
Eps. 58
Malam ini aku berkumpul dengan anggota keluarga mas Rohman. Kami bersama sama menonton tv di ruang keluarga. Sesekali kita bercanda untuk memecah keheningan. Setelah melewati bertubi tubi cobaan, akhirnya aku bisa menemukan kebahagiaan. Aku berharap semoga tidak ada lagi drama yang aku jumpai setelah ini. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama orang yang aku sayang.
Malam sudah semakin larut. Satu persatu anggota keluarga mas Rohman mulai masuk kamar untuk istirahat. Pun dengan aku dan mas Rohman, karena mata sudah tidak mampu lagi untuk terjaga. Kami berdua memutuskan masuk kamar untuk istirahat.
Namun sebelum itu, mas Rohman meminta aku untuk melayaninya terlebih dahulu. Aku sebagai seorang istri memberikan kepuasan untuk suamiku. Malam ini kami kembali bergelut di atas kasur untuk beribadah.
Keringat mulai bercucuran, namun mas Rohman enggan menyudahi. Dia masih belum merasa puas. Aku yang sudah merasa lelah akhirnya menyerah. Dan akhirnya kami menyudahi aktivitas malam ini.
Sama sama lelah namun sangat menyenangkan. Kami merebahkan tubuh bersama sambil sedikit bersenda gurau. Dan tak terasa akupun tertidur di pelukan mas Rohman.
**********
Hari ini adalah hari Minggu. Dan pada hari acara resepsi pernikahan ku dengan mas Rohman akan dilangsungkan. Pagi pagi sekali aku dan mas Rohman sudah bangun dan bersiap untuk acara.
Aku membersihkan diri terlebih dahulu, pun dengan mas Rohman. Usai mandi kami bergegas menuju kamar Mirna, adiknya mas Rohman. Karena di situlah kami akan di makeup dan kemudian akan dijadikan ratu dan raja seharian.
Ternyata periasnya sedang berbincang dengan Mirna. Rupanya sudah tiba sekitar satu jam yang lalu. Sebelum dirias, aku menyemoatkan diri untuk mengisi perut terlebih dahulu. Terbayangkan bagaimana nanti dipajang fi depan orang banyak selama berjam jam. Apalagi aku posisi hamil muda. Sedang di fase lemas lemasnya karena kandungan baru dua bulan.
Aku segera duduk dan mulai dimakeup. Aku tidak suka makeup tebal, dan sudah berpesan supaya dandannya kelem saja. Periasnya mengerti dengan permintaanku.
Kurang lebih selama satu jam, akhirnya selesai juga aku dirias. Aku berdiri di depan kaca besar dan betapa anggunnya diriku. Dengan balutan kebaya yang warnanya sangat cantik. Ditambah dengan riasan wajah yang natural tapi terlihat elegan.
Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Dan kursi kursi mulai dipenuhi para tamu. Para panitia mulai mengatur tempat duduk para tamu undangan.
__ADS_1
Sudah lumayan lama aku duduk menunggu acara ini dimulai. Rasanya sangat tidak tahan karena kepanasan. Aku takut makeupku luntur terkena cucuran keringat.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya acarasudah di mulai. Dan akhirnya aku dan mas Rohman sudah berada di kursi pelaminan. Tidak aku sangka, hari ini aku menjadi ratu di keluarga mas Rohman.
Acara demi acara akhirnya telah terlewati. Dan acara hari ini pun telah usai. Aku dan mas Rohman berdiri guna menyambut para tamu yang akan berpamitan.
Tidak sedikit pula yang meminta berfoto denganku dan mas Rohman. Aku tidak tahu mereka siapa. Mungkin bisa jadi teman mas Rohman atau teman dari orang tua mas Rohman.
Satu persatu tamu sudah bubar. Namun aku teringat akan seseorang yang mungkin tidak ada di sini. Mereka adalah orang orang penting yang selalu ada buat aku disaat aku sedang butuh dan selalu datang diwaktu yang tepat.
