
Eps. 41
'Deg.
Jantungku kembali tak beraturan. Apa aku salah dengar barusan dengan apa yang dikatakan Rohman. Aku diam sejenak dan berfikir. Bagaimana mungkin aku belum jadi istrinya, namun dia akan memberikan semua gajinya untukku. Padahal setahu aku gaji pegawai BPR itu lumayan loh.
"Sayang, kenapa diam?"
"Eh, enggak mas. Aku hanya berfikir jika aku salah dengar barusan."
Senyum manis dengan lesung pipi menghiasi wajahnya. Sungguh mempesona sekali wajah Rohman jika tersenyum.
"Kamu nggak salah dengar kok."
"Maaf mas, untuk kali ini aku menolak tawaran kamu. Bukan maksud apa apa. Hanya saja aku tidak ada hak untuk itu. Karena aku belum jadi istrimu."
"Secepatnya kamu akan jadi istriku. Dan semua yang aku punya akan jadi milik kamu. Tapi dengan syarat.." Rohman berhenti berbicara. Dia menatapku dengan serius.
"Syarat apa, mas?"
"Jangan pernah kecewakan aku. Dan ikutlah tinggal bersamaku selamanya. Aku mau kamu jadi yang terakhir dalam hidupku. Hingga maut memisahkan kita."
Aku terdiam mendengar kata kata Rohman. Sebegitu besarkah rasa cinta itu padaku. Aku juga berharap semoga ini yang terakhir. Aku juga ingin mengubur dalam kenangan yang sudah sudah.
Karena jika teringat, pedih rasanya. Perjalanan cinta yang sangat menyakitkan. Semoga tidak terulang lagi dalam hidupku.
"InsyaAllah, mas. Karena kehidupan manusia hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik."
Rohman menggenggam tanganku dengan erat. Lagi lagi senyum manisnya membuat aku meleleh. Aku terbuai dan terlena oleh dirinya.
"Jangan lupa besok minggu jam empat sore aku jemput."
"Iya, mas."
"Ya sudah kita jaoan lagi, yuk."
"Hah, jalan? Emang mau kemana lagi kita? Ini sudah malam loh, mas?"
"Baru juga jam setengah sembilan. Emang kamu nggak mau beli apa apa dulu gitu?"
"Enggak mas, nggak ada yang mau aku beli. Lagian sudah malam juga mau cari apaan."
"Yakin mau pulang?"
"Iyalah, mas."
"Kita mampir ke minimarket depan sana dulu ya ."
"Kamu mau beli apa, mas?"
"Mau beliin kamu jajan, biasanya orang hamil itu suka laper. Kasian kamu nanti kelaperan."
__ADS_1
"Ih, tau aja kamu."
"Ya udah, ayok sayang."
Rohman menuju meja kasir dan membayar semua makanan yang kami pesan tadi. Setelah itu kami bergegas menaiki motor. Lalu Rohman mulai melajukan kendaraan menuju minimarket terdekat.
Tak butuh waktu lama, kami sampai dan segera masuk ke mini market. Rohman memasukkan beberapa biskuit, roti, dan susu ke dalam keranjang. Cukup banyak yang ia beli untukku.
Lalu Rohman berjalan menuju rak tempat kebutuhan mandi. Dia memasukkan lulur, sabun, pasta gigi, sampo, dan tissu.
Dia berjalan lagi menuju tempat kosmetik. Mengambil sebuah facial wash dan hendak dimasukkan ke keranjang. Namun aku menolaknya karena itu bukan sabun cuci muka yang biasa aku pakai.
"Mas, itu buat siapa facial washnya?"
"Buat kamu, lah. Masak iya aku pakai ini."
"Maaf mas, aku nggak pernah pakai itu. Takutnya nggak cocok di wajah."
"Lalu pakai yang mana?"
"Nggak usah saja, mas. Aku masih ada kok."
"Ambil saja, sayang."
Ada rasa tidak enak hati saat aku akan mengambilnya. Namun Rohman terus memaksa untuk mengambilnya.
"Aku pakai ini, mas. Enak di wajah."
"Oh itu, ya sudah sekalian krimnya ya."
"Ambillah sayang apa saja yang kamu mau. Uangku tidak akan habis hanya untuk membeli barang seperti ini."
