
Eps. 69
"Kamu beneran lagi nggak ada masalah kan, mas?"
"Aku nggak ada masalah sama sekali, sayang."
"Hmm, ya sudah. Ini diminum dulu tehnya. Mana tahu capek kamu hilang kalau sudah minum teh buatan aku."
"Kamu bisa saja, sayang."
"Oh iya, ini aku bikinkan kue juga mas."
"Buatan kamu sendiri, sayang?"
"Iya mas, aku selama ini belajar dari yutu"e cara cara membuat aneka kue. Dan alhamdulillah ini berhasil."
"Aku cobain, sayang."
"Silahkan, mas."
Mas Rohman memasukkan potongan kue bolu yang aku buat ke dalam mulut. Dia mengunyah dengan pelan sambil menikmatinya. Aku masih menunggu reaksi mas Rohman. Apakah kue buatanku enak atau tidak.
"Enak banget, sayang. Rasanya sangat manis seperti kamu."
"Kamu bisa saja, mas."
"Rencana kalau aku benar benar sudah pandai bikin kue, ingin sekali aku membuka usaha jualan kue. Walaupun kecil kecilan melalui via online."
"Jangan dulu, sayang. Aku belum kasih kamu ijin buat bekerja."
"Kenapa, mas? Kan aku jualannya di rumah."
"Kamu lagi hamil, yang. Aku nggak mau kamu sampai kecapekan terus kenapa kenapa."
"Lebih baik kamu banyak banyal istirahat saja."
"Ya sudah, mas."
"Ehm, sayang. Aku ingin sesuatu."
"Kamu mau apa, mas?"
"Aku ingin kamu, sayang."
Aku faham apa yang sedang mas Rohman inginkan. Sebenarnya aku ingin menolak, karena aku sudah mandi. Tapi aku takut akan menjadi dosa. Karena nantinya yang akan menanggung dosaku adalah suamiku.
Tapi aku juga pernah baca di artikel jika berhubungan badan akan mengurangi rasa stres dan lelah. Aku berusaha menolaknya. Namun mas Rohman tetap kekeh ingin melakukannya. Apa boleh buat aku melayaninya.
"Ehm, mas tapi aku baru saja mandi."
__ADS_1
"Apa kamu tega menyuruhku mandi lagi nanti. Ini sudah mau magrib loh, mas."
"Ayo sayang, sebentar saja."
Mas Rohman menggandeng tanganku. Akupun bangkit dari tempat duduk dan mengikuti mas Rohman ke kamar. Dan kamipun melakukan hubungan suami istri.
Namun aku merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda pada mas Rohman. Dia melakukannya dengan sangat brutal. Seperti dia sedang marah dan meluapkan emosinya. Aku takut karena ini tidak seperti biasanya yang selalu lembut dan penuh perasaan. Hingga akupun kewalahan dan merasa kesakitan.
Dan akhirnya mas Rohman menyudahi aktivitas panas ini. Aku merasa sangat kelelahan dan tubuhku terasa sakit. Mas Rohman pun juga membuat tanda merah hampir banyak sekali.
Nafas kami berdua tersengal setelah aktivitas tadi. Aku belum bangkit dari tidur karena masih mengatur nafas. Sungguh benar benar merasa sakit semua badanku.
"Mas."
"Ada apa, sayang."
"Mas, apa kamu sedang marah padaku?"
"Tidak, sayang. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku hanya merasa aneh saja padamu, mas. Tidak biasanya kamu seperti ini."
"Kenapa, sayang?"
"Kamu kok brutal sekali, mas? Kamu tidak biasanya seperti ini. Kamu beda banget."
"Sepertinya kamu sedang meluapkan kekesalanmu padaku."
"Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini. Rasanya aku sedang emosi. Tapi aku tidak tahu sedang marah pada siapa."
"Ya sudah, mas kalau kamu tidak marah padaku." Aku segera bangkit dan hendak memakai lagi pakaianku. Namun mas Rohman menahanku.
"Sayang, apa kamu marah atas lerlakuan aku tadi?"
"Tidak, mas. Sudahlah mas, lupakan saja. Aku mau mandi dulu. Sebentar lagi magrib."
"Sayang, aku minta maaf kalau sudah menyakiti kamu."
