Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 81


"Ya sudah aku mi ta maaf udah nuduh kamu yang bukan bukan, mas. Tidak seharusnya aku bicara seperti itu sama kamu."


"Sudahlah sayang, tidak perlu dibahas lagi. Kamu juga nggak perlu minta maaf."


"Aku ngerti, mungkin karena masa laluku kepercayaan kamu sama aku jadi berkurang."


"Tapi aku bener bener tidak ada main di belakang, sayang. Aku udah punya kamu, aku cuma mau kamu saja. Nggak mau yang lain."


Tak ku jawab lagi ucapan Mas Rohman. Aku hanya menganngukkan kepala dan tersenyum padanya. Ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan Mas Rohman. Aku memang masih meragukan kestiaannya. Mungkin karena aku tau masa lalunya. Itulah salah satunya kenapa aku sedikit meragukan dia.


Tak ada lagi yang kami bahas. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali berjalan jalan di sekitar Malioboro. Meskipun malam sudah semakin larut, namun keadaan sekitar masih tetap ramai dengan pengunjung. Sangat padat sekali di tempat ini.


Setelah puas menyusuri sepanjang jalan Malioboro, akhirnya aku mengajak Mas Rohman untuk kembali ke Hotel. Larena aku sudah merasakan sedikit lelah karena berjalan. Aku takut nanti perutku tiba tiba kram lagi karena kecapean. Seperti yang sudah sudah kemarin. Rasanya sangat sakit sekali.


Sebelum kembali ke Hotel, aku meminta untuk dibelikan sate ayam. Rasanya pengen sekali makan sate ayam. Mungkin inikah yang dinamakan ngidam saat hamil.


Kami mampir di sebuah pedagang sate kaki lima. Mas Rohman memesan dua porsi sate ayam. Setelah menunggu beberapa menit karena antre, akhirnya sate yang kami pesan sudah tersaji. Aku bergegas untuk memakannya karena memang perutku juga sudah terasa sangat lapar.


Aku melahap habis sate yang dipesankan Mas Rohman tadi. Rasanya juga lumayan enak untuk penjual kaki lima. Setelah itu kami kembali ke Hotel yang letaknya tidak jauh dari Malioboro.


Cukup melelahkan sekali perjalanan tadi . Tapi aku cukup bahagia sekali walaupun hanya diajak jalan jalan ke Malioboro saja. Disamping pemandangan yang bagus, aku juga bisa bertemu dengan orang yang aku idolakan di youtube. Ya, dia adalah Faqih. Seorang pemain angklung Malioboro yang berasal dari Temanggung.


Sekilas memang orang sangat sederhana dan apa adanya. Tapi entah mengapa aku sangat mengaguminya. Teringat saat dulu saling melakukan panggilan vidiocall. Senyumnya selalu terbayang bayang. Sangat amat manis sekali.

__ADS_1


Astaga, kenapa aku jadi memikirkan Faqih terus. Ya Allah, maafkan aku. Aku tidak ada maksud apapun. Hanya sebatas kagum saja. Lagipula usia dia jauh lebih muda dari aku. Bukan seleraku yang menyukai seorang berondong. Aku hanya mengagumi saja, tidak lebih.


Mas Rohman sudah merebahkan dirinya ke kasur. Aku menyadari jika dia merasa lelah. Karena dia dari pagi sampai sore bekerja untuk aku.


Aku berinisiatif mendekatinya dan menawarkan untuk memijit badannya. Namun dia malah menolak, dan justru memijit kakiku.


"Mas, kamu capek? Boleh aku pijitin?" Mas Rohman bangkit dari tidurnya, lalu membelai rambutku dengan mesra. Dia tersenyum padaku lalu mengecup keningku.


"Tidak perlu, sayang. Sini, biar kamu saja yang aku pijit. Kamu kan lagi hamil, tadi juga sudah berjalan jauh. Pasti capek, kan." Mas Rohman memijit kakiku. Aku malah merasa tidak enak padanya.


Padahal aku tadi melihat dia sangat kelelahan hingga ketiduran sepulang dari Malioboro. Tapi malah dia menolak untuk dipijit. Justru malah aku yang dipijitnya.


