Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 94


Butuh waktu sekitar setengah jam menuju rumah Ibu Mertua. Karena jarak dari Rumah Sakit lumayan jauh juga. Tak banyak yang kami berdua bicarakan. Karena aku harus menjaga kata karena baru saja kehilangan Mas Rohman. Aku hanya saja takut ada salah faham jika sampai Ibu Mertua tahu aku pulang bersama Mas Rendy.


Akhirnya mobil sudah masuk ke halama rumah Ibu Mertua. Aku segera turun tanpa menunggu Mas Rendy membukakan pintu. Aku berjalan dengan langkah pelan untuk masuk ke rumah. Aku sedikit ragu ragu saat ingin megucap salam. Aku takut jika semua keluarga Mas Rohman menyalahkan aku atas kepergian Mas Rohman.


Namun bagaimana pun juga aku masih berstatuskaan menantu di sini. Aku tetap bertekat untuk mengetuk pintu dan mengucap salam, walaupun dada berdebar begitu cepat.


Tok..tok..tok..


"Assalamualikum."


"Waalaikumsalam."


Tak butuh waktu lama salam ku segera dijawab. Dan aku hafal itu adalah suara bapak dan ibu mertua. Terdengar suara langkah kaki yang segera akan membuka pintu.


Ibunya Mas Rohman sangat berbeda dari sebelumnya. Beliau menatap aku seolah tidak suka akan kedatanganku. Saat aku mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan kedua mertua ku, namun ibu mertua tampak tidak perduli. Aku sangat gemetar hebat menyaksikan ini. Aku tahu maksud dari semua ini, jika Ibu Mertua sangat tidak mengharapkan kehadiran ku lagi.


Namun berbeda dengan bapak, beliau justru bersikap tenang dan tetap menyalami aku. Aku masih berdiam diri menunggi dipersilahkan masuk. Karena sangat lancang saja jika tiba tiba saja aku masuk. Namun tak lama kemudian, aku mendengar suara seorang wanita. Ya, tentu aku sangat tahu itu suara adiknya Mas Rohman.


"Siapa yang datang, Bu, bapak?"


"Ini dia nak, perempuan pembawa sial yang menyebabkan kakak kamu meninggal. Ini dia, dasar kamu." Kata Ibu Mertua dengan menunjuk nunjuk aku.


Bak disambar petir disiang bolong. Baru saja aku kehilangan calon anak dan suami, kini aku harus diuji dengan sikap Ibu Mertua. Aku memang merasa bersalah. Andai saja aku tidak merengek meminta keluar pada malam hari itu, mungkin Mas Rohman masih ada bersamaku saat ini.


Aku tidak menginginkan semua ini terjadi. Tapi nasib buruk selalu saja menimpaku. Hingga aku merasa bahwa diriku memang pembawa sial untuk semua orang. Aku tak kuasa untuk menahan air mataku. Tak sampai di sini, ibu mertua masih saja memaki maki aku dengan kata kata kasar.


"Andai saja aku tidak meresti kamu menikah dengan Rohman, mungkin sekarang dia masih hidup."


"Kamu itu perempuan pembawa sial. Nggak tahu diuntung."


"Pergi kamu dari sini! Aku tidak mau melihat kamu lagi. Gara gara kamu anakku meninggal."

__ADS_1


Bapak mertua berusaha menenangkan istrinya. Lalu membawa istrinya masuk ke dalam. Sedangkan adiknya Mas Rohman sempat berbicara padaku. Dia masih tampak biasa saja, namun aku tidak tahu isi hatinya.


"Mbak, sebaiknya mbak pulang saja dulu. Nanti kalau situasinya sudah membaik, mbak bisa ke sini lagi."


"Iya,dek. Aku tahu, mungkin ibu sangat terpukul atas meninggalnya Mas Rohman. Tapi aku juga sangat terpukul dengan semua ini. Aku juga tidak ingin ini terjadi."


"Iya, Mbak. Sebaiknya mbak pulang saja dulu. Mbak juga butuh istirahat."


"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Pintu ditutup seketika oleh adiknya Mas Rohman. Dan aku melangkah gontai dengan air mata bercucuran.