"Iya, mas." Aku berlalu menuju kamar mandi. Aku segera membersihkan diri karena sebentar lagi memasuki magrib. Tak lupa aku juga mencuci rambutku karena habis berhubungan.
Tak terasa waktu magrib pun sudah tiba. Kebetulan mas Rohman juga sudah mandi. Dan kita pun melaksanakan sholat magrib berjamaah.
********
Hari sudah berganti pagi. Aku melakukan aktivitas di pagi hari seperti biasa. Begitu juga dengan mas Rohman, dia juga turut membantu aku melakukan pekerjaan rumah. Karena dia tahu, istri itu bukan pembantu. Dia melakukan apa yang dia bisa. Di samping itu, dia juga tidak mahu aku kenapa kenapa karena tengah mengandung.
Sarapan pagi sudah ku hidangkan di meja makan. Aku memasak sayur bayam dan ayam goreng. Tidak lupa dirambah dengan sambal terasi. Aku segera menyuruh mas Rohman untuk segera sarapan selagi masih hangat.
"Mas, ayo makan dulu."
__ADS_1
"Iya, sayang. Sebentar aku mandi dulu sekalian soalnya badanku keringetan. Habis mandi nanti aku langsung makan."
"Ya sudah, mas."
Sambil menunggu mas Rohman mandi, aku asik bermain ponsel. Ku buka aplikasi whatsap, ada sebuah pesan dari Rendy.
[Lis, bisakah kita bertemu nanti?]
[Mau apa kita bertemu, mas]
[Aku kangen kamu.]
[Akan aku kabari lagi nanti, mas.]
Segera ku tutup aplikasi tersebut dan aku bergegas menuju ke meja makan. Karena mas Rohman sudah selesai mandi dan sudah siap di meja makan.
Aku mengambilkan nasi untuk mas Rohman. Dan aku juga turut ikut sarapan bersama mas Rohman. Ku perhatikan wajahnya, sungguh aku teringat akan kesalahanku kemarin.
Dosa besar yang sudah aku lakukan bersama dengan mas Rendy. Namun itu semua di luar kendali dan juga bukan kemauan aku. Ini karena aku dipaksa.
Namun entah mengapa semakin lama aku jadi semakin luluh dengan mas Rendy. Tidak seharusnya aku membalas pesannya yang mengajaknya ketemuan. Ingin sekali aku menolak dan memblokir semua akses, namun hatiku sangat berat sekali untuk melakukannya.
"Sayang, kamu kenapa lihat aku seperti itu?"
"Ahh, nggak mas. Aku hanya saja kangen sama kamu."
"Rasanya nggak mau jauh sama kamu, mas."
"Kamu ini ada ada saja, sayang. Aku kan kerja, sorenya juga sudah pulang."
"Yah gimana lagi, namanya juga pengantin baru, mas. Rasanya pengen berduaan terus nggak mau ditinggal."
"Sabar ya, sayang. Aku kan kerja juga buat kamu."
"Aku janji, nanti hari minggu aku akan temani kamu buat jalan jalan. Kamu mau ke mana aku akan turutin. Kamu mau beli apa juga aku akan belikan jika aku sanggup."
"Beneran, mas kamu mau ajak aku jalan jalan."
"Iya, sayang aku janji."
Aku tersenyum sumringah mendengar ucapan mas Rohman yang akan mengajak aku jalan jalan. Aku akan mencari tempat wisata yang dekat dekat sini. Karena memang sudah lama juga aku tidak pergi jalan jalan berdua.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Mas Rohman segera bangkit dari duduknya dan gegas berpamitan padaku. Karena akan segera berangkat kerja.
Aku mengantarkan mas Rohman hingga ke depan sambil membawakan tasnya. Ku cium punggung tangan mas Rohman. Dan dia pun segera mengendarai motor matiknya dan melaju meninggalkan halaman rumah.
Aku segera masuk dan mengunci pintu. Bergegas aku membereskan piring kotor lalu mencucinya. Tiba tiba teringat akan oesan dari Mas Rendy. Aku mempercepat pekerjaanku. Lalu segera mengambil ponsel dan kembali membuka whatsap. Sudah ada satu pesan baru dari mas Rendy.
"Lis, aku tahu suami kamu sudah berangkat kerja."
__ADS_1
"Bagaimana dengan ajakanku? Apakah kamu bersedia bertemu denganku?"