Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 56


"Maaf bu, Lissa menolak keinginan ibu saat ini. Lissa hanya ingin menjaga perasaan mas Rohman. Karena sebentar lagi aku akan menikah dengannya. Sekali lagi aku minta maaf, bu."


Dapat ku dengar bu Rita menghembuskan nafas dengan kasar. Aku tahu, mungkin dia sedang kecewa dengan ucapanku. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi keputusanku. Aku ingin melupakan Rendy.


Aku juga hanya ingin menjaga perasaan mas Rohman. Dia sangat baik padaku. Aku tidak mau menyakiti hatinya dengan cara masuh berhubungan dengan Rendy ataupun keluarganya.


"Tidak bisakah kamu menolong ibu, Lissa? Ibu hanya ingin Rendy sembuh dari amnesia. Ibu sedih jika terus terusan seperti ini."


"Bu, bukan maksud aku tidak mau membantu, tapi karena..."


Belum sampai aku melanjutkan ucapan, tiba tiba mas Rohman sudah berada di sampingku. Aku yang terkejut sontak membulatkan mata menatap mas Rohman. Aku takut jika dia mendengar obrolanku dengan bu Rita.


"Mas, mmm sejak kapan ada di sini?"


"Sejak tadi." Tatapan matanya sangat tajam, hingga membuatku sedikit takut. Lalu aku segera menyudahi pembicaraan dengan bu Rita. Karena aku tidak mau nantinya akan terjadi pertengkaran hanya karena salah paham.


"Mmmm, bu maaf sekali, Nanti aku hubungi lagi." Segera aku tutup sambungan teleponku dengan bu Rita.


"Mas, apa kamu dengar percakapanku tadi?"


"Ya, aku mendengarnya dengan jelas." Terlihat jelas kemarahan mas Rohman. Dia tampak sangat tidak suka aku masih berhubungan dengan Rendy. Meskipun itu orang tuanya.


"Aku minta maaf, mas. Aku hanya tidak enak saja dengan bu Rita."


"Aku sudah kasih tahu kamu berulang kali. Aku nggak suka kamu masih berhubungan dengan keluarga Rendy. Maskipun itu dengan orang tuanya."


"Tapi mas, niat aku kan cuma mau bantu bu Rita saja. Nggak lebih, kok. Lagian kita juga akan menikah kan sebentar lagi."


Mas Rohman meremas rambutnya dan tampak marah sekali. Namun aku salut dengannya, semarah apapun dia tidak pernah berucap kasar dan bernada tinggi padaku. Dia masih bisa mengontrol emosinya.


"Sayang, aku harus bagaiman kasih tahu kamu?" Aku ini calon suami kamu. Kamu tahu nggak perasaan aku bagaiman waktu aku tahu kamu masih berhubungan sama keluarga Rendy?"


Aku hanya diam dan menunduk. Aku tidak mau menjawab obrolan mas Rohman. Karena takut akan terpancing emosi. Aku lebih baik diam meskipun sebenarnya hati ini tak sanggu menahan air mata.


Sebelum buliran bening menetes dari ujung mata, aku segera memalingkan wajah agar tidak bertatap mata dengan mas Rohman. Tanpa pikir panjang aku segera mengambil tas dan bergegas ingin segera pulang."


"Maaf mas, aku ingin pulang sekarang. Antarkan saja aku sampai terminal. Biar aku naik bisa saja."

__ADS_1


Mas Rohman diam dan dapat ku perharikan wajahnya sudah tidak menunjukkan kemarahan lagi. Dia berjalan mendekati aku, dan tanpa basa basi dia memeluk aku. Entah mengapa ingin sekali aku menangis.


"Maaf sayang, jika aku kasar padamu. Aku hanya tidak ingin kamu diambil orang lain. Aku nggak iklas. Kamu itu hanya punya aku." Kecupan mesra mendarat di bibirku. Pelukan yang sangat hangat aku dapatkan dar mas Rohman.


"Aku mau pulang sekarang, mas."


"Apakah kamu marah padaku, sayang?"


"Tidak."


"Baiklah, aku akan antar kamu pulang sampai rumah. Sekali lagi maafkan aku, sayang."


"Aku mau naik bis saja. Antarkan aku sampai terminal."


