
Eps. 33
(Jimmy)
Siang itu Jimmy hendak pergi untuk mengatur sebuah rencana. Mempersiapkan acara untuk memberikan kejutan untukku. Dan tepat sekali dua hari lagi adalah hari ulang tahunku.
Jimmy pergi ke sebuah toko perhiasan untuk membeli sebuah cincin yang akan diberikan untukku. Bahkan dia juga berniat untuk melamarku dengan cincin tersebut tepat dihari ulang tahunku lusa.
Sebuah rencana telah tersusun rapi. Bahkan Jimmy juga sudah mengaturnya, berikut dengan campur tangan kedua sahabatku. Yaitu, Andry dan Rere.
**********
Pagi pagi buta saat aku masih terlelap dalam tidur, kedua sahabatku Rere dan Andry sudah tiba di kostku. Mereka berdua mengetuk pintu dengan lumayan kencang agar aku terbangun.
Mata ini masih ingin terpejam, namun karena ulah mereka aku terpaksa bangun dari tidur. Segera aku bangkit dari ranjang dan membuka pintu. Aku sedikit kesal dengan mereka, karena sebenarnya masih ingin tidur.
"Say, dari semalam aku kirim pesan nggak dijawab. Aku telpon juga nggak diangkat."
"Iya tau nih anak, berasa orang penting aja sok sibuk."
"Ih, apaan sih. Kalian ke sini cuma mau marah marah aja? Udahlah pulang aja sana, aku mau lanjut tidur lagi."
"Hei, jangan gitu say. Kita mau ajak kamu ke acara penting."
"Acara apa, sih. Aku malas nih. Capek banget pengen tidaur lagi."
"Ih, nggak ada kata malas malasan. Sekarang cepat kamu mandi, trus pakai ini."
Rere memberikan sesuatu yang dia bawa. Aku sedikit penasaran lalu membukanya. Ternyata sebuah gamis cantik dengan warna gold, berikut dengan warna hijab senada. Aku terkejut, karena busana ini terlihat sangat mewah. Mungkin juga harganya sangat fantastis.
"Astaga, ini bagus baget. Ini pasti mahala banget, say."
"Udahlah, nggak usah banyak omong. Cepetan kamu mandi, trus pakai ini pakaian. Dan jangan lupa, dandan yang cantik."
"Eh, tunggu dulu. Emang kita mau ke mana, sih?"
"Udah, ngikut aja. Nanti juga bakalan tahu kok kita mau ke mana."
Aku segera menuruti apa yang diperintah oleh kedua sahabatku ini. Sebenarnya aku juga cukup penasaran. Entah mau diajak ke mana aku ini, sampai harus pakai pakaian mewah seperti ini.
__ADS_1
Aku sudah selesai merias diriku. Memakai gamis mewah, hijab senada dan sedikit polesan di wajah. Membuat wajah kedua sahabatku melongo karena takjub melihat diriku.
Aku berputar putar di depan cermin. Tersenyum dalam hati. Ternyata cantik juga aku ini. Ku semprotka sedikit parfum agar sedikit harum tubuh ini.
"Hei, kalian ngapain lihat aku kayak lihat hantu? Apa ada yang aneh sama aku?"
"Eh, enggak gitu say. Kamu beda aja pakai itu. Sumpah kamu cantik banget."
"Iya cantik banget. Rasanya pengen aku pacarin, Cha."
Sepontan aku menjambak rambut Andry. Dia memang selalu menggodaku. Begitupun dengan aku, yang selalu ingin menghajar dia habis habisan karena tingkahnya yang konyol.
"Aduh, Cha sakit."
"Makanya, nggak usah godain aku terus. Nanti kalau aku luluh terus beneran jatuh hati sama kamu gimana? Bisa ribet urusannya."
"Nggak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Cha. Semua bisa saja terjadi. Dan jika itu beneran terjadi, aku siap kok."
Kami bertiga tertawa lepas. Inilah yang aku suka dari mereka. Selalu ada dan selalu membuat aku tertawa. Rasanya senang sekali jika aku sedang bersama mereka.
"Ya udah kita berangkat sekarang saja. Takutnya nanti telat kita."
"Iya ayo berangkat."
