Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Bagian 6


__ADS_3

Ya, aku menabrak tubuh Azzam.


Rupanya kesadaranku saat bangun tidur tadi belum sempurna. Hingga aku tak sadar ada suara lelaki dari kamar mandi.


Pria itu menemani Nisa di dalam.


"Ups.. maaf."


Aku menjauh dari tubuhnya.


Azzam selintas menatapku. Kemudian bergerak menjauhkan dirinya dari tubuhku.


Lelaki itu tersenyum kemudian kembali memasuki kamar mandi. Sejurus kemudian dia keluar dengan membimbing Nisa di sampingnya. Sementara aku tergopoh - gopoh kembali ke ranjang yang tadi kupakai tidur.


Azzam membaringkan istrinya perlahan.


Senyum tersungging dari bibirnya. Nisa membalas senyum itu dengan manis.


Lelaki itu terlihat begitu sabar merawat istrinya.


Reflek aku memegang dada saat melihat pemandangan itu. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan agar aku tak melihat adegan kemesraan itu.


Ah, kenapa masih ada goresan luka di hati. Kuhembuskan nafas dalam dan membuangnya perlahan.


"Nisa, aku mau solat dulu terus pulang ya."


Pamitku padanya. Aku tak akan sanggup berada di tempat ini lebih lama.


Tak tahan rasanya melihat mereka di depanku.


Nisa mengangguk perlahan. Sepertinya dia menangkap sikapku yang agak canggung. Aku melangkah menuju ranjangnya dengan menunduk. Tak berani menatap Azzam yang kini berada di sebeberang ranjang.


"Makasih banyak untuk semuanya ya Lila."


Ujar Nisa berterimakasih saat aku memeluk tubuhnya. Aku mengangguk mengelus rambutnya.


"Permisi Mas, saya pamit dulu."


Ucapku basa basi pada Azzam seraya terus menundukkan padanganku. Dari ekor mata aku bisa melihat dia menatapku lekat.


"Oh ya Mbak, terimakasih sudah membantu istri saya."


Ujarnya datar.


Mbak?


Istri saya?


Astaghfirullah.. kenapa begitu sakit mendengar kata itu. Apakah ini berarti bahwa Azzam memang sudah melupakanku. Aku melangkah keluar dengan netra berembun.


Kini aku sudah berada di mushola rumah sakit untuk menunaikan sholat maghrib.


Mushola ini telah sepi dari jamaah. Hanya ada dua orang yang terlihat masih melaksanakan sholat maghrib. Mushola berukuran 6 × 4 ini dibagi menjadi dua ruangan. Shaf laki laki dan perempuan. Dibatasi oleh korden berwarna biru marine.


Kurebahkan badanku di atas karpet motif bunga. Aku memutuskan untuk menunggu adzan isya yang akan berkumandang sekitar 10 menit lagi.


Menghabiskan waktu dengan membaca berita artis terkini dari sebuah portal online. Kemudian mengintip akun fesbukku. Membaca status teman yang bersliweran di beranda. Macam - macam isinya. Dari status yang jualan, sharing berita- berita terkini,sampai upload foto kemesraan dengan suami dan anak.


Kudengar seseorang mengumandangkan azan dari arah shaf laki - laki. Aku bergegas mengambil air wudhu kemudian mengenankan mukena.


Lantas berdiri sembari menunggu iqomat terdengar.


"Allahu akbar. Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirobbil 'alamiin ..."


Sekujur tubuhku tiba - tiba melemas saat mendengar suara imam yang melafalkan takbir dan surat al fatihah.


Suara itu milik Muhammad Azzam Hasan.


Sungguh rasanya tak kuasa aku melanjutkan sholat.

__ADS_1


Hatiku bergetar mendengarnya melantunkan umul quran.


Lagi - lagi kristal bening mengalir dari pelupuk mata.


Aku seperti kembali ke beberapa tahun silam. Saat menjadi makmum Azzam saat di kampus dulu. Bacaan alquran yang begitu fasih membuat lelaki sederhana itu selalu didapuk menjadi pemimpin sholat.


Tapi kali ini berbeda. Dulu aku begitu senang bisa menjadi makmumnya. Sekarang aku seperti cacing kepanasan, ingin segera mengakhiri ibadah ini.


Sungguh ini adalah 4 rokaat terburuk sepanjang hidupku.


Tak khusuk sama sekali!


Setiap gerakan sholat selalu wajah lelaki itu muncul dalam benakku.


Ah, kenapa Allah mempertemukanku dengannya saat diri ini tengah berjuang melupakan semua.


Suara salam diakhiri doa membuatku sedikit lega.


Kutangkupkan kedua tangan ke muka.


Hatiku sesak menahan tangis yang berjejal di kelopak.


Aku tak tahu kenapa air mata selalu hadir saat diri ini mendengar suaranya.


Segera kulipat mukena kemudian melangkah meninggalkan mushola kecil ini. Menyusuri trotoar di jalan raya depan rumah sakit, mencari angkot yang bisa mengantarku pulang ke tempat kos.


Aku ingin segera berbaring di atas kasur empuk. Memejamkan mata untuk merilis segala beban yang seharian ini memenuhi kalbu.


*****


Hari ini terasa sepi. Tak ada Nisa di samping meja kerjaku. Tiada teman bercanda, tukar pikiran, dan teman makan siang di kantin. Sudah tiga hari dia dirawat di rumah sakit. Ingin sekali menjenguk dirinya namun aku tak mau bertemu dengan Azzam di sana. Entah alasan apa yang akan kuberikan jika nanti dia bertanya kenapa aku tak mengunjunginya.


