
Eps. 46
Pagi ini aku sengaja bangun agak awal. Karena aku akan bersiap siap untuk pulang ke kotaku. Sebenarnya jaraknya juga tidak jauh jauh sekali. Hanya butuh waktu satu setengah jam sampai ke kota Salatiga.
Aku sangat bahagia karena mas Rohman akan melamar aku. Namun di sisi lain aku merada bingung. Apakah aku harus menceritakan semua yang terjadi pada keluargaku.
Sebab selama ini keluargaku belum mengetahui semuanya. Termasuk kehamilanku saat ini. Aku takut keluargaku shock dan banyak pikiran karena aku. Aku mencoba tenang dan akan aku fikirkan lagi nanti bagaimana baiknya. Atau mungkin aku akan meminta pendapat Rere. Mungkin dia bisa memberikan aku solusi yang tepat.
Ku ambil ponsel di meja dan segera menghubungi Rere. Lama sekali saluran telepon tak kunjung diangkat. Ku coba lagi untuk menghubungi. Dan lagi lagi tidak ada jawaban. Aku tak ambil pusing, mungkin dia sedang sibuk. Aku mengirimkan pesan untuknya, dan aku yakin annti pasti akan dibalas.
[Re, kamu sedang sibuk ya? kenapa teleponku tidak diangkat?]
[Aku hanya ingin minta cerita sedikit dan butuh pendapat kamu.]
[Hari ini aku berniat pupang ke Salatiga. Aku bingung apakah aku harus menceritakan semua yang terjadi pada keluargaku.]
[Semoga kamu bisa beri aku solusi ya.]
Ku letakkan kembali ponsel di atas meja Lalu aku kembali menyibukkan diri dengan beberes. Setelah semuanya selesai aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena aku tidak mau mengulur waktu terlalu lama. Ingin sekali rasanya segera pulang ke rumah. melepas rindu dengan keluarga di rumah.
Semua sudah siap dan aku sendiri juga sudah siap. Ku masukkan beberapa pakaian, dompet, dan alat makeup ke dalam ranselku yang tidak terlalu besar. Lalu aku ambil ponsel dan hendak memasukkan ke dalam saku.
Namun niatku tertahan karena ingin mengecek mana tahu ada pesan penting yang masuk. Ternyata benar, ada tiga kali panggilan tidak terjawab. Dan beberapa pesan masuk melalu aplikasi whatsap. Ternyata dari Rere, gegas aku membuka pesan tersebut.
[Maaf say, aku tadi sedang di jalan. Tidak dengar ada panggilan masuk.]
[Kamu mau balik kampung ya, hati hati di jalan semoga selamat sampai tujuan.]
[Oh ya, kamu minta pendapatku tentang keadaan kamu kan.]
__ADS_1
[Kalau menurut aku, kamu ceritakan saja apa yang terjadi dengan Rendy. Tapi jangan ceritakan jika kamu sedang hamil.]
[Bukan apa say, aku bingung mau jelasinnya. Aku hanya takut nanti jadi masalah.]
[Kamu cerita saja tentang keadaan Rendy dan Jimmy. Maaf aku tidak ada maksud untuk mengingatkan kamu pada Jimmy.]
[Dan kamu juga cerita saja jika Rohman akan melamarmu. Tapi tolong jangan sekali sekali cerita jika kamu sedang hamil.]
[Itu pendapat aku say, mau diterima alhamdulillah. Kamu nggak suka juga tidak apa apa. Toh, itu pendapat aku.]
Aku berfikir sejenak, mungkin apa yang dikatakan Rere ada benarnya juga. Aku harus tetap menyembunyikan kehamilan ini. Aku takut jika bercerita semuanya masalahnya akan semakin panjang. Bergegas aku segera membalas pesan dar Rere dan mengucapkan terimakasih.
[Maaf Re, aku tadi sedang mandi. Jadi baru balas pesanmu.]
[Sebelumnya aku ucapin makasih banget atas pendapat kamu. Mungkin ada benarnya juga jika aku tidak menceritakan kehamilanku.]
[Sekali lagi makasi ya. Aku sebentar lagi akan otw naik bis.] Tidak membutuhkan waktu lama, Rere memebalas pesan dariku.
