Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 83


Setelah puas berkeliling ke beberapa wisata di kota Jogja, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Karena hari juga sudah gelap, dan besok Mas Rohman juga kerja. Aku hanya saja tidak ingin dia kecapekan dan mengantuk, sehingga jadi tidak fokus kerja.


Aku sudah membawakan oleh oleh untuk keluarga Mas Rohman dan juga beberapa pakaian untuk keluargaku yang akan aku bawakan nanti jika aku pulang ke Salatiga. Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang menuju kota Semarang. Ku lihat arloji masih pukul setengah tujuh.


Semoga saja perjalanan lancar dan sampai rumah tidak terlalu malam sekali. Dari jogja ke Semarang butuh waktu sekitar tiga jam lebih jika tidak macet. Aku sibuk dengan menonton drama korea dari ponsel. Karena aku belum terlalu mengantuk, jadi memilih untuk sibuk dengn film.


Karena terlalu lama aku menonton film, kedua mataku jadi terasa pedas. Dan rasa ngantuk itu datang dengan tiba tiba. Ku letakkan ponselku ke dalam tas. Lalu aku bersandar dan mata ini tertutup dengan sendirinya.


**********


Aku merasakan seseorang mengelus pipiku dan membelai rambutku. Aku terbangun dari tidur. Ku dapati Mas Rohman tersenyum kepadaku. Ternyata Mas Rohman membangunkan aku dengan cara seperti itu agar aku tidak terkejut.


"Mas, sudah sampai?"


"Sudah, sayang. Maaf Mas membangunkan kamu dari tidur."


"Nggak apa apa, Mas. Maaf tadi aku nggak kuat jadi tidur sepanjang perjalanan. Sampai tidak nemenin kamu."


"Nggak apa apa, sayang. Kalau ngantuk tidur saja, nggak usah dipaksain. Nanti yang ada malah kamu sakit, pusing."


"Iya, Mas."


Mas Rohman turun dari mobil, lalu membukakan pintu dan aku pun keluar dari mobil. Bak seorang ratu saja diperlakukan seistimewa seperti ini.


Mas Rohman menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu. Karena hari juga sudah larut. Sedangkan Mas Rohman sibuk dengan mengeluarkan barang barang di bagasi mobil. Aku ingin membantunya, tapi tidak diperbolehkan.


"Sayang, kamu masuk duluan saja. Biar Mas yang bawa barang barangnya masuk ke rumah."


"Bawaannya banyak, Mas. Biar aku bantu saja."


"Sayang, kalau dibilangin jangan ngeyel. Nanti kamu kenapa kenapa."


"Ya udah, iya. Aku masuk dulu, Mas. Kamu hati hati bawanya kalau butuh bantuan, panggil saja aku."


"Iya, sayang. Lebih baik kamu istirahat saja."


"Ya, Mas. Aku duluan."

__ADS_1


Aku bergegas masuk lalu merebahkan diri di kursi tamu. Sambil menunggu Mas Rohman, aku memainkan ponsel. Teringat akan pesan dari Mas Rendy, aku berniat akan menghubunginya. Karena kemarin Mas Rohman memberikan aku ijin untuk menjenguk Bu Rita yang sedang sakit.


Saat ku buka aplikasi whatsap, ternyata sudah ada pesan masuk dari Mas Rendy. Aku bergegas membukanya sambil melihat ke belakang, takutnya Mas Rohman tahu aku sedang chat dengan Mas Rendy. Setelah keadaan aku pastikan aman, aku segera membaca pesan dari Mas Rendy.


[Lis, bagaimana? Apakah kamu ada niat untuk menjenguk ibuku?]


[Aku tidak maksud apa apa, Lis. Ibuku benar benar sedang sakit dan ingin bertemu dengan kamu.]


[Aku belum bisa memastikan kapan, ini aku baru saja pulang dari Jogja. Aku masih capek, Mas.]


[Baiklah, ku akan jemput kamu besok.]


[Tapi kan aku belum memastikan kapan aku ke sana.]


Setelahbaku tunggu tunggu, tidak ada lagi balasan dari Rendy. Benar benar dia ini semakin suka sekali memaksa aku. Lama kelamaan aku menjadi tidak nyaman. Tapi ntah kenapa, rasanya aku juga tidak bisa lupa sama dia. Ingin sekali aku melupakannya, tapi semakin aku lupakan justru semakin ingat dan semakin ingin dekat.


