Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 32


Aku merebut ponsel yang tengah dibawa Jimmy. Lalu aku duduk di sebelahnya. Dia lalu merangkul pundakku dan membelai rambutku.


"Cha."


"Kenapa, Jim?"


"Apa kamu masih setia menunggu tunanganmu itu?"


"Maksud kamu apa, Jim?"


"Sudahlah Cha, jangan pura pura tidak mengerti. Apakah kamu akan terus terusan menyiksa diri kamu seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu. Aku merasakan hidupku sekarang menjadi tambah rumit sekali. Cobaan datang bertubi tubi. Jujur aku merasa tersiksa dengan keadaan yang sekarang ini."


"Cha, buanglah kesedihanmu. Berbahagialah bersamaku."


"Kamu ngomong apa, sih?"


"Menikahlah denganku, Cha. Aku janji bakal buat kamu bahagia."


"Kamu sedang tidak becanda kan , Jim?"


"Perasaanku masih sama seperti dulu buat kamu dan nggak pernah berubah."


"Akan aku pikirkan lagi nanti, Jim. Untuk saat ini aku benar benar masih bingung. Aku tidak tahu harus bilang apa sama keluargaku."


"Sudahlah kamu fokus diri kamu dulu untuk saat ini. Jangan mikir yang lain."


"Bisakah kamu mengantarkan aku pulang sekarang? Aku ingin istirahat, karena besok aku sudah mulai masuk kerja lagi. Cutiku sudah habis."


"Jika kamu masih capek, istirahatlah dulu. Tidak perlu memikirkan pekerjaan kamu. Semua bisa aku atur, Cha."


"Tidak bisa begitu, Jim. Karyawan di Resto banyak. Tidak hanya aku saja. Apa jadinya jika yang lain ada yang tahu. Pasti akan ada yang iri, dan pada akhirnya banyak yang benci sama aku. Kamu mengertikan maksud aku, Jim?"


Jimmy menatapku sembari menghebuskan nafas dengan kasar. Dia membelai rambutku dengan manja.


"Iya, aku mengerti maksud kamu. Ya sudah kalau memang itu mau kamu aku tidak bisa memaksa."


"Baiklah, antarkan aku ke kost sekarang."


"Iya, sudahkah semuanya siap? Apa semua barangmu sudah masuk dan tidak ada yang tertinggal?"


"Sudah semua, Jim."

__ADS_1


Kami berdua cek out dari Hotel pukul sebelas siang. Cuacanya lumayan panas untuk hari ini. Jimmy mulai melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Aku memeluk tubuhnya dengan erat.


Tak butuh waktu lama, akhirnya aku tiba di kost. Aku segera turun dan berbincang sebentar dengan Jimmy.


"Cha, kamu jaga diri baik baik. Secepatnya aku akan lamar kamu."


"Jangan buru buru, Jim. Soalnya aku juga mau menyelesaikan urusan aku sama keluarga Rendy. Terutama cincin yang aku pakai ini. Aku harus balikin dengan cara baik baik.


"Iya aku mengerti maksud kamu. Ya sudah, semua terserah kamu aja. Pokoknya yang terbaik saja buat kamu."


"Iya, Jim."


"Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu, kamu istirahat. Maaf soal kejadian semalam, aku khilaf."


"Sudahlah, tidak perlu diingat lagi. Lupakan saja, angap saja semua belum pernah terjadi."


Jimmy membelai rambutku, kemudian dia melajukan kendaraannya dan pergi dari hadapanku. Aku masih memandanginya hingga dia jauh dan tak terlihat lagi. Aku masih tidak habis fikir, apa yang aku lakukan dengannya semalam.


Aku tersadar dari lamunan setelah seorang teman kost memanggilku. Ternyata dia sudah memanggilku sedari tadi. Hanya aku saja yang tidak menggubris.


"Mbak, dari tadi aku panggil kok diem saja?"


"Eh, maaf tadi aku nggak fokus."


"Jangan sering melamun mbak, nanti kesambet lho."


Kami berdua akhirnya tertawa dalam candaan. Namun tawa kita terhenti seketika seseorang turun dari kendaraan roda dua. Pria berjaket hitam, dengan tubuh yang gagah berjalan menghampiriku.


