Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 55


"Awal awal aku bercerai dengannya mungkin sangat sulit untuk melupakannya. Hari hari ku selalu teringat dengan Vina. Semakin aku melupakan, aku semakin teringat. Menambah sakit hati ini."


"Ya, dulu aku sangat mencintainya. Tapi itu dulu, sebelum aku kenal kamu. Sekarang dia hanyalah mantan di masa lalu, sayang. Aku sudah tidak memiliki rasa cinta untukknya. aku hanya cinta sama kamu."


Entah mengapa aku sangat kurang puas dengan jawaban mas Rohman. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu. Tapi ya sudahlah, mungkin suatu saat nanti semuanya akan terungkap tanpa aku cari tahu.


"Mas, kalau aku perhatikan Vina dan Chika hampir mirip ya."


"Mirip gimana, sayang? Jelas jelas mereka beda."


"Dari perawakannya saja mirip. Kulit putih, rambut pirang, dan badan berisi alias semok."


"Kamu bicara apa sih, sayang?"


"Yah, kan itu menurut aku mas."


"Mungkin hanya kebetulan saja hampir mirip."


"Hmm, ya sudah mas tidak perlu dibahas lagi."


"Apa kamu cemburu tadi aku bertemu Vina?" Seketika wajahku berubah masam. Aku cemberut mendengar mas Rohman menyebut nama Vina. Apakah aku benar benar cemburu padanya.


"Cemburu?"


"Iya, sepertinya kamu cemburu sama Vina."


"Ada ada saja kamu, mas. Aku cemburu atas dasar apa emangnya. Aku nggak ada cemburu sama kamu dan Vina. Buat apa juga aku cemburu."


"Ya kan mana tahu, sayang." Ucap mas Rohman menggodaku sambik tersenyum.


"Sudah mas, aku mau istirahat. Aku capek sekali."


"Kamu capek apa mengalihkan topik, sayang?"


"Apa sih, mas?"


"Justru aku senang jika kamu cemburu padaku sayang. Tidak perlu malu malu. Itu artinya kamu benar benar cinta sama aku."


"Terserah kamu saja lah, mas. Aku tidur dulu, besok aku mau balik kampung. Banyak yang harus diurus."


"Aku antar besok sore kalau aku sudah pulang kerja."


"Nggak usah mas, aku bisa naik bis."


"Nggak usah ngelawan, kalau dibilangin jangan bandel."


"Hmm, iya iya."

__ADS_1


Saat aku akan memejamkan mata, mas Rohman membisikkan sesuatu di telingaku. Bulu kudukku berdiri. Merinding yang aku rasakan saat ini.


"Sayang, apa kamu mencintaiku." Seketika aku menoleh padanya dan menatapnya dengan heran.


"Kamu kenapa bertanya dengan pertanyaan seperti itu,mas ?"


"Aku hanya ragu padamu. Jika aku perhatikan sepertinya kamu tidak mencintaiku, sayang."


"Jika itu yang kamu rasakan, sebaiknya pernikahan itu dibatalkan saja."


"Jangan seenaknya seperti itu, sayang. Pernikahan bukan ajang untuk main."


"Lantas kenapa kamu masih ragu."


"Entahlah sayang, aku merasa di hatimu masih ada orang lain."


"Sudahlah mas, itu hanya perasaan kamu saja. Sebaiknya kita istirahat."


Mas Rohman kembali merebahkan tubuhnya di sebelahku. Pandangan kami berdua menatap langit langit dinding. Kami saling diam setelah percakapan panjang. Mungkinkah aku salah berucap sehingga mas Rohman terdiam. Aku berharap semoga dia tidak marah padaku.


Setelah saling diam akhirnya mas Rohman memulai pembicaraan lagi. Dan untuk kali ini aku sangat terkejut saat dia berkata menginginkan sesuatu dariku.


"Sayang, jika kamu benar benar mencintaiku, bolehkah aku meminta sesuatu dari kamu?"


"Sesuatu, apa itu mas?"


"Ehm, aku.." Ucapan mas Rohman berhenti. Dia ragu ragu untuk mengatakannya.


"Apa boleh aku menikmati tubuh kamu, sayang?"


Sontak saja aku terkejut. Entah apa yang dia pikirkan sehingga dengan tiba tiba memintanya padaku. Aku fikir dia bisa kuat iman, tapi ternyata..


"Kamu nggak lagi bercanda kan, mas?"


"Ada saatnya aku bercanda diwaktu yang tepat. Tapi kali ini aku sedang tidak bercanda."


