Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 51


Aku membuka mata perlahan, Ku perhatikan sekeliling ruangan dengan tembok yang bercat putih. Terdapat jarum infus menancap di punggung tanganku. Masih kurasakan sedikit pusing di kepalaku.


Ku rasakan seseorang menggenggan erat tanganku. Setelah aku menoleh ke samping, ku dapati mas Rohman yang tengah tertidur dengan posisi duduk.


Ingin sekali aku membangunkannya. Namun hati ini sangat tidak tega sekali. Jika ku lihat dari wajahya, tampak sekali dia sedang kelelahan.


Namun ternyata mas Rohman menyadari jika aku sudah sadar. Dia terbangun dan tersenyum padaku. Dia semakin erat menggenggam tanganku. Seolah tidak mau lepas dariku.


"Sayang, maafkan aku." Dia berucap seolah sangat menyesal. Aku di sini sedikit bingung.


"Mas, kenapa kamu minta maaf?"


"Maaf sayang, karena aku kamu jadi seperti ini. Kamu harus merasakan sakit gara gara aku. Harusnya aku jemput kamu dan tidak membiarkan kamu sendirian."


"Sudah mas, kamu nggak salah. Ini semua perbuatan Chika. Bukan salah kamu."


"Aku penyebab semua ini, sayang. Aku sangat menyesal, maafkan aku."


"Mas, kamu nggak salah. Nggak ada yang perlu dimaafkan. Karena ini juga bukan mau kamu." Mas Rohman tampak meneteskan air mata. Aku semakin tidak tega dengannya.


"Mas, lalu bagaimana dengan Chika?" Wajahnya berubah serius saat akan menceritakan kejadian kemarin.


"Chika kemarin keguguran. Tapi takdir berkata lain. Saat oprasi, dia menghembuskan nafas terakhir. Chika sudah meninggal dunia, sayang."


"Innalillahi wainnalillahi rojiun. Kamu serius mas, Chika meninggal."


"Iya sayang, dia sudah dimakamkan."


"Astaga, aku tidak menyangka usianya hanya sampai di sini."


"Sekarang kamu tidak perlu takut lagi, sayang. Tidak akan ada yang jahat lagi padamu."


"Tapi mas, bagaimana dengan Andry?"


"Ya, andry sudah menceritakan semuanya. Dia dan Rio berada di bawah ancaman Chika."


"Sudah aku duga pasti ada yang tidak beres."


"Ya, adik Andry yang masih sekolah disekap oleh chika. Dia diancam akan membunuh adiknya jika tidak menuruti kemauannya. Yaitu menculik kamu."


"Ya Tuhan, dia nekat sekali melakukan itu."

__ADS_1


"Sedangkan Rio, dia adalah tetangga Chika yang hidup pas pasan. Dia anak yatim piatu yang hanya tinggal bersama neneknya. Dia juga dalam ancaman Chika. Yaitu akan membunuh neneknya saat dia sedang pergi bekerja. Akhirnya Rio menuruti kemauan Chika."


"Tapi apakah Andry dan Rio akan dipenjara mas karena keterlibatan mereka?"


"Tidak sayang, kamu tenang saja. Mereka semua aman."


"Alhamdulillah, aku juga berharap seperti itu."


"Ya sudah, kamu istirahat lagi saja sayang. Untung keadaan kamu dan anakmu baik baik saja."


"Iya, mas. Aku masih trauma dengab kejadian kemarin."


"Sudah jangan difikirkan lagi. Semua akan baik baik saja."


"Iya, mas?"


"Untuk sementara kamu tinggal di rumahku dulu saja."


"Nggak mas, aku di kost saja. Nanti apa kata orang."


"Tidak perlu perdulikan kata orang. Sebentar lagi kita juga akan menikah. Nanti biar aku yang bicara sama RT setempat."


"Ya sudah, terserah kamu saja."


Pagi ini aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Dan sesuai kesepakatan kemarin, aku akan tinggal di rumah mas Rohman untuk sementara. Nanti jika persiapan pernikahan sudah selesai, aku akan pulang ke Salatiga hingga hari H tiba.


Aku disambut baik oleh keluarga mas Rohman. Mereka semua tidak keberatan jika aku tinggal sementara di sini. Aku pun sangat bahagia sekali diperlakukan baik seperti ini.


Rere dan Andry datang menjengukku. Mereka baru sempat ke mari karena kerja. Aku memperhatikan Andry yang sedari tadi hanya menunduk saja. Dia tidak berani menatapku.


