
Eps. 75
(Lissa dan Rendy)
Mas Rendy sudah menceritakan semuanya. Dan aku sudah mengetahui semuanya. Ternyata Mas Rendy dan Mas Rohman sudah kenal sejak lama. Dan mereka menjauh karena Chika.
Pantas saja dulu saat mereka bertemu di taman, ada sesuatu yang tidak beres. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dan akhirnya sekarang sudah terbongkar.
Entah di sini siapa yang salah. Jika aku lihat kelakuan Chika semasa masih hidup, aku yakin dia adalah wanita nakal. Karena sudah beberapa kali aku memergoki dia jalan dengan oom oom, dan itu pun sering ganti pasangan.
Dan untuk suamiku mas Rohman, aku tidak tahu harus berkata apa padanya. Aku hanya tidak menyangka saja dia tega sama sahabat sendiri. Aku bingung untuk ke depannya harus bagaimana.
Namun berbeda dengan tanggapanku untuk mas Rendy. Entah aku harus percaya atau tidak dengan ceritanya. Tapi dari sinilah aku sadar, mungkin dia sangat menginginkan aku. Aku harus mencari tahu dulu kebenarannya dari mulut mas Rohman. Aku akan bertanya sedikit sedikit tentang Mas Rendy pada mas Rohman. Semoga saja ada jawaban.
Aku masih duduk terpaku dan merenung. Jika pada saat itu aku mau sedikit bersabar menunggu Mas Rendy, mungkin saat ini aku sudah menikah dengannya. Namun itu semua sudah terlambat. Itu semua juga salahku karena mau ditiduri hingga akhirnya aku hamil.
"Mas, apa yang kamu ceritakan itu benar begitu adanya?"
"Liss, aku tidak memaksa kamu untuk percaya padaku. Tapi setidaknya aku sudah lega karena bisa menceritakannya semua padamu."
"Entahlah mas, aku percaya atau tidak. Tapi jika soal Chika memang aku sudah sering memergoki dia dengan pria lain yang usianya jauh lebih tua dari dia."
"Bahkan aku juga pernah melihat dia chek out sama oom oom. Dan terakhir dia hamil, lalu Rohman yang harus tanggung jawab. Karena dia bilang pernah tidur bareng."
"Saat mereka akan melakukan ijab, kebusukan Chika dibongkar oleh sahabatku. Karena dia geram rumah tangga tantenya berantakan gara gara Chika."
"Semua keputusan ada di kamu, Liss. Yang jelas aku tulus sama kamu."
"Asal kamu tahu Lis, setiap aku berpacaran walaupun sering ganti pasangan, aku tidak pernah sekalipun berhubungan badan."
"Sekalipun dengan Chika maupun Dilla aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya."
"Berbeda dengan kamu Lissa, aku berani menyetubuhi kamu. Itu aku lakukan bukan tanpa sebab."
"Kamu wanita baik dan polos. Selama kamu dengan aku, tidak pernah sekalipun kamu meminta ini itu padaku. Apalagi soal uang, sepeserpun kamu tidak pernah minta."
__ADS_1
"Bahkan jika aku memberimu, sering sekali kamu menolaknya. Dengan alasan kamu masih ada uang. Aku salut sama kamu, dan kamu juga berbeda dengan yang lain."
"Aku hanya ingin kamu hamil, dan dengan begitu aku bisa menikahi kamu. Karena aku lihat kamu belum siap jika aku ajak menikah."
"Mungkin dengan cara itu akan berhasil. Aku tahu itu dosa, tapi aku terpaksa. Apalagi melihat kamu yang dekat dengan Rohman."
"Aku tidak mau kamu diambilnya. Tapi semua malah hancur berantakan."
"Saat semua yang aku inginkan benar benar terjadi, justru cobaan datang padaku. Seandainya jika tidak terjadi kecelakaan pada waktu itu. Mungkin saat ini aku sudah bahagia denga kamu, Lis."
"Begitu juga dengan adikku. Pasti dia sekarang juga masih hidup."
Ku perhatikan mata Mas Rendy berkaca kaca. Dan pada akhirnya meneteskan buliran bening. Aku bingung dengan semua ini karena posisiku saat ini. Namun melihat mas Rendy menangis, aku sangat tidak tega. Aku yakin dia sangat tulus padaku.
