
Aku bersembunyi di balik pohon di sebelah halte. Kutatap lelaki itu dari jauh. Tampak senyumnya merekah. Kulihat seorang anak kecil turun dari mobil menghampiri Mas Kamal. Mas Kamal berjongkok, agar tubuhnya sejajar dengan anak lelaki itu. Dari tinggi badannya, kutaksir usia anak itu sekitar 5-6 tahunan.
Siapa dia?
Sepengetahuanku, semua keponakan Mas Kamal tidak tinggal di kota ini.
Kulihat Mas Kamal mengelus kepala anak itu, sepertinya Mas Kamal sangat sayang kepadanya.
Kukeluarkan ponselku, aku ingin menguji kejujuran Mas Kamal.
[Assalamualaikum, lagi di mana Mas?]
Kukirimkan pesan itu ke nomer HPnya.
Tak berapa lama kulihat pria itu merogoh saku, mengambil ponselnya. Kemudian mengetik sesuatu.
[Lagi di BabyQueen, ada apa?]
Ahh..
Lega aku membaca pesannya. Mas Kamal ternyata memang laki-laki jujur.
[Nggak ada, pengen tau aja]
[Kangen ya sama calon suami?:)]
Balasnya lagi, membuat hati ini merona.
[Ish, GR banget]
Kukirim pesan itu seraya mengulas senyum.
Kemudian mengembalikan lagi ponsel ke dalam tas.
Mungkin bocah laki-laki itu adalah anak temannya.
Tak terasa bis yang akan kutumpangi sudah berada di dekat halte. Aku bergegas naik ke dalamnya, untuk pulang ke rumah.
***
"Nduk gimana baju pengantinnya kemarin, bagus ndak?"
Tanya ibu menghampiriku yang tengah berada di ruang tengah.
"Bagus Bu."
Jawabku pendek.
"Kok seperti gak semangat gitu jawabnya Nduk?"
Aku mengela napas panjang. Bersandar di bahu wanita sepuh yang kini sudah berada di sampingku.
"Kalila bingung Bu."
Ujarku lirih.
"Lho kenapa kok bingung, 2 bulan lagi lho pernikahannya."
Diam. Aku tak menjawab pertanyaan ibu. Hanya beringsut mengeratkan peganganku ke lengan ibu.
"Istikharoh Nduk, mumpung belum jauh persiapannya. Minta petunjuk sama Allah. Apapun takdir yang berlaku, itulah yang terbaik bagi kita menurut Gusti Allah."
__ADS_1
Ujar ibu bijak.
"Ibu dan Bapak akan selalu ikhlas menerima apapun keputusan Allah." Ujarnya seraya mengelus kepalaku dengan kasih sayang. Kemudian beranjak meninggalkanku sendiri.
Entah kenapa wajah wanita itu terus-terusan membayangi pikiranku. Pertemuan Salma dan Mas kamal membuatku gamang akan pernikahan ini.
Membuat diri ini berpikir kembali, apakah Mas Kamal melamar karena benar mencintaiku atau sekedar pelarian belaka.
Mengingat perkenalan kami begitu singkat. Apa benar dalam waktu yang sesingkat itu Mas Kamal bisa jatuh hati kepadaku, sehingga memintaku menjadi istrinya. Atau ini hanya sebuah manifestasi pernyataan menyerah, karena Salma tak kunjung termiliki olehnya. Sehingga dia memutuskan untuk mencari seorang wanita untuk menggantikan Salma dalam hidupnya. Pernikahan impianku adalah pernikahan yang di dasari rasa saling mencintai satu sama lain, tanpa ada bayang masa lalu. Seperti hal nya aku saat ini yang telah melupakan Azzam dari kehidupanku.
Aku beranjak dari ruang tengah. Menuju ke belakang rumah. Mengambil wudhu kemudian bergegas melaksanakan sholat Isya. Dan kusambung dengan sholat istikharoh. Mengharap petunjuk tentang takdir pernikahan yang akan kujalani dengan lelaki dari pesisir utara Jawa Timur itu. Jikalau memang pria itu adalah imam terbaik yang dipilih Allah untukku, aku memohon agar dilancarkan segala sesuatunya. Namun, apabila lelaki itu bukanlah yang terbaik menurut Allah, diri ini ikhlas menjadi singelillah kembali di usia yang sudah berkepala tiga ini.
***
"Sudah siap?"
Tanya Mas Kamal di teras rumahku. Hari ini kami berencana melakukan survey catering untuk acara pernikahan kami.
"Sudah Mas."
Jawabku mengulas senyum.