"Terimakasih Rere, Andry, kalian sudah menyempatkan diri untuk menjengukku. Maaf aku sudah merepotkan kalian."


"Maaf say, aku baru sempat ke mari. Soalnya jatah liburku sudah aku ambil minggu lalu."


"Santai saja, aku malah berterimakasih sudah mau ke mari."


"Ehm, Cha. Aku minta maaf atas kejadian kemarin. A aku terpaksa melakukannya karena dibawah ancaman Chika. Dan adikku juga disekap sama Chika."


"Iya Ndry, aku sudah tahu semuanya. Kita lupakan saja, seolah kita baik baik saja. Adik kamu baik baik saja kan?"


"Iya, alhamdulillah adikku tidak kenapa kenapa. Hanya saja dia masih sedikit trauma."


"Semoga lekas berlalu dan kembali seperti semula."

__ADS_1


"Iya, amin."


Saat kami tengah asik mengobrol, adik mas Rohman datang dengan membawakan minuman dan potongan kue. Namanya Mirna, dia masih sekolah di bangku SMA. Dia sangat baik juga padaku. Bahkan sempat mengobrol berdua saat pertama kali aku ke mari. Orangnya sangat asik dan dapat merespon pembicaraan dengan baik.


"Terimakasih Mirna, kamu malah jadi repot seperti ini."


"Hanya minuman mbak, aku tidak merasa direpotkan kok."


Mirna tersenyum, namun dapat ku perhatikan jika sesekali dia melirik ke arah Andry. Andry pun juga sempat beradu pandang dengan Mirna. Namun tak ku hiraukan itu semua. Mungkin hanya kebetulan saja mereka saling pandang.


"Oh iya mas, bagaimana dengan acara lusa? Waktunya sudah hampir dekat, tinggal⁰ menghitung hari saja."


"Ibu ingin ada acara ngunduh mantu, sayang."


"Ehm, gitu ya mas."


"Iya, apa kamu keberatan?"


"Itu terserah kamu saja, mas. Kalau aku yang penting sah saja sudah cukup."


"Ya sudah, nanti jika kamu sudah benar benar enakan kita fitting baju. Undangan sudah jadi tinggal kita sebar saja nanti. Rencana acara ijab nanti hari Kamis sayang tanggal 10. Dan untuk resepsi tanggal 13 tepat hari Minggu. Yang lain lain seperti catering dan dekorasi biar ibu dan saudara yang nentukan."


"Iya mas, aku ngikut saja. Nanti aku hubungi keluargaku untuk mengurus surat suratnya."


"Makasih ya sayang, kamu udah mau terima aku."


"Iya, sama sama mas."


Tak berselang lama ibu dan bapaknya mas Rohman ikut bergabung Sesekali kami bercanda dan tertawa bersama. Sungguh hangat sekali rasanya bisa berada di tengah tengah mereka. Semoga ini akan berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun. Seperti yang sudah sudah. Aku tidak mau itu terjadi lagi.


Bahkan aku juga sudah berusaha untuk mengubur dalam masa lalu. Dan aku berharap mereka tidak akan hadir dalam hidupku lagi. Aku hanya ingin hidup ini damai tanpa adanya masalah.


Karena asiknya kami semua berbincang hingga tak terasa waktu sudah siang. Andry dan Rere memutuskan untuk berpamitan. Aku mengucapkan banyak terimakasih pada mereka berdua.


"Sudah siang nih, bapak, ibu, Icha dan Rohman kita berdua pamit dulu ya."


"Sekali lagi aku terimakasih banyak ya sudah mau menjengukku. Untuk kamu Andry, aku sama sekali tidak ada dendam. Kamu lupakan saja kejadian kemarin. Itu bukan kemauan kita, kan."


"Iya, Cha. Aku hanya merasa bersalah saja padamu."


"Sudahlah, yang penting semuanya sudah berakhir, dan kita semua selamat. Yang berlaku biar berlalu."


"Iya, kalau begitu aku pamit. Mari semuanya, Assalamualaikum.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Kami semua serempak membalas salam Andry. Rasanya sungguh lega sekali. Rasa kengenku pada sahabatku sudah terbayarkan. Aku sudah bertemu dengan mereka berdua. Karena sejak tragedi Jimmy, aku jarang sekali bertemu. Baru sekarang ini bisa berkumpul walaupun hanya sebentar.


__ADS_2