
Eps. 35
Rohman menatapku dengan penuh senyum. Wajah manisnya membuat aku sedikit luluh. Andai saja aku dalam keadaan sehat, pasti aku sudah pergi dari hadapannya.
"Sudah non, jangan banyak bicara. Lebih baik kamu istirahat."
"Tapi mas, aku nggak mau sampai diteror lagi sama Chika gara gara ketemu kamu."
"Non, tolong nurut apa kataku. Dan satuhal lagi, tolong jangan sebut nama itu di hadapanku."
"Kenapa, mas? Bukannya kalian akan menikah bulan ini. Atau malah sudah menikah."
"Ceritanya panjang, non. Aku akan cerita tapi nanti kalau kamu sudah sehat."
Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Dalam fikiranku masih bertanya tanya. Aku sangat penasaran, sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua.
"Non, kamu sudah makan?"
"Belum mas, aku nggak lapar."
"Nggak ada kata nggak lapar. Kamu harus makan, sini aku suapin. Nggak boleh nolak ya cantik."
Seketika aku sedikit malu. Hatiku sangat berbunga bunga. Entah karena perhatian Rohman atau apa aku juga tidak mengerti.
Dengan sabar Rohman menyuapi aku hingga makanan habis. Dia juga tidak segan mengantarkan aku ke kamar mandi. Saat aku menyuruhnya untuk menunggu di luar, dia menolak.
Rohman nekat masuk dan menutup pintu kamar mandi. Aku bingung harus bagaimana. Niat ingin mandi malah jadi berpikir yang tidak tidak.
"Mas, aku mau mandi. Tidak seharusnya kamu ikut masuk. Lebih baik kamu di luar saja."
"Aku tidak peduli, non. Apa kamu yakin bisa mandi sendiri dengan keadaan tangan kamu masih tertancap dengan selang infus?"
Seketika aku sadar jika tanganku masih tertancap jarum infus. Aku hanya mampu diam dan tertunduk. Aku mengurungkan niat untuk mandi. Namun Rohman ngotot akan memandikan aku.
"Mas, aku tidak jadi mandi."
"Kenapa? Apa kamu tidak merasa gerah, non?"
__ADS_1
"Nanti aku minta tolong suster saja untuk bantu mandiin aku, atau nanti kalau Rere datang aku akan minta dia untuk membantu aku."
Rohman mendekat lalu memeluk pinggangku. Tatapannya sangat lembut membuat jantung ini berdetak tak beraturan. Wajahnya yang manis semakin mendekat. Dan dia membisikka sesuatu ke telingaku. Hingga membuat aku merinding.
"Non, sudah lama aku memendam perasaan ini. Banyak sekali halangan saat aku akan menyatakannya padamu."
"Maksud kamu apa, mas?"
"Sudah lama aku menyukaimu."
Bibir Arman mengecup leherku. Hal itu membuat darahku berdesir cepat. Aku mulai terbuai dan terlena olehnya. Seketika aku terdiam dan masih mencerna kata katanya.
Namun tiba tiba Arman ******* bibirku dengan lembut. Dengan keadaan tangan masih terinfus, akupun menikmatinya tanpa membalas ******* bibirnya. Ku biarkan dia menikmatinya.
Tak berselang lama dia melepaskan lumatannya. Dia menatapku lalu menggenggam erat tanganku. Senyumnya yang khas dengan lesung pipinya membuat aku selalu luluh.
"Non, ijinkan aku menikahimu."
Sontak aku terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Aku masih tidak percaya dengan ucapannya. Aku berfikir jika ini adalah lelucon.
"Ma..maaf mas, becanda kamu nggak lucu."
"Apa aku terlihat sedang becanda, non? Aku tahu kapan waktunya becanda dan kapan waktunya serius. Dan saat ini aku sedang serius."
Aku membungkam mulutku dengan tangan. Aku masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rohman. Kuperhatikan tatapan matanya sangat serius sehingga membuatku salah tingkah.
"Kamu nggak lagi becanda kan, mas?"
"Aku serius, non. Ijinkan aku menikahimu."
"Ta..tapi mas. Kamu tahu kan keadaanku yang sekarang seperti apa? Aku kotor dan saat ini juga sedang mengandung."
