Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 97


Hari ini adalah hari terakhir aku di kota Semarang. Aku sudah mengemas barang barangku yang akan aku bawa pulang ke kampung halaman. Sedih, pasti itu yang sedang aku rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa terus terusan di sini. Karena aku juga ingin melanjutkan hidupku. Karena aku tergolong masih muda dan masa depanku masih panjang.


'Tok..tok..tok..'


Terdengar suara pintu diketuk. Dan aku menjawab untuk menyuruhnya masuk. Ternyata Mas Rendy yang mengetuk pintu. Dia masuk dengan wajah sedikit murung. Dia berjalan menghampiri aku lalu duduk di sebelah ku.


"Ada apa, Mas? Kok sepertinya kamu lagi murung. Apa lagi ada masalah?"


Dapat ku dengar suara hembusan nafas yang kasar. Aku dapat melihat jika dia ingin berbicara sesuatu, namun nampak berat untuk mengucapkan. Dan dia juga beberapa kali mengusap wajahnya.


"Mas, kamu kenapa? Apa aku ada salah sama kamu?"


"Tidak." Jawabnya sangat singkat dan sedikit parau.


"Lalu kenapa, Mas? Kamu ada masalah?"


"Apa kamu tidak mau tinggal di sini saja, Lissa?"


Seketika aku memandang Mas Rendy. Entah ada kenapa aku sangat terkejut sekali dengan ucapannya. Aku tidak mengerti maksudnya apa hingga tiba tiba dia berkata demikian. Dengan sangat berat hati aku tetap kekeh ingin pulang ke kampung halaman.


"Maafin aku, Mas. Ini sudah menjadi keputusanku. Dan ini juga demi kebaikan aku. Semoga saja kamu bisa mengerti."


"Iya, Lis aku sangat mengerti itu."


"Tapi, tidak bisa kah itu kamu fikirkan kembali. Tidak bisa kah kamu tetap tinggal di sini bersama aku dan ibu?"


"Ibu sangat menyayangi kamu. Begitu juga dengan aku, Lis.


"Maksud kamu apa, Mas?"


"Masih kah kamu tidak mengerti dengan ucapan ku tadi?"


"A..aku sama sekali tidak mengerti maksdu kamu, mas."


"Aku mencintai kamu, Lis."

__ADS_1


Seketika jantungku berdebar kencang. Aku sangat terkejut dengan ucapan Mas Rendy. Ternyata dia masih mencintai aku selama ini. Aku bingung harus bagaimana.


"Apa kamu bilang, Mas?"


"Aku mencintai kamu. Tetaplah tinggal di sini bersama aku dan ibu. Aku akan menunggu masa iddah kamu dan setelah itu aku akan menikahi kamu, Lis."


"Kamu sedang tidak bercanda kan, Mas?"


"Tidak ada waktu untuk bercanda saat ini, Lis. Aku serius.


Aku berfikir sejenak. Tapi keputusanki tetap tidak bisa berubah. Aku akan tetap pulang ke kampung halaman. Aku tidak ingin lagi tinggal di kota yang penuh kenangan ini. Karena sangat sulit bagiku untuk melupakan semuanya.


"Maaf, Mas. Keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap pulang ke Salatiga."


"Aku tidak ingin tinggal lagi di kota yang penuh kenangan ini. Aku ingin memulai hidup baru."


"Baiklah kalau memang itu keputusan kamu."


"Tapi ingat, Lis. Jika nanti masa idah kamu selesai, aku akan datang menjempu kamu untuk hidup bersama aku."


Aku tidak mengerti jalan fikiran Mas Rendy. Menurut aku dia mapan, dari keluarga berada, berpendidikan tinggi, wajahnya juga lumayan. Tapi kenapa dia tidak berusaha mencari pendamping hidup selain aku. Padahal dia bisa saja ndapatkan wanita yang jauh lebih cantik dari aku. Tapi entahlah, aku tidak ingin pusing memikirkan itu.


"Doakan saja aku supaya umurku panjang, Mas. Sebab umur manusia itu tidak ada yang tahu."


"Tunggu saja aku, Lis."


Tak berselang lama setelah kami saling diam, Mas Rendy mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak merah mirip sekali dengan kotak perhiasan. Lalu dia memberikannya kepada aku.