Saat ini aku sudah bersemangat kembali, menghilangkan rasa cemburu dan khawatir yang berlebihan akan wanita masa lalu Mas Kamal itu. Mencoba memulihkan kembali rasa optimis kepada Mas Kamal. Bahwa lelaki itu telah melupakan Salma. Dan memang dia melamarku karena mencintaiku sebagai calon istrinya.
"Sudah dicatat khan list catering yang akan disurvey?"
"Sudah Mas."
Anggukku.
"Kalo begitu kita berangkat sekarang ya."
Kami melangkah menuju mobil Mas Kamal yang terparkir di halaman rumah.
Sebentar kemudian, kuda besi itu telah melaju membelah jalanan Surabaya yang panas.
Jasa catering pertama yang kami datangi adalah rekomendasi Ibu. Disana kami melihat menu makanan yang ditawarkan lengkap dengan harganya. Kemudian mencicipi beberapa menu yang sudah disajikan. Namun kami kurang begitu sreg dengan catering tersebut. Rasanya kurang cocok di lidah Mas Kamal. Tentunya akan tidak match pula dengan selera keluarga calon suamiku.
Kami berlanjut ke jasa catering kedua. Rekomendasi Kalina, teman kerjaku.
Sama seperti saat kami di catering pertama. Disana kami dijamu beberapa menu oleh pemilik catering. Rasanya cocok di lidah kami berdua, namun dari segi harga rasanya terlalu over budget. Sehingga kami harus melanjutkan perjalanan survey ke catering ketiga.
"Capek juga ya Mas, padahal cuma survey katering."
Keluhku sembari menyandarkan tubuh di kursi mobil Mas Kamal.
"Semangat dong, khan ini demi hari bahagia kita."
Senyumnya merekah menyemangatiku.
"Ini belum seberapa lho dibanding capeknya nanti menjadi seorang istri dan ibu."
Aku menatapnya. Kemudian tersenyum ke arahnya yang sedang duduk di balik kemudi.
Rasa bahagia menyeruak tatkala mendengar perkataanya. Terbayang indahnya menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak yang lucu.
Tak terasa kami sampai di catering ketiga. Rekomendasi Mas Daniel, rekan dosen Mas Kamal. Beliau bilang selain rasanya enak, harganya juga terjangkau dan pelayanannya memuaskan.
"Assalamualaikum."
Aku mengetuk pintu rumah katering itu.
__ADS_1
Di depan rumah terdapat plakat
'Al FARISY CATERING'
"Waaaikumsalam, ya tunggu sebentar!"
Suara derap kaki melangkah ke arah ruang depan.
"Maaf kami mau tanya-tanya survey untuk acara pernikahan."
Ujarku kepada perempuan yang usianya sekitar 23 tahun itu.
"Oh ya silahkan Mbak, monggo masuk ke
dalam."
"Terimakasih Mbak."
Aku dan Mas Kamal melangkah masuk rumah yang bertipe 45 itu.
Rumah katering in sangat bersih dan rapi.
"Monggo silahkan ini menu dan daftar harganya."
Ujar perempuan itu kepada kami.
Aku dan Mas Kamal membuka buku menu yang terlaminating itu. Membaca menu dan melihat harganya.
"Maaf kalo boleh tahu untuk kapan ya Mbak?"
"2 bulan lagi Mbak."
Jawabku.
"Oh ya baik Mbak, silahkan dilihat dulu. Saya tinggal ke belakang dulu, ambil tester, kebetulan kami sedang ada orderan katering untuk acara seminar."
Pamitnya.
Aku dan Mas Kamal mengangguk.
Sejurus kemudian, perempuan itu sudah datang membawa beberapa piring menu makanan. Kulihat banyak macam yang disajikan sambel goreng kentang ati, ayam goreng, cap jae dan sate ayam.
Kami mulai mencicipi satu persatu makanan itu.
Dan menurutku masakannya sangat enak. Dari segi harga pun masih masuk budget kami.
"Baik Mbak, saya jadi pesan untuk 100 tamu."
Ucapku pada perempuan itu.
"Ya Mbak, sebentar saya panggilkan Ibu dulu. Kalo untuk orderan biasanya langsung dengan bos saya."
Jawabnya.
Perempuan itu kemudian meninggalkan kami yang kembali fokus membuka buku menu. Perempuan itu melangkah ke dalam rumah catering untuk memanggil bos nya.
Tak lama perempuan itu kembali menemui kami bersama dengan seorang wanita cantik bergamis.
"Kamal--"
Ucap wanita itu dengan nada terkejut.
__ADS_1