Selang tiga puluh menit kendaraan yang aku tumpangi berhenti di sebuah hotel mewah. Rasa penasaranku semakin tinggi. Sebenarnya ini ada apa. Kenapa mereka membawaku ke mari.
Fikiranku sedikit kacau dan negatif. Jangan jangan aku akan dijual dengan oom oom hidung belang. Tapi sepertinya sahabatku ini tidak setega itu.
Sebuah tepukan di pundak membangunkan aku dari lamunan. Saat Rere menggandeng tanganku dan hendak mengajakku untuk masuk, aku menolaknya. Karena aku takut akan terjadi apa apa.
"Kenapa, say?"
"Kita ngapain ke sini? Kamu nggak bakalan jual aku, kan?"
"Astaga, kita masih waras lho. Kamu jangan berfikiran yang bukan bukan. Aduh nih anak minta diapain sih, bikin orang emosi aja."
"Udahlah, Cha. Ayo masuk aja, kamu bakalan aman. Dan kita pastikan nggak bakalan terjadi sesuatu sama kamu."
"Ya udah deh, tapi kalian bakan nemenin aku kan ke dalam."
__ADS_1
"Iya harus, dong. Kan hari ini hari spesial kamu."
Aku masih belum mengerti tentang apa yang dikatakan Rere. Namun belum sempat aku menjawab, Rere sudah menarikku untuk masuk ke dalam.
Kami terus berjalan menuju sebuah lift. Ketika lift terbuka kami segera masuk dan Andry menekan tombol angka lima.
Saat lift berhenti di lantai lima, kami berjalan menuju sebuah kamar yang sangat mewah. Tidak hanya itu, ruangannya juga lumayan luas. Rere dan Andry segera menyuruhku untuk duduk dan tidak melakukan apa apa.
Aku hanya bisa menuruti kemauan mereka berdua. Lalu mereka sibuk bermain ponsel masing masing. Seperti sedang mempersiapkan sesuatu.
*********
Jimmy bersiap berangkat menuju hotel tempat kami berkumpul. Dia sudah mendapatkan kode dari Andry jika aku sudah menunggu.
Jimmy sangat bahagia akan moment ini. Di mana hari ini dia akan melamarku tepat dihari ulang tahunku. Dia sudah mempersiapkan segalanya.
Kendaraan dia melaju cukup kencang. Sayang sekali sesuatu terjadi pada dirinya. Saat Jimmy hendak keluar dari gang, dia tanpa menoleh kanan kiri. Sehingga tertabrak sebuah pick up dan terpental beberapa meter.
Orang orang di sekitar yang melihat kejadian itu dengan cepat segera menolongnya. sedangkan mobil yang menabraknya membawa Jimmy ke Rumah Sakit.
*********
Satu jam, dua jam tidak ada kabar dari Jimmy. Aku yang menunggu jadi semakin tidak sabar. Lelah bercampur panik.
Kedua sahabatku berkali kali menghubungi seseorang. Namun sepertinya hasilnya nihil. Kuperhatikan wajah mereka berdua nampak tegang.
Tak berselang lama, ponsel Andry berbunyi. Andry segera mengangkatnya. Tampak serius percakapannya dengan seseorang. Setelah telepon dimatikan dia mengusap wajahnya.
"Ada apa, Ndry? Sepertinya serius sekali."
"Barusan telepon dari Rumah Sakit mengabarkan jika Jimmy kecelakaan."
"Apaaa....?"
Aku shock bukan main. Tubuhku seketika lemah tidak berdaya. Aku berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi. Ku tampar pipi ini berharap aku bangun dari tidurku. Kedua temanku menghentikan aksi gilaku.
"Ini nggak mungkin, kan. Kalian pasti sedang bercanda. Iya, kan."
"Cha, kamu harus tenang. Kamu nggak boleh seperti ini."
__ADS_1
"Say, sabar. Kamu duduk dulu tenangkan diri kamu. Kalau sudah tenang kita langsing ke Rumah Sakit."
Rere memelukku dengan erat. Dia berusaha menenangkan aku. Sungguh ini cobaan yang sangat luar biasa yang aku rasakan. Aku menangis terisak hingga tak sanggup berkata kata lagi.