Mungkinkah aku jatuh cinta lagi dengannya. Tidak, ini sangat tidak mungkin. Aku ini istrinya Mas Rohman. Selama aku bersama Mas Rohman, dia sangat baik padaku. Tidak ada sesuatu yang menurut aku sangat ganjil. Dia memperlakukan aku seperti seorang ratu.


Mungkin memang seharusnya aku menjaga jarak sama Mas Rendy. Aku takut jika terus terusan seperti ini, perasaanku akan semakin bertambah padanya. Aku harus fokus sama Mas Rohman. Dia hanya masa lalu bagiku.


Sebuah tepukan di pundak membuyarkan aku dari lamunan. Ternyata Mas Rohman sudah berada di sampingku. Aku pun terbata bata, takut jika dia melihat aku membalas chat dari Mas Rendy.


"Astagfirullah, Mas. Ehm, sejak kapan ada di sini?"


"Kok kamu terkejut gitu, sayang. Kayak lihat hantu saja, sampai seperti itu."


"I...iya, Mas. Lagian Mas ngagetin aku, sih.


"Mas tadi lihat kamu lagi ngelamun. Mas Panggil nggak ada respon. Ya sudah, Mas tepuk saja bahunya."


"Maaf ya, sayang. Kamu jadi terkejut."


"I...iya, Mas. Nggak apa apa."


"Boleh, lihat ponsel kamu?"


"Buat apa, Mas?"


"Pengen lihat saja, sayang. Kalaupun tidak boleh juga tidak apa apa, kok."

__ADS_1


"Ini, Mas. Boleh, kok."


Aku menyerahkan ponselku pada Mas Rohman. Entah mengapa tiba tiba saja dia ingin meminjam ponselku. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali mengecek ponselku. Apa mungkin karena dia melihat chatku dengan Mas Rendy.


Tapi tidak tahu pasti juga. Tapi biarkan saja, toh chat ku dengan Mas Rendy yang sebelumnya sudah ku hapus. Jadi tidak ada chat yang mencurigakan. Lainnya aku hanya chat dengan keluarga dan sahabatku. Siapa lagi jika bukan Rere dan Andry.


Mas Rohman mulai membuka chatku dan semua akun sosial mediaku. Aku berusaha bersikap biasa saja dan menjaga agar tidak terlalu khawatir. Lalu dia tersenyum padaku dan mengembalikan ponselku.


"Nggak ada apa apa kan, Mas."


"Lagian kok tumben sekali kamu pinjem ponsel aku, padahal sebelumnya kamu nggak pernah seperti ini."


"Emangnya nggak boleh ya, sayang?"


"Aku cuma khawatir saja sama kamu."


"Kamu bilang khawatir, Mas?"


"Emang khawatir kenapa, Mas?"


"Sudah lah, sayang. Ini sudah malam, kita istirahat saja. Semua barang sudah aku masukkan."


"Ya sudah, ayo. Aku juga masih ngantuk sekali, Mas."


Aku mengikuti Mas Rohman untuk masuk ke dalam kamar. Ku rebahkan tubuhku di samping Mas Rohman. Tangan Mas Rohman memeluk tubuhku. Mata ku pun mulai terpejam dengan sendirinya.


***********


Pagi hari sudah menyambutku. Aku terbangun dari tidur karena sorot mataghari yang masuk lewat celah kaca. Hingga aku merasakan silau di mataku.


Aku menoleh ke samping. Kudapati Mas Rohman masuh tertidur pulas sekali. Ku ambil ponsel di meja, dan ternyata sudah pukul tujuh pagi. Astaga, ternyata sudah kesiangan.


Ingin sekali aku membangunkan Mas Rohman, namun hati ini sangat tidak tega. Jika aku perhatikan, dia tampak kelelahan. Wajahnya sedikit pucat. Namun jika tidak dibangunkan, dia akan terlambat masuk kantor.


Aku memberanikan diri untuk membangunkannya. Ku goyangkan lengangan tangannya, namun dia tak kunjung bangun. Ku pegang keningnya, ternyata suhunya panas.


Aku sangat panik dengan keadaan Mas Rohman. Aku berusaha untuk menenangkan diri. Ku ambil air untuk mengompres Mas Rohman. Dan untungnya aku selalu sedia paracetamol berjaga jika ada kejadian seperti ini.


Ku kompres kening Mas Rohman. Lalu aku pergi ke luar untuk membeli bubur. Alhamdulillah di ujung gang jika pagi hari ada yang jualan bubur ayam.

__ADS_1


__ADS_2