Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Bagian 8


__ADS_3

Aku membaca dengan seksama CV itu. Sesekali kuseruput jus alpukat yang ada di meja. Mulai dari data pribadi, pendidikan, keluarga, pekerjaan, visi misi pernikahan dan sebagainya. Hmm sungguh detail dan apik.


Aku kagum pada Nisa. Ilmu tentang pernikahan memang patut diacungi jempol. Mataku tertuju pada riwayat penyakit. Disitu memang tertera endometriosis. Rupanya wanitu itu menuliskan penyakitnya disini. Aku melanjutkan ke lembar ke dua. Disitu aku melihat harapan-harapan Nisa tentang pernikahan.


Perhatianku tersedot pada penutup CV itu .


________


Assalamualaikum calon imamku. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih atas kesediaan membaca biodata saya. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Saya adalah seorang perempuan pengidap endometriosis. Namun sampai saat ini saya belum tahu betul tingkat keparahannya.


Endometriosis itu menyebabkan saya selalu tersiksa saat tiba masa menstruasi. Hal itu tentunya berdampak pada kesuburan sistem reproduksi, dan tentu saja akan menyebabkan masalah kehamilan. Kemungkinan besar saya akan sulit hamil. Dan yang paling pahit, saya tidak bisa memberi anda keturunan.


Saya sangat bersyukur jika Allah menakdirkan kita untuk berjodoh. Pun saya akan merelakan diri ini untuk dipoligami, atau diceraikan jika memang dalam perjalanan rumah tangga nanti, saya tidak bisa memberi keturunan karena penyakit ini.


Batam 11 Januari 2013


Annisa Salmarani.


__________


Hatiku bergemuruh membaca biodata itu. Rupanya selama ini Nisa sudah mengetahui penyakitnya.


"Nisa tahu kamu menemuiku?"


Pria itu mengangguk.


"Jadi dari dulu kamu udah tahu penyakit Nisa?"


"Begitulah."


Azzam menghela nafas dalam.


"Lantas kenapa kamu putuskan menikahinya?"


"Saat itu aku memang sudah ingin menikah, kebetulan Ustadz Bahrul bilang bahwa ada akhwat yang siap menikah. Aku sudah beberapa kali istikharoh dan Allah sepertinya menunjukkan bahwa Nisa adalah jodoh yang terbaik menurut DIA."


Telunjuk pria itu mengarah ke atas.


"Apa kamu sekarang mencintainya?"


"Cinta itu sudah mulai tumbuh Kalila."


Pria itu menarik nafas dalam. Menatapku lamat-lamat.


Deg!


Hatiku meradang. Dadaku kembali sesak. Menahan sekuat tenaga agar air mata tak jatuh ke pipi.


Azzam menyodorkan tisu yang ada di atas meja kepadaku.


Allah, bahkan dia tahu aku menangis mekipun air mata ini belum keluar.


"Buat apa?"


Tanyaku pura-pura.


Pria itu tak menjawab. Tangannya mengambil dua lembar tisu dan memberikannya kepadaku.


"Nggak."


Tolakku jual mahal.


Sekuat tenaga ku tahan air mata, Agar tidak tumpah di depannya.


Pria itu mengembalikan kotak tisu ke tempat semula.


"Apa kamu tahu Nisa memintaku jadi istri keduamu?"


Tanyaku lirih. Mataku beredar memandang ke arah dinding di depanku. Aku sama sekali tak berani menatap Azzam lama-lama semenjak pertama dia duduk di hadapan.


Pria itu mengangguk.


Menarik nafas sebentar.


Meneguk jus alpukat di meja. Kemudian melahap roti bertopping di piring.


"Hati ini masih menyimpan cinta untukmu Kalila."


Pria itu menempelkan telapak kanannya di dada.


Mataku memanas mendengarnya. Hatiku bergemuruh hebat.


"Namun, aku hanya seorang lelaki biasa yang takut tidak bisa berbuat adil."


Matanya nanar memandang ke depan. Suaranya parau. Berat lelaki itu menelan saliva.


Oh Allah!

__ADS_1


Pilu seketika menyayat ke dalam hati.


Ah, ada apa dengan diri ini.


Kenapa rasanya sakit mendengar ucapan Azzam. Padahal aku sendiri juga tidak mau berpoligami. Namun penolakan halus yang keluar dari mulutnya memaksa sayatan-sayatan tajam menerobos ke dalam hati.


Aku merebut kotak tisu yang kini berada di genggamannya. Pertahanan ini jebol. Aku terisak di depannya.


Keheningan hadir di antara kami. Isakan lirihku menjadi backsound untuk beberapa saat lamanya. Ingin rasanya diri ini menghambur ke tubuhnya.


Lelaki itu terdiam menatapku. Seolah ingin merengkuh diriku, yang bukan haknya. Kedua tangannya tergenggam erat di atas meja.


Suara adzan isya mengharuskan untuk jeda sesaat. Azzam bangkit dari duduknya.


"Aku mau jamaah dulu. Mau ikut?"


Aku menggeleng dengan mata basah.


"Ya sudah, tunggu di sini. Jangan kemana-mana!"


Titahnya. Aku mengangguk pelan.


Aku melihat kembali CV Nisa ditanganku. Perempuan ini begitu sempurna dari segi akhlak, kecerdasan dan wajah. Sangat cocok memang dengan Azzam. Kekurangan wanita itu hanya satu, seperti yang beberapa hari diceritakan kepadaku.


Sepuluh menit kemudian Azzam telah kembali ke kursinya.


"Jadi untuk apa kamu memintaku kesini?"


Tanyaku. Tanganku menyeka air mata yang masih saja mengalir di pipi.


"Agar kita tidak saling salah paham. Agar kamu tahu bahwa bukan aku yang meminta poligami."