"Ini untuk kamu, dari ibu. Tolong diterima, jangan buat ibu sedih."


Aku menerimanya lalu membuka kotak itu. Aku sangat terkejut setelah tahu isinya. Satu set lengkap perhiasan. Ada cincin, anting, kalung, dan juga gelang. Modelnya juga sangat menarik sekali.


"Astaga, Mas ini buat aku?"


"Ya, ibu ingin kamu memakainya."


"Ta..tapi ini sangat berlebihan, Mas."

__ADS_1


"Tolong diterima, jangan bikin ibu sedih."


"Ibu ke mana, Mas? Aku mau ketemu dan mengucapkan terimakasih."


"Ibu ke luar kota, karena ada keperluan."


"Kapan berangkat? Perasaan tadi malam masih di rumah."


"Pagi tadi sudah berangkat setelah subuh."


"Mas, tolong sampaikan ucapan terimakasi ku untuk ibu. Aku juga minta maaf karena aku tidak bisa menuruti keinginan kamu untuk tetap tinggal di sini."


"Tapi berjanjilah, Lis. Tunggu aku hingga datang menjemput kamu."


"Insyaallah, Mas."


"Baik lah, Mas. Aku sudah mengemas semua barang barangku. Dan sebentar lagi jemputan ku akan datang."


Aku dan Mas Rendy berdiri saling berhadapan. Dia membelai rambutku dengan wajah yang dapat terlihat sedih.


"Lis, bolehkah aku memeluk kamu."


Aku anggukkan kepala tanda aku setuju. Aku dapat merasakan jika ini adalah sebuah perpisahan yang sangat berat. Karena aku juga merasakannya. Kami berdua sama sama merasakan sedih karena sebuah situasi dan kondisi.


Aku melepaskan pelukan Mas Rendy karena ada sebuah panggilan masuk. Ternyata dari sopir yang akan mengantarkan aku pulang ke Salatiga. Aku segera membawa barang barangku untuk keluar. Dengan dibantu Mas Rendy.


Sebelum aku masuk ke dalam mobil, aku menyempatkan diri untuk sedikit mengobro dengan Mas Rendy. Dapat ku lihat kedua netranya berkaca kaca. Jika aku fikir fikir semakin lama aku di sini aku semakin tidak tega. Maka aku memutuskan untuk segera jalan.


"Mas, aku pamit dulu. Sampaikan salam ku untuk ibu."


Tak ada jawaban dari Mas Rendy. Bahkan tanganku pun digenggam erat olehnya seolah aku tidak boleh pergi darinya. Tapi aku segera melepaskannya. Karena aku tidak tega padanya.


Aku segera masuk ke dalam mobil. Ku buka kaca mobil dan lalu melambaikan tangan. Tak ada balasan lambaian tangan ku. Mas Rendy hanya memandangku yang semakin menjauh darinya.


Sungguh sakit dada ini. Tiba tiba saja aku merasakan sesak di dada. Aku tak sanggup dengan perpisahan ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah keputusanku. Aku ingin hidup lebih baik lgi dari sebelumnya. Aku ingin melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru dengan kehidupan yang berbeda.


Aku masih ada tabungan dan beberapa perhiasan yang aku simpan. Dan aku berniat akan membuka usaha dengan menggunakan uang itu. Tapi untuk perhiasan pemberian Ibu Rita tetap aku simpan. Karena aku tidak ingin mengecewaknnya.

__ADS_1


Jumlah tabungan ku lumayan banyak. Ditambah lagi dengan perhiasan yang aku beli selama aku kerja dan juga pemberian dari Mas Rohman. Bahkan aku juga berniat menjual beberapa barang yang aku punya. Sepert tas brandet, baju baju import, jilbab, sepatu dan lain sebagainya. Karena aku pernah melihat beberapa postingan di forum jual beli Salatiga kusus untuk menjual barang barang bekas yang masih bagus. Semoga saja ini laku terjual.


Dalam hati aku ingin sekali membuka salon. Tapi itu juga perlu kursus dahulu. Dan terlintas di fikiran aku dengan salad buah dan kue kering beserta brownis. Karena aku juga bisa membuatnya. Maka aku putuskan untuk menjual makanan tersebut untuk semwntara melalui sistem online terlebih dahulu.


__ADS_2