
Beberapa saat kemudian kulihat wanita itu berlalu dari hadapan Mas Kamal. Meninggalkan calon suamiku yang terpekur menatapnya dari belakang.
Berat aku menelan ludah melihat pemandangan itu.
Siapa sebenarnya wanita berhijab itu.
Ting!
Ponselku berbunyi saat aku hendak melangkah menghampiri Mas Kamal.
Sebuah notifikasi pesan muncul di layar.
Nisa?
Ada apa lagi dia mengirim pesan kepadaku.
Segera kubaca pesannya.
[Assalamualaikum Kalila, elu gimana kabarnya?]
Ah rupanya hanya menanyakan kabar.
[Waalaikumsalam, baik Nis alhamdulillah. Elu sendiri gimana?]
Ketikku membalas pesan Nisa.
Tak berapa lama balasan datang.
[Alhamdulillah baik. Kalila, tolong pikirkan kembali proposal taaruf itu ya, plis]
Deg!
Apa maksud pesan Nisa ini? Kenapa dia masih mengungkit-ungkit proposal taaruf Azzam waktu itu.
[Propo--]
"Kalila...!"
Belum sempat aku melanjutkan mengetik pesan. Suara Mas Kamal memanggil membuatku harus menghentikan gerakan tangan di layar ponsel.
"Iya Mas..tunggu,"
Teriakku.
Aku bergegas keluar dari ruang shaf wanita, memakai sepatu kemudian menghampiri lelaki itu.
"Maaf mas, lama nunggu ya?"
Tanyaku.
"Lumayan."
"Antri tadi solatnya."
"Ya udah yuk. Astri udah nunggu di butiknya."
Ajak Mas Kamal seraya membukakan pintu mobil untukku. Entah kenapa aku menangkap ada raut wajah yang berubah. Seperti ada kegamangan di wajah Mas Kamal. Apa wanita itu yang menyebabkan Mas Kamal tiba-tiba berubah?
Sepanjang perjalanan lelaki di sampingku itu lebih banyak diam. Berbicara seperlunya. Tak seperti sebelum bertemu wanita itu. Mas Kamal terlihat ceria dan banyak bicara kepadaku.
Ingin rasanya menanyakan siapa wanita itu. Namun aku tidak punya cukup keberanian. Siapalah aku? Hanya calon istrinya. Yang mungkin saja belum berhak tahu privasi lelaki ini sepenuhnya.
Di tengah keheningan yang tercipta di antara kami, pikiranku kembali melayang ke pesan Nisa. Hatiku dijejali pertanyaan kenapa Nisa memintaku untuk mempertimbangkan kembali proposal itu. Bukankah dia sudah melewati operasi yang menyakitkan itu. Dan kini dirinya sudah sehat kembali. Bisa melakukan aktivitas menjadi seorang istri. Meskipun dia tak mungkin lagi bisa memberi keturunan untuk Azzam. Sepertinya aku harus menelponnya nanti untuk meminta penjelasan.
Sesaat kemudian mobil berhenti di depan Butik Astri. Kata Mas Kamal, butik ini adalah milik sahabat karibnya sejak kuliah.
Butik itu terlihat cukup elegan meskipun bangunannya tidak besar. Plang nama besar "The Gown" terpasang di depan bangunan berwarna pink muda itu.
__ADS_1
Kami melangkah memasuki butik.
"Eh Kamal datang juga akhirnya."
Suara renyah seorang wanita berambut pendek menyambut kami.
Perempuan itu menganggukkan kepala kepadaku.
Aku tersenyum membalas anggukan kepalanya.
"Iya dong, khan udah janji."
Jawab Mas Kamal.
"Ayok langsung aja ke dalam udah disiapkan jas dan baju pengantinnya"
Mbak Astri melangkahkan kaki menuju ke bagian dalam butik. Kami mengikuti dari belakang. Di dalam butik penuh dengan manekin pria dan wanita yang berbalut gaun pengantin. Dari mulai gaun modern sampai klasik, berwarna putih polos sampai yang berwarna-warni, internasional maupun bergaya islami. Gaun-gaun itu begitu elegan dan terlihat mahal. Di dinding butik terdapat beberapa foto mbak Astri dengan para kliennya. Juga sertifikat-sertifikat yang oernah diraihnya sebagai designer muda.
Mbak Astri berhenti di sebuah manekin yang memakai baju pengantin berwarna putih dengan hijab senada. Gaun itu dipenuhi payet dan manik-manik cantik. Kainnya terlihat halus, sepertinya dari sutera.
"Kalila ini baju yang sudah disiapkan Kamal untuk kamu."
Ujar Mbak Astri seraya mengelus baju hasil rancangannya.
"Masya Allah..Cantik banget Mbak."
Ucapku berbinar. Aku menatap Mas Kamal. Dia mengedipkan mata ke arahku seraya tersenyum bahagia.
"Coba dulu ya di kamar pas."