Jujur, aku memang masih mencintai Mas Rendy. Walaupun dia sempat membuat aku sakit hati, namun aku sadar jika saat itu dia sedang lupa ingatan. Aku juga jauh lebih nyaman bersama Mas Rendy dibanding Mas Rohman. Entahlah, fikkiranku saat ini sedang tidak karuan.
"Sudahlah mas, yang lalu biarlah berlalu. Semua itu atas kehendak Tuhan. Kita tidak akan pernah tahu kehidupan kita nanti, esok, atau lusa."
"Hidup kita itu sudah diatur, mas. Kalau kita berjodoh, pasti akan bersatu."
Aku terdiam seketika saat Mas Rendy berkata demikian. Aku bingung harus menjawab apa. Jika aku di sini kelamaan, yang ada aku semakin luluh dengan Mas Rendy.
"Sudah mas, aku mohon jangam seperti ini terus."
"Kamu tahu kan mas, posisi aku saat ini bagaimana? Aku ini istri orang."
"Dan kamu juga harus ingat Lis, anak yang kamu kandung itu adalah anak aku."
"Cukup, mas!"
"Jangan pernah lagi kamu menggunakan bayi ini sebagai senjata kamu. Aku tahu kamu mencintai aku. Tapi kita bisa apa, mas?"
"Harusnya kamu sadar, di luar sana masih banyak sekali wanita yang jauh lebih baik dibandingkan dengan aku."
"Kamu itu tampan, mas. Kamu baik, mapan, dari keluarga berada. Orang tua kamu juga baik. Suatu saat pasti akan.."
__ADS_1
Karena tersulut emosi, aku berdiri dan berbicara dengan nada tinggi. Hingga sesuatu terjadi pada perutku. Aku merasakn kram yang begitu hebatnya. Aku tak mampu lagi berkutik. Aku terdiam dan memegangi perut aku.
"Aduuh."
"Lis, kamu kenapa?"
"Aduh, mas. Perut aku kram, sakit banget." Dengan sigap Mas Rendy langsung membantuku untuk naik ke atas ranjang.
Mungkin ini efek dari emosi aku hingga perut aku merasakan kram. Benar benar aku tidak menyangka sudah berbicara kasar pada Mas Rendy. Aku tidak mampu menahan emosi.
Sebenarnya aku tidak bisa menyalahkan Mas Rendy. Hanya saja keadaan yang membuat kami menjadi seperti ini. Aku terbaring lemas dengan memegangi perutku.
"Kamu istirahat saja dulu, Lis. Aku akan carikan kamu minum hangat."
"Mas, ma.. maaf aku sudah berbicara kasar padamu. Aku, aku hanya saja.."
Belum juga aku melanjutkan kata kataku, Mas Rendy sudah memotong pembicaraanku. Aku benar benar sangat merasa bersalah padanya. Tidak seharusnya aku seperti itu.
"Sudahlah Lis, kamu jangan banyak bicara. Di sini tidak ada yang salah. Hanya keadaan yang tidak memungkinkan."
"Maafkan aku Lis, jika aku membuatmu jadi seperti ini. Lebih baik kamu istirahat dulu."
"Aku ijin keluar sebentar, akan secepatnya kembali. Kamu mau makan apa, sayang?"
"A..apa mas, kamu manggil aku sayang?"
"Maaf, tadi aku keceplosan. Kamu mau makan apa, Lis?"
"Apa saja, mas."
"Ya sudah, aku mohon kamu jangan ke mana mana. Kamu di sini dulu sebelum aku kembali. Nanti aku akan antarkan kamu pulang."
"Jangan lama lama, mas. Aku takut nanti ketiduran hingga kamu tidak membangunkan aku."
"Ini sudah siang, aku takut terlambat sampai di rumah. Aku hanya tidak mau Mas Rohman curiga padaku. Mudah mudahan kamu bisa mengerti."
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Mas Rendy. Dia hanya menatapku sesaat dan memberikan kecupan mesra di bibirku. Setelah itu dia beranjak pergi meninggalkan aku di kamar hotel sendirian.