Lama lama aku sangat tidak tega padanya. Karena sudah menghianati Mas Rohman selama ini. Aku dengan teganya tidur dengan Mas Rendy saat Mas Rohman sedang bekerja. Tapi itu bukan kemauan aku. Aku hanya takut diperlakukan kasar sama Mas Rendy. Karena pada saat itu aku sedang di rumah sendiri. Dan kejadian itu terjadi begitu saja. Aku melakukan itu karena ada unsur pemaksaan.


Sampai saat ini aku masih merahasiakan kejadian pada waktu itu. Aku hanya takut jika Mas Rohman tau, dia akan marah padaku. Tadinya aku ada niat untuk bercerita. Namun semua aku urungkan. Mengingat hubungan Mas Rohman dengan mas Rendy sangat tidak baik. Aku hanya takut terjadi hal hal yang tidak diiginkan antara mereka berdua hanya karena gara gara aku.


"Sayang, jika bukan karena kamu, sifatku tidak akan berubah. Aku sangat mencintai kamu tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam."


"Bahkan aku sempat menolak wanita yang suka padaku saat aku sudah kenal kamu. Aku juga mau menerima anak yang ada di perutmu itu, sayang. Meskipun itu bukan anak aku. Karena aku tidak bisa memberikan kamu anak."


"Itu semua aku lakukan karena aku sangat mencintai kamu, sayang. Apapun akan aku usahakan, akan aku lakukan jika aku mampu. Itu cuma buat kamu saja, sayang."


"Percayalah, aku ini cuma punya kamu saja. Dan aku harap begitu pula sebaliknya. Semoga saja kamu juga hanya milikku seorang."


"Karena aku merasa, dalam hatimu ada orang lain selain aku. Tapi semoga saja apa yang aku rasakan itu tidak benar, sayang. Aku yakin kalau kamu juga mencintai aku."

__ADS_1


Ucapan Mas Rohman sangat menyayat hatiku. Ingin sekali aku meneteskan air mata ini. Namun aku tahan, begitu dalam kata katanya. Aku benar benar sangat merasa berdosa sekali padanya.


Tuhan, kali ini aku sangat bingung sekali. Aku memang mencintai Mas Rohman. Namun dapam fikiranku masih ada Rendy. Aku berharap, siapa pun jodoh aku. Aku hanya minta untuk dekatkan dan persatukan. Karena aku juga tidak mau terus terusan seperti ini.


Memendam rasa ini sendirian, rasanya sangat sakit sekali. Aku yang tega menghianati Mas Rohman. Tetapi aku juga yang merasakan sakitnya. Sungguh jahat sekali diriku ini pada orang yang benar benar tulus padaku.


Rasanya ingin sekali aku menyudahi hubunganku dengan Mas Rendy. Aku ingin dia menjauhi aku. Aku hanya ingin terbebas dari penderitaan yang selama ini aku rasakan dan aku pendam sendiri. Tiada tempat untuk mencurahkan segalanya.


Ingin sekali aku menceritakan pada seseorang tentang apa yang aku alami saat ini. Namun aku takut, orang yang aku percaya tidak bisa menjaga rahasiaku. Begitu sulit untuk menjalani semua ini.


Sebuah panggilan membangunkan aku dari lamunan. Mas Rohman sedari tadi memanggilku dan menggoyangka badanku. Namun ternyata aku tidak menyadarinya.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku dari tadi memanggil kamu. Tapi kamu tidak ada jawaban, sayang."


"Kamu kenapa, sakit?"


"Ahh, enn.. enggak, Mas. Aku baik baik saja, kok."


"Tapi wajah kamu sedikit tegang, sayang. Apa kamu sedang ada masalah?"


"Tidak Mas, aku baik baik saja. Aku nggak ada masalah apa apa, kok."


"Kamu dari tadi melamun saja. Kalau ada apa apa, kamu cerita saja. Jangan dipendam sendiri ya, sayang. Nanti kamu bisa stres, kasian bayi yang ada di perutmu itu. Nanti jadi kena imbasnya."

__ADS_1


"Iya, mas aku ngerti."


__ADS_2