"Sudah cukup itu saja, mas. Ini udah lebih dari cukup."
"Yakin nggak ada yabg ketinggalan lagi?"
"Mmm, aku rasa cukup mas."
"Ya sudah ayo ke kasir. Ingat jangan mengeluarkan uang sepeserpun. Biar semua kebutuhan kamu aku yang bayar. Ingat nggak ada penolakan."
"Iya mas, terserah kamu saja. Aku ngikut gimana baiknya."
"Bagus, itu jawaban yang aku inginkan."
Usai membayar, Rohman mengantarkan aku kembali ke kost. Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang.
Ku pelut erat tubuh Rohman. Kurasakan sesuatu yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kehangatan dan kenyamanan yang aku rasakan saat ini.
Berbeda dengan apa yang aku rasakan ketika sedang bersama dengan Rendy ataupun Jimmy. Ya, aku memang mencintai mereka. Namun Cintaku ke Rohman jauh lebih besar dibanding mereka.
'Astaga, apa yang aku fikirkan saat ini. Sadar Lisa kamu sedang bersama Rohman. Bukan bersama Rendy atau Jimmy. Kubur dalam dalam kenangan lama saat bersama mereka. Ingat Lisa ada Rohman yang sekarang sedang bersama kamu.'
__ADS_1
Fikiranku kembali tak beraturan. Mereka sering sekali muncul dan mengganggu fikiranku. Entah mengapa rasanya aku menjadi sangat tidak tenang.
Tak butuh waktu lama, akhirnya kami sampai di depan kost. Rohman memarkirkan kendaraan di depan gerbang lalu menguncinya.
Rojman bergegas membawakan barang barang belanjaanku menuju kamar kost. Aku sempat menolak karena tidak enak hati. Sudah dibelikan masih dibantuin juga.
"Sudah mas, biar aku saja yang bawa masuk."
"Sudah aku saja, ayo kamu jalan dulu bukakan pintunya."
"Iya sudah mas, terimakasih."
Aku berjalan mendahuluinya menuju kamar kostku. Lalu segera aku membuka pintu dan mempersilahkan Arman masuk.
"Masuk dulu mas, apa kamu istirahat dulu di sini."
"Tidak sayang, aku langsung pulang saja. Kamu istirahat ya. Jangan capek capek."
"Iya, mas."
Sebelum pulang Arman memeluk aku dan memberikan kecupan mesra di bibirku. Akupun diam tanpa kata.
"Aku pulang dulu ya sayang. Aku mencintai kamu."
"Iya mas, terimakasih buat semuanya."
"Kalau kamu ada apa apa, atau butuh sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya padaku. Ingat kamu milikku."
"Iya mas, kamu hati hati di jalan."
Rohman mulai berjalan keluar dan menuju kendaraannya yang terparkir di depan. Aku terus menatapnya hingga dia benar benar pergi. Tubuhnya yang gagah, wajahnya yang manis dengan lesung di pipinya membuat aku tak ingin jauh darinya.
Baru saja dia pergi, diri ini sudah merindukannya. Rasanya aku ingin selalu ada di dekatnya. Ingin bersandar dan di bahunya dan menceritakan banyak hal.
Namun khayalan ity buyar seketika saat ada sebuah panggilan masuk. Di layar ponsel tertuliskan nama Bu Rita.
'Deg.
'Ibunya Rendy, ada apa beliau tumben sekali menelpon aku malam malam. Ucapku dalam hati. Lalu aku bergegas untuk mengangkat teleponnya. Mana tau ada sesuatu yanf penting.
""Assalammualaikum, bu."
"Waalaikumsalam, nak. Maaf sebelumnya, apa ibu mengganggu istirahatmu, nak?"
"Oh, jelas tidak bu. Saya belum tidur, kok. Oh iya bu, ibu apa kabar?"
"Alhamdulillah ibu, sehat. Ibu harap kamu juga sama sepeti ibu ya, nak."
Alhamdulillah, Lisa sehat bu. Oh iya bu, ada tumben malam malam ibu menelepon saya? Apa terjadi sesuatu?"
"Ehm, sebenarnya ada yang mau ibu bicarakan sayang. Ini mengenai Rendy."
__ADS_1
'Deg.
Rendy, ada apakah ini. Kenapa perasaanku tiba tiba tidak enak mendengar nama Rendy.