Azzam beringsut dari kursi. Kemudian menyeruput sisa jus dalam gelas.


"Jujur, aku sebenarnya sangat bahagia bila kamu menjadi istriku. Namun aku takut tidak bisa adil. Dan itu akan melukai kita semua."


Aku menatapnya tajam. Sesaat netra kami beradu. Ada desiran aneh dalam hati. Segera kuenyahkan pandanganku darinya.


"Aku mau pulang."


Aku bangkit dari tempat duduk.


"Aku antar!"


"Nggak."


Derap langkah kaki lelaki itu seperti menyusulku yang sudah berada di pintu keluar.


"Jangan ngeyel, Ini sudah malam. Kamu mau naik apa?"


Nadanya meninggi


"Ojek."


Jawabku asal. Padahal tahu betul memang rawan naik ojek saat malam menunjukkan waktunya di angka 21.00.


"Bahaya Kalila!"


"Udah ikut aku."


Pria itu menarik tas slempangku. Memaksaku berjalan mengikutinya dari belakang.


"Masuk!"


Perintahnya pelan namun tegas.


Tangannya membuka pintu depan mobil untukku.


"Aku di belakang aja."


Aku menolak.


"Emang aku sopir suruh sendirian di depan."


Aku melengos. Kemudian duduk kursi depan dengan terpaksa.


Sejurus kemudian Azzam melajukan city car miliknya menuju kosku.


Dalam mobil aku memilih diam. Memandang keluar dari kaca jendela.


Begitu juga dengan Azzam, lelaki itu tak bersuara. Langit malam penuh gemintang menjadi saksi keheningan di antara kami.


Sekilas kulihat dia memainkan handphonenya saat lampu merah menyala. Lantunan nasyid Edcoustic kesukaannya terdengar dari audio benda pipih itu.


........................


Sungguh walau ku kelu

__ADS_1


Tuk mengungkapkan perasaanku


Namun penantianmu pada diriku


Jangan salahkan


Kalau memang kau pilihkan aku


Tunggu sampai aku datang


Nanti kubawa kau pergi


Ke surga abadi


Kini belumlah saatnya


Aku membalas cintamu


Nantikanku di batas waktu


........


Syair nasyid yang seolah mewakili perasaan kami. Pandanganku beralih, menatapnya. Berat aku menelan saliva. Rupanya lelaki itu juga tengah menatapku dengan mata teduhnya. Lagi- lagi pandangan kami beradu. Ada gelenyar aneh menerobos hati. Cepat-cepat kualihkan wajahku darinya.


Kini kuda besi itu sudah berada di halaman kos.


Aku bergegas melepas seat belt dari tubuh. Membuka pintu mobil.


"Kalila tunggu."


Azzam mengeluarkan sebuah benda dari wearpacknya. Sebuah kotak berbalut kertas kado berwarna ungu.


"Ini milikmu."


Aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.


"Ambillah."


Lelaki itu menyodorkan kepadaku.


Aku segera mengambil kotak itu dan memasukkannya ke dalam tas. Karena tak ingin berlama-lama melihatnya.


Deru suara mobil Azzam terdengar meninggalkan halaman kos yang mempunyai 10 kamar ini.


Aku melangkah menuju kamar.


Kemudian mengambil kotak yang diberikan Azzam kepadaku.


Kurobek kertas yang pembungkus karena sudah tak sabar melihat isinya.


Dua buah foto ada di dalam kotak itu. Serta sebuah kotak perhiasan berukuran kecil.


Kutatap lamat -lamat foto itu. Ada aku dan Azzam di dalamnya sedang tertawa bahagia. Foto itu kami ambil 7 tahun lalu di Photobox sebuah Mall di Surabaya.


Saat itu kami adalah pasangan yang sangat berbahagia. Aku meminta Azzam menyimpannya sebanyak 2 lembar. Aku 2 lembar.


Tak terasa air mata kembali luruh. Sembilu kembali menyayat hati. Menerobos tulang belulang dalam tubuh.


Kubuka kotak perhiasan berwarna merah itu. Hatiku bertambah pilu saat melihat sebuah cincin bertengger di dalamnya.


Cincin itulah yang dibelikan Azzam untuk melamarku hari itu. Hari yang tak kunjung tiba. Kumasukkan kembali benda itu ke dalam tas. Kemudian membenamkan wajahku ke bantal bergambar bunga. Aku tergugu di atas benda empuk itu.


****


Hari Minggu pagi. Aku dan Nisa mengikuti kajian muslimah yang rutin diadakan masjid di kawasan industri Muka Kuning.


Setelah semalam aku bergulat dengan air mata. Sudah saatnya mencari suntikan iman. Hari ini Ustadz menyampaikan tentang amalan - amalan wanita saat datang tamu bulanan. Bahwa masih banyak amalan yang bisa dilakukan ketika kita menstruasi datang. Diantaranya adalah sholawat serta melafalkan doa - doa yang biasa kita baca.


Ustadz paruh baya itu mengakhiri tausiyahnya saat jam menunjukkan pukul 10.00.


Para jamaah akhwat membubarkan diri.


Sementara aku dan Nisa tetap berada di dalam masjid. Kami hendak melaksanakan solat duha.


"Lila, gue pinjam mukena ya. Tadi buru-buru jadi gak bawa deh."


"Ambil aja di tas. Gue kebelet."


Ujarku seraya berlari ke toilet.


Sesaat kemudian aku kembali memasuki masjid.


Aku shock melihat Nisa menatapku tajam.


Matanya berkaca-kaca. Kristal bening luruh membasahi pipi.


Tangan kanannya meremas sebuah foto. Fotoku dengan Azzam 7 tahun lalu.

__ADS_1


__ADS_2