Teman kostku lalu berpamitan untuk segera pergi karena merasa tidak enak denganku. Sedangkan aku merasa gugup dan sedikit ada rasa canggung berhadapan dengannya. Pria tersebut adalah Rohman.


"Hai, non."


"Ehm, mas Rohman tumben ke sini. Maaf mas, ada perlu apa?"


"Ehm, sebenarnya aku tidak ada perlu apa apa. Hanya tadi kebetulan lewat saja, dan aku lihat kamu."


"Oh, kalau tidak ada perlu aku permisi masuk dulu ya. Soalnya aku juga baru saja pulang. Mau istirahat, capek banget."


Saat hendak melangkah, dengan cepat Rohman menahanku. Dia mencengkeram lenganku dengan cukup kencang. Hingga aku sedikit meringis kesakitan.


"Non, kenapa kamu selalu menghindar jika bertemu denganku. Ada apa, non tolong katakan. Jika aku ada salah denganmu, bilang saja, non."


"A... aduh mas, tolong lepasin. Tanganku sakit."


"Aku nggak akan lepasin kamu non, sebelum kamu jawab dulu pertanyaan aku. Kamu kenapa selalu menghindar?"

__ADS_1


Lagi lagi Andry menyelamatkan aku lagi kali ini. Dia selalu datang di saat waktu yang tepat. Dia bergegas menghampiriku dan akhirnya Rohman melepaskan cengkerammannya.


"Cha, ada apa?"


"Aahh, a.. aku nggak apa apa kok. Ehm, cuma tadi kebetulan mas Rohman lewat pas aku baru pulang juga. Kita cuma ngobrol aja sebentar."


"Kamu nggak lagi bohong kan, Cha?"


"E..enggak kok Ndry, aku serius nggak bohong."


Rohman kemudian pergi dari hadapanku. Dia bergegas melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan kencang. Hingga akhirnya dia sudah tidak nampak lagi.


"Kamu beneran nggak diapa apain sama dia?"


"Sebenarnya tadi dia sempet cengkeram aku Ndry, dia ga mau lepasin kalau aku belum jawab pertanyaannya."


"Emang dia tanya apa, Cha?"


"Dia tuh tanya, kenapa aku selalu menghindar kalau ketemu dia. Ya untung saja kamu datang disaat yang tepat."


"Kenapa kamu tadi nggak mau jujur pas aku tanya. Sumpah ya, aku pengen hajar dia tadi kalau tau kejadiannya sperti itu."


"Udahlah Ndry, aku cuma nggak mau ada keributan di sini. Malu sama orang orang. Lupain sajalah, yang penting aku nggak apa apa."


"Hmm, ya udah lah. Kamu dari mana?"


"Aku habis jalan sama Jimmy."


"Serius kamu, Cha?"


"Iya, aku serius. Sebenarnya ada yang mau aku ceritain. Tapi nextime saja, soalnya aku capek banget."


"Ya sudah, sana istirahat nanti sakit aku juga yang repot."


Sepontan aku memukul lengan Andry. Dia selalu menggodaku. Lantas dia tertawa geli melihat tingkahku jika sedang jengkel padanya.


Aku berpamitan untuk segera masuk ke dalam kamar kost. Saat aku hendak melangkah, Andry menahanku. Dia teringat akan sesuatu yang dia bawa.


Sebuah bungkusan plastik diberikan kepadaku. Baunya sangat wangi sekali. Aku bisa menebak, jika di isinya adalah sebuah kue.


"Nih buat kamu, tadi aku mampir di toko kue. kebetulan aku beli banyak. Pas banget ketemu kamu di sini. Aku kan tau kamu suka banget sama yang manis manis."


"Wiihh, tau aja aku suka kue. Wangi banget nih, pasti enak, deh. Btw, makasih ya."


Ku cubit hidung Andry, lalu aku bergegas masuk ke dalam kost. Ku tengok ke belakang dia tampak geleng geleng melihat tingkahku.

__ADS_1


Ku buka kue pemberian dari Andry, bolu pandan dengan taburan keju. Membuat aku segera ingin menikmatinya. Ku potong potong lalu aku mencicipinya. Rasanya sungguh luar biasa, sangat enak sekali.


Usai menikmati beberapa potong kue, aku memutuskan untuk merebahkan diri di kasur. Hingga akhirnya mata ini terpejam karena rasa lelah.


__ADS_2