"Nggak, kamu harus aku antar sampai rumah.


"Nanti kamu capek harus bolak balik."


"Nggak kalau untuk kamu nggak bakalan capek."


"Terserah kamu saja."


Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya sibuk dengan ponselku. Sedangkan mas Rohman fokus menyetir. Kami berdua saling diam tanpa ada obrolan sedikitpun.


Aku tahu dia marah padaku. Namun aku sendiri juga agak kesal dengannya. Mungkin dengan saling diam adalah sesuatu yang menghindarkan diri dari pertengkaran.


Akhirnya aku sampai di rumah setelah menempuh waktu sekitar satu setengah jam. Aku merasakan sedikit capek karena kelamaan duduk. Ingin sekali segera aku rebahkan tubuh ini di atas kasur yang empuk.


Sebelum aku keluar dari mobil, mas Rohman memberikan aku sejumlah uang. Jumlahnya lumayan banyak. Aku masih belum mengerti kenapa mas Rohman memberiku uang lagi. Padahal belum lama ini dia juga memberi aku uang.


"Ini buat kamu."


"Untuk apa kamu uang sebanyak ini, mas?"


"Terserah mau buat apa. Mungkin untuk beli perlengkapan untuk besok acara kita."


"Aku masih ada uang, mas.?"


"Sudahlah, terima saja. Mana tahu kamu mau belikan keluarga kamu pakaian. Seperti aku membelikan orang tua aku kemarin."

__ADS_1


Aku masih bengong dengan ucapan mas Rohman. Seroyal inikah dengan aku. Aku sangat tidak enak untuk menerimanya. Meskipun aku tidak meminta.


"Kamu kenapa bengong, sayang? Ayo ambil uangnya!"


Aku menerima uang pemberian dari mas Rohman. Sebenarnya aku masih ada uang jika hanya untuk membelikan baju untuk orang tua. Tapi mas Rohman memaksa jika aku harus menerimanya.


"Makasih, mas."


"Sama sama, sayang. Maaf tentang kejadian yang tadi. Aku harap kamu bisa mengerti."


"Iya mas, masuk dulu yuk!"


"Makasih sayang, aku langsung pulang saja. Nanti takutnya kemalaman. Salam buat keluarga di rumah."


"Yakin mas, nggak mampir dulu."


"nggak sayang, maaf. Aku pamit dulu, ya."


"Iya mas, hati hati di jalan."


Mas Rohman berpamitan lalu pergi hingga mobilnya sudah tidak nampak lagi. Aku segera masuk dan ingin cepat cepat merebahkan tubuh.


********


Hari demi telah terlewati. Dan kini tiba saatnya hari yang aku tunggu. Hari di mana akan dilangsungkan acara ijab kabul. Ya, hari ini adalah hari pernikahan aku dengan mas Rohman.


Sebuah kebaya putih sudah melekat di tubuhku. Hiasan yang sangat modern dan juga terlihat cantik. Riasan wajah yang natural dan juga hijab dengan mahkota membuatku lebih anggun.


Semua tamu yang tidak lain adalah tetangga dan kerabat sudah berkumpul. Aku memang tidak menginginkan pesta pernikahan secara besar besaran. Yang aku inginkan hanyalah sah itu saja sudah cukup.


Keluarga mas Rohman juga sudah berkumpul. Aku mendapati mas Rohman yang sudah duduk di hadapan penghulu. Dengan mengenakan setelan jas hitam, dia sangat terlihat tambah gagah. Senyum manis yang menghiasi pipinya tampak terlihat wajahnya semakin indah.


Rasa deg degan melanda diriku. Tak ku sangka beberpa menit lagi aku akan sah menjadi istri mas Rohman. Tidak bisa aku bayangkan betapa bahagianya diriku.


Aku berjalan menuju tempat di mana akan dilangsungkan ijab kabul. Aku duduk di sebelah mas Rohman. Entah mengapa tiba tiba aku merasakan tubuh ini menjadi gemetar hebat.


"Bagaimana saudara Rohman dan saudari Lissa, apakah bisa di mulai sekarang?"


"Insyaallah bisa, pak." Suasana menjadi hening saat ijab kabul akan di mulai.

__ADS_1


__ADS_2