
Eps. 59
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Pintupun terbuka, ternyata mas Rohman. Dia beranjak masuk dan duduk di sebelahku yangsudah selesai melaksanakan sholat. Entah mengapa rasanya aku sangat malas sekali berbicara dengannya. Namun mas Rohman mengajakku berbicara. Akupun menjawab pertanyaannya.
"Sayang, kenapa kamu sholat magrib tidak mengajak aku?"
"Ehm, aku kira kamu masih sibuk mas. Aku hanya takut saja ganggu kamu sama dia."
"Dia? Dia siapa yang kamu maksud, sayang?"
"Siapa yang aku maksud kamu benar benar nggak tahu apa emang nggak tahu, mas?
"Kamu sadar nggak mas, tadi kamu foto bareng sama mantan istri kamu di depan aku? oke, aku nggak apa apa masih bisa tahan masih bisa memaklumi. Tapi ini di depan umum. Aku punya harga diri, mas? Untung orang tua aku udah pulang semua, coba saja kalau lihat kejadian ini. Apa jadinya nanti?"
"Kamu tuh harusnya bisa mikir, mas. Aku tahu dia mantan istri kamu. Harusnya kamu tahu diri dan tahu tempat."
Belum sempat mas Rohman menjawab semua kata kata yang keluar dari mulutku, aku lebih dulu meninggalkan dia di dalam kamar. Dari pada berdua nanti yang ada aku malah semakin emosi. Dan ujung ujungnya pasti bertengkar.
Aku keluar untuk mengisi perut. Karena perut ini terasa sangat lapar sekali. Setelah seharian jadi ratu di sebuah pelaminan, aku harus mengisi tenaga dulu.
Sedikit nasi, sepotong daging dan segelas teh hangat mampu mengisi kekosongan perut. Rasanya sangat mual sekali jika perut dalam keadaan kosong. Pandangan juga sedikit terganggu badan juga rasanya sangat gemetar.
'Alhamdulillah aku sudah kenyang. Aku memutuskan untuk kembali ke depan untuk menyambut para tamu yang mungkin masih banyak lagi.
Aku mulai duduk di sebuah kursi yang di maa di situ sudah ada mertua aku. Lalu tak berselang lama mas Rohman muncul dan duduk di sebelahku. Aku tahu ini sangat tidak baik karena aku marah sama dia. Tapi menurutku ini sungguh sangat keterlaluan.
__ADS_1
Di mana mana pasti istri bakal marah jika melihat suaminya sedang bersama wanita lain. Apalagi wanita itu dulu pernah ada hubungan. Dan lebih tepatnya bisa disebut dengan kata mantan.
Jika aku ingat kejadian yang tadi, sungguh sangat menyakitkan. Bisa bisanya mas Rohman berfoto foto mesra dengan mantan istrinya. Padahal jelas jelas aku ada di sampingnya. Tapi kenapa dia tega melakukan itu. Apalagi ini di depan umum. Aku sangat malu sekali dengan kelakuan mas Rohman dan juga mantan istrinya.
Atau jangan jangan mantan istrinya ini sengaja membuat hatiku panas dengan dia menempel mesra pada mas Rohman. Aku tidak sanggup lagi untuk membayangkannya.
Aku yang terus terusan terfikirkan masalah tadi memberanikan diri untuk bertanya langsung pada mas Rohman. Dari pada hati ini tidak tenang. Dan terus dihantui rasa penasaran. Sebenarnya aku malas untuk bertanya. Aku takut nanti ujung ujungnya akan jadi sebuah pertengkaran.
"Mas, Apa kamu masih mencintai mantan istri kamu?" Sontak mas Rohman langsung menoleh ke arahku dengan mata sedikit melotot. Mungkin dia terkejut dengan pertanyaanku atau gimana aku juga tidak faham.
"Kamu kenapa tiba tiba bertanya seperti itu, sayang?"
"Tidak, aku hanya ingin memastikan saja. Apakah kamu masih mencintai mantan istri kamu, mas. Jawab saja ita atau tidak. Tidak perlu berbelit belit. Jawabannya sangat simple kok."
