
Eps. 24
Jam kerja telah usai. Untuk hari ini kebetulan tidak ada lemburan. Aku bisa istirahat lebih lama, karena besok akan pulang kampung. Kebetulan juga aku ambil cuti.
Seperti biasa, aku pulang dengan membonceng Rere. Diikuti Andry dari belakang. Kami saling berpamitan di depan kost sebelum berpisah. Ku ucapkan terimakasih pada kedua temanku.
"Makasih ya, udah dianterin."
"Sama sama, Cha."
"Oh ya, selama cuti tolong handle kerjaanku ya. Hahaha."
"Nggak usah disuruh juga kita ngerti kali."
"Ya udah, kita pamit dlu Cha. Kamu hati hati besok semoga sampai tujuan dengan selamat."
"Iya, amin. Kalian juga hati hati, ya. Sampai ketemu lusa."
Saat kaki ini akan melangkah, terdengar suara seorang pria memanggilku. Aku spontan menoleh ke belakang. Seseorang turun dari motor matik berwarna putih. Dia lantas menghampiriku.
Mataku tak berkedip melihat pria itu di hadapanku. Tubuhnya yang kekar, dan kulitnya yang putih membuatku terkesima memandangnya.
"Ji...Jimmy."
"Kamu seperti melihat hantu saja, Cha. Biasa saja dong lihat aku jangan pakai melotot. Serem banget, tau nggak."
"Ehm, anu. Aku hanya kaget saja tadi. Kamu kok ada di sini ngapain? Jangan jangan kamu ngikutin aku, ya?"
"Kata katamu tidak pernah meleset, Cha. Aku memang sengaja ngikutin kamu."
"Apa? Jadi kamu beneran ngikutin aku?"
"Iya, Cha. Hanya ingin tahu saja kamu tinggal di mana. Ternyata di sini, nggak jauh juga dari Resto."
"Ehm, iya. Di sini murah, jadi aku bisa berhemat. Kamu kan tahu kehidupan aku gimana."
"Kamu nggak pernah berubah ya dari dulu."
__ADS_1
"Ya begitulah."
"Ngomong ngomong yang tadi siang itu beneran calon suami kamu, Cha?"
"Iya, memang kenapa?"
"nggak apa apa, sih."
"Ehm maaf Jim, kamu ada keperluan apa sama aku? Soalnya ini sudah malam, nggak enak aja nanti kalau dilihat orang."
"Sebenarnya aku cuma mau ngobrol saja, Cha. Tapi mungkin waktunya tidak tepat."
"Oh, aku kira ada sesuatu yang penting."
"Hehe...aku kangen kamu, Cha. Aku nyariin kamu, dan sekarang aku sudah ketemu kamu. Tapi kenyataannya sekarang kamu sudah berbeda. Bukan Icha yang aku kenal dulu lagi."
"Maksud kamu apa, Jim? Aku masih sama seperti dulu. Nggak ada yang berubah sedikitpun."
"Ada, Cha. Kamu berubah."
"Aku nggak berubah, Jim."
"Icha yang aku kenal dulu bukan milik siapa siapa. Namun Icha yang sekarang akan menjadi milik orang lain. Itulah perbedaan kamu yang dulu dan sekarang, Cha. Dan aku, masih sama seperti dulu. Dengan rasa yang sama dan masih terpendam."
"Kamu ngomong apa sih, Jim. Aku nggak ngerti maksud kamu."
"Sudahlah, lupakan saja. Tidak perlu dibahas lagi."
"Ya sudah, maaf ini sudah malam. Besok aku harus bangun pagi dan mau pulang kampung untuk beberapa hari."
"Iya, cha. Kalau begitu aku pamit dulu. Maaf aku sudah mengikutimu tadi. Ini buat kamu, Cha. Ini adalah barang yang dulu pernah aku janjikan buat kamu. Semoga kamu suka."
"Apa ini, Jim?"
"Nanti kamu juga bakal tahu isinya apa. Aku pamit dulu, Cha. Baik baik ya kamu."
Sebuah kecupan mendarat tepat di pipiku. Aku sangat terkejut dengan tindakan Jimmy. Entah aku tidak tahu apa maksudnya. Lalu dia pergi dari hadapanku dan melambaikan tangan.