Ucap Mbak Astri. Tangannya dengan cekatan melepas baju dari manekin kemudian menyerahkan kepadaku.
"Aku coba dulu ya Mas?"
Mataku mengerjap bahagia.
Terimakasih Ya Allah.
"Iya, aku tunggu ya. Kamu pasti terlihat cantik dengan gaun itu Kalila."
Aku tersenyum menatap calon suamiku itu. Kemudian bergegas masuk ke kamar pas.
Kupandangi baju pengantin di genggaman penuh haru. Tak terasa bulir bening menetes dari mataku. Hatiku dipenuhi rasa syukur yang teramat dalam. Akhirnya aku berada di titik ini. Selangkah lagi aku akan menjadi seorang istri, salah satu impian terbesar para wanita.
Perlahan kupakai gaun putih itu. Dengan hati-hati aku memasang resletingnya. Bahan baju ini begitu lembut. Pasti Mas Kamal mengeluarkan uang yang cukup besar untuk gaun ini.
"Mal, kamu udah dengar kabar Salma?"
Sayup-sayup kudengar suara Mbak Astri berbicara kepada Mas Kamal. Suara itu terdengar pelan, namun aku masih bisa mendengarkan dari balik kamar pas ini.
"Sudah Tri."
Jawab Mas Kamal tak kalah pelan.
"Kasihan banget Salma, si Reza masih kecil udah ditinggal Ayahnya selamanya."
Untuk beberapa menit aku tidak mendengar percakapan mereka lagi. Mungkin merekan lebih memperpelan suara mereka, atau memang sudah tidak ada perbincangan lagi.
"Udah ketemu Salma kamu?"
Tanya Mbak Astri. Rupanya obrolan mereka masih berlanjut. Aku memasang telinga baik-baik. Ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
"Sudah, tadi gak sengaja ketemu di Masjid Al Falah."
Masjid AlFalah?
Bukankah itu masjid yang kami singgahi saat sholat magrib tadi?
__ADS_1
Apakah wanita yang tadi ngobrol dengan Mas Kamal adalah Salma?
Siapa Salma?
Aku harus tetap di sini agar bisa mendengar obrolan mereka. Toh Mbak astri dan Mas Kamal tidak akan mengira kalau aku bisa mendengar percakapan mereka.
"Trus?"
"Dia masa laluku Astri, sudah gak ada apa-apa di antara kami."
"Bukannya dulu kamu balik ke Indonesia demi Salma."
Ucap Mbak Astri.
"Itu sudah berlalu Tri."
"Iya sih, aku kasihan aja lihat Salma. Aku kira kemarin kamu pesen baju pengantin tu buat Salma lho."
Deg!
Hatiku bergejolak saat mendengar kalimat wanita pemilik butik ini.
Mas Kamal bela-belain balik ke Indonesia demi Salma?
Dan Mbak Astri mengira Mas Kamal akan menikah dengan Salma?
Apa itu berarti mereka ada hubungan yang sangat spesial?
Mataku memanas. Mencengkram kuat gaun pengantin yang sedang kupakai. Jantungku berdetak tak karuan. Sesak menjalari seluruh tubuh. Tulang-tulangku serasa melemas. Kusandarkan tubuh ini di dinding kamar pas. Kutarik nafas dalam-dalam. Dan menghembuskan perlahan. Berusaha menetralkan perasaan yang baru saja tersayat. Kuseka air mata yang tak terasa jatuh ke pipi. Sebelum melangkah keluar, kupasang muka manis. Tak lupa senyum kurekahkan seolah tak terjadi apa-apa.
Kulihat Mas Kamal menatapku lekat.
"Wah..cantik sekali Kalila. Kalo di dandanin pasti perfect ini."
Mbak Astri menepuk tangannya sekali. Kemudian bergerak mengelilingi tubuhku yang berbalut baju pengantin.
"Bener-bener pas."
Ujarnya gembira.
"Gimana Kamal, cantik calon istrimu."
Wanita itu mengedipkan mata ke arah Mas Kamal.
Lelaki itu tersenyum.
"Pasti lah, calon istri Kamal gitu loh Tri."
Aku berusaha mengulas senyum keoada keduanya.
"Sudah ya Mas, aku lepas lagi ya. Kepalaku tiba-tiba pusing."
Aku memegang kepala untuk menutupi kebohongan. Terpaksa.
"Lho Kamal khan belum nyoba jas nya Lil."
"Gak papa, besok aja kesini lagi aku."
Ujar Mas Kamal dengan raut muka yang khawatir.
"Cepetan gih dilepas, biar bisa segera istirahat."
Titah lelaki itu.
Aku mengangguk mengiyakan. Sesaat kemudian kami berpamitan kepada Mbak Astri.
Selama perjalanan pulang aku memilih memejamkan mata. Beruntung aku tadi berpura-pura sakit kepala. Sehingga Mas Kamal tidak bertanya-tanya kenapa aku diam saja.
__ADS_1
Besok aku harus menemui Mbak Astri. Aku ingin tahu siapa Salma.