Ku oerhatikan mas Rohman tampak menghembuskan nafas dengan kasar. Dia diam sejenak mungkin sedang menyusun kata kata untuk menjawabnya. Atau mungkin dia sedang berusaha untuk menutupi sesuatu.
"Sayang, dulu dia adalah istriku. Dan tentu aku sangan mencintai dia. Tapi itu dulu saat kita masih menjadi suami istri."
"Beda dengan sekarang, aku hanya mencintai istriku. Bukan mencintai mantan istriku. Bagiku dia tetaplah mantan istri. Nggak ada yang lebih, sayang."
"Ya mas, aku tahu dia mantan istrimu. Tapi yang bikin aku kecewa, kenapa kamu tidak berusaha menolak tadi ketika dia mengajakmu foto bersama. Apalagi sangat mesra dan di deoan umum. Di sini juga ada aku lho. Kamu bisa mikir nggak sih, mas? Kamu tahu perasaan aku gimana nggak, mas?"
"Seandainya itu terjadi pada dirimu, aku yakin kamu pasti juga akan marah. Iya, kan mas?"
"Iya sayang, aku tahu aku sangat bodoh. Maaf jika aku sudah menyakiti kamu, sayang. Lain kali aku akan bersikap tegas jika mantan istriku berbuat seperti itu lagi denganku. Aku minta maaf ya, sayang."
__ADS_1
"Aku tahu mas, kamu itu sebenarnya masih cinta kan sama dia. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi."
"Astaga sayang, kamu kenapa bicara sepsrti itu? Oke aku ngerti aku salah, tapi tolong jangan berfikir yang macam macam. Aku cuman cinta sama kamu saja."
Tak ku balas ucapan mas Rohman karena ada beberapa tamu undangan yang hadir. Dan aku segera berdiri untuk menyambut dan menyalaminya. Aku harus tetap tersenyum. Aku tidak boleh memperlihatkan kemarahnku di depan umum. Apalagi ini sedang di acara resepsi pernikahanku. Jadi aku harus terlihat bahagia.
Malam sudah semakin larut. Alhamdulillah sudah tidak ada lagi tamu undangan yang datang. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Aku segera bergegas mengambil air hangat untuk mandi. Karena badan ini rasanya sangat lengket dan juga pegal pegal. Ditambah lagi cuacanya sangat dingin. Jadi tidak mungkin aku mandi dengan menggunakan air dingin. Nanti yang ada malah aku jadi masuk angin.
Aku mandi dengan cepat tidak perlu berlama lama. Mengingat hari sudah cukup malam dan aku juga dalam keadaan mengandung, jadi tidak baik mandi malam malam. Kata orang tua jaman dahulu pamali.
Usai mandi aku segera masuk kamar. Ternyata sudah ada mas Rohman yang sedang duduk di tepi ranjang. Dia melihatku dan tersenyum padaku. Aku pun berusah cuek padanya. Tak ku balas senyum darinya.
Saat aku tengah berdiri di atas cermin, tiba tiba mas Rohman memelukku dari belakang. Dia mencium pipiku dengan mesra. Aku tetap pura pura cuek. Biar dia tahu jika aku sedang kesal dengannya.
"Sayang, apakah kamu masih kesal dengan aku?"
"Mas fikir saja sendiri bagaiamana perasaanku."
"Iya mas tahu, mas minta maaf ya. Mas hanya cunta sama kamu saja nggak ada yang lain.
"Sudah malam mas, Aku capek mau istirahat."
"Iya sayang, aku juga mau tidur. Jangan ngambek lagi ya, sayang. Aku nggak mau kalaukamu ngambek terus. Aku merasa kesepian kalau nggak denger kamu ngomong."
__ADS_1
"Sudah mas, jangan bicara terus. Kapan mau tidur kalau ngomong terus."
"Iya sayang, ini mas udah mau tidur kok. Mas Rohman memelukku dengan erat. Sebelum tidur dia juga mengecup mesra bibirku.