
Eps. 40
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kendaraan Rohman berhenti di sebuah rumah makan. Tempatnya cukup luas dan bersih. Kebetulan pengunjung juga tidak terlalu banyak. Jadi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk memesan makanan.
"Kamu mau pesan apa, sayang?"
"Ehm, aku mau nasi ayam plus sambal dan lalapan saja. Minumnya jus alpukat."
"Udah itu aja?"
"Iya mas, itu saja."
Rohman memanggil seorang waiters dan memesan dua menu yang aku sebut tadi. Sambil menunggu aku melihat sekeliling rumah makan ini. Tergolong mewah dan tempatnya juga nyaman.
Saat aku asik memandangi sekeliling tempat, ternyata Rohman diam diam memperhatikan aku.Aku tersadar saat tidak sengaja bertatapan mata dengannya.
Senyum manis dengan lesung pipi yang selalu menyambutku membuatku tak berkutik. Aku selalu luluh dan terpesona dengan senyumnya.
Membuatku menjadi gugup dan malu dibuatnya.
"oh iya mas, tadi kamu mau bicara soal apa? Mumpung makanan yang dipesan belum datang."
"Oh itu, besok Minggu aku mau ajak kamu ke rumah untuk bertemu keluargaku."
"Apa, mas? Besok minggu?" Aku sempat shock karena memang belum siap untuk bertemu keluarganya.
"Iya, besok Minggu. Kamu harus datang, nggak ada tapi tapian."
"Mas, aku belum siap. Aku juga takut keluargamu tidak menyukaiku karena aku sedang mengandung anak orang lain. Seandainya aku menceritakan semua, apa kata mereka nanti. Aku benar benar belum siap."
"Sudahlah sayang, kamu tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang, mas. Aku hanya takut dengan..." Dengan cepat Rohman menggenggam tanganku dengan erat.
"Sudah kamu tidak perlu berfikir yang aneh aneh. Dengar ya sayang, aku sudah cerita semua tentang kamu. Bahkan tentang bayi yang ada di perut kamu. Aku tahu itu bukan anakku. Tapi aku sudah meyakinkan keluargaku."
"Lalu apa tanggapan mereka tentang aku, mas. Pasti mereka bilang aku mur*han ya. Aku kotor, mas."
__ADS_1
"Awalnya Bapak dan ibuku terdiam, mungkin sedang berfikir. Namun ibu buka suara, katanya meminta aku untuk membawamu bertemu dengan mereka."
Aku tak mampu mengeluarkan kata kata. Aku juga bingung harus bagaimana. Namun disatu sisi anak yang ada di kandunganku juga butuh seorang ayah. Aku diam sejenak untuk berfikir. Dan aku putuskan untuk datang besok hari Minggu untuk bertemu keluarga Arman.
"Baiklah, mas. Aku akan datang untuk bertemu dengan keluargamu. Semoga saja mereka tidak memandangku buruk."
"Tenang sayang, keluargaku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Tolong kamu jangan pernah kecewakan aku."
Ku anggukkan kepala tanda aku setuju. tak berselang lama, makanan yang kami pesan datang. Kami bergegas menikmatinya, karena waktu juga sudah terlalu larut.
Selesai makan, kami tidak langsung pergi. Kami kembali berbincang dan sesekali bercanda. Tak jarang Rohman juga menggodaku.
Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Rumah makan ini juga malah mulai banyak pengunjung yang datang. Aku mengajak Rohman untuk segera pergi.
"Mas, pengunjung tambah banyak. Pulang aja yuk. Lagian ini juga sudah jam sembilan malam."
"Nanti dulu sayang, aku masih ingin sama kamu."
"Rame mas, aku nggak nyaman. Apalagi kuta kan sudah selesai makan. Nggak enak sama yang lain, gantian tempatnya."
Rohman tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah amplop dan diberikan kepadaku. Aku tidak tahu isi di dalamnya apa.
"Ini apa, mas?"
"Uang bulanan buat kamu. Terserah mau kamu belikan apa. Karena aku tidak tahu kesukaan kamu apa. Semoga kamu mau terima."