"Jujur sayang, aku menginginkan kamu. Apa aku boleh melakukannya?"


"Mas, sebentar lagi kita sah loh. Apa kamu nggak bisa tahan sebentar saja. Tinggal beberapa hari lagi kok."


"Ijinkan aku, sayang." Mas Rohman mendekati aku. Dan mengecup mesra bibirku.


"Aku lagi hamil, mas."


"Aku tahu, sayang. Aku akan melakukannya dengan hati hati."


Akhirnya aku hanya pasrah dengan apa yang dilakukan mas Rohman. Dia benar benar tidak mau menahan hasratnya hingga menuju hari pernikahannya.


Satu persatu pakaian aku sudah terlepas. Dan kali ini tubuh kami berdua tanpa dibalut sehelai benangpun. Kami bergelut di atas kasur. Keringat mulai membasahi tubuh.

__ADS_1


Aku akui mas Rohman lebih perkasa. Dengan tubuh yang gagah mampu membuat aku lemas tak berdaya. Cukup lama kami melakukannya. Hingga akhirnya mas Rohman menyudahinya. Karena melihatku yang berkali kali merintih menahan sakit dan tubuhku juga sangat lemas sekali.


Kami tiduran bersebelahan. Aku merasa bersalah sekali. Sepertinya mas Rohmab sangat belum puas. Namun apalah dayaku. Mengingat sedang hamil muda, tidak ingin melakukannya dengan cara berlebihan.


"Mas."


"Iya, sayang."


"Apa kamu merasa puas?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Maaf mas, aku tidak bisa melakukannya dengan berlebihan. Aku tahu kamu pasti kecewa padaku."


"Kamu bicara apa, sayang? Justru aku sangat menyukai milikkmu. Aku sangat puas sekali. Aku tahu kamu sedang hamil, jadinya kamu tidak mau berlebihan. Aku tahu itu, sayang. Dengan kamu memberikan padaku saja aku sudah sangat bahagia. Justru aku berterimakasih padamu."


Masa kehamilan muda memang sangat rawan keguguran. Dan itu juga aku konsultasi dari dokter kandungan. Boleh berhubungan, asalkan jangan sering dan jangan berlebihan. Karena berdampak pada janin. Jika tidak kuat maka akan keguguran.


"Iya sudah, mas. Maaf, aku tidak ada maksud apa apa."


"Iya, sayang. Aku mengerti, sekarang lebih baik istirahat. Kamu pasti kelelahan."


"Iya mas, aku lelah sekali."


Pandangan mata ini mulai kabur. Dan akhirnya mata ini tertutup. Aku istirahat sejenak intuk melepaskan rasa lelah di tubuh.


********


Siang ini aku berkemas kemas karena sore nanti aku akan pulang kampung guna mengurus segala sesuatu. Sambil menunggu mas Rohman pulang, aku membuka ponsel untuk sekedar melihat lihat saja.


Getar ponsel membuatku terkejut. Sebuah panggilan masuk melalui aplikasi WA. Terdapat nama Ibu Rita, yang tidak lain adalah ibunya Rendy.


'Deg.


'Astaga, kenapa bu Rita masih saja menghubungi aku. Sebenarnya apa maunya.'


Mengingat bu Rita sangat baik padaku, akhirnya aku geser tombol warna hijau. Dan segera aku jawab telepon dari bu Rita.


"Iya, bu. Ada apa?"


"Nak, apa kamu ada waktu untuk bertemu ibu. Ibu ingin sekali meminta tolong padamu."


"Maaf bu, bukan maksud aku tidak mau menolong. Tapi saat ini aku sedang sibuk untuk mengurus acara pernikahan untuk minggu depan."


"Nak, kamu akan menikah secepat ini?"


"Ibu kan tahu aku sedang hamil. Jika tidak segera menikah, kandungan aku semakin membesar."


Sebentar saja, nak. Ini soal Rendy, dia menyebut nama kamu, nak. Apa kamu tidak ada niatan untuk menjenguk Rendy?"

__ADS_1


"Sekali lagi maaf, bu. Jika saat ini aku benar benar tidak bisa. Ini aku mau pulang kampung, bu. Untuk mempersiapkan segala sesuatu nanti."


"Ibu tetap menunggu kamu, nak. Meskipun Rendy saat ini bersama wanita lain, ibu yakin di dalam hatinya hanya ada kamu. Dia hanya sedang tidak sadar, sayang."


__ADS_2