"Ya, aku tahu. Dan aku juga akan menerima kamu bagaimanpun keadaannya. Tolong non, ijinkan aku menikahimu. Aku sangat mencintaimu."
"Tunggu dulu, mas. Lalu bagaimana dengan Chika. Bisa tolong kamu jelaskan hubungan kamu dengannya? Aku hanya tidak mau terlibat masalah antara kalian."
"Nanti aku akan menceritakan padamu. Sekarang mandilah. Aku akan bantu kamu melepas pakaianmu. Setelah itu akan aku basuh tubuhmu."
__ADS_1
Aku tak mampu lagi untuk berkata. Aku hanya diam dan menuruti apa yang dikatakannya. Satu persatu pakaianku terlepas. Hingga tak ada satu helai pakaianpun yang aku kenakan. Lalu dia membasuh tubuhku perlahan.
Aku menahan malu. Bagaimana tidak, saat ini aku tengah telanjang di depan Rohman. Namun dia dengan santainya tetap membersihkan tubuhku. Karena kondisi yg masih dengan jarum infus menancap, aku masih sulit untuk beraktivitas sendiri.
"Mas, apa kamu yakin dengan keputusanmu? Tolong fikirkan lagi ucapanmu itu."
"Aku yakin, non. Aku sudah mantap dengan pilihanku sekarang. Masalah kandungan kamu, nanti kita besarkan anak ini bersama. Asalkan kamu juga bisa menerima aku apa adanya."
"Maksud kamu apa, mas?"
"Sudah selesai, aku pakaikan dulu pakaian kamu. Lalu kamu istirahat, aku sudah menghubungi teman kamu Rere. Dia akan datang kemari nanti selesai kerja."
Seketika hatiku bahagia mendengar nama Rere. Sahabatku dimana ketika aku butuh dia selalu ada untukku. Tidak sabar aku ingin bertemu dengannya. Rasanya sangat kangen sekali.
Usai memakai pakaian, Rohman menuntun aku berjalan keluar dari kamar mandi. Aku kembali ke blankar dan bersandar. Seketika aku teringat dengan benda milikku. Sebuah benda pipih yang sangat penting, yaitu ponsel. Aku mencarinya di laci meja, namun tidak ku temukan.
"Kamu cari apa, non?"
"Ehm, anu mas aku cari ponsel ku. Aku ingin membukanya. Barangkali ada pesan penting dari keluargaku. Aku takut mereka panik karena aku tidak mengabarinya selama ini karena aku koma."
"Ini, ponsel kamu aman. Aku selalu menyimpannya dan membawanya kemari jika menengok kamu menjaga jika suatu saat kamu sadar. Karena benda ini sangat penting."
Rohman memberikan benda pipih itu kepadaku. Aku menerimanya dan segera mengidupkannya.
"Maaf non, hpnya memang sengaja aku matikan. Aku juga tidak membuka isi hp kamu kok. Baterainya juga terisi penuh."
"Iya mas, tidak apa apa. Makasih banyak ya."
Sekali ponsel aku nyala, begitu banyak sekali pesan masuk dari keluargaku. Benar saja mereka sangat khawatir denganku yang tidak ada kabar selama ini. Aku segera membalasnya dengan alasan hp aku rusak.
Memang sengaja aku tidak menceritakan apa yang aku alami sekarang. Aku takut jika keluargaku panik. Sehingga aku terpaksa berbohong pada mereka.
Tidak berselang lama balasan pesan dari keluargaku masuk. Mereka lega karena aku sudah mengabarinya. Mereka takut jika aku kenapa kenapa. Tapi akhirnya sekarang semua terkondisikan dan aman.
Seorang perempuan yang aku tunggu tunggu akhirnya datang juga. Siapa lagi jika bukan Rere sahabatku. Seketika raut wajahku berubah sangat riang.
Rere menghampiri dan memelukku. Akupun membalas pelukannya. Tak terasa air mata ini menetes begitu saja. Bahagia namun juga terasa sedih dengan nasib pilu yang menimpaku saat ini. Sangat miris sekali hidupku ini.
__ADS_1