"Tapi aku kan nggak minta, mas. Lebih baik kamu simpan saja. Aku masih ada uang kok kalau untuk sekedar jajan dan bayar kost."
"Sekarang kamu tanggung jawabku sayang, tolong diterima."
"Apa aku boleh membukanya, mas?"
"Buka saja, itu milikmu. Bahkan kalau kamu mau akan aku berikan semua gajiku buat kamu."
Deg'
Kata kata Rohman mengingatkan aku pada seseorang. Hingga tanpa sadar aku melupakan orang tersebut. Rendy Argawinata, seorang pria yang bekerja sebagai HRD.
__ADS_1
Aku dan dia hampir bersatu melangkah ke pelaminan. Namun lagi lagi sesuatu menghalangi. Sebuah kejadian yang membuat kami terpisah.
Sebuah kecelakaan lalu lintas yang membuat Rendy lupa ingatan. Dia bahkan tidak ingat siapa aku. Lagu lagi batinku terasa teriris mengingat akan dirinya.
Aku diam dan berfikir sejenak. Apa kabarnya dia sekarang? Apakah mungkin dia sudah menikah dengan mantannya yang waktu itu bertemu di Rumah Sakit.
'Astaga, apa yang aku fikirkan. Tidak, aku tidak boleh mengingat dia lagi. Dia hanya masa laluku. Aku harus buang semua kenangan dengannya. Karena dia sama sekali tidak mengenali aku.
Hatiku bertambah sakit jika mengingat tenang Rendy. Namun disatu sisi aku juga teringat akan bu Rita, yang tidak lain adalah ibunya Rendy. Dia sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri. Dia sangat menyayangi aku. Kira kira bagaimana kabarnya bu Rita. Semoga mereka semua baik baik saja.
Tanpa sengaja, mata ini meneteskan buliran bening. Aku sudah berusaha menahan, namun usahaku ternyata sia sia.
"Sayang, kamu kenapa kok nangis? Apa aku ada salah kata sama kamu? Aku minta maaf, sayang."
"Ehh, mm nggak mas. Hanya saja.." Saat aku hendak meneruskan pembicaraan, tiba tiba Rohman memotongnya. Ternyata dia juga sangat pandai membaca apa yang aku fikirkan.
"Sudahlah, yang lalu biarkan saja berlalu. Kamu harus ingat, ada aku di sini."
Aku jadi merada tidak enak dengannya. Seolah aku seperti tidak menganggap dirinya. Aku sedang bersamanya tapi malah fikiranku sedang memikirkan orang lain. Aku sangat merasa bersalah.
"Mas, maaf aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja ucapan kamu mengingatkan aku padanya."
"Ucapan yang mana, sayang?"
"Ucapanmu tentang gaji yang akan kamu berikan untukku. Seketika aku teringat tentang Rendy. Kata kata itu sangat mirip dengan yang diucapnya dulu."
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud mengingatkan kamu padanya. Aku hanya menawarkan saja. Aku tidak tahu jika dulu dia juga berniat seperti itu."
"Tidak apa apa mas, sudahlah lupakan saja. Ini bukan salah kamu. Hanya kebetulan saja."
Ku buka amlop pemberian dari Rohman, dan aku mulai menghitungnya. Jumlahnya lumayan jika menurutku. Selisih sedikit dengan gaji aku waktu masih kerja di Resto.
Terdapat lima belas lembar uang seratus ribuan. Berarti jumlah uang yang diberikan padaku sejumlah satu juta limaratus ribu. Mataku berbinar, sangat bahagia menerima uang darinya.
Aku bukan tipe cewek matre yang jika pacaran meminta ini itu pada pasangan. Karena aku masih mampu untuk memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus meminta. Karena aku adalah wanita pekerja keras dan selalu berusaha semaksimal mungkin.
"Mas, ini kamu serius kasih uang buat aku. Jumlahnya lumayan loh. Apa nggak sebaiknya kamu tabung saja, atau kamu berikan untuk orangtuamu."
__ADS_1
"Sudahlah non, itu buat kamu. Untuk orang tua dan tabungan sudah aku atur. Apa kamu bawa saja semua uangku? Mungkin bisa kamu gunakan untuk buka usaha."