Ternyata Mas Rendy masih menunggu aku. Dia berdiri lalu menghampiri aku. Dia menuntun aku hingga masuk ke dalam mobil. Dan mobil pun mulai melaju menunggalkan halaman rumah.


"Lis, kamu yang sabar, ya. Maaf aku tidak bisa ikut campur atas kejadian tadi."


"Aku hanya saja tidak ingin terlibat dalam masalah kamu."


"Iya, Mas. Nggak apa apa, kok."


"Astaga. Kamu jangan bicara seperti itu, Lis. Nggak baik."


"Iti semua takdir, dan bukan salah kamu. Mungkin usia Rohman memang sampai di sini saja."


"Dan mungkin Ibunya Rohman berbicara seperti itu karena beliau terpukul karena kehilangan anaknya."


"Iya, Mas aku ngerti. Kehilangan orang yang kita sayang itu memang sangat menykitkan. Sama seperti dengan apa yang aku rasakan saat ini."


"Sudah cukup, Liss. Jangan bahas apa apa lagi dulu, untuk saat ini yang kamu butuhkan adalah istirahat dan menenangkan diri."


Tak ku jawab lagi kata kata dari Mas Rendy. Mobil yang dikendarainya berputar arah. Mas Rendy tidak mengantarkan aku pupang ke rumah. Entah akan dibawa ke mana aku ini.


"Kita mau ke mana, Mas? Bukannya arah rumah aku ke sana, ya. Kenapa kamu putar balik ke sini, Mas?"

__ADS_1


"Untuk sementara waktu kamu menginap saja dulu di rumah ku."


"Ada ibu yang bisa nemenin kamu. Aku hanya takut kenapa kenapa karena di sana kamu sendirian. Kamu itu butuh teman biar fikiran kamu tidak stres."


Aku hanya diam menanggapi ucapan Mas Rohman. Yang dikatakan memang ada benarnya juga. Tapi kenapa harus ke rumahnya, mungkin lebih baik aku pupang saja ke rumah ibuku di kampung.


"Mas, antarkan saja aku ke halte bis. Aku mau pupang kampung saja. Mungkin di sana jauh lebih nyaman agar aku menenangkan fikiran yang sedang kosong ini."


"Menginap sajalah dulu di rumah aku, Lis. Lagian nanti ibuku pasti juga akan senang karena ada teman juga."


"Aku mohon, Lis. Untuk beberapa hari saja."


"Tapi hanya untuk sementara saja ya, Mas. Selebihnya nanti aku akan pulang kampung dan mungkin akan tinggal di sana untuk selamanya."


"Apa? Kamu serius mau pulang kampung?"


"Mungkin lebih baik aku hidup di kampung saja, Mas. Aku ingin melupakan semuanya agar batin tidak tersiksa."


"Coba fikirkan kembali rencana kamu itu."


"InsyaAllah aku sudah memikirkan matang matang, Mas."


Tak ada lagi pembicaraan diantara kami berdua. Dan akhirnya kami sudah sampai di depan rumah Mas Rendy. Dia menuntun aku untuk ikut masuk ke dalam.


Tampak sepi sekali rumah ini. Teringat dulu saat keluarga ini masih lengkap. Ada bapak, ibu, adiknya Mas Rendy, dan juga Mas Rendy. Namun semua itu sudah hilang dan tak akan bisa dikembalikan seperti dulu. Bapak dan adiknya Mas Rohman sudah dipanggil oleh sang pencipta. Kini hanya Mas Rendy dan Bu Rita saja yang tinggal di rumah ini.


"Mas , kok sepi sekali."


"Ibu ke mana?"


"Katanya tadi arisan. Nanti juga pasti akan balik."


"Lebih baik kamu istirahat saja dulu,Lis. Ayo aku antarkan kamu ke kamar."

__ADS_1


Rendy membawakan baju aku ke kamar yang akan aku tempati nantinya. Lalu dia meninggalkan aku sendirian di kamar. Tak apa, aku juga ingin sekali istirahat memejamkan mata karena badan ini sangat lemas sekali. Mungkin karena efek belum maka jadi badan terasa lemas.


Ku rebahkan tubuh ini di atas kasur, dan ku pandangi langit langit kamar ini. Aku masih membayangkan jika saat ini aku masih bersama Mas Rohman.


__ADS_2