__ADS_1
Ku pandangi Jimmy yang semakin menjauh dariku. Lalu aku bergegas masuk ke dalam kamar. Ku buka bingkisan pemberian dari Jimmy.
Betapa terkejutnya aku mengetahui isinya. Sebuah mukena dan dua buah hijab. Lalu dalam fikiranku teringat akan sesuatu.
Lima tahun yang lalu aku tak sengaja bertemu Jimmy di sebuah bus sewaktu pulang sekolah. Kami mengobrol dan akhirnya saling bertukar nomor ponsel.
Karena sekolah kami berbeda dan jarak rumah juga cukup jauh. Kami hanya bisa saling bertukar kabar melalui ponsel. Terkadang kami juga bertemu jika ada waktu.
Aku pernah diajak ke rumahnya dan bertemu dengan orang tuanya. Mereka sangat baik.dan ramah padaku. Aku sedikit minder dengannya. Jimmy merupakan anak tunggal dari keluarga berada. Sedangkan aku, anak yatim dari keluarga kalangan bawah. Tak jarang aku juga kadang menjaga jarak. Agar tidak larut dalam sebuah perasaan.
Dari sebuah perkenalan itulah akhirnya kami menjadi dekat. Ya, aku dulu memang suka padanya. Namun tidak pernah berani untuk mengungkapkan.
Dan hingga pada akhirnya kelulusanpun tiba. Kami saling bertukar kabar jika lulus. Kami saling mengucapkan selamat.
Dan semenjak itulah hubungan kami menjadi renggang. Mungkin karena kesibukkan masing masing, komunikasi jadi berkurang. Jarang sekali aku mendapat pesan darinya.
Saat aku mulai diterima bekerja di sebuah pabrik, aku sempat mendapat kabar darinya. Jika dia berada di Bandung dan bekerja di sana. Dan dia juga sempat menelpon aku, menyatakan perasaannya selama ini sama aku.
Terkejut dengan penuturan Jimmy. Jadi selama ini kami menyimpan rasa yang sama. Namun tidak pernah berani mengunggkapkannya.
Dia juga pernah berjanji akan kembali lagi dan menemuiku. Dan dia juga sempat bertanya padaku. Jika dirinya kembali, akan memberikanku sebuah mukena dan hijab untukku. Akupun sangat bahagia mendengarnya.
Karena kesibukkan masing masing akhirnya kami lost kontak. Hanya sekali dua kali bertukar kabar. Aku ingin mengirimkan pesan untuknya, namun takut jika tidak ada balasan. Niat itu selalu aku urungkan.
Dan pada akhirnya kami benar benar kehilangan jejak. Setelah beberapa bupan tidak pernah kabar, aku berusaha untuk menelponnya. Namun sayang sekali, nomor tidak aktif. Aku mencoba mengirim pesan, ternyata tidak terkirim.
Dari situlah aku menyerah. Aku tidak lagi mencari tahu tentangnya. Aku berusaha untuk tidak mengingatnya. Mungkin dia bukan untukku. Dan mulai saat itu aku hanya fokus dengan pekerjaan.
Semenjak aku sakit, aku berhenti bekerja. Dan memilih untuk istirahat di rumah. Setelah benar benar sembuh, barulah aku mencoba mencari pekerjaan di kota Semarang.
Dan di sinilah aku memulai kehidupan baru. Pekerjaan yang sangat menyenangkan. Teman teman yang baik. Dan bersyukurnya aku bisa bertemu seseorang yang sebentar lagi menjadi pendamping hidupku. Rendy Argawinata, dialah calon suamiku.
Disaat aku akan bahagia, mengapa ada orang di masa lalu yang hadir. Hal seperti ini sangat mengganggu fikiranku. Apalagi dia juga mengunggkapkan perasaanya yang masih sama seperti dulu.
Entah aku harus bagaimana. Rohman, yang sudah tidak ada kabar sekarang dia muncul kembali. Dan sekarang Jimmy, orang di masa lalu juga kini hadir lagi dalam kehidupanku.
Mungkin memang benar, jika orang yang akan menikah pasti ada saja ujiannya. Salah satunya, kembalinya orang di masa lalu. Dan ini yang sedang aku alami saat ini.
__ADS_1