[Tidak apa apa, Re. Aku titip salam juga buat Andry.]
[Siap, nanti akan aku sampaikan.]
[Ya sudah Re, aku jalan dulu ya. Bye..]
[Bye.]
Ku akhiri percakapan dengan Rere. Mengingat waktu yang sudah hampir siang, aku segera memesan ojek online. Karena perjalanan menuju terminal lumayan jauh.
Sepuluh menit kemudian, ojek online yang aku pesan sudah berada di depan. Aku bergegas keluar dan mengunci pintu. Kemudian menghampiri ojek. Dan akhirnya kendaraan melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama akhirnya aku sampai di terminal. Ku bayar ongkos ojek lalu aku segera menaiki bis jurusana Solo. Kebetulan penumpangnya juga hampir penuh. Jadi aku tidak menunggu terlalu lama.
Sepanjang perjalanan aku sibuk dengan bermain ponsel. Ku buka akun facebook dan melihat lihat beranda. Sontak netraku terbelalak melihat sebuah foto. Jantungku berdetak kencang dan tanganku gemetar.
Melihat foto Rendy sedang melingkarkan tangannya ke tubuh Dilla. Dia yang tak lain adalah mantan pacarnya. Dan yang sekarang menjadi pacar Rendy lagi.
Unggahan foto mesra itu membuatku meneteskan air mata. Aku tidak menyangka semuanya jadi seperti ini. Harusnya aku wanita yang ada di foto itu.
Aku akui Dilla itu memang berparas cantik. Rambutnya pendek dan berwarna pirang. Jika body sepertinya tidak jauh dari aku. Hanya saja dia menang gaya dan wajah dengan makeup tebal.
Sedangkan aku, selalu tampil apa adanya. Dengan makeup tipis dan kemana mana selalu pakai hijab. Aku bisa saja mengubah diriku seperti Dilla. Namun aku masih memiliki rasa malu dan risih. Dan aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.
Aku bingung dengan perasanku sendiri. Dulu si saat aku sedang bersama Rendy, aku selalu terfikirkan Arman. Dan sekarangpun juga sebaliknya. Saat ini aku akan melangkah ke depan bersama Arman. Namun bayangan Rendy selalu muncul dan mengganggu fikiranku.
Aku sangat bingung, sebenarnya hatiku ini untuk siapa. Tiba tiba saja kepalaku terasa sangat pusing. Mungkin aku terlalu memikirkan Rendy.
Dulu ketika aku bertemu bu Rita, dia bilang Rendy sempat menyebut namaku. Dan dokterpun juga bilang jika Rendy bisa sembuh.
Satu hal yang aku takutkan esok entah kapan. Aku takut jika nanti aku sudah hidup bersama Arman, dan Rendy tiba tiba sembuh dan mengakui jika ini adalah anaknya. Apa yang harus aku lakukan.
Meskipun aku sendiri belum tahu pasti anak siapa yang aku kandung. Anak Rendy atau anak Jimmy. Karena memang sebelumnya aku pernah berhubungan dengan mereka.
Kepalaku bertambah pusing. Segera aku tutup akun facebook. Dan ku masukkan ponsel ke dalam saku celana. Ku oleskan minyak kayu putih dan ku teguk air mineral. Berharap rasa pusingku ini bisa hilang.
Namun justru aku malah sangat mengantuk. Mumpung perjalanan belum jauh, aku memutuskan untuk istirahat. Sebelumnya aku memasang alarm satu jam ke depan. Agar nanti tidak terlewatkan. Karena perjalanan bisa diperkirakan satu setengah jam.
Alaram sudah berbunyi dan aku segera mematikannya. Ku perhatikan perjalanan memang hampir sampai. mungkin sekitar sepuluh menit aku sampai di gang menuju rumahku yang terhubung langsung ke jalan raya.
Aku segera bersiap siap untuk maju ke depan. Agar nanti tidak terlewat. Ku beritahu pada kernet, jika aku akan turun di Rumah Makan Kurniawan. Yang sebelahnya adalah gang menuju rumahku.
__ADS_1
Bis yang aku tumoangi sudah menepi. Dan akupun turun dengan sangat hati hati. Karena mengingat diriku yang sedang hamil muda.