Semua keluarga sudah melakukan sesi foto bersama. Baik dari keluarga mas Rohman dan juga dari keluargaku. Aku berharap semoga pernikahan ini langgeng sampai mau memisahkan kita.
Dan netraku tertuju pada dua orang yang baru datang. Mereka sedang menyalami keluargaku semua. Ya, dua orang yang aku maksud adalah Rere dan Andry.
Awalnya aku sedih sekali dan sangat khawatir jika mereka tidak datang. Tapi ternyata mereka berdua tetap datang. Meskipun terlambat tapi aku sangat bahagia sekali.
"Maaf ya say, kita baru bisa datang."
"Aku tadinya udah sedih banget nggak lihat kalian ada di sini. Tapi begitu lihat kalian, aku sangat bahagia sekali. Kalian udah mau datang ke mari saja aku udah terimakasih sekali.
"Nggak mungkin kita nggak datang. Tadi ada sedikit kendala jadi telat banget datangnya."
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Kalian kan sudah ada di sini."
"Oh iya, silahkan makan dulu. Pasti lapar, kan? Hahaha." Aku tertawa mengejek Andry dan Rere.
__ADS_1
"Tau saja kamu kalau kita lapar."
"Ya sudah sana makan dulu. Nanti keburu habis makanannya." Lagi lagi aku menggoda mereka berdua.
**********
Hari sudah semakin sore. Aku dan mas Rohman bergegas ganti pakaian. Karena rasanya sangat tidak tahan mengenakan kebaya. Meskipun terlihat anggun, tapi sangat tidak nyaman.
Meskipun hari sudah menjelang gelap, tapi para tamu masih saja berdatangan. Aku dan mas Rohman menyambut para tamu yang berdatangan. Sepertinya kebanyakan mereka adalah tamu tamu dari orang tuanya mas Rohman.
Namun aku terkejut, ketika aku mendapati satu orang tamu perempuan yang datang dengan mengenakan dres mini. Dia berjalan mendekati kami. Aku ingat ingat kembali, sepertinya wajahnya sangat tidak asing lagi. Aku mencoba mengingatnya.
Dan ternyata dia adalah mantan istrinya mas Rohman. Mengingat mas Rohman adalah seorang duda muda dan belum memiliki anak. Perempuan itu sudah di depan mata, dan tersenyum padaku dan mas Rohman.
Dia menyalami keluargaku dan keluarga mas Rohman. Lalu dia dia menyalami aku dan mas Rohman. Tak lupa juga dia juga meberikan cipika cipiki padaku dan mas Rohman.
"Selamat ya, mas. Semoga kalian langgeng." Ucap mantan istri mas Rohman sambil tersenyum ramah dan menggenggam tangannya. Entah mengapa dada ini begitu sesak sekali melihat pemandangan seperti ini. Apa lagi ini nyata di depan mataku.
Rasanyaa ingin sekali aku pergi meninggalkan mereka. Namun aku malu dengan para tamu yang hadir. Aku berusaha tegar dan seolah tidak terjadi apa apa.
Namun kali ini aku dibuat geram oleh mantan istrinya mas Rohman karena tingkahnya. Dia berfoto bersama mas Rohman dengan mesra tanpa memperdulikan aku istrinya. Aku memilih diam dan duduk kembali fokus menyalami tamu yang datang.
Aku heran, kenapa mas Rohman tidak menolak ajakan mantan istrinya itu. Apakah dia tidak merasakan malu dilihat banyak orang. Karena tidak sanggup mereka semakin mesra, aku memilih pergi masuk ke rumah.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Lalu melaksanakan sholat magrib karena kebetulan masih ada waktu.
__ADS_1
Usai sholat aku masih duduk mengenakan mukena. Dan tak terasa buluran bening ini menetes begitu saja. Aku hanya heran pada mas Rohman, kenapa dia tega dan tidak menghargai aku sebagai istrinya. Mungkin apakah mereka berdua masih memiliki rasa cinta.
'Astagfirullah, kenapa aku jadi berfikir yang buruk seperti ini.'