"Lila, nanti sore aku sama anak-anak mau jenguk Nisa. Mau ikut gak?"


Tanya mbak Myra.


Tanyaku balik.


"Iyalah, anak-anak khan belum pada kesana."


"Ya lah Mbak, aku ikut mobil Mbak Myra ya." Pintaku.


"Ok."


Akhirnya hari ini aku memutuskan untuk menjenguknya. Aku sudah merasa kangen 3 hari tak bertemu dengannya. Setidaknya kalau pergi bareng-bareng, aku bisa bersembunyi di balik teman - temanku jika bertemu Azzam nanti.


Aku, Mbak Myra, Andi dan 6 orang lainnya saat ini sudah berada kamar perawatan Nisa.


Wajahnya semakin terlihat segar. Dia bilang bahwa kemungkinan hari ini bisa pulang ke rumah.


Azzam masih setia menemani istrinya.


Kemudian berbincang dengan Andi di balkon kamar ini. Sementara aku memilih untuk ngobrol dengan Nisa di ranjangnya.


Sesekali aku mencuri-curi pandang ke arah lelaki itu.


Pria dengan tinggi 170 cm itu terlihat lebih dewasa, wajahnya semakin bersih dan tampan. Janggutnya ditumbuhi rambut yang semakin menambah karisma lelaki berkulit sawo matang itu. Badannya lebih berisi. Sangat berbeda saat kami menjalin kisah beberapa tahun lalu.


Selintas netra kami beradu. Dia tersenyum ke arahku. Manis sekali. Tatapan itu selalu berhasil meneduhkan hatiku.


Jantungku mendadak berdegup tak beraturan.


Ya Allah, kenapa aku jadi salah tingkah.


Buru-buru aku membuang pandangan. Bercengkrama kembali dengan Nisa dan sejawat lainnya sebelum semua menjadi kacau.


****


"Lila, nanti sore ikut gue ke Panbil ya."

__ADS_1


Pinta Nisa di sela jam kerja. Panbil adalah nama sebuah mall yang lokasinya tak jauh dari tempat kami bekerja.


"Mau ngapain?"


"Nyari kado buat Mas Azzam."


Kado?


Perasaan hari ini bukan hari kelahiran pria itu.


"Emang dia ulang tahun?"


"Nggak..buat anniversary pernikahan ke 2 tahun."


Ujarnya girang. Wanita di hadapan terlihat begitu bahagia.


Aku menelan saliva berat.


Rupanya mereka sudah dua tahun menikah. Dan aku masih saja menjadi jomblo fisabilillah.


Sebutan unik dari Pak Edi, bos terbaikku yang terkadang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan.


Tak terasa hati ini sudah berdamai dengan takdir. Diri ini bisa menerima bahwa Azzam memang sudah bukan lagi untukku. Time will heal. Mungkin itu istilah yang tepat untukku yang selama 2 tahun ini berjuang menata hati untuk merelakan Azzam. Biarlah aku simpan cinta pertama ini di sudut hati yang paling dalam. Memang benar kata orang, mencintai bukan berarti harus memiliki. Sampai detik ini Nisa tak mengetahui kisah masa lalu kami.


***


Semilir angin mengibarkan hijab panjang berwarna maroon. Di depanku telah terhidang secangkir kopi latte dan sepotong roti manis. Hari ini aku berjanji bertemu dengan Nisa di kafe outdoor ini.


Dulu sebelum dia menikah kami sering mengunjungi kafe ini di akhir pekan. Menghabiskan waktu bersama dengan menikmati secangkir kopi dan beberapa kudapan manis. Sembari bercerita tentang segala hal. Kegiatan itulah yang akhirnya bisa mempereerat persahabatan kami yang kini sudah berjalan 4 tahun.


Namun hal itu berubah saat dia menikah. Kami tak pernah lagi mengunjungi tempat ini. Dan aku memakluminya. Sebagai seorang istri, tentu suami yang harus dia prioritaskan.


Tak berapa lama Nisa sudah berada di hadapanku. Wanita itu sungguh anggun dengan hijab besar yang membalit kepalanya. Selaras dengan pembawaanya yang cenderung kalem.


Dia memesan es kopi malaka kesukaannya.


"Udah lama nunggunya?"


Aku menggeleng.


"Tumben banget elu ngajakin ketemu di sini."


"Iya mumpung Mas Azzam lagi oti.


Dari kemarin sebenenya gue pengen ketemu elu. Cuman gak sempat - sempat."


Ujarnya menyeruput es kopi di gelas berukuran 250 ml.


Kulihat Nisa mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari dalam tasnya.


"Elu mau nglamar kerja pake segala bawa amplop?"


Tanyaku heran.


Dia menggeleng. Kemudian menyodorkannya padaku.


"Baca dulu."


'PROPOSAL TAARUF'


Aku menatapnya heran. Dia mengangguk seperti meyakinkan untuk membuka amplop ini.


Segera kukeluarkan 2 lembar kertas yang dari dalam amplop.


Kulihat nama ikhwan dan foto yang tertera di atas kertas itu.


"ASTAGHFIRULLAH...ELU GILA YA NIS!"


Sontak aku berdiri dari kursi sambil membanting amplop itu di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2