku dan tidak pura pura.
Aku langsung pada inti pembicaraan. Dengan nada santai dan sopan aku mulai berbicara. Aku bercerita jika aku akan kembali pulang ke Salatiga. Karena aku sadar di sini sudah tidak memiliki siapa siapa lagi. Suami tercinta sudah meninggal dan ibu mertua begitu bencinya padaku. Dan menyalahkan aku atas kematian Mas Rohman.
Sakit memang ucapan ibu mertua. Tapi lebih sakit lagi ditinggal pergi oleh suami untuk selama lamanya. Luka yang sangat sulit untuk diobati.
"Bapak, adek, sebelumnya aku minta maaf atas meninggalnya Mas Rohman. Aku juga tidak mau ini semua terjadi."
"Aku bisa memaklumi dan bisa menerima semua perkataan ibu. Aku sadar memang itu semua pantas buat aku."
"Tapi jujur pak, aku juga sangat terpukul dengan semua ini. Aku tidak mau ini terjadi. Tapi mau bagaimana jika semua ini adalah takdir."
__ADS_1
"Ya sudahlah, mbak. Mas Rohman sudah meninggal. Umur manusia akan pernah ada yang tahu."
"Nak, tolong maafkan perkataan ibumu. Mungkin ibumu berbicara kasar padamu di luar kendali. Bapak harap kamu bisa memaafkan dengan iklas, nak."
"Iya, pak. Lissa ngerti dan faham bagaimana perasaan ibu. Mungkin ibu belum bisa menerima semua ini. Dan ibu juga terpukul dengan kejadian ini. Lissa maklum dan sudah memaafkan."
"Oh iya, bapak. Ini kunci rumah Lissa kembalikan, dan Lissa hanya bawa barang barang Lissa saja."
"Apa kamu yakin mbak mau pulang kampung dan mau ninggalin rumah?"
"Sebenarnya aku berat sekali mau ninggalin kota ini. Tapi jika aku terus terusan di sini yang ada aku malah semakin larut dalam kesedihan. Takut selalu teringat semua kenangan di sini."
"Tidak hanya itu, niatku pulang kampung ingin membuka lembaran baru. Aku ingin mencari pekerjaan di sana. Dan aku juga ingin berkumpul kembali dengan keluargaku. Karena di sini aku tidak punya siapa siapa lagi. Aku hanya ingin hidupku jadi jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Semoga bapak, sama adek bisa mengerti alasan aku pulang kampung."
"Ya sudah, nak. Kalau memang itu keputusan kamu, bapak cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu. Semoga ke depannya kamu bisa hidup jauh lebih baik lagi."
"Iya, pak terimakasih doanya."
"Sampaikan salamku untuk ibu. Maaf aku tidak bisa bicara langsung. Karena mengingat ibu yang seperti itu. Aku hanya takut saja mendengar ucapan ibu."
"Iya, mbak. Tolong maafkan ibu."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Ya sudah, kalau begitu Lissa pamit dulu ya, bapak, adek. Kalian jaga kesehatan. Kelak aku akan ke mari untuk menengok Mas Rohman."
Lalu aku pergi dari hadapan mereka. Tak terasa air mata ini menetes dengan sendirinya. Hatiku sangat terenyuh setelah mengobrol dengan bapak mertua dan adik ipar. Ada rasa sedih yang sangat mendalam karena lusa aku akan meninggalkan kota ini.
Aku kembali ke rumah Mas Rendy dengan sedikit lesu. Ku ucap salam lalu masuk ke rumah. Ternyata Mas Rendy dan Bu Rita sedang duduk di depan tv. Mereka menyambut kedatanganku dengan beberapa pertanyaan. Seperti sedang berhadapan dengan wartawan saja.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam. Kamu sudah pulang, nak. Duduk sini sama Ibu dan Rendy." Aku duduk di tengah tengah ibu dan Mas Rendy. Entah aku merasakan ada sesuatu yang berbeda saat ini.
__ADS_1
"Kamu dari mana?"
"Dari ketemu bapak mertua sama adik ipar."
"Kok kamu nggak ngajak aku? Kan bisa aku temenin."
"Nggak apa apa, Mas. Lagian juga cuma sebentar saja."
"Emang kamu ada perlu apa?"
"Aku cuma mau balikin kunci rumah saja, Mas. Sama aku juga pamitan kalau aku mau pulang kampung besok."
"Trus tanggapan keluarga suami kamu gimana?"
"Bapak sama adik baik, Mas bicaranya. Mereka mendoakan aku yang baik baik. Tapi aku nggak berani ketemu sama ibu. Aku cuma takut saja dengar ucapan ibu."
"Kamu yakin bener bener mau pulang kampung?"
"InsyaAllah, Mas. Tapi mungkin nanti nggak tahu kapan aku akan kembali ke sini sementara waktu untuk mengurus surat surat."
"Nanti kapan kamu perlu akan aku bantu, Lis."
"Iya, Mas terimakasih atas bantuannya."
"Kalau begitu aku pamit ke kamar dulu ya, ibu, mas. Aku mau beberes barang barangku."
"Oh iya aku sudah pesan mobil buat carteran besok."
"Loh, kok kamu nggak minta tolong aku saja buat anterin kamu pulang? Kan aku juga ada mobil."
"Maaf, mas. Aku udah terlalu banyak merepotkan kamu sama ibu. Jadi plis aku mohon hargai keputusan aku."
"Ya sudah, aku tidak bisa memaksa kamu."
Aku hanya menganggukkan kepala lalu pergi menuju kamar. Ku rebahkan tubuh ini di atas kasur. Ku pandangi langit lagit di dinding kamar. Hingga tak terasa mata ini terpejam dengan sendirinya. Aku tertidur di siang hari. Tidur mampu menenangkan hati dan fikiran. Walaupun nantinya akan berperang kembali dengan isi otak, setidaknya aku istirahat terlebih dahulu.
__ADS_1